Sesiapapun yang pernah sekolah, tak peduli rajin atau pemalas, bodoh atau pintar pasti pernah mendapat pelajaran tentang siklus hidrologi. Pokok pelajaran yang menerangkan bahwa air ajeg jumlahnya karena berada dalam putaran.
Yang rajin dan pintar tentu juga masih ingat bahwa siklus air itu terdiri dari siklus pendek, siklus menengah dan siklus panjang.
Gangguan pada siklus ini akan menimbulkan persoalan yang disebut dengan bencana. Yang paling popular tentu saja banjir. Tapi gangguan atau bencana yang berhubungan dengan air bukan hanya banjir.
Banjir mempunyai saudara kembar yaitu kekeringan. Dan saudara sepupu yaitu longsor dan kebakaran lahan.
Istilah banjir adalah saudara kembar dari kekeringan, pertama kali saya dengar dari Dr. Agoes Maryono, penggagas restorasi sungai dari Universitas Gajah Mada. Olehnya disebut sebagai saudara kembar karena penyebab banjir dan kekeringan itu interdependen.
Sebuah daerah yang pernah mengalami banjir pasti akan mengalami kekeringan. Sebab banjir adalah pertanda air permukaan tinggi, itu artinya air yang tersimpan atau terserap dalam tanah rendah. Air hujan terbuang, tidak tertanam dalam tanah. Sehingga nanti jika tidak hujan, cadangan atau simpanan air dalam tanah tidak ada sehingga kekeringan.
Singkatnya apabila si kembar hadir di sebuah wilayah maka akan terjadi perubahan musim atau iklim. Musim hujan akan berganti menjadi musim banjir dan musim kemarau akan menjadi musim kekeringan.
Selain bencana banjir dan kekeringan, bencana berikutnya yang menyertai adalah tanah longsor dan kebakaran lahan.
Kalimantan Timur meski secara umum dipandang aman dari bencana akibat dinamika ‘ring of fire’ seperti letusan gunung, hujan abu, tsunami dan gema bumi namun tak bisa lepas dari paket bencana banjir, kekeringan, tanah longsor dan kebakaran lahan.
Adalah sulit untuk menghindarkan diri dari bencana letusan gunung, hujan abu, tsunami atau gempa bumi, namun tidak dengan banjir, kekeringan, tanah longsor dan kebakaran lahan yang penyebabnya kerap kali lebih erat berkaitan dengan perilaku masyarakat dan kebijakan.
Banjir, kekeringan, longsor dan kebakaran lahan bisa dicegah atau diminimalisir apabila siklus air, dinamika dan ruang air masih terjaga.
Yang disebut dengan siklus air adalah menjaga keseluruhan siklus sehingga seimbang antara siklus pendek, siklus menengah dan siklus panjang. Jika hujan yang jatuh ke permukaan tanah tidak tertahan dan kemudian masuk ke badan air yang mengalirkan ke laut maka dipastikan banjir akan kerap terjadi.
Siklus pendek akan mengakibatkan dinamika atau keseimbangan air antara hulu dan hilir menjadi terganggu. Di hulu cepat mengering namun dihilir akan terus kelebihan air.
Manajemen air hujan sebenarnya adalah menahan air selama mungkin di hulu untuk kemudian dialirkan pelan-pelan atau secara bergiliran ke hilir. Air disimpan dan ditahan dengan berbagai cara. Baik di permukaan maupun di dalam tanah.
Yang terpenting dalam manajemen air hujan adalah ruang air. Secara alamiah bumi telah berproses untuk kemudian membentuk ruang-ruang air. Baik ruang tangkapan, ruang penyimpanan sementara, ruang filtasi maupun ruang pengaliran.
Seiring dengan pertumbuhan manusia dan kebutuhan ruang infrastruktur, keberadaan ruang-ruang ini terampas dan tidak tergantikan. Masyarakat tempo dulu yang miskin pengetahuan teknik justru lebih arif. Membangun sembari melakukan adaptasi pada lingkungannya sehingga melahirkan keberagaman kebudayaan.
Semakin berkembang ilmu pengetahuan, keberagaman kebudayaan semakin menjadi menyempit. Dunia kemudian dikendalikan oleh trend global termasuk halnya dalam bidang infrastuktur. Pembangunan kemudian abai pada dinamika alam meski kebanyakan disertai dengan kajian maupun analisis dampak lingkungan.
Hasilnya ruang air menjadi hilang. Bukit dengan tutupan vegetasi diratakan, rawa tempat menampung air sementara diuruk, sungai diluruskan, pantai direklamasi dan seterusnya. Pun juga perkerasan permukaan tanah secara massif terjadi dimana-mana sehingga terjadilah defisit ruang air.
Akibatnya bisa ditebak, akan terjadi banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Juga tanah longsor dan kebakaran lahan karena kelembaban tanah yang kurang.
Benar bahwa kita mempunyai banyak ahli air, tapi ahli air tak akan mampu mengatasi masalah banjir, kekeringan dan sebagainya karena mereka tak mampu melenyapkan air disaat banjir dan menciptakan air di saat kekeringan. Para ahli umumnya hanya pintar membuat kerangka acuan untuk menciptakan proyek-proyek keairan yang berkelanjutan.
Proyek yang tidak ditujukan untuk mengembalikan siklus air, menyeimbangkan dinamika air dan mengembalikan ruang air.








