KESAH.ID – Samarinda hari ini mungkin lebih layak menyandang gelar kota sejuta kedai kopi ketimbang kota seribu sungai. Dari riwayat kopitiam peranakan di tepian pelabuhan hingga menjamurnya bar kopi modern di gang-gang pemukiman, kopi telah menjadi napas sosial bagi masyarakatnya.
Sewaktu mendarat di Kota Pontianak, dalam perjalanan dari bandara menuju tempat tujuan, sopir kendaraan yang menjemput dengan bangga memperkenalkan Pontianak sebagai Kota Sejuta Kedai Kopi.
Biasanya, sebuah kota yang memiliki banyak penanda tertentu jarang menggunakan istilah “sejuta”, melainkan “seribu”. Seperti Banjarmasin yang menyebut diri sebagai Kota Seribu Sungai, atau Lombok sebagai Kota Seribu Masjid, hingga Pacitan yang dijuluki Kota Seribu Goa.
Istilah seribu merujuk pada jumlah yang banyak. Maka, jika Pontianak menyebut diri sebagai Kota Sejuta Kedai atau Warung Kopi, maknanya bukan lagi sekadar banyak, melainkan luar biasa banyak. Faktanya, memang mudah sekali mencari tempat ngopi di Pontianak; di sembarang ruas jalan pasti ada saja tempat bersantai.
Mungkin Samarinda boleh mulai menyebut diri sebagai Kota Sejuta Kedai Kopi layaknya Pontianak, ketimbang mem-branding diri sebagai Kota Seribu Sungai seperti Banjarmasin. Sebab, jumlah kedai kopi terus bertumbuh di Samarinda, sementara sungainya malah berkurang dari hari ke hari. Banyak anak sungai di Samarinda secara teknis telah mati karena kehilangan fungsi geo dan eko-hidrologinya.
Menilik sejarahnya, keberadaan kedai kopi di Samarinda tak lepas dari masyarakat keturunan perantau Tionghoa. Pada masa kolonial, kaum migran dari Tiongkok datang ke wilayah yang kelak menjadi Malaysia, Singapura, dan Indonesia untuk mengadu nasib.
Para migran ini mendatangi daerah pertambangan untuk berdagang. Salah satu usaha yang berkembang kemudian dikenal dengan istilah kopitiam atau rumah kopi. Selain menjual kopi dan minuman lain seperti teh susu, mereka juga menjual makanan pendamping sarapan seperti telur setengah matang dan roti bakar.
Kekhasan lain dari kopitiam adalah kolaborasinya dengan warga lokal. Di setiap warung kopitiam, selalu ada warga lokal yang ikut berjualan menu sarapan khas seperti nasi kuning, soto, hingga lontong sayur.
Kopi yang disajikan oleh rumah kopi peranakan ini bukan kopi tubruk, melainkan kopi saring tanpa ampas. Menurut ceritanya, kopi tersebut disangrai sendiri dari biji yang dibeli dari petani atau masyarakat setempat.
Warung kopi peranakan yang berkembang di Samarinda sebagian bermula dari kota migas Sanga-Sanga. Mereka berpindah ke Samarinda di masa pemerintahan Presiden Sukarno, yang kala itu mengeluarkan kebijakan melarang keturunan Tionghoa tinggal di wilayah setingkat kecamatan.
Beberapa nama rumah kopi peranakan yang legendaris di Samarinda antara lain Kopi Pelabuhan (Kopi Ko Abun), Kopi Mekar Sari (Kopi Lim), Kopi Taufik, Kopi Hainan, Kopi Madju, dan Kopi Timur Subur. Ada pula nama yang kini tinggal kenangan dengan papan nama kusam, yakni Samaria.
Keberadaan warung kopi di kawasan Pelabuhan, Citra Niaga, dan jalur utama kota melahirkan budaya “jagongan” atau nongkrong. Orang tua Samarinda bahari mengenal istilah baelang, yang sering terdengar menjadi beelang atau bahelam.
Baelang berasal dari bahasa Kutai yang berarti bertamu atau berkunjung. Namun, maknanya dalam keseharian warga Samarinda meluas; bukan sekadar bertamu biasa, melainkan bersosialisasi dalam arti yang sangat luas.
Pergi ngopi di warung kopi kemudian dimaknai layaknya mampir ke rumah tetangga untuk berbagi cerita, bekesah-kesah, bahkan dengan orang yang baru ditemui demi merekatkan persaudaraan di Samarinda yang dihuni masyarakat lintas etnis.
BACA JUGA : Sansak Komunikasi
Tonny Wahid, seorang pegiat kopi, pernah menulis profil Ko Abun dengan judul “Kopi Ko Abun: Godfather of Caffeine” sekitar tahun 2010. Tulisan ini berjasa besar memberi petunjuk bagi anak muda Samarinda yang membutuhkan porsi kafein yang “nendang”.
Seiring geliat kedai kopi franchise dengan menu berbasis esproso, tanda-tanda Gelombang Kopi Ketiga mulai bersemi di Samarinda. Sekitar tahun 2013, budaya ngopi mulai bergeser; dari gaya orang tua menuju gaya anak muda.
Konvensi minum kopi ala orang tua sudah jelas: hitam pekat, kental, dan diseduh air mendidih yang baru diangkat dari tungku. Air harus benar-benar panas agar kopi “masak” dan tidak membuat sakit perut.
Meski sama-sama bercerita, tema perbincangan antara kedua generasi ini berbeda. Di kedai kopi bahari, para tetua lebih banyak bicara masa lalu dan masa jaya mereka. Kalaupun memandang masa depan, perspektifnya tetap berakar pada memori lama.
Sebaliknya, di tempat ngopi anak muda, yang diperbincangkan adalah jenis kopi, metode pascapanen, penyangraian (roastery), hingga eksperimen seduh lainnya. Anak muda meminum kopi dengan pengetahuan teknis, sementara orang tua minum kopi sembari menenggelamkan diri dalam sejarah dan kawanannya sendiri.
Pada tahun 2013, kedai kopi “anak kandung” Gelombang Ketiga masih bisa dihitung jari. Dalam ekosistem ini, komunitas Bubuhan Kopi Samarinda tumbuh melalui arisan kopi, cupping, kalibrasi lidah, dan edukasi lainnya.
Nama-nama seperti Kopi Nusantara, Kopiku Mana, Black Birds, Second Floor, Republik Coffee, Kopi Anima, dan Why Not Coffee patut dikenang sebagai pionir ruang belajar. Muncul pula Semenjana Kopi yang mempelopori model home brewer.
Dengan cepat, jumlah kedai kopi meledak. Siapa pun yang mencoba mendatangi setiap kedai baru pasti akan kehabisan napas. Jumlahnya kini jauh melampaui hitungan jari tangan dan kaki.
Kedai kopi muncul di segala penjuru kota, tidak lagi memusat di Samarinda Kota, Ulu, atau Ilir. Di semua kecamatan kini ada kedai kopi, sehingga mustahil untuk mengunjungi semuanya.
Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, pertumbuhan ini bukan lagi pertumbuhan biasa, melainkan ledakan. Selain karena Gelombang Ketiga, ledakan eksponensial ini juga dipicu oleh kehadiran Kopi Kekinian.
Jika Gelombang Ketiga turut disumbang oleh karya sastra Filosofi Kopi, gelombang kopi kekinian dipicu oleh kekuatan lokal berupa Es Kopi Gula Aren.
Tren ini dimulai oleh kedai kecil di Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan, lewat menu “Es Kopi Susu Tetangga”. Adalah Andanu Prasetyo, pendiri Kopi Tuku, yang berhasil menciptakan standar baru kopi kekinian. Kunjungan Presiden Joko Widodo pada Juli 2017 ke Kopi Tuku menjadi validasi besar bagi industri kopi lokal.
Startup kopi kekinian skala nasional hingga lokal pun menyerbu Samarinda. Sebagian menjulukinya arus fast coffee. Muncul nama-nama seperti Kulo, Janji Jiwa, Lain Hati, Kopi Ria, Kopi Papa Muda, Kopi Kenangan, disusul Fore dan Tomoro yang datang dari Tiongkok.
Hadir dengan desain arsitektur modern, kedai-kedai ini dengan cepat menjadi ruang baru bagi warga Samarinda, terutama generasi muda.
Medang, mangan, dan jagongan (minum, makan, dan nongkrong) semakin menemukan bentuknya di Samarinda melalui kedai-kedai kopi yang ditopang modal besar.
BACA JUGA : Segelas Liberika
Merebaknya tempat nongkrong yang menyajikan wedang dan panganan ini memicu pertanyaan: apakah budaya baelang yang dulu populer sebagai gaya hidup slow living para pensiunan kini menular ke anak muda?
Secara teoretis, slow living adalah kesadaran untuk melakukan sesuatu dengan kecepatan yang tepat agar bisa menikmati momen hidup secara bermakna. Duduk berjam-jam di kedai kopi memang terlihat lambat.
Namun nyatanya, jika diamati, mereka yang nongkrong di coffee shop tidak benar-benar sedang bersantai atau memperlambat ritme hidup. Banyak yang justru mempercepat ritme dengan membawa laptop untuk bekerja. Mereka sedang melakukan Work From Cafe (WFC).
Jadi, nongkrong sejatinya hanyalah memindahkan ruang kerja ke tempat yang dianggap lebih produktif ketimbang kantor atau rumah.
Sosiolog Ray Oldenburg menyebut tempat nongkrong sebagai “Ruang Ketiga”—lingkungan sosial di luar rumah (ruang pertama) dan kantor (ruang kedua). Pertumbuhan kafe tak lepas dari kebutuhan akan interaksi sosial yang tidak didapatkan di kantor yang penuh tekanan atau rumah yang monoton.
Ruang sosial kini memang berpindah ke kedai kopi. Arisan, pertemuan, workshop mini, hingga rapat organisasi lebih praktis dilaksanakan di sana karena tidak perlu persiapan atau urusan beres-beres setelahnya.
Pertumbuhan eksponensial ini juga dipicu kebutuhan akan identitas visual. Dalam ekosistem jejaring sosial, citra visual menjadi penting, dan tempat nongkrong adalah jalan pintas untuk membangun identitas tersebut.
Sebagai daerah yang sedang bertransisi, tempat nongkrong menjadi titik temu ideal. Di sana, berbagai ritme kehidupan dipersatukan dan peluang baru ditemukan. Ruang nongkrong bukan sekadar social space, tapi juga creative space.
Terus bertumbuhnya tempat nongkrong di Samarinda sama sekali tidak menunjukkan bahwa masyarakatnya telah hidup dalam moda slow living. Kedai kopi hanyalah wadah dengan isi yang beragam. Bahkan, banyak tempat nongkrong saat ini bukan lagi tempat ideal untuk mencari ketenangan dalam menikmati segelas kopi.
note : sumber gambar – TRIBUNNEWS








