Sudah jarang kita dengar orang mengatakan EGP, Emang Gua Pikirin. Pangkalnya, terutama di media sosial, orang kerap kali tidak lagi mikir saat mengungkapkan atau mengatakan sesuatu.
Seiring dengan surutnya istilah EGP, kini mulai lebih sering kita mendengar istilah EBT.
EBT adalah kependekan dari Energi Baru Terbarukan. Dalam istilah ini terkandung apa yang disebut energi baru dan energi terbarukan.
Apa beda energi baru dan energi terbarukan?.
Definisi energi baru dan terbarukan bisa ditemukan dalam Perpres Nomor 5 tahun 2006 Tentang Kebijakan Energi Nasional.
Energi baru adalah bentuk energi yang dihasilkan oleh teknologi baru baik yang berasal dari energi terbarukan maupun energi tidak terbarukan.
Baru artinya belum banyak dipakai atau masih dikembangkan. masih diuji kelayakannya untuk dipakai secara massal dan laik sebagainya.
Contoh energi baru dari energi terbarukan misalnya energi matahari, energi angin, energi gelombang laut. Sementara contoh energi baru dari energi tak terbarukan adalah Coal Bed Methane, Coal Gasification, Coal Liquifaction, Hidrogen dan Nuklir.
Catatan khusus untuk hidrogen dan nuklir meski tak terbarukan namun digolongkan dalam jenis energi berkelanjutan.
Sebab hidrogen berbahan air yang tentu tak akan habis sementara nuklir berbasis pada reaksi berantai radioaktif sehingga bahan bakarnya bakal beranak pinak ratusan bahkan ribuan kali.
Dalam beberapa dekade belakangan ini dorongan untuk memperbesar pemakaian energi baru dari sumber terbarukan semakin besar. Sebab konsumsi energi dari sumber yang tak terbarukan selain mencemari lingkungan, meningkatkan suhu bumi namun juga banyak menimbulkan persoalan kerusakan lingkungan dan sosial budaya di lokasi pertambangan.
Sebagai negara dengan sumberdaya terbarukan yang besar, pemanfaatannya untuk sumber energi akan membuat Indonesia mandiri energi, utamanya energi yang bersih. bukan hanya bersih dari sisi gas buangan melainkan juga peluang untuk bersih dari sisi tata kelola.
-000-
Tak perlu diragukan lagi bahwa Indonesia mempunyai sumber energi terbarukan yang maha besar. Sumber yang akan bisa menjadikan Indonesia sebagai negara adidaya energi.
Namun lagi-lagi kita tak boleh terjebak dalam glorifikasi. Di masa lalu kita punya banyak adi-adi daya namun akhirnya tak menjadi apa-apa karena kita tak punya peta jalan dan rencana strategis untuk memanfaatkannya.
Ekstraksi sumberdaya alam hasilnya lebih banyak dieksport untuk menjadi sumber energi bagi industri dan kota di luar negeri. Di negeri sendiri bahkan ditempat sumberdaya itu ditambang masyarakat kalau tifak kegelapan, listrik yang tersedia byar pet.
Sumber energi lebih diperlakukan sebagai komoditi ketimbang aset untuk mengembangkan diri.
Memberlakukan sumber energi sebagai komoditas menjadikan perhatian terhadap sumber energi yang tidak bernilai komoditas menjadi rendah.
Akibatnya kita menjadi tertinggal dalam pemanfaatan energi terbarukan, energi bersih, murah, hemat dan berbasis pada sumberdaya lokal.
Kini banyak negara menjadi terdepan dalam pemanfaatan energi terbarukan. Mereka terdepan karena mempunyai platform dan teknologi yang telah teruji untuk pemanfaatan secara massal.
Sementara kita tertinggal, padahal setiap universitas punya lembaga penelitian,setiap kementerian dan departemen juga ada lembaga penelitiannya dan bahkan di setiap pemerintah daerah juga ada badan pengembangan dan penelitian.
Entah apa yang diteliti namun yang pasti sebagai sektor yang strategis nampaknya penelitian dan pengembangan energi terbarukan bukan sesuatu yang dilirik oleh lembaga penelitian yang jumlahnya bejibun itu.
Maka jika nanti pemerintah berniat untuk lari sprint guna mengejar peningkatan bauran energi terbarukan, jalan yang akan ditempuh adalah membuka pintu investasi sebesar mungkin bagi para investor di luar negeri.
Dan kesempatan ini pasti akan dilalap oleh investor luar negeri, oleh negara-negara yang telah punya pengalaman panjang dalam penerapan energi bersih secara massal.
Investasi sektor energi adalah investasi yang sangat menguntungkan. Konsumen akan selalu ada, produk akan laris tanpa perlu diiklankan.
Namun menyerahkan kendali produksi energi kepada investor luar negeri akan menjadi anomali. Aneh bin ajaib, sebagai negeri lumbung energi namun ternyata tak punya kemandirian energi.
Orang datang membangkitkan energi dari sumberdaya yang kita punyai dan kemudian kita beli.
-000-
Tapi tak usah bermimpi terlalu jauh soal energi bersih yang bersumber dari energi terbarukan.
Jalan itu masih panjang. Sebab komitment pemerintah perihal energi bersih tak akan berjalan mulus selama pemerintah belum mampu membersihkan pemain dalam permainan kotor pada sektor energi kotor.
Di dalam lingkar ekploitasi, produksi dan distribusi energi minyak dan batubara telah terbentuk lingkaran kepentingan ekonomi yang melingkar-lingkar di kekuasaan sampai ke akarnya.
Lingkaran ini bukan hanya di tingkat pemerintah pusat melainkan juga sampai ke tingkat pemerintahan daerah.
Lingkaran kepentingan dengan rente yang besar ini tentu tak ingin kehilangan kekuasaan dan kekayaan. Mereka akan terus berupaya agar negeri kita tetap bertahan menjadi pengkonsumsi yang rakus akan industri kotor. Mereka akan berjuang sekuat tenaga agar kita tak segera banting setir dari energi kotor ke energi bersih. Dari energi tak terbarukan ke energi terbarukan.
Namun agar tak terlihat kasar, kampanye energi terbarukan akan tetap dilakukan. Proyek-proyek kecil juga dilaksanakan utamanya di tempat-tempat terpencil. Energi terbarukan kemudian dicitrakan cocok untuk daerah tertinggal, bukan perkotaan.
Dan kota tempat bercokolnya para pemain kotor energi fosil dan batubara tetap.didorong untuk rakus mengkonsumsi energi kotor.
Permainan kotor ini seakan menjadi lestari sebab politik di negeri kita butuh ongkos besar. Dan dari sumber yang kotor ini bisa menjadi salah satu pundi untuk memenuhi kebutuhan ongkos politik yang besar.
Karena berinvestasi dalam politik para pemain kotor tetap bisa bermain-main dengan energi kotor.
Akan lebih sial lagi jika kemudian para pemain kotor ini bukan hanya menjadi ‘cukong’ melainkan juga terjun sebagai politisi dan kemudian menguasai panggung politik serta jabatan publik.








