KESAH.ID – KTG atau kopi tanpa {kontaminasi} gula mungkin tidak bakal digemari oleh semua orang. Kopi andalan tetap kopi instan, kopi mix, kopi sachetan karena murah dan praktis. Maka meminum kopi tanpa gula bisa dianggap menyiksa diri, sebab kopi distigma sebagai minuman pahit. Padahal spektrum rasa kopi sebenarnya luas, tidak semuanya pahit atau bitter, karena tergantung pada pengolahan, mulai dari paska panen, tingkat kematangan, sampai pada takaran air, panas dan waktu penyeduhan.
Ajakan “Yuk ngopi” atau pertanyaan “Adakah info ngopi?” tak bisa diterjemahkan mentah-mentah lagi untuk benar-benar menikmati kopi, atau bertanya sedang ada ngopi-ngopi dimana.
Jika ajakan itu dijawab, atau informasi titik ngopi diberikan lalu terjadi perkumpulan, belum tentu yang dinikmati oleh yang datang adalah kopi.
Yuk ngopi atau adakah info ngopi, sebenarnya hanya merupakan kode untuk berkumpul atau ada kumpulan dimana. Jika kumpulan terjadi yang ada diatas meja bisa jadi matcha, kopi cream, teh susu, teh leci, capucino atau bahkan es sirup aneka rasa dan warna. Di kumpulan kopi, peminum kopi malah jadi minoritas.
Atau kalaupun semua berbau kopi, yang dipesan adalah kopi susu gula aren, kopi susu, capucino, affogato, latte dan seterusnya. Sejenis kopi-kopian yang rasa kopi aslinya seperti Permen Kopiko.
Mayoritas penghuni kedai, warung atau gerai kopi adalah orang-orang seperti ini. Ngakunya tukang nongkrong di coffee house tapi tak kenal rasa kopi asli.
Sehari bisa tiga kali mendatangi warung kopi tapi tak bisa membedakan rasa kopi.
“Saya nggak tahu bedanya kopi ini dan itu,”
Ya, iyalah, walau minum kopi bergelas-gelas tapi yang diminum kopi mix. Jadi begitu dikasih kopi asli malah kemudian berkata “Kok rasanya aneh gini,”
Nggak apa-apa, bahkan pengemar kopi asli sekalipun terkadang hanya bisa merasakan kopi dari pahitnya saja. Paling kalau ada rasa lain yang dikenali, itu gegara kopinya sudah apek atau lama sehingga kehilangan aroma.
Benar kopi memang pahit, terutama robusta.
Makanya banyak yang kemudian mencampur atau dimix dengan bahan-bahan yang bergula. Entah kental manis, simple sirup, minuman bersoda dan tambahan gula itu sendiri. Jadi sering kali ngopi yang diidentikan dengan pahit itu kemudian menjadi upacara menambah gula di tubuh.
Ya minum kopi artinya mengasup gula, karena kopi dikontaminasi dengan bahan-bahan yang mengandung gula, bahkan banyak gula.
Kenikmatan kopi bukan pada note atau kekayaan rasa serta aromanya, melainkan paduan dengan rasa manis gula. Segelas kopi menjadi mood booster atau penambah energi, karena energi instan yang dibangkitkan oleh gula.
Kedai atau gerai kopi yang mestinya membantu untuk mengurangi konsumsi gula, justru menjadi tempat berkumpulnya para pecandu gula.
Menyukai nongkrong di kedai kopi, tahan berjam-jam duduk disana, beberapa kali seminggu sehingga kurang gerak dan langganan meminum minuman serasa kopi, sebenarnya sangat berbahaya karena kurang olahraga dan gemar menumpuk gula adalah jalan menuju serangan penyakit berbahaya.
Data menunjukkan penyakit yang dominan saat ini adalah penyakit-penyakit yang dipicu oleh pola konsumsi gula yang berlebihan. Maunya yang manis-manis karena hidup sudah terasa pahit.
Padahal jika mau menjadi peminum kopi yang tekun, pahitnya kehidupan mungkin bisa saja terasa manis. Karena pahit tak berarti penderitaan, justru manis yang berbahaya karena bikin keblinger. Seperti mereka yang terjerat dengan manisnya kekuasaan hingga kemudian berujung pada borgol dan rompi pink di badan.
BACA JUGA : Kalap Kolaps
Sampai hari ini kedai kopi masih terus bertumbuh di Kota Samarinda, yang lokal makin banyak hingga bukan lagi berdiri di gang-gang melainkan juga gang yang menghubungkan gang.
Kedai kopi makin merangsek ke dalam-dalam, hidden gems banget. Rasanya kedai kopi seperti bersaing dengan laundry.
Rupanya orang Samarinda semakin malas cuci baju sendiri karena merasa lebih baik membuang waktu dengan nongkrong di kedai kopi.
Karena kopi Citra Niaga, kawasan pusat ekonomi yang pernah meraih Aga Khan Awards itu bangkit lagi dua kali. Citra Niaga pusat perbelanjaan rakyat yang surut karena munculnya pusat-pusat perbelanjaan modern hingga di-stigma sebagai sarang copet dan sarang bencong, terang benderang dan ramai di malam hari saat pandemi Covid 19.
Saat itu Kopi Sajen menjadi pionernya, hingga kemudian Citra Niaga berbau kopi karena ada puluhan gerai muncul disana. Tapi kemudian surut karena muncul ruas-ruas jalan yang nge-hype gara gara kopi, seperti Jalan Siradj Salman, dengan Klinik Kopi dan Salman Avenue.
Untuk sementara waktu Citra Niaga tiarap, direnovasi dengan menutup salah satu jalur di Jalan Niaga Utara menjadi kawasan pedestrian. Jalan Aga Khan Award yang berada dalam kompleks juga ditutup menjadi pelataran.
Memang masih ada kedai kopi ketika ‘Kopi Citra’ surut, ada Kopi Starbud dan Kopi Kongtjie serta beberapa lainnya.
Kebangkitan kedua Citra Niaga setelah selesai direvitalisasi dipicu oleh hadirnya Kedai Kopi Lima atau biasa disebut Koplim. Hadir dengan pelataran luas bekas Jalan Aga Khan Award, pengunjungnya ada yang membawa kursi lipat sendiri. Banyak pula yang membawa gitar, sound portable dan alat permainan lainnya. Ketika pertama hadir, Warga Koplim bisa nongkrong 24 jam.
Setelah itu menyusul kedai-kedai kopi lainnya, hingga Citra Niaga kembali ramai, terlebih di akhir pekan.
Di saat ramai ada pemandangan orang-orang berdiri bergerombol, menunggu bangku kosong. Pemandangan seperti itu kerap terlihat di Kopi Kong Tjie.
Sepertinya bisnis kopi sungguh-sungguh marak dan belum berhenti.
Tapi benarkan warga Samarinda yang berkumpul karena ajakan “Yuk Ngopi” itu benar-benar minum kopi?.
Memang belum ada yang meneliti dengan sungguh-sungguh. Tapi dengan pengamatan sekilas saja bisa kelihatan bahwa yang banyak di pesan di kedai, warung atau gerai kopi bukanlah kopi. Coba iseng-iseng kalau lewat kedai kopi, perhatikan apa yang ada di atas meja, pasti kebanyakan minuman non kopi, atau minuman yang berasa kopi, kopi yang terkontaminasi gula, susu, sirup, kental manis dan lainnya.
Mungkin ada baiknya juga duduk-duduk di warung kopi tapi minumnya kopi atau minuman lainnya yang terkontaminasi gula agar wajah-wajahnya berseri bahagia.
Sebab kalau minum kopi tanpa gula, mungkin memang sulit untuk mengembangkan rona senyum di wajah.
BACA JUGA : Semua Dipajaki
Sudah pahit mahal pula, mungkin itu yang ada di benak kebanyakan orang yang duduk-duduk di warung kopi lalu pesan sejenis kopi hitam tanpa gula.
Tidak bisa dipungkiri makin kesini harga segelas kopi makin berasa mahal, jadi kalau ditanya “Bagaimana rasanya,” ada yang menjawab “Rasa uang,”.
Mengenali rasa kopi hingga kemudian mulai bisa merasakan enaknya kopi tanpa gula, memang tak mudah jika tak terbiasa. Terlebih lagi jika kita termasuk dalam golongan tebal lidah, lidah yang kurang sensitif pada rasa. Belum lagi kalau memori kita terhadap rasa rendah, jelas pilihan terbaik untuk merasakan kopi itu enak yang kopi susu, atau kopi susu gula aren.
Cara kita meminum kopi memang sudah sejak semula terkontaminasi gula.
Dulu simbah-simbah di Malioboro, kalau membuat segelas kopi, takaran antara gula dan kopinya hampir setengah gelas. Makanya tukang nongkrong yang curang hanya akan mengaduk secukupnya, dan setelah beberapa kali menyeruput akan meminta air panasnya ‘Dijog’ lagi, diisi lagi. Jadi nongkrong semalaman hanya akan membayar segelas kopi. Jogja, konon berasal dari kata Jog Ya, atau diisi lagi ya.
Nasgitel, panas, legi dan kentel, begitu sebutan populer untuk minuman kopi.
Kelak ketika kopi instan mulai terkenal yang paling banyak dibeli adalah kopi campur gula, 2 in 1. Lalu setelah itu yang paling populer adalah kopi mix, campuran antara kopi, gula dan creamer.
Kopi instan atau kopi mix ini kemudian menjadi gelombang kopi tersendiri. Kopi mix menjadi jenis minuman berasa kopi yang paling populer selama bertahun-tahun. Kini di kebanyakan warung yang tidak melabeli diri dengan warung atau kedai kopi, kopi instan atau kopi mix ini yang selalu tersedia.
Kopi instan, kopi bergula memang telah menjadi bagian dari budaya minum kopi orang Indonesia. Kesukaan pada kopi instan ditenggarai karena praktis, terjangkau dan tersedia dalam aneka rasa. Kopi instan bahkan bisa di-twist menjadi minuman kopi kekinian.
Kopi instan praktis karena bentuknya sachetan, yang pingin minum tinggal menyeduhnya dengan air panas. Karena sudah ditakar, rasanya juga stabil. Mau bold atau light, tinggal diukur takaran airnya.
Beberapa tahun terakhir berkembang gelombang kopi lainnya. Kelompok pebisnis atau peminum kopi yang bisa dilabeli sebagai idealis. Idealis karena menghargai biji kopi produksi Indonesia, dengan menyajikan kopi segar, bukan kopi ground atau kopi giling, apalagi kopi sachetan.
Gelombang kopi ini bangga pada kopi yang ditanam petani di Indonesia, kopi dengan beragam rasa karena ditanam di tanah yang berbeda. Idealisme kopinya meliputi, pilihan jenis kopi, pilihan paska panen termasuk pilihan tingkat kematangan sewaktu disangrai.
Membuat, menikmati dan membincang kopi kemudian terasa rumit. Banyak istilah-istilah yang tak dikenal oleh mereka yang terbiasa ngopi nasgitel selama puluhan tahun sekalipun.
Hadir dengan banyak peralatan, kopi yang disajikan haram hukumnya dikontaminasi dengan gula. Gula akan merusak rasa kopi, gula mengkhianati keringat para petani yang menjaga dan merawat pohon kopi seperti anaknya sendiri.
KTG, kopi tanpa {kontaminasi} gula jika dinikmati dengan lidah yang terbuka pada rasa, niscaya yang tertinggal bukan hanya rasa pahit. Ada spektrum rasa pada kopi tanpa gula, bisa saja rasa manis, bisa rasa floral atau rasa fruit bahkan rasa kacang-kacangan.
Mungkin tak semua bisa merasakannya terlebih jika lidah tidak terkalibrasi. Tapi minum kopi tanpa {kontaminasi} gula, jelas baik untuk kesehatan. Sebab walau gula menyenangkan, data menunjukkan bahwa gula adalah salah satu mesin pembunuh terbesar pada jaman ini.
note : sumber gambar – JIWAGROUP








