KESAH.ID – Dalam lima tahun terakhir kawasan ‘pulau’ Pangempang tumbuh menjadi destinasi yang ramai. Deretan pantai yang diusahakan oleh orang perorangan mampu menyedot minat wisatawan lokal Kalimantan Timur. Ke depan kawasan ini masih akan terus berkembang mengingat potensi wisatanya bukan hanya ada di pesisir pantai melainkan juga di dalam lautannya. Laut Pangempang kaya dengan biota laut dan terumbu karang kesukaan para pecinta alam bawah laut.
Pangempang, dusun atau kampung yang masuk dalam wilayah administratif Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara ini terbilang unik. Berada di muara sungai Marangkayu, Pengempang yang sering disebut sebagai pulau ini mempunyai deretan pantai yang bisa membuat pengunjung bingung memilih andai tidak punya rencana.
Pada kawasan seluas kurung lebih 95 hektar yang secara alamiah ditumbuhi oleh berbagai jenis mangrove seperti Avicennia alba – api api putih, Rhizophora apiculate – bakau minyak, Sonneratia alba – perepat, Bruguiera cylindrica – bakau putih, Ceriops tagal – mentigi dan Nypa fruticans – nipah; ada sederetan pantai bernama Pantai Jinga, Pantai Mutiara Indah, Pantai Ceria, Pantai Blue Beach, Pantai Pasir Putih, Pantai Pelangi, Pantai Panrita Lopi, Pantai Mangrove Pangempang dan Pantai Indah Kurma.
Pengusahaan wisata pantai yang dilakukan oleh orang per orangan ini mulai menarik perhatian wisatawan sejak tahun 2017. Warga Kota Samarinda yang tadinya berlibur ke pantai di wilayah Samboja dan Balikpapan kemudian ramai-ramai beralih ke Muara Badak karena lebih dekat.
Berjarak kurang lebih 62 km dari pusat Kota Samarinda, jika tidak ada gangguan di sepanjang jalan bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 1,5 jam.
Wisatawan yang datang dari luar daerah dengan menumpang pesawat dan turun di Bandara APT Pranoto, Sungai Siring bahkan lebih dekat lagi. Jika langsung menuju Pangempang, waktu tempuhnya kurang lebih 40 menit saja.
Sabtu, 29 April 2023, tepat satu minggu setelah lebaran ternyata pengunjung di Pangempang masih membludak. Jalan poros Muara Badak – Marangkayu ramai dengan hilir mudik kendaraan, membawa pengunjung menutup liburan lebaran dengan menikmati keindahan pesisir pantai di wilayah Muara Badak.
Dari antara pantai-pantai itu yang menjadi favorit pengunjung adalah Pantai Panrita Lopi. Selain mempunyai lahan parkir yang luas dan dijaga selama 24 jam, Panrita Lopi juga mempunyai dermaga penyeberangan sendiri. Layanan menuju dan dari Panrita Lopi tersedia selama 24 jam, kapan saja pengunjung bisa datang dan pulang.
Pantai Panrita Lopi bisa dibilang mempunyai sarana yang paling lengkap. Selain akses penyeberangan yang terbuka selama 24 jam, di destinasi dengan luas kurang lebih 1 hektar itu disediakan gazebo, kamar mandi, toilet, camping ground, mushola, air bersih dan listrik secara gratis. Pengunjung hanya perlu membayar satu kali untuk semua layanan itu. Yakni 50 ribu untuk yang pulang hari dan 60 ribu untuk yang menginap.
Oleh pemiliknya pantai Panrita Lopi memang didesain dengan konsep camping ground agar pengunjung bisa menikmati suasana pesisir pantai secara alamiah dengan berkemah atau berbaring-baring di hammock yang diikat di batang pohon cemara. Ditanam dengan cukup rapat, selain mampu menghadirkan kesejukan, jarak antara pohon pas untuk mengikat hammock.
“Selama liburan hari raya idulfitri ini, rata-rata pengunjung dalam sehari mencapai 2500 orang, sebagian pulang dan sebagian lagi menginap,” terang Ahmad, pemilik pantai Panrita Lopi yang lebih dikenal dengan nama Daeng Lompo.
Keberhasilan Daeng Lompo menjadikan pantai Panrita Lopi sebagai pantai yang paling direkomandasikan oleh mereka yang sudah pernah berkunjung adalah fasilitas.
Ibaratnya membawa badan saja sudah cukup, karena semua kebutuhan sudah tersedia disana termasuk kantin makanan dan minuman yang juga buka selama 24 jam. Harganya juga bersahabat, segelas kopi hitam manis, bisa dinikmati sambil menatap lautan dengan harga 5 ribu rupiah saja.
BACA JUGA : Sihir Pesona Rasa Kopi Luwak Prangat Baru

Untuk menjaga kenyamanan bagi pengunjungnya, Daeng Lompo yang juga merupakan ketua Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia, Kabupaten Kutai Kartanegara mengerahkan kurang lebih 15 personel setiap harinya.
Pengunjung yang kebanyakan datang berombongan antara 10 hingga 30 orang itu tak perlu kerepotan dengan barang bawaannya. Personel pantai Panrita Lopi akan sigap membantu mengangkut barang dari dermaga ke kawasan pantai dengan gerobak.
Suasana dan nuansa piknik benar-benar terlihat karena banyak rombongan bukan hanya membawa tenda serta terpal melainkan juga panci, kompor, ember hingga tabung gas 3 kiloan.
Perkembangan kawasan wisata pesisir Pangempang menjadi salah satu destinasi unggulan wisata alam di Kalimantan Timur tak lepas dari perhatian Ahmad Herwansyah, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur.
Selepas berkunjung ke Kampung Kopi Luwak, di Prangat Baru, Iwan bersama rombongan kemudian mampir ke Panrita Lopi untuk bermalam mingguan. Selain untuk menikmati suasana pesisir pantai, kunjungannya juga dimaksudkan untuk berbincang dengan para pengelola pantai dan pegiat wisata berbasis masyarakat lainnya.
Dalam kesempatan bincang-bincang di teras kediaman Daeng Lompo yang berada di sisi kanan Lorong Cemara, gerbang untuk menyambut pengunjung ke area pantai Panrita Lopi, Ahmad Herwansyah menyampaikan apresiasi atas upaya para pegiat wisata memajukan pariwisata.
Meski begitu ada beberapa catatan yang disampaikan olehnya. Salah satunya adalah soal kewaspadaan dini, terutama saat pengunjung datang dan pergi melalui penyeberangan.
“Sesuai standar atau protokol keamanan, mestinya setiap perahu penyeberangan dilengkapi dengan life jacket,” himbau Iwan.
Dalam kesempatan bincang-bincang yang juga dihadiri oleh pengelola pantai Blue Beach dan Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas {POKWASMAS} Bina Lestari itu disampaikan beberapa usulan agar usaha wisata di Pangempang bisa semakin maju dan berkembang.
Kawasan wisata Pangempang yang dipisahkan dari daratan utama oleh muara Sungai Marangkayu tidak terhubung dengan infrastruktur air bersih, listrik dan jaringan internet. Pengusaha selama ini mengusahakan air bersih dan listriknya sendiri.
Air yang disedot lewat sumur bor kualitasnya tidak cukup baik dan butuh listrik untuk mengalirkannya. Dengan demikian dibutuhkan banyak biaya untuk memenuhi kebutuhan air bagi pengunjung.
Listrik yang dihasilkan oleh generator selain mahal juga menimbulkan polusi suara. Bunyi mesin pembangkit listrik akan menganggu ketenangan pengunjung yang tengah menikmati syahdu bunyi angin dan deru lautan di pesisir pantai Pangempang.
Pada akhirnya besarnya biaya yang harus dianggarkan untuk kebutuhan air bersih dan listrik akan memangkas biaya yang mestinya bisa dipakai untuk mengembangkan fasilitas lainnya agar semakin menarik minat pengunjung.
Pun demikian dengan jaringan komunikasi data. Signal internet di kawasan wisata pantai Pangempang kurang kuat.
“Andai disini jaringan internetnya kuat pasti pengunjung akan semakin nyaman dan mau menghabiskan waktu lebih panjang,” ujar Daeng Lompo.
Menanggapi keluhan para pegiat wisata Pangempang, Ahmad Herwansyah menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa memberikan bantuan kepada pengusaha secara orang per orangan. Pemerintah bisa membantu melalui kelompok sehingga bantuan akan dirasakan atau dimiliki secara bersama.
“Kami akan membantu mengkoordinasikan pembangunan infrastruktur listrik, air atau internet agar kawasan ini terhubung,” ujar Iwan, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim.
“Bantuan dari kami bersifat terbatas dan harus umum, seperti papan penunjuk menuju destinasi, pos pengawas pantai atau bantuan lain yang sifatnya untuk meningkatkan sumber daya manusia di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” lanjut Iwan.
Meski begitu Ahmad Herwansyah juga berkomitmen untuk membantu para pengusaha pariwisata di Pangempang memberi rekomandasi atau surat pengantar jika mereka menemukan sumber-sumber lain di luar pemerintah yang bersedia membantu baik kepada kelompok maupun perorangan.
BACA JUGA : Tersinggung Itu Random

Matahari semakin redup surut ke ufuk barat. Sayangnya posisi pantai di ‘pulau’ Pangempang membelakangi posisi matahari kembali ke peraduannya. Laut lepas di hadapan pantai bukan tempat matahari terbenam namun tempat matahari terbit.
Walau gelap semakin merayap dan lampu warna-warni nan temaram mulai menghiasi pantai Panrita Lopi namun pengunjung masih tetap berdatangan. Semakin malam jumlah pengunjung yang datang semakin banyak ketimbang yang pulang.
Rombongan anak muda dan juga keluarga sengaja datang mulai sore hari ke Panrita Lopi untuk bermalam minggu.
Di malam minggu dan hari libur lainnya, panggung yang berada di samping deretan kantin yang menghadap ke lautan akan diisi dengan pertunjukkan. Malam itu diatas panggung tampil kelompok musik membawakan lagu-lagu yang akrab dengan telinga pengunjung.
Pengunjung Panrita Lopi yang menginap malam itu mungkin berjumlah seribuan, sebagian besar anak-anak muda. Mereka berkumpul di depan panggung, turut bernyanyi dan mengoyangkan badan mengikuti irama lagunya.
Usai penampilan live music, pengunjung yang mulai panas menjadi makin bersemangat dengan tampilan DJ memainkan rangkaian musik jedag-jedug. Yang tua bergoyang dan yang muda berjingkrak-jingkak hingga satu jam lewat tengah malam.
Serunya dugem pinggir pantai tanpa mabuk-mabukkan mengantar pengunjung terlelap dalam tenda dan peraduan masing-masing. Hujan yang turun mampu mengusir hawa panas yang membuat suasana tenda menjadi gerah. Tidur lelap dalam pelukan sejuknya dini hari di Pangempang menjadi kenangan indah sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Sayangnya hujan terus bertahan, Kepala Dinas Pariwisata Kaltim urung melihat pemandangan di bawah lautan. Sambil ditemani sarapan nasi kuning, Ahmad Herwansyah kemudian meneruskan perbincangan dengan Mansyur, ketua POKWASMAS Bina Lestari, Pangempang.
Hadir pula Muchlis Effendy, akademisi dan peneliti kelautan dari Universitas Mulawarman yang telah bertahun-tahun bekerjasama dan mendampingi POKWASMAS dalam melakukan konservasi dan pemulihan ekosistem laut di Pangempang.
Muchlis dan Mansyur beserta pegiat lainnya rajin ‘berkebun’ di lautan, menanam karang yang menjadi rumah dari berbagai biota laut sebagai potensi unggulan lainnya dari wilayah Pangempang.
Dari perbincangan pagi hari itu, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim mendapat gambaran dan potensi yang lebih luas dari Pangempang sebagai destinasi unggulan. Selain potensi pesisir dan pantai, Pangempang juga bisa dikembangkan menjadi destinasi untuk olahraga pancing dan wisata bawah laut.
“Terumbu karang ada di sepanjang lautan Pangempang,” ujar Muchlis yang rajin mendata dan memetakan kondisi bawah laut Pangempang.
Mansyur menambahkan bahwa laut Pangempang juga merupakan rumah bagi Penyu Sisik dan mulai disinggahi oleh Hiu Paus atau Hiu Tutul yang badannya besar dan mulutnya lebar namun tidak berbahaya. Mamalia laut ini dikenal ramah pada manusia, seperti layaknya hewan peliharaan yang jinak.
Ketika didesak untuk segera menyusun paket wisata bawah laut, Muchlis dan Mansyur sepakat bahwa pengembangan sumberdaya lokal yang lebih mendesak untuk dilakukan. Agar masyarakat setempat bisa mempunyai kualifikasi sebagai operator maupun pemandu wisata bawah laut.
Masih diperlukan sinergi dan kerjasama antar pihak agar kelompok masyarakat di Pangempang bisa menjadi operator wisata bawah laut.
Sebelum mengakhiri kunjungannya, Ahmad Herwansyah menyatakan kegembiraannya telah menghabiskan malam menikmati dugem di pantai Panrita Lopi. Kepada Slamet Hadirharjo, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Kartanegara, Ahmad Herwansyah mengusulkan agar pertunjukan musik akhir pekan bisa digelar di Pulau Kumala.
“Kalau hari Jum’at, Sabtu, Minggu ada pertunjukkan musik dan disko pasti Pulau Kumala ramai lagi,” pungkas Ahmad Herwansyah.








