KESAH.ID – Gemoy menjadi ilusi realitas paling berhasil menjelang pemilu 2024. Barangkali masyarakat tak mau tercekam dengan situasi atau kondisi seperti pemilu 2019. Mungkin kita ingin pemilu yang damai, namun jika damai itu diwujudkan hanya dalam jogat-joget dan tampilan mengemaskan, maka bisa dipastikan kita tidak benar-benar akan menemukan pemimpin yang diperlukan untuk membawa Indonesia menuju bangsa dan negara yang unggul.
Sekali saya menjadi juri debat, juri dadakan karena yang diminta sebelumnya tiba-tiba berhalangan. Sebenarnya saya merasa tak pantas, mencoba mengelak. Namun karena yang meminta percaya dan meyakini saya bisa maka kemudian saya terima saja.
Sebagai juri saya kemudian terpana, oleh kelompok-kelompok mahasiswa aktivis debat yang sungguh menghayati SOP debat. Sekilas membosankan namun di balik itu terlihat mereka begitu menata pikiran untuk mengungkapkan narasi yang bertujuan untuk mendukung atau menolak sebuah statement tertentu.
Terbiasa mengikuti lomba, peserta debat terlihat disiplin dengan batasan-batasan yang ditetapkan oleh panitia dan moderator.
Melihat penampilan peserta saya jadi malu dengan masa lalu. Seingat saya waktu SMA, di sekolah saya ada kegiatan Mimbar Akademi. Di sekolah yang berasrama, kegiatan Mimbar Akademi menjadi pengisi kegiatan akhir pekan.
Ada bermacam-macam jenis kegiatan untuk menguji kemampuan beretorika dan membangun argumentasi. Salah satunya debat. Tapi keterbatasan pengetahuan, ketidakdisiplinan dan ketaatan pada SOP debat membuat debat di Mimbar Akademi kerap berlangsung panas. Emosinya bisa bertahan lama hingga nanti dilampiaskan sampai ke lapangan bola. Gara-gara panas karena beradu argumen dalam debat, giliran waktu bermain bola bukan bola yang digasak melainkan kaki lawan debat.
Tradisi debat ada dalam wilayah akademis, argumen akan dibangun dengan landasan disiplin ilmu atau pengetahuan tertentu. Maka debat bukan sekedar otot-ototan atau bahkan cela-celaan. Menang kalah bukan soal membuat lawan bungkam, tetapi argumennya digugurkan dengan data yang lebih mumpuni, dengan landasan berpikir yang lebih ajek dan metodologis, teori yang sudah teruji.
Namun debat menjadi lebih seru dalam ruang politik. Ukuran dan parameternya lebih cair. Kemampuan retorika dan keberanian menunjukkan kelemahan lawan kemudian menjadi senjata andalan.
Sejak pemilu Presiden secara langsung, debat kandidat menjadi salah satu bagian dari proses menuju pemilu presiden. Meski telah dicoba untuk membudayakan, namun debat kandidat dalam pemilu presiden di Indonesia belum menjadi parameter atau acuan bagi pemilih untuk menentukan pilihannya.
Dari berbagai survey, hasil atau penampilan di debat kandidat tidak secara signifikan meningkatkan popularitas dan elektabilitas. Atau dengan kata lain, pemilih di Indonesia mayoritas bukan pemilih rasional, pemilih yang menentukan pilihannya berdasarkan visi misi, rekam jejak dan kemampuan menerangkan apa yang akan atau hendak dilakukan ketika berkuasa.
Mengharapkan debat yang seru menjadi sia-sia, walau sorak-sorai mungkin selalu mengema karena pendukung akan tetap bersorak dan menganggap yang didukungnya adalah pemenang meski penampilan dan argumentasinya payah.
Penyelenggara debat sendiri selalu berupaya agar debatnya tidak berlangsung panas. Format debatnya dari pemilu ke pemilu berbeda, dan makin lama makin diupayakan agar tidak terjadi silang pendapat yang keras.
BACA JUGA : Rembuk Paripurna KTNA Samarinda Utara – Sungai Pinang, Sunil Terpilih Aklamasi
Bisa jadi debat kandidat para calon presiden yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum Indonesia adalah debat tanpa debat.
Ada beberapa pertanyaan yang disusun oleh para panelis, yang hadir dalam debat itu untuk mengambil pertanyaan yang kemudian diberikan kepada moderator. Jadi tugas panelis yang adalah akademisi pilihan dari berbagai universitas adalah menyusun pertanyaan.
Para kandidat berdasarkan urutan kemudian diminta untuk menyampaikan uraian dan kemudian ditanggapi oleh kandidat lainnya tanpa boleh bertanya.
Debat terasa menjadi membosankan padahal isu yang dibahas cukup seru. Keseruan hanya muncul dari sorak sorai para pendukung yang sebagian berlebihan karena menonton debat dianggap sebagai menonton pertandingan sepakbola atau tinju.
Salah satu semangat tidak pada tempatnya ditunjukkan oleh seorang cawapres, dia berdiri menggerakkan kedua tangannya ke atas bawah seolah mengajak pendukung capres tertentu untuk terus bersorak-sorak penuh semangat.
Nampaknya dia memang sudah terbiasa salah kaprah meminta atau menyuruh memberi tanggapan kepada audience sebagaimana banyak penjabat kerap meminta hadirin memberi tepuk tangan.
Lalu siapa yang memenangkan debat pertama yang diselenggarakan oleh KPU itu?.
Dengan menempatkan diri bukan sebagai pendukung atau simpatisan kandidat tertentu maka dengan mudah kita akan mengatakan Capres Nomor Urut 1 sebagai yang unggul dalam debat kandidat itu.
Unggul karena memakai waktu dengan baik, sehingga kelihatan kesiapannya dalam mengikuti debat. Unggul pula dalam penjelasan karena memakai pointer-pointer. Dan unggul dalam menghidupkan situasi atau suasana.
Ganjar sebenarnya tampil meyakinkan sebelum debat berlangsung. Masuk bersama dengan Mahfud MD dengan baju putih bertuliskan sat set sementara Mahfud kebalikannya yakni tas tes, dua-duanya bermakna sama.
Tapi begitu memasuki sesi debat, seperti kurang percaya diri, kurang merasa nyaman. Terlihat Anies Baswedan justru lebih rileks seolah tanpa beban. Sementara Prabowo sepertinya ingin debat segera selesai, waktu yang diberikan tidak banyak dimanfaatkan sampai habis. Dia sering mengatakan “cukup”. Ibaratnya ingin mengatakan “Ngapain ngomong panjang-panjang, kalau debat tidak menentukan pilihan,”.
Anies memenangkan sesi debat karena memahami makna debat. Dalam debat harus ada serangan pada argumen lawan. Mengusung label perubahan, Anies memang dengan mudah menarik batas yang jelas terhadap lawan. Ada kontras yang jelas antara gagasannya dengan apa yang dilakukan oleh regim yang sedang berkuasa dan pihak yang mengklaim akan menjadi penerusnya.
Di banding dengan kandidat lainnya, Anies berani menyentil isu yang sensitif dan kerap dihindari politisi di Indonesia yakni masalah Papua.
Prabowo tampil sebaliknya, sebagai Menteri Pertahanan dia tampil defensif. Hanya saja beberapa kali nampak terpancing emosinya sehingga melakukan serang personal kepada lawannya, terutama Anies Baswedan. Hal yang tidak pantas ditampilkan dalam perdebatan yakni mengejek atau merendahkan lawan ditunjukkan oleh Prabowo.
BACA JUGA : Atas Nama Cuaca Samarinda
Beberapa kali Prabowo menunjukkan persoalan serius yang sedang dibahas dibawa menjadi gurauan, entah lewat ucapan atau gestur tubuhnya. Branding gemoy nampaknya benar-benar dijiwai oleh Prabowo.
Dengan melucu Prabowo seperti ingin menghindari untuk menerangkan sesuatu secara tuntas, dengan melucu Prabowo menjadi tak menjawab pertanyaan yang dipilihkan oleh panelis.
Prabowo membawa debat capres menjadi bukan debat.
Strategi debat yang bukan debat ini konsisten dengan sikap Prabowo dan tim-nya yang berupaya sebisa mungkin untuk menghindari perdebatan, terutama jika dikaitkan dengan rekam jejaknya terdahulu.
Pun dalam politik nampaknya Prabowo berupaya berpolitik tanpa politik. Tidak ada gagasan politik baru yang ditawarkan, dengan tegas Prabowo hanya menyatakan sebagai penerus Jokowi. Seolah kalau menjadi pemenang maka pemerintahannya bisa diibaratkan sebagai periode ketiga Joko Widodo yang gagal diwujudkan karena halangan konstitusi.
Pola berpolitik tanpa politik ini sepertinya sudah dipersiapkan sejak lama, dibangun dengan narasi keberhasilan pemerintahan Joko Widodo yang menjelang akhir kekuasaannya ternyata masih tinggi popularitasnya.
Saking tingginya sampai-sampai memunculkan niat agar masa kepresidenannya diperpanjang.
Keberhasilan ini kemudian diklaim mesti diteruskan. Maka siapa yang kemudian ‘direstui’ oleh Jokowi kemudian dengan sendirinya akan menerima estafet untuk mendapat mandat dari rakyat.
Dengan label sebagai penerus maka tak perlu terlalu banyak berkampanye, cukup menunjukkan diri sebagai penerus sejati dengan terus menyakinkan masyarakat bahwa apa yang dilakukan oleh Joko Widodo akan dilanjutkan plek ketiplek.
Dan dari hasil survey kelihatan sejauh ini cara yang ditempuh nampaknya berhasil, berhasil tetap memikat rakyat.
Kontras antara Prabowo dan Anies ini kemudian menimbulkan kesulitan tersendiri untuk Ganjar Pranowo. Berposisi mengambil jalan tengah, Ganjar menjadi kurang menarik perhatian.
Pasalnya yang disebut dengan politik elektoral selalu berwatak hitam putih. Hasilnya hanya menang atau kalah, maka memoderasi bukanlah pilihan.
Politik jalan tengah adalah politik kebijakan ketika nanti sudah memenangkan pemilu.
Menempuh politik jalan tengah dalam rangka memenangkan pemilihan bukanlah jalan yang populer. Politik jalan tengah mungkin memang menyejukkan namun sulit dipakai untuk memenangkan kontestasi elektoral.
Gemoy menjadi ilusi realitas yang paling berhasil menjelang pemilu 2024, masyarakatpun mahfum dengan debat tanpa debat dan politik tanpa politik. Namun masih ada waktu puluhan hari agar masyarakat sadar bahwa politik tidak sekedar jogat-joget, masalah bangsa dan negara yang kian berat tak mungkin bisa diselesaikan oleh mereka yang gagal menyampaikan dengan terang gagasannya dalam waktu 2 atau 4 menit.
note : sumber gambar – DISWAY.ID







