KESAH.ID – Pangeran Domba Samarinda di Muang Dalam bukan sekadar usaha peternakan; ia adalah simbol kemandirian dan inovasi agribisnis di Samarinda. Dengan menerapkan praktik modern, menghasilkan ternak berkualitas tinggi, dan memperkuat rantai pasok lokal, peternakan ini membuktikan potensi besar Kalimantan Timur sebagai pusat produksi protein hewani. Model yang diterapkan oleh Pangeran Domba dapat menjadi cetak biru bagi peternak lain untuk menumbuhkan sektor vital ini dan mendukung visi Samarinda yang mandiri secara pangan.
Sewaktu Kota Samarinda mendeklarasi diri untuk menjadi Kota Pusat Peradaban muncul banyak tanggapan. Tentu ada yang memberi jempol, dua jempol tangan dan dua jempol kaki, tapi tak sedikit juga yang ngedumel, ngomel dalam hati. “Pusat peradaban apa,” teriak mereka di hati.
Setelah melewati satu periode jabatan, rupanya Pak Wali Kota yang mencetuskan hal itu mulai lupa pada cita-cita besar ini. Mungkin kini cita-citanya bukan lagi untuk Kota Samarinda, melainkan Provinsi Kalimantan Timur.
Saya bukan pengamat peradaban, terminologi peradaban kelewat rumit untuk saya. Jadi ketimbang membahasnya, saya lebih suka memancing teman lain untuk berkomentar. Tentu banyak teman saya yang punya komentar sarkas soal ini.
Tapi ada satu yang paling meyakinkan, meski tak secara langsung menjawab perihal Samarinda sebagai Kota Pusat Peradaban.
Telah menyusuri hampir seluruh penjuru Kalimantan Timur bahkan ketika Kalimantan Utara masih menjadi bagian dari provinsi ini, saya merasa komentarnya sungguh valid.
Bicara soal peradaban, menurutnya peradaban Kalimantan Timur dengan semua kecanggihan yang terlihat di provinsi ini, belum beranjak jauh.
Sekilas pernyataannya terasa seperti hinaan, karena dia mengatakan kalau Kalimantan Timur sesungguhnya masih ada dalam peradaban atau masa pemburu pengumpul alias food gathering.
Sebelum dia memberi penjelasan, saya pun merasa ungkapannya sungguh keterlaluan.
Tapi akhirnya saya paham, dia tak bermaksud menghina. Dia hanya ingin mengatakan apa adanya.
Dan mulailah dia memberi contoh dengan kata kunci ekstraksi.
“Ini kan ekonomi pemburu pengumpul,” ujarnya.
Dia kemudian menerangkan perjalanan Kalimantan Timur mulai dari jalan kemerdekaan hingga saat ini dimana roadmap ekonominya bergantung pada model perilaku ekonomi ekstraktif.
Paska kemerdekaan, ekonomi Kalimantan Timur ditopang oleh ektraksi hutan, masyarakat Kaltim ingat betul dengan istilah Banjir Kap. Masyarakat diperbolehkan memotong kayu di hutan alam dan kemudian dijual langsung ke pembeli dari luar negeri yang menunggu dengan kapal pengangkut log di Pelabuhan Samarinda.
Pesta pora ekonomi kayu itu tak lama, pemerintah kemudian mengalihkan ijin ekploitasi hutan kepada investor lewat Hak Pengelolaan Hutan. Hutan Kalimantan Timur yang tidak ditanam itu, merimba dengan sendirinya membuat sosok-sosok tertentu menjadi konglomerat, orang terkaya di Indonesia hingga sekarang.
Selain kayu hutan dalam bentuk log, lalu kayu olahan terutama kayu lapis, ekonomi Kalimantan Timur juga ditopang oleh minyak dan gas.
Paska reformasi, perilaku ektraksi terus berlanjut walau mulai muncul kesadaran tentang degradasi lingkungan dan hutan Kalimantan Timur. Setelah boom kayu dan boom minyak, batubara menjadi booming berikutnya.
Sama seperti kayu log, ijin batubara juga diberikan kepada masyarakat lokal karena kepala daerah punya wewenang untuk memberi ijin. Namun lama kelamaan kewenangan itu dicabut, pemerintah pusat akhirnya mengambil alih kewenangan kembali. Dan kemudian marak aktivitas penambangan ilegal, koridoran.
Ekploitasi terus berlanjut, setelah batubara kemudian batu gamping. Bentang alam karst Sangkulirang Mangkalihat juga ditambang untuk bahan semen.
Upaya untuk mengekstraksi belum berakhir. Terakhir terdengar sudah ada antrian panjang pengusaha tambang yang akan menambang ekosistem kerangas untuk mengambil pasir kuarsa.

BACA JUGA : Badut Politik
Tergantung kepada ekonomi ektraktif, tidak mudah bagi Kaltim untuk keluar dari jebakan itu. Namun dunia memaksa, pemanasan global dan perubahan iklim membuat dunia berkomitment untuk mengurangi emisi dengan transformasi energi dari energi kotor ke energi kotor.
Transformasi ini dikenal dengan istilah transisi energi.
Kaltim berada di silang jalan, transisi energi, peralihan dari energi kotor ke energi bersih akan membuat Kaltim kehilangan pendapatan besar, baik yang langsung maupun tak langsung.
Pertanyaan adalah sektor apa yang kemudian bisa didorong untuk memberi sumbangsih ekonomi yang perlahan bisa menggantikan kehilangan pendapatan dari batubara.
Dari analisis PDRB terlihat sektor pertanian, perkebunan dan peternakan punya potensi untuk ditingkatkan sumbangsih ekonominya untuk Kalimantan Timur.
Kenapa potensial untuk ditingkatkan, karena selama ini sebagaian besar produk pertanian, perkebunan dan peternakan masih didatangkan dari luar.
Ini menjadi sebuah peluang sekaligus tantangan tersendiri. Terutama untuk memenuhi kebutuhan protein lokal, sumber daya lokal atau ternak yang dipelihara dan dibudidaya oleh masyarakat lokal akan jauh mempunyai kelebihan tersendiri.
Inisiatif lokal dalam bidang peternakan layak untuk didorong, agar kebutuhan daging kambing atau domba misalnya bisa dipenuhi oleh pembudidaya domba dan kambing di Kalimantan Timur.
Selama ini ada anggapan bahwa kambing dan domba dalam skala besar hanya akan berhasil di Jawa. Anggapan seperti ini membuat yang banyak berkembang di Kaltim adalah pedagang kambing. Mereka mendatangkan kambing dari Jawa dan kemudian menjualnya kembali di Samarinda atau daerah sekitarnya.
Adalah Pangeran Domba Samarinda yang kemudian menjadi salah satu pioner peternakan kabing dan domba secara modern di Samarinda. Peternakan ini sebenarnya bermula dari hobi, yang kemudian makin berkembang hingga mempunyai model bisnis yang mumpuni.
Tahun 2014, Hadi Saputro yang sering dipanggil Eko, membeli dua ekor kambing yang dipelihara untuk refreshing. Dari sedikit kemudian berkembang, hingga menjadi puluhan bahkan ratusan. Peternakan yang kemudian dinamai Pangeran Domba Samarinda diperbaharui, dengan membuat kandang modern.
Berbagai jenis kambing dan domba dipelihara oleh Eko yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pengusaha kuliner.
Model bisnis yang dikembangkan oleh Pangeran Domba Samarinda bukan hanya menghasilkan daging, tetapi juga menghasilkan anakan atau bibit kambing dan domba. Selain itu juga dihasilkan produk turunan yakni susu kambing.
Membibit dan kemudian membesarkan menjadi fokus dari Pangeran Domba Samarinda karena permintaan pasar domba atau kambing di Samarinda tinggi terutama untuk keperluan Aqiqah dan Qurban.

Baca Juga : Fotografer Jalanan
Kehadiran Pangeran Domba Samarinda menjadi angin segar bagi dunia peternakan domba dan kambing di Samarinda. Kehadirannya juga mmapu memberikan dampak berganda untuk perekonomian lokal. Peternakan ini memberi peluang kerja untuk warga setempat, pekerja untuk memelihara ternak, membuat pakan dan lainnya.
Hadi atau Eko juga membiarkan warga mengambil kotoran hewan atau tahi kambing sebagai pupuk. Sementara Hadi juga mengambil limbah pertanian seperti batang jagung dan lain-lain sebagai bahan pakar kering atau silase, ada simbiosis mutualisme antara Hadi dan petani di sekitar peternakannya.
Secara tidak langsung, peternakan ini berkontribusi pada stabilitas harga daging menjelang hari raya besar. Dengan memiliki pasokan ternak yang siap potong dalam jumlah besar di dalam kota, risiko fluktuasi harga akibat biaya pengiriman atau kelangkaan dapat diminimalisir, yang pada akhirnya mendukung ketahanan pangan regional Kalimantan Timur.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi peternakan di Samarinda adalah penyediaan pakan berkualitas secara berkelanjutan. Lahan hijauan yang terbatas memerlukan inovasi dalam formulasi pakan, seperti penggunaan konsentrat buatan sendiri atau pemanfaatan limbah pertanian (fermentasi). Pangeran Domba harus terus berinovasi, mungkin melalui integrasi vertikal seperti penanaman pakan sendiri atau kerjasama dengan petani lokal.
Selain itu, edukasi pasar juga menjadi penting. Peternakan ini perlu membangun kepercayaan konsumen lokal terhadap kualitas daging yang dihasilkan di Kalimantan Timur, mematahkan anggapan bahwa ternak terbaik harus berasal dari pulau lain. Melalui transparansi proses dan promosi kesehatan ternak, Pangeran Domba dapat semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar.
note : sumber foto – NONPROFIT JOURNALISM








