KESAH.IDSeni melukis dengan menghitamkan seluruh obyek disebut siluet. Istilah ini berasal dari nama menteri keuangan jaman aristokrasi Perancis, Etienne De Silhouette. Diberi tugas untuk menyelamatkan krisis keuangan, Silhouette mencari jalan mudah dengan memajaki masyarakat Perancis tak peduli kaya atau miskin. Semua dipajaki agar pundi keuangan kerajaan terisi. Sri Mulyani menteri keuangan Indonesia yang paling populer pada akhirnya juga tak mampu menahan beban keuangan negara hingga akhirnya mencari jalan hutang dan pajak.

Tahu dari mana asal usul istilah siluet?

Muasalnya dari Perancis, di masa Kerajaan Perancis berantakan keuangannya karena gaya hidup mewah raja dan para bangsawan. Diangkatlah Etienne De Silhouette sebagai menteri keuangan untuk membenahi krisis tersebut.

Tanpa berlama-lama Silhouette menemukan formulanya dengan memodifikasi apa yang dilakukan oleh Kerajaan Inggris yakni memajaki orang kaya. Silhouette menerapkan tidak hanya orang kaya yang dipajaki, tapi semua orang.

Seperti seorang pemburu yang tidak mendapat binatang buruan di hutan, Silhouette kemudian berburu di kebun binatang atau pasar hewan. Dengan cara seperti itu Silhouette berhasil mengumpulkan uang besar karena semua hal dipajaki.

Siapapun yang dianggap punya harta yang berharga akan dikenai pajak, tidak selalu barang mewah tetapi bisa saja sandal jepit yang masih baru, atau pintu gereja yang masih bagus.

Masyarakat baik kaya maupun miskin dibuat sengsara dengan pajak yang jumlahnya tidak kecil.

Para pewarta Perancis waktu itu ketika memberitakan kelakuan Silhouette selalu menampilkan wajahnya dengan dihitamkan. Dari situlah kemudian muncul istilah siluet yang merujuk pada gaya seni lukis dengan menghitamkan seluruh obyek yang berkembang di tahun 1800.

Dan sejarah kemudian mencatat, pajak tinggi yang mencekik rakyat Perancis itu kemudian membuat masyarakat muak dan lahirlah revolusi Perancis. Raja dan Ratunya dipenggal dan runtuhlah aristokrasi Perancis.

Meski kisahnya berakhir dengan tragis, model penyelesaian krisis keuangan negara ala Etienne De Silhouette ini masih menjadi pilihan hingga jaman sekarang. Hanya saja karena kebanyakan negara sudah menjadi republik atau negara demokratis, tak ada kepala negara yang dipenggal kepalanya gegara pajak yang mencekik rakyatnya.

Paling masyarakatnya akan melakukan demonstrasi, unjuk rasa besar-besaran. Ada yang berhasil, pemimpinnya diturunkan dan diganti, tapi krisis tetap sulit diatasi, kecuali pemimpin berikutnya bisa mencari pinjaman untuk menutupi defisit keuangan negara. Negeri itu akhirnya bisa keluar dari mulut buaya tetapi masuk ke mulut singa.

Kisah itu mungkin cocok dengan era Sri Mulyani yang menjadi salah satu menteri keuangan terlama. Sri Mulyani menjadi menteri keuangan 3 presiden, mulai dari Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo hingga Prabowo.

Sejarah keuangan menunjukkan Sri Mulyani menjadi menteri keuangan yang piawai melewati krisis dan badai keuangan. Di jaman SBY, Sri berhasil menstabilkan keuangan negara saat krisis keuangan global. Di jaman Jokowi, Sri Mulyani berhasil melewati pandemi Covid 19 tanpa kondisi keuangan yang berdarah-darah.

Sebagai menteri keuangan, Sri Mulyani dikenal disiplin dalam menata uang. Bahkan cenderung kaku sehingga tidak memunculkan terobosan-terobosan inisiatif keuangan yang baru. Sri hanya mau memakai metode yang sudah teruji, tidak mau berekperimen dalam soal keuangan.

Karena wataknya, Sri Mulyani pernah diganjar penghargaan sebagai menteri keuangan terbaik.

Namun dari masa SBY dan Jokowi ada beban keuangan negara yang selalu menjadi perubahan rumah, angka pertumbuhan yang tidak tinggi. Faktor I menjadi masalah, yakni investasi.

Meski cara-cara Sri Mulyani disukai investor, namun ternyata tidak mampu membuat iklim investasi di Indonesia membaik. Bahkan investor yang sudah bercokol di Indonesia malah bedol desa, pindah ke Thailand, Vietnam, Kamboja bahkan Bangladesh.

BACA JUGA : Marc Catalunya

Pemimpin negara memang kerap membuat kebijakan yang butuh uang banyak namun tak mempertimbangkan kondisi keuangan negeri yang dipimpinnya.

Untuk menyelamatkan ekonomi negara, SBY mengambil kebijakan stimulus keuangan baik bagi masyarakat maupun investor. Salah satu yang terkenal adalah BLT, Bantuan Langsung Tunai dan model penciptaan lapangan kerja lewat proyek-proyek padat karya.

Pertumbuhan sektor konsumsi dan inflasi memang bisa dijaga tapi beban keuangan negara menjadi berat, pertumbuhan ekonomipun tidak melewati batas untuk menjadi pondasi yang kuat pada masa berikutnya. Ibarat kendaraan, pelan tapi sampai atau selamat.

Dengan janji revolusi mental, Joko Widodo menarik perhatian masyarakat. Publik bergairah karena ada harapan untuk terjadi perubahan.

Tapi revolusi mental tidak terjadi, karena pola pembangunan Joko Widodo kembali ke mental orde baru. Membangun infrastruktur besar yang kemudian membebani keuangan negara, atau kemudian membuat proyek-proyek besar dibiayai oleh hutang.

Gebyar pembangunannya memang terlihat, tetapi apakah pembangunan itu mendongkrak pertumbuhan ekonomi, perlu dilihat lebih dalam.

Menjelang akhir masa jabatan Jokowi, beban keuangan negara lebih berat lagi. Presiden Joko Widodo memutuskan Ibu Kota Negara dipindahkan, jauh menyeberang pulau ke Kalimantan Timur.

Merubah Hutan Tanaman Industri menjadi pusat pemerintahan butuh biaya besar, bukan hanya soal membangun infrastruktur tetapi juga mengkoneksi dengan ekosistem wilayah sekitarnya. Terhadap kekhawatiran soal pembangunan IKN akan menyedot APBN, Joko Widodo meyakinkan kalau sebagian besar akan ditanggung oleh investor.

Diatas kertas pembangunan IKN oleh investor memang memungkinkan, namun realisasinya seperti siput yang berjalan mundur. Tetap saja APBN yang menjadi utama.

Kabarnya Sri Mulyani mulai pusing. Dengan semua kedisiplinan dalam perencanaan keuangan, manuver yang dilakukan oleh pimpinan kabinet menabrak prinsip-prinsip yang berusaha ditegakkannya.

Tapi Sri adalah pembantu, pembantu presiden yang wajib melayani kepentingan sang pemimpin.

Borok keuangan ditutupi, salah satunya dengan menyenangkan birokrasi leeat tunjangan-tunjangan. Asal birokrat loyal, Presiden akan tenang. Kalaupun ada demo dari masyarakat itu hal yang biasa dan ada polisi untuk mengatasinya.

Sri Mulyani harus kreatif mencari tambahan pendapatan. Tak ada cara lain, maka ditirunya pola Etienne De Silhouette yakni memajaki. Salah satu yang paling fenomenal adalah pajak rokok dan tembakau yang membuat harga rokok melambung, melewati batas nalar perokok sekalipun.

Menunggang gelombang anti rokok, Sri Mulyani memanfaatkan momentum untuk menggali cuan dari rokok dan tembakau. Alasannya dengan dinaikkan harganya berkali lipat adalah agar jumlah perokok turun, baik perokok lama maupun perokok baru. Dan sekaligus juga menaikkan pendapatan dari rokok.

Alih-alih menambah pundi-pundi negara, kebijakan menaikkan cukai tembakau dan rokok setinggi langit justru membuat industri rokok illegal malah berkembang. Setelah harga rokok mainstreams melewati batas psikologi perokok, kini perokok kebingungan kalau pergi ke warung karena etalase penuh dengan merek rokok yang tidak dikenalinya.

BACA JUGA : Kalap Kolaps

Perpindahan kekuasaan dari Joko Widodo ke Prabowo Subianto berlangsung mulus. Prabowo bahkan dianggap sebagai kelanjutan dalam artinya mewarisi beban keuangan negara akibat akrobat politik Joko Widodo.

Konon kabarnya Sri Mulyani tak lagi sanggup untuk menjadi menteri keuangan. Namun nampaknya tak bisa menolak ketika ditunjuk. Mungkin Sri Mulyani diminta untuk mementori keponakan Prabowo yang kemudian ditunjuk menjadi wakil menteri keuangan.

Tapi nampaknya sang keponakan masih pusing hingga hari ini dan belum sanggup menggantikan Sri Mulyani.

Ada jasa partai politik yang besar pada jalan mulus Prabowo – Gibran. Dan itu mesti diganjar penghargaan. Salah satu yang mengkampanyekan dengan getol Prabowo – Gibran adalah calon legislatif. Maka mereka kemudian dimanjakan dengan tunjangan. Partai yang bukan pendukung atau pengusung Prabowo – Gibran juga mesti diganjar penghargaan karena tak ada satupun yang menyatakan akan menjadi oposisi di parlemen.

Kabarnya dalam waktu yang tidak terlalu lama setelah ditunjuk oleh Prabowo menjadi menteri keuangan, Sri Mulyani menyatakan ingin mundur. Yang pertama pada saat Prabowo memutuskan melakukan efisisensi. Kabarnya yang mencorat-coret anggaran bukan Sri Mulyani, menteri keuangan hanya menerima jadi.

Corat coret anggaran yang akan dialihkan untuk membiayai salah satunya Makan Siang Bergizi itu membuat Sri Mulyani pusing. Dipastikan kinerja semua lembaga negara atau kementerian akan menurun.

Sri Mulyani kemudian kembali kepada rumus Silhouette, mencari celah pajak baru. Namun yang diusulkan kemudian dibatalkan. Rakyat menolak dengan keras, dan Prabowo memakai kesempatan itu untuk menunjukkan dia berpihak pada rakyat. Carmuk-lah, Cari Muka.

Sri Mulyani yang hebat itu mulai tergerus namanya. Sri dianggap sebagai tukang pajak.

Maka bisa dimengerti jika kemudian rumah Sri Mulyani menjadi satu-satunya rumah menteri yang dijarah, padahal dalam kabinet Prabowo – Gibran masih ada banyak menteri lainnya yang membuat masyarakat muak dan lebih cocok untuk menjadi sasaran kemarahan.

Menjadi salah satu menteri yang paling lama mengabdi, Sri Mulyani pantas sakit hati. Diakhir pengabdiannya dia terluka.

Inilah balasan yang diterima untuk pengorbanannya. Sri Mulyani kembali ke Indonesia karena dipanggil kembali oleh Jokowi. Meninggalkan kursi empuk untuk menduduki kursi berduri.

Mendengar kabar rumahnya akan menjadi sasaran, Sri Mulyani meminta perlindungan. Yang dimintai adalah Menteri Pertahanan. Dan hanya dikirimkan 20 tentara, untuk menghadapi ratusan penjarah pada gelombang pertama dan kemudian makin tak berdaya saat datang gelombang kedua yang jumlahnya berkali lipat.

Hati Sri Mulyani porak poranda seperti rumahnya yang berantakan.

Sri Mulyani kemudian kembali berniat mundur, kabarnya dua kali hal itu diungkapkan pada presiden.

Tidak ditanggapi dan mungkin diminta bersabar.

Menjadi tumbal, mungkin itu pengabdian terakhir Sri Mulyani pada pemerintahan Prabowo – Gibran. Mundurnya memang tak diterima, namun kemudian Sri Mulyani menjadi salah satu dari beberapa menteri yang kemudian diganti.

Kemana Sri Mulyani akan pulang, Ke Kebumen, Semarang atau Lampung?. Semoga Sri tidak pulang ke Amerika Serikat, karena itu berarti Sri Minggat.

note : sumber gambar – TIRTO