KESAH.ID – Sebuah pertanyaan retoris yang membuka gerbang ingatan tentang dapur yang pernah mengepul, aroma tempe goreng dingin, dan ritual mengantar Ibu ke pasar dengan Vespa tua. Melalui penelusuran sejarah dari penemuan Momofuku Ando hingga teknologi NASA, narasi ini mengajak kita merenung bagaimana kepraktisan di atas piring perlahan merombak struktur otak dan cara kita memperlakukan hubungan antarmanusia. Makanan instan telah menghilangkan kesabaran dalam merayakan proses, dan peradaban instan tanpa sadar telah mengubah kita menjadi sosok yang emosional dan asing terhadap makna kelekatan sosial.

Di masa kecil saya, urusan makan mesti disiapkan dengan sungguh-sungguh. Makanan instan belum banyak kala itu. Maka, pergi ke pasar menjadi sebuah ritual kebiasaan. Karena saya mulai bisa mengendarai Vespa, adalah tugas saya untuk mengantar Ibu ke pasar. Saya pun hafal letak los atau kios di sana. Yang paling penting, setiap kali mengantar Ibu, selalu ada ganjaran manis: dijajani.

Dapur selalu mengebul, karena sejak pagi setiap rumah selalu sibuk memasak. Ibu memasak dan anak-anak membantu; sekurang-kurangnya membantu mengupas bawang. Tugas itu berkembang seiring pertambahan umur, alhasil rata-rata anak sezaman saya bisa memasak, atau setidaknya paham seluk-beluk masakan.

Masakan yang matang segera disantap. Bapak atau Ibu selalu geram jika saat waktu makan tiba, anaknya masih keluyuran hingga harus dicari-cari. Anak-anak memang suka pergi diam-diam, karena kalau pamit sering kali dilarang. Makanan yang sisa akan ditaruh di atas meja ditutup tudung saji, namun bagi yang memiliki lemari makan, sisa makanan akan disimpan di sana.

Lain waktu, Ibu memang sengaja memasak banyak. Nanti, sisanya akan dipanasi saat hendak dimakan lagi. Beberapa jenis masakan memang terasa lebih enak, bumbunya lebih meresap, dan gigitannya terasa lebih lembut justru setelah dipanasi. Saya sendiri kemudian sangat menyukai sambal tempe, yang dibuat dari tempe goreng hari sebelumnya—alias tempe goreng dingin yang mungkin sedikit lagi mulai terasa basi.

Yang dibuat sendiri bukan hanya masakan utama, tetapi juga camilan. Pisang goreng, singkong goreng, dan jenis gorengan lain adalah camilan biasa. Ada yang lebih istimewa dan butuh waktu persiapan lebih lama seperti lemet; karena harus memarut singkong, mencari daun pisang untuk pembungkusnya, membungkus, dan kemudian mengukusnya. Proses yang panjang ini membuat masakan atau penganan menjadi istimewa, karena kehadirannya begitu ditunggu-tunggu.

Kehidupan dengan tradisi serba membuat sendiri ini mulai berubah ketika warung panganan serta warung makan-minum jadi mulai menjamur. Apa yang diinginkan bisa segera dipenuhi; tak perlu menunggu lagi. Kalau pagi-pagi tak sempat menyiapkan sarapan, Ibu akan menyuruh saya membeli bubur, nasi pecel, sego megono, nasi gudeg, sego langi, atau berbagai menu sarapan lainnya di warung. Salah satu favorit kami adalah Warung Yu Ribut.

Di pagi hari, Yu Ribut menjual bubur dan nasi pecel. Lalu di siang hari, dagangannya berganti menjadi lotek, lotis, atau rujak. Warung makan juga menjadi andalan jika ada tamu yang dijamu makan siang atau malam. Kalau ada tamu yang “nonggo” atau tetangga rumah yang mampir mengobrol, Ibu biasanya menyuruh saya membeli geblek—makanan berbahan aci singkong yang digoreng hingga kulit luarnya krispi namun dalamnya lembek menyerupai lem.

Kehidupan berjalan lebih cepat ketika teknologi makanan cepat saji hadir di lemari dapur. Ada sarden, kornet, dan mi instan. Mau makan dengan lauk ikan tak perlu lagi pergi ke pasar ikan, karena sudah ada sarden yang tinggal dipanaskan. Kalau mau lebih miroso, bisa ditambahkan bumbu lain seperti irisan bawang, loncang, dan lombok. Tapi yang paling praktis tentu saja mi instan. Seingat saya, mi instan pertama yang saya kenal adalah Supermi, lalu disusul oleh Sarimi.

BACA JUGA : Republik Capek

Mie instan memang ikonik dalam catatan sejarah makanan siap saji. Mie siap santap ini dibuat dengan metode flash frying atau penggorengan kilat. Teknik ini ditemukan oleh Momofuku Ando di Jepang pasca-Perang Dunia II. Mei digoreng untuk menurunkan kadar air, namun tetap menyisakan pori-pori sehingga bisa lunak kembali ketika diseduh. Di tahun 70-an, Ando kembali melahirkan inovasi lewat Cup Noodles; mie tinggal diseduh dalam wadah mangkuknya. Makan mi pun menjadi semakin praktis.

Namun, akar sejarah makanan instan sebenarnya sudah berlangsung di zaman yang jauh lebih lampau. Di masa sebelumnya, yang disebut makanan instan adalah makanan yang diawetkan agar bisa disimpan lama atau dibawa pergi jauh tanpa membusuk. Suku Inka memiliki Ch’uñu atau kentang beku-kering, dan bangsa Mongol memiliki susu kering yang bisa dicampur air saat melakukan ekspedisi militer jarak jauh.

Dalam tradisi Nusantara juga dikenal makanan kering seperti ikan asin, dendeng, ikan asap, manisan, dan lain-lain. Perang juga melahirkan inovasi dalam penyediaan pangan cepat saji. Di tahun 1810, Peter Durand mematenkan inovasi makanan kaleng. Makanan yang dikalengkan adalah makanan matang sehingga siap disantap kapan saja; sangat cocok untuk bekal tentara di medan laga. Perang Saudara di Amerika Serikat juga melahirkan kopi instan, dalam bentuk konsentrat kopi yang tinggal ditambahkan air.

Loncatan teknologi dalam makanan instan lahir sekitar tahun 1960-an. Mulanya, teknologi freeze drying dimaksudkan untuk menyediakan bekal bagi para astronot oleh Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA. Teknologi ini mampu menjaga nutrisi dan rasa jauh lebih baik daripada flash drying. Kehadiran lemari es, freezer, cooler, dan teknologi lainnya semakin mendukung ekosistem ini. Makanan beku dengan segera bisa disantap hanya dengan dipanaskan atau dinormalkan memakai microwave.

Jejaring makanan instan dan siap saji semakin meluas lewat lahirnya gerai-gerai minimarket dengan konsep convenience store. Proses makan-minum tak lagi harus dimulai dari ritual pergi ke pasar lalu menyibukkan diri di dapur. Kini dapur tak lagi mengepul, karena makanan instan telah menjadi peradaban tersendiri. Dapur pun makin bersih karena sampahnya kini didominasi oleh sampah kemasan.

Makan dan minum menjadi serba gampang selama di dompet ada uang. Semuanya makin praktis; kota dan desa pun tampak seragam jika dilihat dari gunungan sampah kemasannya. Dan seperti peradaban lainnya, kegemaran mengonsumsi makanan instan dibangun di atas fondasi kemalasan—malas memasak. “Ngapain repot-repot memasak, kalau ada yang sudah siap disantap,” begitu dalih banyak orang.

Dalam artian tertentu, memasak sendiri memang dianggap tidak ekonomis dan sering menghasilkan sampah domestik yang lebih besar karena tak semua yang dimasak akan habis disantap. Tapi ada harga mahal yang mesti dibayar. Generasi terkini kian berkurang pengetahuan dan pengalamannya dalam urusan masak-memasak. Bahkan ketika camping, mereka membawa makanan jadi untuk konsumsi.

Dampak lain dari makanan instan adalah kegemukan. Apa yang diinginkan lidah kini lebih mudah dipenuhi, sehingga orang gemar terus mengunyah. Karena asupan yang dibutuhkan tubuh dipenuhi secara berlebihan, lemak pun menumpuk. Gemuk bukan lagi tanda kemakmuran, melainkan sinyal ketidakmampuan menahan nafsu untuk terus mengisi mulut dan perut dengan camilan.

BACA JUGA : Sepi Demonstrasi

Ada pepatah lama berbunyi, “You are what you eat”. Artinya, hubungan antara manusia dengan makanan tidak berhenti pada urusan kimia, fisika, dan biologi belaka. Makanan bukan hanya menghasilkan energi bagi sel tubuh, tetapi juga menjadi stimulan bagi otak yang kemudian membentuk cara kita berpikir, merasa, dan bertindak.

Transisi dari olahan mandiri ke makanan industri, disadari atau tidak, telah menyebabkan pemrograman ulang pada aspek kognisi dan psikologi manusia. Singkatnya, kebiasaan makan yang serba instan kemudian melahirkan perilaku hidup yang serba instan pula. Mulanya, makanan instan bertujuan untuk pengawetan guna menahan pembusukan. Namun kemudian, atas nama praktis, secara industrial ia dimaksudkan untuk memotong proses. Kegiatan makan tak lagi didahului ritual ke pasar, mencuci sayur, mengiris bumbu, lalu menunggu matang dengan sabar.

Makanan instan memotong proses panjang itu; otak pun terbiasa mendapatkan hasil tanpa usaha yang berarti. Hambatan terhadap ketersediaan makanan pun berkurang. Apa yang diinginkan segera ada, persis seperti harapan. Padahal jika memasak sendiri, sering kali ada kekurangan bumbu yang membuat hasil masakan tidak selalu sempurna seperti yang diinginkan.

Secara moral, kita sering mendapat nasihat “Proses tak mengkhianati hasil,” atau peribahasa “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian.” Namun dalam praktik sehari-hari, nilai kesabaran, kerja keras, dan perencanaan matang tidak lagi menjadi kenyataan. Banyak orang ingin sukses dengan cara instan; ingin kaya dengan sekejap mata.

Kelas-kelas motivasi selalu penuh sesak; orang rela membayar mahal untuk sesi coaching kaya dengan cepat atau saleh dengan singkat. Keinginan menguasai segala sesuatu secara kilat melahirkan menjamurnya layanan konsultasi, kursus, hingga mentoring yang sangat cuanable bagi penyelenggaranya, namun sebagian besar terbukti tak lebih dari penipuan. Lidah yang tak tahan menunggu kemudian menghasilkan perilaku yang kurang mengapresiasi proses, seolah sukses bisa diraih lewat jalan pintas—padahal mayoritas jalan pintas itu ilegal dan jahat.

Keinginan menyantap sesuatu yang kemudian tersaji cepat dengan segala kenikmatannya jelas membanjiri otak dengan dopamin. Kita diguyur rasa senang seketika. Karena proses instan sering kali mengurangi cita rasa asli, maka produk ini selalu diperkuat dengan bahan penguat rasa, warna, hingga tampilan. Makanan instan adalah makanan yang “kelewat diolah” (over-processed).

Kebiasaan mengonsumsi bahan berlebih ini berdampak pada perilaku masyarakat yang kini serba “lebay”, kelewat berlebihan. Segala hal terkait hidup menjadi overdosis; jika tidak “lebih”, rasanya hidup terancam, kesenangan hilang, dan kebahagiaan terasa menjauh. Fokus makanan instan terletak pada rasa—baik rasa di lidah maupun “rasa” di pandangan mata. Ini mendorong otak bekerja secara emosional ketimbang rasional. Masyarakat instan adalah masyarakat emosional; semua dinilai dengan perasaan. Kalaupun ada penilaian rasional, itu tak lebih dari rasionalitas yang sudah dibajak demi memperkuat alasan emosional.

Dalam konteks sosial, hilangnya proses menyiapkan makanan berarti hilangnya kesabaran dalam kebersamaan saat merayakan kehidupan. Hubungan berubah menjadi mekanik karena makanan kini cukup dipesan lewat klik di smartphone. Kita memperlakukan orang lain layaknya teh celup atau mie instan. Makan bersama yang seharusnya menjadi landasan perayaan kehidupan kini kehilangan nyawanya sebagai pengikat kerekatan sosial. Hajatan tak lagi melahirkan ikatan komunal; kumpulan manusia dalam jumlah besar di acara makan-makan tak lagi menjadi gambaran dari kedekatan dan kelekatan sosial yang tulus.

note : sumber gambar – GEMINI