KESAH.ID – Ducati seperti sengaja menghadirkan bom di line up pembalapnya untuk tahun depan. Marc Marquez pembalap yang identik dengan Honda diijinkan untuk bergabung dalam tim satelit Ducati. Padahal Ducati tahu kalau Marc Marquez rela meninggalkan Honda yang memberinya semua fasilitas itu karena ingin kembali menjadi juara dunia. Kehadiran Marc Marquez di Gressini Racing sama artinya dengan Ducati memberi peluang bagi penunggang motor lama untuk mengalahkan penunggang motor barunya. Marc Marquez berpotensi untuk membuat pembalap utama Ducati menjadi pecundang.
Hanya dibutuhkan satu ahli nuklir untuk membuat bom. Fakta ini menunjukkan bahwa dunia tak butuh banyak orang pintar, sebab pengaruh satu orang pinta sangat besar. Dia bisa memimpin sebuah tim dengan ribuan anggota untuk menghasilkan produk adikarya.
Namun kita kerap punya pikiran lain, bahwa sesuatu akan jadi sangat hebat jika bisa mengumpulkan orang-orang pintar di satu tempat. Dalam dunia pendidikan kita pernah mengenal proyek Lab School, sekolah unggulan yang diisi oleh anak-anak pintar, anak-anak pilihan. Ternyata kebanyakan sekolah unggulan tidak unggul.
Dalam dunia sepak bola, Real Madrid pernah mempunyai proyek Los Galacticos. Ingin menjadikan Real Madrid sebagai klub sepakbola terkuat didunia. Direkrutlah pemain-pemain terbaik sedunia, dengan ongkos transfer yang kerap memecahkan rekor. Hasilnya juga tak seindah yang dibayangkan.
Kesalahan itu kemudian diulang oleh Paris Saint Germain, Kylian Mbappe, striker yang haus goal kemudian ditemani Neymar dan Messi. PSG memang kuat di Liga Perancis, namun melempem di kancah internasional. Yang dibayangkan oleh pemilik dengan segudang uang ternyata tak terbukti.
Tanpa bendera Los Galacticos, Inter Miami kemudian mendatangkan Messi sebagai pemain gratisan. Dalam beberapa pekan saja Inter Miami langsung berubah, bahkan sepakbola Amerika Serikat. Stadion penuh, tiket laku sekalipun dinaikkan berlipat-lipat. Yang untung karena kedatangan Messi bukan hanya Inter Miami melainkan juga klub-klub lawannya.
Satu orang hebat bisa melakukan perubahan besar. Bahkan ketika dia tidak memakai hastag atau slogan perubahan sekalipun.
Kenapa Iran benci sekali negara Israel?. Salah satunya hanya karena seseorang. Seseorang itu adalah ahli nuklir Iran bernama Mohsen Fakhrizadeh yang dibunuh oleh Israel. Ahli nuklir Iran ini tewas dalam mobil dalam sebuah peristiwa penyergapan di Teheran lewat operasi agen Mossad.
Dalam olahraga balap motor, pabrikan Ducati mulai merasakan masalah serupa. Tim yang menurunkan 8 motor dalam kelas utama Moto GP ini ditunggangi oleh pembalap-pembalap muda terbaik.
Tahun 2022 lalu, Francesco Bagnaia berhasil merengkuh gelar juara. Namun perjalanannya penuh liku karena rekan satu tim-nya juga berjuang merebut gelar dunia. Demikian juga pembalap Ducati dari tim satelit. Mereka juga tak kalah garang-nya untuk terus merebut poin hingga balapan terakhir.
Praktek lazim yang disebut sebagai tim order tidak jalan. Biasanya sebuah tim akan memberi kesempatan pada yang paling berpeluang merengkuh juara untuk dibantu oleh pembalap lainnya.
Tapi yang disebut dengan tim order di Ducati justru dilawan oleh para pembalapnya. Meski sama-sama menaiki motor Ducati, para pembalapnya tak merasa harus mengabdi pada yang berpeluang menjadi juara. Mereka justru bersaing untuk menunjukkan sebagai pembalap yang paling layak mengisi kursi tim utama.
Moto GP 2023 yang kemudian sering disebut sebagai Ducati Championship karena melempemnya duo motor Jepang, yakni Honda dan Yamaha, sejak awal menyajikan persaingan sengit antar penunggang motor Ducati.
Saling senggol antara pembalap Ducati sering terjadi dan kerap menyebabkan salah satu pembalapnya cidera. Enea Bastianini, Alex Marquez, Marco Bezzecch, Luca Marini dan Johan Zarco beberapa kali tak bisa ikut balapan karena cidera.
Francesco Bagnaia yang oleh sebagian besar pengamat dianggap akan dengan mudah merengkuh gelar juara pada seri kejuaraan 2023 ini ternyata justru mendapat lawan terberat dari penunggang Ducati di tim satelit yakni Jorge Martin.
BACA JUGA : Lionel Messi Tetap Yang Terdepan
Di awal seri Moto GP, Francesco Bagnaia langsung menunjukkan potensinya menjadi juara dunia. Demikian juga pembalap Ducati lainnya seperti Marco Bezzecchi, Jorge Martin, Johan Zarco, Alex Marquez dan Luca Marini. Hanya Enea Bastianini dan Fabio Di Giannantonio yang kurang perfomanya.
Tampil dengan format baru dengan menambah balapan sprint race pada hari Sabtu, Francesco Bagnaia yang sering memborong kemenangan pada balap hari Sabtu dan Minggu, perolehan poinnya menjadi cepat melaju.
Terkenal dengan kemampuan mengelola ban, Bagnaia terbilang jarang merosot kecepatannya di lap-lap terakhir karena bannya mulai aus.
Hingga sampai pertengahan musim, Francesco Bagnaia sangat dominan. Seolah tak akan terkejar lagi oleh pembalapa lainnya. Mereka yang dipandang sebagai saingan dalam prediksi awal musim ternyata melempem. Enea Bastianini dan Marc Marquez kerap cidera, Fabio Quartararo sebagaimana pembalap pabrikan Jepang lainnya motornya tak kencang.
Kuda hitam untuk menantang gelar juara justru datang dari penunggang Ducati sendiri. Jorge Martin setelah pertengahan musim semakin tampil meyakinkan. Jorge menjadi pembalap yang sangat cepat sedang start, langsung mengeber motornya. Dengan pemilihan ban yang tepat, jika sudah melesat Jorge Martin sulit untuk dikejar. Hanya ban aus dan crash yang membuat Jorge gagal meraih podium pertama.
Bahkan Jorge Martin sempat memimpin klasemen dan membuat jarak cukup lebar dengan Francesco Bagnaia. Namun jatuh ketika sedang memimpin balapan di seri Mandalika dan kemudian tersusul karena ban aus di Philpip Island membuat Francesco Bagnaia mengambil alih pimpinan klasemen sementara.
Di Buriram Thailand, Martinator kembali menoreh prestasi dan memangkas jarak dengan Francesco Bagnaia. Dengan tersisa 3 seri balapan di Sepang, Losail dan Valencia, persaingan menuju kursi juara dunia Moto GP 2023 masih sangat terbuka.
Masih ada 120 poin yang diperebutkan, jika Fracesco Bagnaia dan Jorge Martin saling mengalahkan pada tiga balapan tersisa maka siapa yang akan menjadi Juara Dunia Moto GP 2023 akan ditentukan pada balapan terakhir.
Kejuaraan Moto GP 2023 memang layak disebut sebagai All Ducati Championship. Meski sesekali dijeda oleh kemenangan pabrikan Eropa lain yakni Aprillia dan KTM, namun podium atau pembalap 10 besar di lintasan didominasi pembalap Ducati.
Walau menaiki motor dari pabrikan yang sama pembalap Ducati yang umumnya masih muda juga saling bersaing. Mereka secara tegas menolak tim order, atau privilege untuk mendukung pembalap utamanya agar segera merengkuh juara dunia.
Dengan mudah disaksikan dalam balapan, pembalap Ducati saling pepet atau saling potong. Bersaing keras saling melewati sejak awal balapan. Persaingan yang kadang membuat celaka karena senggolan, crash atau mendapatkan hukuman dari pengawas balapan.
5 dari 8 pembalap Ducati ada di daftar 10 besar klasemen seri Moto GP 2023. Klasemen teratasnya juga dihuni oleh 3 pembalap Ducati. Namun bisa dipastikan yang mempunyai kesempatan untuk menjadi Juara Dunia Moto GP 2023 adalah Francesco Bagnaia dan Jorge Martin.
BACA JUGA : Moralitas Itu Top Down, Maka Kita Perlu Pemimpin Yang Bermoral
Dominasi Ducati akan terus berlanjut pada seri tahun depan. Honda dan Yamaha belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Motor dari pabrikan Eropa lain memang sudah menunjukkan perlawanan, namun belum konsisten.
Hanya saja pada musim seri balap Moto GP tahun depan, Ducati malah semakin meledakkan bom persaingan antar para pembalapnya dengan kehadiran Marc Marquez di Tim Gresini Racing.
Ducati mengijinkan Marc Marquez yang selama ini identik dengan Honda untuk menjadi penunggang reguler Ducati di tim satelit. Meski menaiki motor yang satu tahun tertinggal dari pembalap utama dan pembalap tim satelit utama, namun Marc Marquez diprediksi tak sulit untuk kembali kencang seperti saat dirinya mendominasi kejuaraan dunia Moto GP bersama Honda.
Persaingan antar pembalap Ducati akan menjadi semakin ketat, ibaratnya musuh terutama adalah kawan terdekat. Marc Marquez adalah pembalap yang agresif dan meninggalkan Honda untuk kemudian menaiki Ducati karena ingin kembali menjadi juara dunia.
Dengan mengijinkan Marc Marquez bergabung di tim satelit Ducati, sama artinya Ducati menghadirkan ancaman untuk pembalap utamanya.
Suasana paddock atau garasi tim Ducati tahun depan pasti akan berbeda dengan kehadiran Marc Marquez yang kembali akan membalap bersama adiknya. Duo Marquez ini bisa kembali memancing atau meneruskan kisah seteru Rossi-Marquez, karena pembalap Ducati sebagian besar adalah murid-murid sekolah balap Valentino Rossi. Di Ducati, Rossi bahkan punya tim balap sendiri.
Pembalap motor Ducati akan terbelah dua, antara pembalap Italia dan Spanyol. Persaingan antara pembalap Italia dan Spanyol yang selama ini terjadi di lintasan moto GP, kemudian dibawa masuk ke dalam garasi.
Jika umumnya pembalap direkrut oleh sebuah tim demi kepentingan sebuah tim untuk meraih prestasi, lain halnya dengan Marc Marquez, dia masuk ke Gresini Racing karena kepentingan dirinya agar kembali ke perfoma semula. Gresini Racing ditenggarai tidak keluar uang untuk Marc Marquez, justru Marc yang kemungkinan mendatangkan uang untuk Gresini.
Dan di seri balap 2024 nanti akan hadir pula bom baru Moto GP, pembalap muda dari Spanyol yang digadang-gadang akan menjadi penerus Marc Marquez. Pedro Acosta yang bisa dipastikan akan menjadi Juara Dunia Moto 2, akan bergabung di tim Moto GP KTM.
Hadirnya satu pembalap muda berbakat dan bersemangat, pembalap senior yang ingin kembali berjaya dan pembalap muda yang ingin tetap mempertahankan dominasinya niscaya akan membuat seri kejuaraan Moto GP 2024 menjadi menarik untuk diikuti.
Potensi keseruan dan drama-drama yang mungkin terjadi di tahun depan, adalah kabar baik untuk para pecinta Moto GP, namun sekaligus menjadi kabar buruk bagi penyelenggara WSBK {World Superbike}. Serunya balapan Moto GP membuat WSBK makin terpuruk. Karena tak banyak kejutan dan drama disana.
note : sumber gambar ilustrasi – CRASH.NET







