KESAH.IDIndonesia terlahir karena pendidikan. Bermula dari politis etik Hindia Belanda yang membuka kesempatan pendidikan untuk kaum kebanyakan, bukan hanya priyayi. Pendidikan kemudian membuka wawasan masyarakat terdidik pra Indonesia hingga kemudian memunculkan bibit-bibit nasionalisme. Tahun 1928, kaum muda terdidik yang berkumpul dalam sebuah konggres kemudian menyebut nama Indonesia. Bangsa Indonesia, Tanah Air Indonesia, Tumpah Darah Indonesia dan Bahasa Indonesia. Namun setelah jaman kemerdekaan, pendidikan yang sudah merdeka justru mengajarkan untuk taat.

Setiap kali Presiden terpilih mengumumkan kabinetnya dan menunjuk sosok baru sebagai menteri pendidikan maka akan muncul semacam gerundelan yang mengatakan “Setiap ganti menteri, ganti kurikulum,”.

Sepertinya ungkapan itu benar. Kasak-kusuk yang berembus setelah pelantikan Merah Putih, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah ingin kembali ke kurikulum lama serta memberlakukan kembali Ebtanas atau ujian akhir.

Dunia pendidikan seperti gelombang, terus terombang-ambing setiap lima tahun sekali. Padahal tantangan jaman dan kemajuan pengetahuan serta teknologi seperti berlari. Sehingga membincang pendidikan sering kali memancing emosi.

Sudah banyak orang mengeluh dan misuh-misuh terhadap situasi serta kondisi pendidikan di Indonesia yang gagal membuat manusia Indonesia setara dengan manusia terdidik di negara-negara maju.

Dan sebagian besar mengira salah satu penyebab utamanya adalah kurikulum.

Alhasil proyek kurikulum kemudian menjadi proyek utama dari menteri pendidikan selama menjabat.

Beberapa orang yang jeli berpikir lain. Menurut mereka pendidikan Indonesia sudah berhasil jika menilik pada apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional.

Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 menyebutkan Menurut Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dunia pendidikan kita menempatkan manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME sebagai tujuan pertama. Dan itu yang kemudian menjadi fokus bagi para pendidik.

Hasilnya peserta didik di Indonesia menjadi siswa yang paling beriman dan bertakwa sedunia.

Di Indonesia kalau ada peserta didik yang berani mengatakan tak percaya pada Tuhan bisa dipastikan tidak lulus.

Apapun kurikulumnya, yang kemudian diajarkan atau ditekankan di sekolah adalah iman dan takwa.

Jangan heran jika kemudian dengan umur pendidikan yang telah panjang ini, bangsa Indonesia gagal mendidik masyarakatnya untuk membuang sampah pada tempatnya.

Kenapa gagal?. Karena di sekolah memang tidak ada pendidikan membuang sampah atau menjaga kebersihan. Di sekolah peserta didik lebih diajar untuk berdoa, beribadah, membaca kitab suci dan mengikuti acara-acara keagamaan.

Dokter Ryu Hasan seorang ahli neuro surgery mengatakan pendidikan itu sebenarnya latihan. Apa yang dilatih terus menerus itu maka pengetahuan dan ketrampilan itu yang akan dikuasai.

Maka tujuan dari pendidikan mestinya menempatkan pengetahuan dan ketrampilan sebagai yang utama.

Dan dia mencontohkan ada banyak negara yang berhasil dengan pendidikannya. Orang Jepang bisa disiplin dan tertib serta tidak mengambil barang yang tertinggal karena dididik untuk melakukan hal itu sejak kecil. Di sekolah diajarkan ngantri dan membiarkan barang milik orang lain yang tertinggal tetap pada tempatnya.

Ryu Hasan menegaskan kalau kita ingin anak didik kita kemudian menjadi seperti orang Jepang ya didiklah dengan cara pendidikan Jepang. Kalau ingin seperti orang Finlandia yang didiklah seperti cara pendidikan Finlandia.

BACA JUGA : Tolak Uang

Stella Christie, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Riset saat menceritakan perjalanan pendidikannya di berbagai kesempatan selalu menekankan soal critical thinking atau cara berpikir kritis.

Dia mengaku ketika duduk di bangku pendidikan dasar, menengah dan atas bukanlah siswa yang menonjol. Prestasi akademiknya rata-rata saja.

Saat meneruskan pendidikan tinggi di berbagai universitas terkemuka, Stella Christie mengatakan kemampuan membuat esai menjadi yang terutama. Dia diterima dan diberi beasiswa karena esai yang dituliskan olehnya mampu meyakinkan pihak universitas.

Konon membuat esai merupakan kelemahan bagi calon mahasiswa dari Indonesia yang ingin kuliah di universitas-universitas terkemuka terutama di Amerika Serikat. Banyak calon mahasiswa yang punya kemampuan dan nilai akademik tinggi tak lolos karena gagal tes esai saat ujian masuk.

Sayangnya membuat esai tidak bisa dilatih dengan cepat. Jadi para calon mahasiswa yang sebelumnya telah dilatih kurang lebih sebulan untuk membuat esai tetap saja banyak yang gagal.

Mereka gagal karena hulu dari esai adalah berpikir kritis.

Dan sekali lagi berpikir kritis tidak bisa dilatih hanya dalam waktu satu bulan, bahkan tiga bulan saja belum tentu berhasil. Apalagi hanya lewat satu dua sesi pelatihan atau bimtek, jelas hanya buang waktu saja.

Esai menjadi bagian penting dari tes masuk di perguruan tinggi Amerika Serikat karena sejak pendidikan dasar para peserta didik sudah diajarkan critical thinking. Siswa dibiasakan untuk mempertanyakan segala sesuatu tanpa dibatasi oleh iman, kepercayaan dan sopan-santun atau basa-basi. Salah satu tujuannya untuk membongkar mitor-mitos.

Dalam iklim pendidikan kritis, salah satu kemampuan yang dilatih adalah kemampuan bertanya atau mempertanyakan segala sesuatu.

Iklim ini tidak tumbuh dalam dunia pendidikan di Indonesia karena kita lebih diajarkan untuk menjawab. Karena kalau tak bisa menjawab bakal tak lulus ujian. Maka yang laku di Indonesia adalah Bimbingan Belajar yang isinya berlatih menjawab dengan benar.

Profesor Doktor Djoji Anwar, pemegang paspor Indonesia yang mengajar di UC Berkeley dalam perbincangan dengan Dahlan Iskan memberikan contoh meyakinkan soal lemahnya cara berpikir kritis di dunia pendidikan Indonesia.

Dia pernah beberapa kali diminta mengajar di Indonesia. Menurutnya kelas yang ribut dimana para mahasiswanya malah asyik ngobrol dengan temannya saat dosen menerangkan, seketika akan sunyi senyap jika sang dosen memberi kesempatan untuk bertanya.

“Begitu dosen mengatakan siapa yang akan bertanya, semua tutup mulut takut mengeluarkan suara karena nanti dikira akan bertanya,” ujarnya.

Tapi bukan hanya salah mahasiswa atau siswa jika kemudian mereka enggan untuk bertanya.

Para pengajar juga tak berusaha untuk membangun ekosistem kritis, merangsang para peserta didik untuk rajin bertanya.

Profesor Doktor Sutiman, ahli Nano Biologi menceritakan pengalamannya di Jepang. Disana para pengajar akan merangsang mahasiswanya untuk bertanya. Bahkan bertanya apa saja. Yang sering bertanya akan mendapat tambahan nilai di akhir semester.

BACA JUGA : Kalabendu Kalasuba

Dulu ada peribahasa yang populer “Malu bertanya sesat dijalan” yang artinya kita tidak boleh malu untuk bertanya jika tak tahu karena nanti malah bisa tersesat.

Hanya saja peribahasa ini lama kelamaan tidak populer. Karena kemajuan teknologi, sekarang kita bisa bertanya apapun, termasuk jalan kepada sebuah aplikasi. GMS atau Google Mobile Service hampir menyediakan semua hal yang ingin kita tanyakan atau perlukan.

Tapi persoalan lainnya adalah keengganan banyak orang untuk menjawab pertanyaan. Orang yang suka bertanya akan dibilang cerewet, sedikit-sedikit tanya.

Terlebih jika yang bertanya lebih muda, yang tua akan menjawab belum saatnya kamu bertanya itu. Atau bahkan keinginan bertanya kemudian dimatikan dengan jawaban “Kalau kujawab kamu juga nggak bakal mengerti,”

Ada DNA aristokrasi dalam sistem pengetahuan kita. Seolah pengetahuan didasarkan pada kelas-kelas tertentu, yang lain tak boleh tahu atau ingin tahu.

Maka orang-orang kelas tertentu, sosok-sosok elit dalam kelompok apapun kemudian dianggap sebagai orang pintar. Apapun yang mereka katakan mesti dipatuhi, kita diajar untuk taat.

Di media sosial beredar banyak satir yang ironik soal hal ini. Ada banyak meme atau konten lainnya yang mengatakan “Kalau orang punya uang, kentutnya saja dianggap sebagai inspirasi atau motivasi,”

Artinya orang yang punya uang {kuasa, kedudukan, dll} kalau mrucut kentut dimuka banyak orang tak perlu malu. Dia bisa mengatakan “Kentut itu pertanda kita sehat, pencernaan kita bekerja dengan baik. Jadi nda usah nahan-nahan atau sembunyi-sembunyi kalau mau kentut,”

Coba kalau yang kentut itu rakyat jelata, pasti bakal disemprot “Dasar nda sopan,”.

Urusan bertanya ini jadi semakin berat. Setelah banyak yang menjawab “Googling, aja,”, kini muncul teknologi lanjutan yang disebut mesin kecerdasan buatan generatif. Kecerdasan buatan yang dilengkapi dengan deep learning machine berpotensi untuk lebih memerosokkan kita ke jurang tidak mau berpikir kritis.

Dulu peserta didik kita masih berusaha belajar menjawab. Kini diserahkan saja pada kecerdasan buatan, salah satu yang populer adalah Chat GPT.

Platform atau aplikasi kecerdasan buatan ini bisa disuruh-suruh. Kalau pendidikan memberi tugas, peserta didik bisa langsung meniru perintah guru atau dosen ke chatbox dan tidak lama kemudian hasilnya akan disajikan.

Jika pengajar meminta peserta didik bertanya, Chat GPT juga bisa membantu untuk membuat pertanyaan bahkan daftar pertanyaan. Akhirnya peserta didik banyak yang bertanya, tapi pertanyaan palsu karena hasil dari chattingan dengan Chat GPT.

Tahun 2045 nanti dibayangkan sebagai jaman Indonesia Emas. Artinya bangsa dan masyarakat Indonesia diharapkan akan sejajar dengan bangsa dan masyarakat lainnya yang lebih maju, kaya dan sejahtera.

Masih ada waktu 20 tahun lagi untuk memperbaiki dunia pendidikan yang tidak identik dengan gonta-ganti kurikulum. Apapun kurikulumnya yang paling penting adalah mampu mendorong dan melatih para peserta didik untuk berpikir kritis. Jika hulunya adalah berpikir kritis niscaya hilirnya adalah kecerdasan, wawasan luas, kreatif dan inovatif.

note : sumber gambar – RADARBOJONEGORO