KESAH.IDJorgen Martin, Marc Marquez dan Enea Bastianini berebut satu kursi yang tersisa di tim pabrikan Ducati untuk mendampingi Francesco Bagnaia pada 2025 nanti. Jorge Martin bahkan sudah mengancam akan memilih hengkang jika tak diberi kursi tim pabrikan. Ducati pusing karena kelebihan pembalap terbaik.

Baru 5 balapan dari 22 seri balap yang direncanakan pada Moto GP 2024 namun semua sudah berbincang soal Moto GP tahun 2025.

Ada banyak pembalap akan berakhir kontraknya di tahun 2024, sehingga tahun 2025 nanti akan terjadi banyak pergeseran atau perpindahan kursi.

Faktor bersinarnya Marc Marquez yang pindah dari Honda ke Gressini, serta kedatangan Pedro Acosta sebagai rookie yang langsung berprestasi membuat spekulasi line up pembalap di 2025 nanti makin dinamis.

Sebagian besar tim berharap akan mendapatkan pembalap terbaik. Namun situasi di tim Ducati justru berbeda. Mereka justru pusing tujuh keliling karena kelebihan pembalap terbaik sehingga mesti membuangnya karena hanya ada satu kursi tersedia.

Dua kursi di tim utama, salah satunya sudah diamankan untuk Pecco Bagnaia hingga tahun 2026 nanti. Satu kursi yang masih tersedia di tahun 2025 kemudian diperebutkan oleh Enea Bastianini yang kontraknya habis tahun ini, lalu oleh Jorge Martin yang tak mau lagi membalap untuk Pramac Ducati tahun depan dan Marc Marquez yang ingin menaiki motor pabrikan terbaru untuk tahun depan.

Secara obyektif, Pecco, Martin, Marquez dan Enea adalah pembalap Moto GP terbaik hingga seri kelima ini, mereka menduduki 4 peringkat teratas dalam klasemen kejuaraan.

Dengan kelebihannya masing-masing memang cukup sulit untuk menyimpulkan siapa yang terbaik diantara Jorge Martin, Marc Marquez dan Enea Bastianini untuk menjadi tandem bagi Pecco Bagnaia di Lenovo Ducati.

Situasi di Ducati mirip yang terjadi di ruang redaksi koran di jaman lampau. Dimana sang pemimpin redaksi berada dalam dilema karena berita besar kemudian diadu dengan iklan besar. Walau tugas utama penerbitan adalah memberikan informasi terbaik namun dibalik itu tetap perlu uang besar dari iklan untuk mendukung penerbitannya.

Pun demikian dengan tim balap di Moto GP. Tentu saja setiap tim ingin mendapat pembalap yang tercepat sehingga bisa merengkuh gelar juara. Namun sebuah tim selalu ditopang oleh pabrikan dan sponsor lainnya yang punya kepentingan untuk jualan.

Untuk apa juara kalau motornya tidak laku, begitu yang dipikirkan oleh para petinggi pabrikan dan sponsor lainnya. Yang paling penting untuk mereka adalah pembalap yang bisa meng-influence masyarakat untuk membeli produknya.

Itulah kenapa Suzuki hengkang dari Moto GP walau setahun sebelumnya berhasil merengkuh gelar juara dunia lewat Johan Mir. Suzuki juara namun penjualannnya jeblok di seluruh dunia.

Ducati yang menurunkan 4 tim dalam Moto GP dengan 8 pembalap tentu saja ingin motornya laris manis di seluruh dunia. Menguasai lintasan balap untuk menguasai pasar.

Dan pengaruhnya bukan hanya untuk motor saja karena Ducati yang sangat Itali itu sebenarnya dimiliki oleh Audi, perusahaan otomotif dari Jerman yang berada di bawah naungan group Volkwagen.

Saat ini Ducati belum mempunyai pembalap yang pengaruhnya pada pasar besar, seperti Rossi di Yamaha dan Marquez serta Pedrosa di Honda.

Valentino Rossi yang mempunyai tim balap di Ducati yakni VR46 sampai sekarang masih menjadi brand ambassador Yamaha. Nama Rossi masih melekat dengan Yamaha ketimbang Ducati.

Ducati memang pernah mempunyai Casey Stoner, namun pembalap Australia yang pensiun dini ini kemudian kecewa dengan Ducati karena menjadi motor yang sangat elektronik.

BACA JUGA : Jalur Independen

Jika hanya ingin memburu gelar juara, Ducati tidak terlalu sulit untuk menentukan pilihan. Jorge Martin yang akan dipilih untuk mendampingi Enea Bastianini. Sebab dalam 3 tahun terakhir ini Jorge Martin menunjukkan dirinya sebagai pembalap yang konsisten cepatnya.

Dia juga merupakan pembalap tim Pramac Ducati yang merupakan tim satelit resmi Ducati. Kursi lowong di tim Lenovo Ducati adalah haknya jika berprestasi.

Dan Jorge Martin sudah benar-benar ngebet untuk menjadi pembalap utama pabrikan Ducati sejak tahun lalu. Merasa telah melakukan segalanya dan tak ada yang perlu dibuktikan lagi, Martin menganggap Ducati belum memberikan apa yang berhak diperolehnya.

Maka setiap kali menyelesaikan balapan, Jorge Martin selalu menyemburkan ancaman terhadap Ducati. Secara terang Jorge Martin mengucapkan tak mau lagi membalap untuk Pramac Ducati tahun depan, dia menginginkan satu kursi tersisa di Lenovo Ducati.

“Saya akan memberikan bakat saya kepada pabrikan lain, jika Ducati tidak memilih saya,” ujar Jorge Martin.

Jorge terus menebarkan ancaman pada pabrikan Ducati. Sebuah ancaman yang bisa saja tidak disukai oleh para petinggi group Ducati.

Dalam dunia bisnis olahraga konon berlaku adagium “Pemain tidak boleh lebih besar dari tim-nya”. Sehingga desakan dari pemain {pembalap} kerap bikin illfill pemilik timnya.

Kabarnya hak istimewa ini hanya berlaku untuk Christiano Ronaldo dan Lionel Messi. Mereka berdua dimaklumi kalau mengatur-ngatur pelatihnya dan federasi sepakbola di negeri masing-masing.

Situasi batin Jorge Martin juga berpengaruh pada penampilannya di lintasan. Meski langganan menang, penampilan Jorge Martin tidak menghibur, tidak ada gimmick pada waktu selebrasi. Jorge Martin merayakan dengan datar-datar saja, wajahnya cenderung tegang terus. Mirip anak kecil yang keinginannya belum terpenuhi.

Vibe Moto GP sebagai sebuah pertunjukkan tak bisa dibangkitkan oleh Jorge Martin. Sebagai pembalap paling bersinar kehadiran Jorge Martin di lintasan tidak memancing euforia penonton. Dan bagi para sponsor maupun penyelenggara ini adalah kabar buruk.

Seri Moto GP 2024 ini memang agak aneh. Atmosfernya justru tidak berfokus pada Pecco Bagnaia juara bertahan dan Jorge Martin penantang yang paling potensial.

Mata pengamat dan penonton Moto GP justru tertuju pada Marc Marquez yang berhasil come back dengan Ducati di Gressini, dan Pedro Acosta, rookie yang langsung nyetel dengan motornya.

Marc dan Pedro berhasil menarik perhatian lewat penampilannya. Marc yang dulu penampilannya cenderung kalem saat tidak membalap, kini makin ekpresif dan rajin joget gemoy. Sementara Pedro mengingatkan kembali pada aksi dan gimmick Rossi di waktu muda.

Sebagai sesame pembalap dari Spanyol, Jorge Martin jadi semakin gundah. Karena telah menunjukkan prestasi namun pengakuan sebagai pembalap utama Spanyol nampaknya tidak akan beralih dari Marc Marquez kepadanya. Tahta di hati masyarakat Spanyol nampaknya akan berpindah pada Pedro Acosta.

BACA JUGA : Samarinda Kreatif

Balapan di sirkuit Le Mans Perancis membuat nama Marc Marquez semakin melambung. Start dari posisi ke 13, dalam balapan sprint dan utama Marc Marquez berhasil finis di podium kedua. Dua kali berturut Marc Marquez melakukan aksi fantastik di lintasan, aksi yang kemudian tak bisa dibilang sebagai keberuntungan.

Road map come back Marc Marquez sudah tergambar sejak seri pertama balapan Moto GP 2024. Secara perlahan penampilan Marc Marquez mulai menghapuskan keraguan atas dampak cidera parah dan umurnya yang menua.

Keadaan berbalik, Marc Marquez yang tahun lalu kesulitan mencari tim pabrikan untuk merengkuh asa kembali setelah kedodoran dengan Honda hingga terpaksa hanya bergabung di tim satelit kini menduduki peringkat atas pasar pembalap.

Ducati yang sebelum tidak begitu bernafsu merekrut Marc Marquez sekarang mulai tergoda untuk mempertahankannya.

Mempertahankan Marc Marquez penting untuk Ducati dalam rangka prestasi dan pasar. Marc Marquez tetap merupakan salah satu pembalap terkuat di Moto GP dalam beberapa tahun ke depan sekaligus magnet untuk promosi dan pertunjukan.

Tak bisa dipungkiri, vibe Moto GP 2024 yang makin meningkat tak lepas dari performance Marc Marquez bersama Gresini. Kini balapan Moto GP semakin meriah seperti pertunjukan musik. Penontonnya bersorak-sorai ketika melihat Marc Marquez mulai garang dan meliuk-liuk di lintasan. Jumlah penonton di sirkuit juga meningkat, bahkan beberapa mencetak rekor.

Bagi para petinggi produsen motor dan perusahaan sponsor ini yang paling penting. Mereka mungkin tak melihat para pembalapnya di lintasan, yang mereka pantau hanyalah kabar bagaimana pembalapnya mampu menyedot perhatian penonton, pengamat dan media.

Dan tak seperti halnya Jorge Martin, Marc Marquez tampil lebih slow dan cenderung slengean. Marc Marquez tidak menekan-nekan untuk mesti ini atau itu. Dia menegaskan tahun depan tak peduli menaiki motor dari mana atau warna apa, yang dipintanya hanya satu motor dengan spek terbaru.

Marc Marquez selain kelakuannya yang brutal ketika berusaha melewati pembalap lainnya, sikap lainnya di lintasan cenderung terpuji. Amat jarang Marquez mengeluhkan motor dan tim-nya, pun ketika terjatuh Marc Marquez akan segera berdiri, mengambil motornya dan melanjutkan balapan. Marc teramat jarang menunjukkan kekecewaan pada motornya dan kejadian di lintasan.

Ducati jadi pusing karena harus segera memberi kepastian, agar pembalap terbaiknya yang akan tersingkir bisa segera menata masa depannya di lintasan balap. Entah tetap bertahan di tim satelit atau berpindah ke tim pabrikan lainnya.

Padahal mestinya Ducati tak perlu pusing dan khawatir kehilangan pembalap terbaiknya. Berikan saja kursi untuk Jorge Martin di tim utama. Enea kembali ke Pramac Ducati dengan motor pabrikan, dan Marc Marquez tetap di Gresini dengan motor terbaru dan dukungan teknis penuh dari Ducati plus gaji dan tambahan sponsor baru.

Rasanya buat Marc Marquez kursi di tim utama bukanlah hal penting, yang utama untuknya adalah motor yang paling kompetitif di tahun depan agar bisa merebut gelar juara dunia kembali.

note : sumber gambar – RIDERTUA