KESAH.ID – Tik Tok pada mulainya dicibir, namun lama kelamaan menjadi buah bibir karena semua-semua serba Tik Tok. Apa yang kini viral di berbagai platform media sosial selalu dimulai dari Tik Tok. Namun platform yang dulu identik dengan goyang-goyang ini kini menjadi entitas besar perdagangan, banyak orang cuan melalui Tik Tok. Hanya saja lama kelamaan barang-barang yang dijual di Tik Tok kebanyakan dari Tiongkok. Barang dari produsen lokal terutama usaha kecil dan menengah tersingkir. Tik Tok mesti memperjelas identitasnya, sebagai sosial media atau platform e-commerce. Jika terus abu-abu maka bukan tidak mungkin akan semakin banyak yang menyuarakan pelarangan atasnya.

Mungkin tak banyak orang yang ingat atau tahu kalau Teten Masduki, panglima antikorupsi di Indonesian Corruption Wacth itu kini menduduki jabatan sebagai menteri. Kementeriannya memang jauh dari dunianya dulu, dunia aktivisme.

Bersamaan dengan reformasi tahun 1998, ICW berdiri dan Teten mengetuainya. Nama ICW moncer karena berhasil membongkar berbagai kasus korupsi. Setelah itu Teten aktif di Transparansi Internasional Indonesia tetap sebagai aktivis anti korupsi.

Popularitasnya sebagai aktivis mengantarnya ke dunia politik. Tahun 2012, Teten Masduki maju dalam pilkada gubernur Jawa Barat. Teten berpasangan dengan Rieke Diah Pitaloka. Pasangan yang didukung oleh PDI Perjuangan ini cukup sukses karena keluar sebagai runner up.

Karir politik pemerintahan Teten berkembang bersama Jokowi. Awalnya Teten Masduki ditunjuk sebagai Kepala Kantor Staf Presiden. Dan pada periode pemerintahan Joko Widodo yang kedua, Teten ditunjuk sebagai Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah {Menkop UKM}.

Paska Reformasi Koperasi memang disimpang jalan. Institusi ekonomi kolektif yang dulu populer di masa Presiden Suharto, lebih sering populer karena kasus. Banyak Koperasi Simpan Pinjam hanya menjadi kedok untuk mengumpulkan kekayaan para pengurusnya. Banyak yang memakai nama koperasi padahal operasinya lebih seperti money game atau skema ponzi.

Koperasi menjadi lebih sulit lagi dengan perkembangan model ekonomi dan bisnis baru yang berbagis digital. Banyak koperasi tumbang atau hanya tinggal papan nama, digantikan oleh start up yang lebih gesit, berbasis teknologi dan mendapat suntikan dana dari  investor.

Bukan hanya koperasi yang tenggelam, Menteri Koperasi dan UKM pun tidak ada yang kenal. Padahal dulu Kementerian Koperasi termasuk yang mainstream, nama menterinya harus dihafal oleh siswa karena sering keluar dalam pertanyaan ujian.

Kalau pertanyaan itu disisipkan dalam ujian anak sekolah sekarang, pasti banyak yang tahu sehingga salah jawab karena asal-asal.

Beruntung ada Tik Tok yang kemudian membuat Teten jadi berita. Beritanya pun terkait dengan Tik Tok karena Teten Masduki murka karena Tik Tok membuat UKM di Indonesia merana.

Kok bisa?.

Ternyata, Tik Tok yang selama ini dikenal sebagai aplikasi video pendek berisi jogat-joget diiringi lagu itu telah bermetamorfosa. Tik Tok tidak murni lagi sebagai sebuah sosial media, sarana untuk bersenang-senang dan mencari hiburan dengan menonton atau membuat video singkat. Tik Tok telah berubah menjadi Socio Commerce.

Lho, bukannya facebook dan instagram juga mempunyai fitur-fitur yang yang digunakan untuk melakukan kegiatan socio commerce. Sama seperti di Tik Tok, di Facebook dan Instagram orang bisa live untuk jualan. Facebook juga mempunyai fitur marketplace dan di Instagram pemakainya juga bisa membuat toko.

Tapi Tik Tok memang beda, kalau Facebook dan Instagram sekedar memfasilitasi tidak demikian halnya dengan Tik Tok. Aplikasi Tik Tok pada akhirnya memang ditujukan untuk kepentingan jualan, bukan produk para pemakainya melainkan produk dari Tiongkok.

Dengan demikian yang jualan adalah Tik Tok, semua transaksi dan catatan serta arus uangnya ada di dalam kendali tik tok.

Teten Masduki kemudian meminta Tik Tok dilarang jualan, tetap menjadi sosial media bukan sociocommerce. Kalaupun tetap ngotot maka Tik Tok harus mengikuti peraturan yang dikenakan pada aplikasi atau penyelenggara e-commerce.

BACA JUGA : APK Yang Menghibur

Tik Tok ketika pertama muncul di Indonesia disepelekan. Sama seperti produk-produk dari Tiongkok lainnya, awalnya memang selalu dijadikan olok-olokkan.

Kita pasti ingat dengan istilah Mocin, motor China. Istilah mocin lewat mewakili persepsi atau stigma, bahwa yang disebut barang dari China itu mudah rusak, kalau rusak tak onderdilnya. Layanan after sales – nya buruk atau memang tak ada.

Sampai-sampai ketika ada motor bermerek JRD kemudian diplesetkan menjadi Jika Rusak Dorong.

Begitu juga dengan HP, sebelum era Oppo, Vivo, Xiomi, Infinix, Huawei dan lain-lain, semua HP merek China dipandang sebelah mata. Hingga muncul istilah Lembiru, atau lempar beli baru. Artinya kalau HP China rusak nggak usah diperbaiki, percuma karena ongkosnya sama dengan kalau beli baru.

Platform sosial media yang dirancang untuk membuat, mengedit dan mempublikasikan video pendek mulai 15 detik sampai 3 menit ini diluncurkan di Tiongkok tahun 2016 dengan nama Douyin. Tik Tok adalah sebutan untuk aplikasi ini diluar Tiongkok. Pengembangnya ialah Zhang Yiming dari Bytedance.

Video pendek populer sejak diperkenalkan oleh aplikasi Vine yang kemudian disusul oleh Musical.ly platform yang menyediakan sinkronisasi bibir, tarian yang menghibur dan menambahkan lagu. Aplikasi ini sangat disukai oleh remaja-remaja Amerika.

Tahun 2017, Musical.ly diakuisisi oleh bytdace dan kemudian digabungkan dengan Tik Tok. Dan pada tahun yang sama Tik Tok mulai masuk Indonesia dan tidak langsung populer. Bowo ‘Alpen Liebe” menjadi salah satu sosok yang mempopulerkan Tik Tok di Indonesia.

Namun kebanyakan orang masih bingung melihat Tik Tok, bingung dengan orang jogged-joged tapi disukai oleh banyak orang. Tik Tok juga pernah dibekukan di Indonesia karena dianggap berisi konten-konten yang tak senonoh.

Pandemi Covid 19 sengaja atau tidak membuat pintu popularitas Tik Tok terbuka. Pembatasan sosial membuat orang lebih banyak tinggal di rumah dan menghabiskan waktu untuk online. Dengan format video pendek dan isinya to the point membuat orang betah melihat tik tok.

Jika sebelumnya yang terkenal adalah Blogger, Vlogger, Facebooker, Instagramer dan Youtuber, Tik Tokers kemudian menyusul dengan sangat cepat. Kebiasaan anak-anak muda yang suka pamer, menunjukkan atau mempertontonkan diri memang cocok dengan watak Tik Tok.

Dibandingkan dengan sosial media yang lebih dahulu eksis, Tik Tok kemudian menjadi platform sosial media pertama yang DNA-nya pas dengan smartphone yakni video vertikal.

Akses internet yang makin baik, pemakai smartphone yang makin meningkat membuat pertumbuhan Tik Tok melaju pesat. Bahkan di negeri kelahiran sosial media ternama, pemakai Tik Tok merupakan yang terbanyak di dunia, disusul kemudian oleh Indonesia.

Donald Trump yang pernah di prank oleh para pemakai Tik Tok ketika berhasil menjadi Presiden Amerika Serikat, memakai isu Tik Tok sebagai bahan seteru dengan Tiongkok. Trump mencurigai Tik Tok dipakai untuk memata-matai dan mencuri data dari Amerika Serikat.

Karena kecurigaan ini muncul usulan Tik Tok dilarang di Amerika Serikat, atau kalau ingin beroperasi maka Tik Tok harus menjadi perusahaan Amerika. Kini ada beberapa negara bagian di Amerika Serikat yang melarang pegawai pemerintahnya menginstal aplikasi Tik Tok.

Padahal soal kegiatan memata-matai atau menambang data dari sosial media sudah jamak. Siapapun bisa melakukannya dengan berbagai tools. Para pemasar misalnya kerap men-scrap nomor kontak yang ada di sosial media dan aplikasi atau platform lain internet. Toolsnya bahkan tersedia secara gratis.

BACA JUGA : Akankah Presiden Jokowi Berakhir Dengan Kisah Sedih?

Sebagai seorang yang antusias dengan teknologi komunikasi dan informasi, saya selalu berusaha menjadi first mover, ketika ada platform sosial media yang baru. Tapi ketika Tik Tok muncul saya tak terlalu antusias. Ada perasaan Tik Tok kurang cocok dengan saya.

Tapi lama kelamaan penasaran juga, ingin mencobanya.

Hanya saja saya lebih penasaran dengan model bisnis Tik Tok. Apa yang dicari oleh Tik Tok dan layanan apa yang akan dikembangkan olehnya untuk memperoleh cuan dari pemakainya yang tersebar di seluruh dunia.

Seperti virus Covid 19, Tik Tok juga menjadi pandemi. Tapi bagaimana Tik Tok memperoleh uang untuk menjalankan bisnisnya belum kelihatan, seolah-olah Tik Tok begitu memanjakan para penggunanya, wirip Whatsapp yang dipakai gratis.

Saya lupa persis siapa yang mengatakan namun dalam sebuah video di youtube, seorang pengamat mengatakan bahwa Tik Tok pada ujungnya akan dipakai untuk perdagangan. Dia sendiri tak bisa mengambarkan dengan gamblang bagaimana Tik Tok akan melakukannya. Namun melihat peranggainya, dia yakin kelak itu yang akan terjadi.

Dan ternyata benar, Tik Tok pada akhirnya dipakai menjadi tools perdagangan online yang berbeda dengan model e-commerce lainnya. Tik Tok masuk dalam bisnis dengan model socio commerce.Semua akun tik tok yang telah mencapai jumlah pengikut tertentu didorong untuk menjadi akun bisnis, diajak untuk membuka Tik Tok Shop.

Dan para pemilik akun bisnis didorong untuk melakukan live secara rutin setiap hari, baik menjual barang sendiri maupun barang orang lain {reseller atau affiliate}.

Keranjang kuning menjadi salah satu istilah yang sangat terkenal di Tik Tok.

Banyak orang kemudian cuan karena Tik Tok.

Dan disinilah petaka tiba. Sebab dengan semua data yang masuk ke Tik Tok mereka kemudian bisa mendapat informasi tentang barang apa saja yang disukai atau sedang jadi trend dan punya prospek ke depan.

Data ini yang kemudian dipakai untuk memasarkan produk-produk dari Tiongkok. Kalau produknya tidak ada maka segera akan diproduksi di Tiongkok. Dengan demikian para produsen di Tiongkok akan memproduksi barang-barang yang punya prospek atau sedang laku di pasaran.

Dengan penguasaan data seperti itu maka Tik Tok menjadi selangkah lebih maju dari produsen lokal, terutama para pengusaha kecil dan menengah.

Dan yang lebih sialnya algoritma Tik Tok bisa disetting oleh pengembangnya untuk lebih berpihak pada barang-barang atau penjual, reseller dan afiliator yang menjual produk-produk asal Tiongkok. Mereka bahkan bisa memilih artis-artis atau Tik Tokers yang populer untuk diajak kerjasama sehingga barang-barang dari Tiongkok lebih laris manis.

Masalah hanya mengeluh lalu mencari jalan keluar dengan melarang menjadi tidak produktif. Membuat platform sendiri juga belum tentu akan berhasil. Maka meregulasi agar praktek sociocommerce ala Tik Tok tidak membunuh UKM di Indonesia menjadi lebih mendesak.

Sekurangnya kalau Tik Tok tidak bisa dipaksa untuk berpihak pada produk UKM Indonesia, maka praktek atau model bisnisnya harus lebih fair.

Tik Tok mesti memperjelas jatidirinya apakah akan menjadi sosial media atau sociocommerce, atau kedua-duanya. Jika memilih keduanya maka antara entitas Tik Tok sebagai sosial media dan sociocommerce harus dibedakan karena di Indonesia kedua hal itu diurus oleh dua kementerian yang berbeda. Sosial media oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi, sementara Sociocommerse atau e-commerce oleh Kementerian Perindustrian dan Perdagangan.

note : sumber gambar ilustrasi – ANTARANEWS.COM