KESAH.ID – Di tangan Pakde Minto, lahan eks tambang yang semula gersang bukan lagi sekadar luka di bumi, melainkan laboratorium harapan. Di tengah kepungan industri dan bayang-bayang kriminalisasi tradisi tebas bakar, secercah optimisme muncul dari Lubuk Sawah melalui padi ladang jenis Serai. Ini adalah catatan perjalanan tentang bagaimana kesabaran spiritual bertemu dengan kerasnya tantangan lahan marjinal demi menjaga identitas pangan lokal kita.
Di laman Facebook-nya, saya menyaksikan video yang diunggah oleh Sarminto—atau lebih dikenal dengan panggilan Pakde Minto—perihal padi ladangnya yang menguning. Dalam video itu, Pakde Minto yang juga sering dipanggil Profesor Minto oleh rekan-rekan petaninya mengaku belum tahu apa sebabnya.
Sebulanan lalu saya sempat mampir ke ladangnya dan melihat padi ladang itu menghijau subur. Saya sempat berdiskusi perihal SOP penanaman padi di lahan eks tambang. Ya, Pakde Minto dan rekan-rekan petani lainnya memang tergabung dalam Kelompok Tani Tegalrejo, dan mereka mengelola lahan eks tambang untuk bertanam aneka jenis tanaman pangan.
Rasanya sudah setahunan lebih mereka mengupayakan lahan eks tambang itu agar pulih kembali sehingga bisa produktif ditanami berbagai jenis tanaman musiman. Mulanya lahan itu ditanami jagung. Penanaman perdananya dihadiri oleh Rusmadi, Wakil Wali Kota Samarinda saat Andi Harun menjabat pada periode yang pertama.
Akmal Malik, Pj. Gubernur Kalimantan Timur juga pernah melakukan panen raya di lahan eks tambang itu. Sewaktu akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Pj. Gubernur Kaltim, Akmal Malik memang getol sekali mengampanyekan lahan eks tambang sebagai lahan pangan.
Mengampanyekan lahan eks tambang sebagai lahan untuk ketahanan pangan jelas mudah, tapi menanami lahan eks tambang untuk menghasilkan bahan pangan jelas sulit. Pakde Minto mengatakan menanami lahan eks tambang adalah perjudian, walau dia lebih suka mengatakannya sebagai penelitian. Ada banyak teori, tapi yang paling penting adalah mencoba dan mengamati sehingga ditemukan formula untuk masing-masing jenis tanaman.
“Perlakuan pada satu hamparan tanah ternyata berbeda hasilnya, ada yang tumbuh bagus tapi ada juga yang merana,” ujarnya.
Tak heran jika tanaman jagung dalam satu hamparan ternyata tumbuhnya tak seragam. Ada yang hijau royo-royo dan berbatang besar, tapi ada juga yang kurus dan berwarna nyaris menguning. Hal itu bukan hanya berlaku di penanaman pertama, tapi masih terus terjadi sampai saat penanaman yang ketiga.
“Lihat, ada yang tongkolnya tumbuh dua, tapi ada juga yang mau mati,” lanjut Pakde Minto sambil menunjukkan pokok jagung yang mengeluarkan dua tongkol.
“Tapi tanahnya belum mendukung untuk tongkol yang kedua,” terangnya kemudian sehingga tongkol kedua umumnya kopong.
Tantangan untuk memulihkan lahan eks tambang bukan hanya soal kesuburan, tetapi juga kegemburan.
“Memulihkan kesuburan saja tidak cukup, tanah juga harus gembur agar penyerapan airnya bagus,” terang Sarminto.
Menurutnya, jika kegemburannya kurang, nanti di saat hujan tanahnya akan tergenang, lalu di saat panas tanahnya akan menggumpal keras. Untuk jenis tanaman tertentu, genangan air ini akan berdampak tidak baik; akar tanaman atau batangnya bisa membusuk jika lahan kelebihan air.

BACA JUGA : Life Hack
Melihat video yang diunggah oleh Pakde Minto, saya jadi penasaran ingin melihat hamparan padi yang tadinya menghijau namun tiba-tiba menguning. Saya menduga tanahnya kembali memiliki keasaman yang tinggi, atau kurang kapur.
Karena hari terlihat cerah, saya pun bergegas memacu motor menuju Lubuk Sawah. Pergi ke Lubuk Sawah ketika hari hujan jelas berisiko karena dari dalam hingga sampai ke ruas Jalan D.I. Panjaitan, akan ada beberapa genangan. Jika hujannya deras dan cukup lama, pasti akan terjebak di dalam sampai beberapa jam.
Saat hendak pergi, saya mengontak Pakde Minto untuk bertanya apakah ia ada di Lubuk Sawah atau tidak. Dijawab “ya” olehnya dengan tambahan, “Padi ladangnya sudah keluar malainya.”
Saya tak tahu apa malai itu; dugaan saya adalah tangkai dan bulir-bulir padi pertama. Sesampai di depan pondok kebun, mentari masih terasa menyengat.
“Ngopi-ngopi sek, ojo kesusu,” ujar Pakde Minto yang selalu menjerangkan kopi setiap kali saya berkunjung ke kebunnya.
Seingat saya, waktu mampir yang terakhir, kebun belakang pondok penuh dengan tanaman melon. Namun kini tak ada lagi; yang terlihat adalah pepaya yang buahnya mulai akan masak. Saat saya bertanya kenapa melonnya habis, Pakde Minto menjawab, “Melon memang hanya dipanen satu kali.”
“Di sana banyak, mungkin ada 5.000 pohon,” ujar Pakde Minto menunjuk ke arah barat.
Setelah ngobrol sana-sini, Pakde Minto kemudian mengajak untuk melihat padi ladangnya.
“Yang menguning sudah hijau kembali,” ujarnya.
Menurut Pakde Minto, padi ladangnya menguning karena kekurangan air. “Waktu itu sepuluh hari lebih tidak ada hujan, sinar matahari panas sekali,” terangnya.
Dan benar, di hamparan seluas kurang lebih 10 kali 20 meter itu padinya nampak menghijau, hanya di ujung utara yang nampaknya masih agak menguning.
“Tapi ndak lama lagi akan menghijau lagi,” lanjut Pakde Minto.
Padi ladang yang ditanam oleh Pakde Minto adalah jenis padi ladang yang dinamai Serai. Konon kabarnya masa tanamnya lebih pendek; padi ini bisa dipanen dalam jangka waktu 4 bulan, sedangkan rata-rata jenis padi ladang lainnya umumnya harus dipelihara hingga 6 bulan.
Nampak gurat kebahagiaan di wajah Pakde Minto saat menunjukkan pokok-pokok padi yang gemoy. “Yang begini ini subur, nanti padinya akan banyak,” ujarnya.
Melihat yang ditanamnya tumbuh subur adalah kegembiraan untuk petani, sebelum bicara soal untung rugi hasilnya.
“Jangan terlalu berharap dulu ketika menanam sesuatu di lahan eks tambang. Semua butuh waktu, jadi nikmati saja prosesnya. Berhasil menumbuhkan dan kemudian menghasilkan buah saja sudah untung,” terang Pakde Minto yang nadanya amat spiritualis.
Saya setuju; kalau menanami lahan eks tambang dan berharap dapat untung segera, pasti akan sia-sia. Proses memulihkan lahan eks tambang agar unsurnya berimbang pasti butuh waktu.

BACA JUGA : Pers Kita
Setahun belakangan ini saya memang intens bergaul dengan peladang tradisional. Di mana-mana keluhannya sama; lahan mereka terhimpit HTI (Hutan Tanaman Industri), kebun sawit, dan tambang. Mereka tak lagi leluasa bertanam padi ladang dengan sistem tebas bakar.
“Begitu asap membumbung, drone perusahaan datang. Dan tak lama lagi sirene polisi berbunyi datang dari kejauhan,” ujar mereka.
Ya, sejak tahun 2015 peladang tradisional mulai khawatir bertanam padi ladang. Saat itu banyak petani dikriminalisasi, dituduh sebagai penyebab kebakaran hutan atau lahan. Eksistensi cara bertanam pangan di lahan kering Kalimantan Timur pun menjadi terancam. Padahal upacara yang berkaitan dengan pola perladangan ini terus dipromosikan oleh para pegiat wisata.
Ada beberapa jenis upacara yang berhubungan dengan perladangan masuk dalam kalender wisata, seperti upacara Alaq Tau, upacara menentukan hari baik untuk bertanam; upacara Uman Ubeq, upacara membuat emping padi ketika bulir padi ketan mulai menua; dan upacara Uman Undrat atau Mecaq Undrat, yaitu upacara panen atau padi baru.
Langkanya masyarakat menanam padi ladang memunculkan seloroh, “Kelak kami akan membuat kue bukan dari beras ketan, melainkan dari labu.”
Melihat Pakde Minto menanam padi ladang yang kabarnya bisa dipanen dalam waktu empat bulan dengan metode yang berbeda dari para peladang tradisional, membersitkan pikiran untuk menularkan metode itu kepada mereka. Maka, pertama yang saya tanyakan ke Pakde Minto adalah apakah penanaman ini telah disusun SOP-nya. Pakde Minto mengiyakan sambil mengatakan disusun sambil jalan.
“Ini percobaan pertama, masih perlu diuji beberapa kali lagi.”
Tak apa, proses memang harus dijalani, tak bisa instan. Apalagi perlakuan pada tanah walau dalam satu hamparan bisa saja hasilnya berbeda-beda. Perlu waktu untuk mempelajari agar SOP-nya bisa berlaku secara umum.
Dengan pertumbuhan jumlah penduduk, permukiman baru, dan infrastruktur lainnya, serta lahan-lahan yang terbagi bagi investor serta izin lainnya, bertanam padi ladang ala tebas bakar memang sulit untuk dipraktikkan secara meluas lagi. Perlu inovasi baru dalam praktik perladangan lewat perubahan cara namun tak mengubah tujuan, yakni menghasilkan padi ladang yang merupakan model ketahanan pangan tradisional masyarakat Kalimantan Timur.
Bertanam padi ladang bukan semata soal beras, melainkan bentuk pelestarian tradisi, identitas budaya, sekaligus kearifan lokal yang terus bisa diperbarui demi masa depan pangan lokal kita.
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM








