KESAH.ID – Gua Tapak Raja di Desa Wonosari, Sepaku (PPU), adalah destinasi ekowisata historis dekat IKN, terkenal karena formasi stalaktit yang menyerupai tapak kaki raksasa—dipercaya sebagai tempat pertapaan raja zaman dahulu. Destinasi ini menawarkan perpaduan alam yang asri, mudah diakses dari jalan utama, dan dilengkapi fasilitas rekreasi seperti ATV, flying fox, dan Taman Ekoriparian tepi sungai.
Dalam rapat terbatas pemerintah pada tanggal 29 April 2019, Presiden Joko Widodo memutuskan untuk memindahkan ibu kota negara ke luar Pulau Jawa. Lokasi ibu kota baru itu kemudian diumumkan pada 26 Agustus 2019. Ibu kota negara akan dipindahkan ke Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Adapun wilayah ibu kota negara baru ini, juga meliputi wilayah Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Setelah pengumuman yang kemudian dilanjutkan dengan peletakan batu pertama dan dimulai pembangunannya, bahkan hingga dirayakan HUT Kemerdekaan RI ke 79 dirayakan di IKN, saya mulai kerepotan.
Sampai dengan waktu itu setelah banyak teman, kawan dan kenalan bukan hanya yang di Kaltim melainkan juga di luar daerah sudah kesana, saya belum sekalipun menginjakkan kaki di Sepaku.
Agak repot juga saya menjawab ketika ada yang bertanya seputar IKN, pengetahuan saya tentang wilayah itu nol besar.
Jangankan gambaran disana, jalan menuju ke sana saja saya tidak tahu persis.
Wilayah Penajam Paser Utara yang saya kenal hanya sekitar daerah Penajam ke arah Grogot atau Kabupaten Paser. Itupun hanya daerah di sekitar jalan. Jaman-jaman sebelum pandemi Covid 19 saya memang agak sering kesana. Karena diajak oleh teman yang lahir dan besar di daerah Penajam Paser Utara, tepatnya daerah Petung.
Jalan poros PPU – Paser kemudian sering saya lewati. Dan setiap kali melewati pertigaan kalau tak salah di daerah Waru, pasti ada teman perjalanan yang menunjuk jalan ke arah timur “Itu jalan ke Sepaku, ke IKN,”
Memasuki awal tahun 2025, akhirnya saya sampai juga ke IKN, ke KIPP dan langsung merasakan menginap disana, di Rusun ASN.
Setelah itu saya terbilang sering kesana, tidak selalu sampai ke KIPP, melainkan ke wilayah sekitarnya. Seperti ke Suko Mulyo, Bukit Tengkorak, Bukit Merdeka dan lain-lain. Daerah yang masih berada di sekitar jalan besar.
Dalam perjalanan ke sana, pada obrolan di jalan, saya sering mendengar nama Semoi. Ada Semoi 1, 2 , 3 hingga 4. Lagi-lagi pengetahuan saya blank, sebab di jalanan saya tak menemukan tulisan Semoi. Seingat saya yang disebut Semoi adalah bendungan, yang juga belum pernah saya kunjungi, namun gapura jalan masuknya kelihatan mencolok disisi jalan menuju IKN.
Ternyata nama Semoi adalah penamaan untuk lokasi transmigrasi. Mungkin dinamai Semoi 1 karena disana rombongan pertama ditempat, lalu daerah yang ditetapkan untuk menempatkan rombongan berikutnya dinamai Semoi 2 dan seterusnya.
Akhirnya saya tahu kalau Desa Suko Mulyo ternyata merupakan eks Semoi 3.
Dimana Semoi 1, Semoi 2 dan Semoi 4, saya tak tahu, meski pernah seorang teman menunjukkan arah masuknya dari Suko Mulyo.
Lagi-lagi saya beruntung, menjelang akhir tahun 2025 ini ada ajakan untuk pergi ke Wonosari, desa di wilayah IKN yang agak masuk ke dalam, cukup jauh dari jalan besar.
Beberapa bulan lalu saya pernah kesana, tapi hanya menjemput teman. Dan seorang teman menunjukkan jalan ke arah Gua Tapak Raja, hanya saja tak ada waktu untuk singgah.

BACA JUGA : Fotografer Jalanan

Setelah menginap semalam di Wonosari – yang kemudian saya tahu kalau desa ini eks Semoi 4 – menjelang petang saya pergi ke Gua Tapak Raja. Saya pergi bersama Pak Zainal, staff kelurahan Bukit Merdeka, bersama Ahmad dan Jen, dua pemuda yang juga dari Bukit Merdeka.
Kebetulan jalan menuju Gua Tapak Raja, searah dengan quest house sederhana tempat kami menginap.
Sampai di Gua Tapak Raja, lingkungannya sepi. Mahklum bukan hari libur dan hari sudah hampir petang. Yang ramai justru desingan bunyi nyamuk.
Bagi kami berempat ini kunjungan yang pertama sehingga tak ada yang tahu persis, dimana pintu masuk ke arah gua. Setelah celinggak-celingguk beberapa saat akhirnya terlihat tangga naik. Kami langsung menuju kesana dan betul itu tangga naik menuju mulut gua.
Diiringi bunyi-bunyian sore, kami melangkah tapak demi tapak menuju gua. Suasananya agak-agak mistis, meski gua tak telalu gelap karena ada sinar masuk dari lubang di salah satu sisinya.
Ruang gua membentuk dome, semacam ruang setengah bola. Ahmad seperti mencari-cari sesuatu di dinding gua. Usut punya usut, dia mengira nama Tapak Raja karena di dinding gua ada cap tangan milik Sang Raja. Rupanya dia punya referensi dari berita tentang gua di kawasan Karst Sangkulirang Mangkalihat.
Sesekali terdengar bunyi decit dan kepak sayap. Gua Tapak Raja memang memang dihuni oleh beberapa jenis kelelawar, menurut informasi ada sekitar sepuluh jenis kelelawar disana.
Tak cukup lama kami melihat-lihat dalam gua, karena lampu senter HP tak cukup memberi terang untuk melihat apakah ada lubang-lubang kecil yang bisa dilewati. Kamipun keluar dan ternyata di samping lubang gua besar ada lubang yang lebih kecil.
Karena sudah sampai sana, walau hari mulai agak mengelap, kesempatan tak boleh dilewatkan.
Gua yang lebih kecil itu kami masuki, dan bunyi-bunyi kelelawar makin jelas. Selain itu mulai juga terdengar desing, suara nyamuk yang mulai keluar dari persembunyiannya.
Pak Zainal, Ahmad dan Zen akan pulang ke Bukit Merdeka, sehingga tak bisa berlama-lama mengekplorasi lingkungan sekitar Gua Tapak Raja.
Yang pasti di sekitar Gua Tapak Raja ada arena untuk Outbound, fasilitasnya berupa menari besi yang bisa dipakai untuk flyng fox. Dan dari menari itu ada juga tangga atau jembatan besi, yang berfungsi sebagai jalan setapak menuju gazebo yang berada di atas mulut gua.
Disisi depan ada juga café yang megah dengan kontruksi dari besi baja dan mempunyai dak yang berfungsi sebagai ruang pandang. Melihat kontruksinya saya penasaran, ruang pandang itu menyajikan pemandangan apa.
Ternyata di belakang café itu ada semacam kubangan, bentuknya memanjang. Saya menduga itu bekas lubang galian tambang.
Lingkungan di sisi lubang itu memang agak gersang, kontras dengan lingkungan di sekitar gua yang nampak telah menghutan.
Ternyata diatas tebing kubangan memanjang yang nampak seperti sungai tenang itu ada tulisan Danau Tapak Raja.
Di café itu terparkir juga beberapa unit ATV. Rupanya destinasi Goa Tapak Raja juga merupakan destinasi untuk adventure.

BACA JUGA : Pangeran Domba

“Ayo ke Bukit,” ajak Pak Zainal sebelum meninggalkan Wonosari.
Saya sebenarnya ingin pergi bersama kesana, tapi saya sudah berjanji dengan Mas Tulus yang akan menjemput saya, sebelum pulang ke Samarinda akan bersama-sama mengunjungi Gua Tapak Raja.
Malam itu saya menginap sendirian, quest house sederhana yang punya 7 kamar milik Ibu Masiyem itu.
Karena tak ada siapa-siapa, saya pun tidur cepat, hingga beberapa kali terbangun menjelang tengah malam dan dinihari.
Satu jam sebelum waktu yang dijanjikan oleh Mas Tulus untuk datang menjemput, saya keluar dan duduk di teras untuk ngobrol dengan Ibu Masiyem, saat tengah menunggu warung yang dinamai Mbah Yem sambil menemani cucu laki-lakinya.
Saya bercerita ngalor-ngidul, menggali perkembangan semenjak orang tuanya datang ke Wonosari sebagai transmigran dari sebuah daerah di Jawa Timur. Mbah Yem bercerita betapa susahnya jalanan semenjak mereka datang hingga beberapa tahun lalu. Pengumuman IKN membuat jalan menuju Wonosari disemen karena kehadiran Menteri Kehutanan untuk meresmikan Gua Tapak Raja sebagai destinasi unggulan di IKN.
Dari obrolan seputar wilayah Gua Tapak Raja, terkonfirmasi bahwa dulu memang pernah ada ekploitasi batubara.
“Tapi ditinggal begitu saja, tidak dipulihkan,” ujar Mbah Yem.
Sembari ngobrol saya melepas pandang ke arah samping rumah. Sekilas saya mengenali ada pohon kopi. Saya bertanya pada Mbah Yem “Itu pohon kopi kan?”
Mbah Yem mengiyakan dan kemudian bercerita kalau dulu kebanyakan warga menanam kopi. Tapi hasilnya susah dijual hingga kemudian dibiarkan dan banyak yang ditebang diganti tanaman lainnya.
Beberapa pohon masih tersisa di pekarangan Mbah Yem, tak dirawat dan tak pernah juga dipanen buahnya.
Saya mendekat dan kopi yang masih tegak tumbuh di pekarangan itu adalah kopi liberika, atau lebih dikenal dengan sebutan kopi nangka.
Saya foto pohon kopi itu dan buahnya yang tak lebat, lalu saya posting di WAG yang berisi pemerintah desa, bpd dan tokoh masyarakat beberapa desa sekitar IKN.
Tak lama kemudian telepon berbunyi “Pohon kopi kah itu?”
Ternyata Pak Lamale, penjaga paling teguh mangrove Mentawir.
Pak Lamale bertanya “Adakah bibitnya, saya pingin nanam,”
Seingat saya di Prangat sana, di Kampung Kopi Luwak sana ada banyak bibit kopi liberika.
“Ada pak tapi jauh, ke arah Bontang sana,di Prangat”
Saya tak berani berjanji untuk membawakannya. Dan nampaknya Pak Lamale memaklumi itu sambil berpesan “Kalau ada bawakan saya ya,”
Bunyi mobil mendekat dan benar Mas Tulus memang selalu tepat waktu.
Waktu masih menunjukkan jam 10 pagi, masih ada banyak waktu untuk berkunjung ke Gua Tapak Raja.
Dengan secuil pengalaman sore kemarin, sayapun bertindak laksana tour guide, menyusuri paving block menuju Taman Eco Riparian.
Ternyata di ujung paving itu ada taman dengan aliran sungai kecil. Aliran itu masuk ke dalam lubang gua yang tak terlalu lebar. Rupanya Gua Tapak Raja merupakan formasi batuan yang sebagian landai dan sebagian cukup meninggi, kalau dari sungai kecil itu mungkin panjangnya berkisar 150 – 200 meter.
Dari Taman Eko Riparian itu ada jalan setapak menyusuri pinggiran formasi batuan menuju mulut Gua Tapak Raja.
Akhirnya sampailah kami berdua di Gua Tapak Raja, dan mencari posisi untuk berfoto ala-ala pertapa.
Segelas kopi dan teh panas, menjadi akhir episode ekplorasi Gua Tapak Raja sebelum meninggalkan Wonosari dengan semua ceritanya menuju Samarinda.
note : sumber gambar – NONPROFIT JOURNALISM








