KESAH. ID Rasanya hari-hari kita selalu diwarnai oleh isu pemilu. Bahkan ketika presiden terpilih baru dilantik, perbincangan tentang calon presiden berikutnya sudah menyeruak. Semarak pemilu bukan hanya di jagad maya, melainkan juga di dunia nyata terutama jalanan. Sepanjang jalan dipenuhi dengan Alat Peraga Kampanye meski belum saatnya, sebab para calon atau peserta pemilu mesti sejak dini memperkenalkan dan mensosialisasikan dirinya agar popularitas dan elektabilitasnya tinggi.

Jarang-jarang pada hari Minggu saya bangun pagi. Tapi Minggu barusan saya terbangun {terpaksa bangun} karena ada bunyi panggilan telepon. Apa isi panggilannya tak perlu saya ceritakan, namun isinya penting dan mendesak.

Karena terbangun pagi, saya manfaatkan waktu untuk bersih-bersih tepian jalan depan rumah yang mulai ditumbuhi rerumputan di sela-sela semen yang retak dan sedimen yang tertahan. Selain agar elok dipandang, bersih-bersih depan rumah di pagi hari bisa menjadi cara bersosialisasi dengan tetangga. Yang lewat biasanya akan menyapa, atau sejenak singgah untuk berbincang.

Yang pertama menyapa saya ialah kakek yang tengah ngemong cucunya dengan jalan-jalan pagi.

“Disemprot aja mas, nanti kan mati,” begitu ujarnya memulai perbincangan.

Saya hanya tersenyum walau dalam hati mengatakan “Saya tak punya semprotan,”

Oh, iya tapi saya tak pernah punya sekelumit niat untuk menyemprot rumput dengan herbisida. Saya lebih suka mencabutnya.

“Lagi matun pak, iya kalau dicabut sampai akar lama tumbuhnya,”

Matun, istilah itu sudah lama tidak saya dengar. Petani biasanya memakai istilah untuk kegiatan mencabut rumput dan gulma lainnya saat sawah mulai ditanami padi agar pertumbuhan padi tak terganggu.

“Iya, bu,” jawab saya pada ibu-ibu yang berjalan kaki menuju tempat kerjanya.

Ketika sudah hampir habis rerumputan yang saya cabut, tiba-tiba saja ada motor yang berhenti.

“Mas, ada kah yang mau ngecat tembok saya untuk reklame,” ujarnya tanpa basa-basi.

Ah, saya hampir tak tahu harus menjawab apa.

“Tembok rumah saya besar mas, kalau dari jalan kelihatan sekali. Cocok untuk pasang reklame,” lanjutnya.

Karena menjelang pemilu, lalu saya menjawab “Reklame partai saja mas. Gambar calon presidennya,” ujar saya sambil menyebut nama ketua partai yang kami berdua kenal, karena rumahnya tak jauh dari tempat kami tinggal.

“Maukah mereka melukis di dinding seperti iklan-iklan …….,” tanyanya sambil menyebut beberapa provider komunikasi nirkabel.

Biar perbincangan lekas selesai, sayapun mengatakan mereka pasti mau. Biar lebih meyakinkan saya bilang kalau dicat di dinding nggak akan dicopot oleh Satpol PP atau Bawaslu.

“Nanti saya bilang ke beliaunya,” kata saya.

Dan benar, tetangga saya itu akhirnya pamit dengan menarik gas motornya.

Sebelum pergi dia sempat mengatakan “Sampeyan kan tahu cara menghasilkan uang dari dinding kosong,”

Entah dari mana dia punya keyakinan itu.

Tetangga saya memang suka ngarang-ngarang soal saya. Ada yang kalau lama tidak bertemu di jalan atau didepan rumah, dia akan mengatakan “Ke Jawa kah, lama nggak kelihatan,”

Padahal saya nggak kemana-mana.

Tapi kalau sering kelihatan di jalan atau di depan rumah, dia akan mengatakan “Libur kah?”

Padahal libur atau kerja untuk saya tak jelas bedanya.

BACA JUGA : Akankah Presiden Jokowi Berakhir Dengan Kisah Sedih?

Kembali ke soal reklame, karena hampir setiap hari saya pergi pulang antara Wiraguna dan Juanda; dalam beberapa bulan terakhir ini saya akrab dengan beberapa wajah yang memasang senyum terbaik di sepanjang jalan.

Saya sering tersenyum melihatnya, bukan karena saling menyapa. Namun wajah-wajah yang terpasang di baliho, spanduk atau semacam poster itu memang kerap membuat saya senyum-senyum sendiri.

Beberapa diantaranya memang saya kenal. Tapi ada juga yang ketika wajahnya dicetak di Alat Peraga Kampanye, malah tidak saya kenali. Hingga kemudian saya tanya pada seorang teman “Itu siapa?”.

“Wah beda sekali wajahnya,” batin saya setelah mendengarkan penjelasan teman saya itu.

Sepanjang jalan antara Wiraguna melewati Juanda IV sebelum sampai jalan raya memang penuh dengan Alat Peraga Kampanye. Kebanyakan yang memasang adalah calon anggota legislatif mulai dari tingkat Kota, Provinsi hingga Nasional. Paling tidak ada caleg dari 6 partai peserta pemilu yang menebar APK di sepanjang jalan.

Lalu ada juga calon anggota DPD, sekurangnya yang saya catat ada 3 nama. Bahkan salah satunya saya lihat memasang sendiri APK-nya.

Beberapa tahun lalu, saya menyebut APK yang dipasang sebelum masa kampanye sebagai sampah visual. Sementara yang menebar di media sosial saya sebut sebagai sampah virtual.

Tapi seiring dengan semakin matangnya kecerdasan emosional dan spiritual saya, maka sekarang saya tak lagi jengkel atau emosi melihat perilaku curi-curi start untuk menyongsong pemilu.

Karena saya tahu betapa sulitnya persaingan para calon untuk merebut suara pemilih. Pasalnya mereka harus populer agar elektabilitasnya tinggi. Maka sedari dini mereka sudah harus tebar pesona diri dimana-mana agar namanya ada di top mind para calon pemilih.

Tentu saja ada yang gerah melihat APK terpasang dimana-mana, utamanya di jalan-jalan selain jalan utama. Tapi mesti diketahui, justru di jalan-jalan utama ini kemungkinan APK akan dilihat oleh orang yang lewat. Sebab jalan-jalan tikus, gang atau lorong serta jalan alternatif di Samarinda yang banyak dilewati orang dan yang lewat mesti berjalan pelan-pelan.

Meski pada umumnya desain APK para calon begitu-begitu saja dan cenderung membosankan namun ada satu dua yang bisa menarik perhatian serta membuat senyum akan terkembang. MIsalnya ada calon yang wajah dan posturnya memang oke, tampil dengan gaya bak model di sampul majalah.

Kalau biasanya yang dicantumkan dalam APK adalah nama partai, nomor urut dan lainnya, namun ada juga yang menyertakan nama bisnis {perusahaan} dan kedudukannya dalam bisnis itu. Ibarat pepatah satu kali mengayuh dua atau tiga pulau terlampaui. Artinya niatnya sebagai caleg dikenal, perusahaan atau bisnisnya juga ikut populer.

Tapi yang paling kocak adalah APK yang membawa isu kompetensi untuk menyongsong IKN. Sang calon dalam APK-nya menawarkan pelatihan gratis, Microsoft Office. Saya hampir ngakak melihat idenya yang lain daripada yang lain, tapi kompetensi MS Office jelas too old untuk menyongsong IKN. Lain cerita kalau yang ditawarkan adalah coding atau big data analytic.

Tapi salah satu yang paling membuat saya tersenyum adalah APK dari seorang calon yang setiap pemilu selalu ikut serta. Entah menjadi calon anggota DPD, DPR bahkan Kepala Daerah. Namun mau mencalonkan jadi apapun dari pemilu ke pemilu tagline-nya selalu sama, coblos sarungnya.

Tak perlu saya sebutkan siapa namanya, sebab saya yakin yang sudah cukup lawas tinggal di Samarinda pasti tahu siapa dia.

BACA JUGA : India Mengubah Namanya Jadi Bharat

Seminggu terakhir ini perjalanan antara Wiraguna – Juanda pergi pulang menjadi berbeda. Tak ada lagi wajah-wajah penuh senyum di pinggir jalan dengan berbagai janji dan tebar pesonanya.

Saya tidak melihat siapa yang membersihkannya. Namun dari postingan seseorang yang paling dekat dengan Walikota Samarinda – selain anak dan istrinya – saya bisa tahu bahwa yang melakukan penertiban adalah Pemerintah Kota melalui Satpol PP.

Setahu saya ketika mulai banyak keluhan tentang APK, Bawaslu mengatakan tak bisa bertindak karena belum memasuki masa kampanye. Meski mengakui hal itu adalah pelanggaran tapi mereka enggan bertindak karena merasa belum saatnya menggunakan kewenangan.

Padahal kalau dilihat peraturannya jelas mereka berwenang. Tapi mungkin saja mereka enggan karena masuk angin duluan. Mungkin segan mau mencopoti APK dari partai atau oknum partai yang dulu memberi dukungan saat bersaing menjadi komisioner.

Peraturan Komisi Pemilihan Umum tentang Kampanye Pemilu memang melarang pemasangan APK sebelum saatnya tiba. Bukan hanya itu, KPU juga mengatur tentang jenis-jenis APK, bisa dipasang dimana, termasuk juga ukuran dari masing-masing APK serta jumlah untuk setiap wilayah.

Aturannya memang sangat detail dan rigid. Jadi tidaklah memungkinkan untuk seseorang ‘mengebom’ satu wilayah tertentu dengan APK.

Aturan semacam ini memang tidak menguntungkan terutama untuk orang baru, politisi yang masih hijau sehingga belum dikenal publik, atau juga untuk orang lama yang ingin kedudukan baru.

Ruang sosialisasinya memang jadi serba terbatas, karena yang dibatasi bukan hanya ruang offline {darat} melainkan juga ruang online {udara}.

Pembatasan ini memang jadi memberatkan karena logika pemilu kita adalah logika popularitas, yang populer elektabilitas biasanya tinggi. Mencuri start menjadi pilihan termasuk mengakal-akali aturan.

Yang punya uang misalnya bisa ngiklan, memasang baliho pada papan iklan di jalanan utama dengan bayaran sebagaimana iklan komersial. Atau bikin acara seperti festival, expo, jalan sehat dan lain-lainnya yang mampu mengumpulkan massa untuk mencuri kesempatan melakukan sosialisasi diri atau partainya.

Sungguh malang para calon yang dompetnya cekak, APK yang dicetak tidak banyak dan mungkin saja belum dibayar lunas semuanya namun kemudian ditertibkan oleh petugas.

Syukur-syukur kalau dilepas baik-baik dan bisa diklaim lagi untuk disimpan serta kemudian dipasang kembali pada waktu yang ditentukan.

Ya namanya juga usaha kadang berhasil kadang juga tidak.

Meski begitu terimakasih untuk para calon peserta pemilu yang sudah antusias memperkenalkan dan mensosialisasikan diri. Sudah menunjukkan semangat membara untuk mencapai cita-cita walaupun tahu persis kalau kemungkinan untuk berhasil sungguh sangat kecil.

note : sumber gambar ilustrasi – KALTIMPOST.COM