KESAH.IDBalapan di Mandalika menyisakan kisah sedih untuk para pengemar Marc Marquez. Tiga kali berlaga di Mandalika, Marc Marquez yang disambut sangat meriah ternyata gagal menuntaskannya. Pada balapan yang ketiga, Marc Marquez yang sudah mengendarai Ducati ternyata mengalami insiden, motornya meleduk mesinnya. Dengan demikian, tiga kali membalap di Mandalika, tiga kali pula Marc Marquez gagal finish. Tahun ini, menang atau gagal, kemungkinan besar Marc akan mencatatkan sejarah menyamai Valentino Rossi. Total juara dunia 9 kali semoga dicatat Marc Marquez di sirkuit yang selalu membawa sial untuknya.

Ada empat sirkuit yang masuk dalam kalender Moto GP 2025 yang belum pernah dimenangi oleh Marc Marquez, Keempatnya adalah Red Bulls Ring, Balaton Park, Portimou dan Mandalika.

Dua yang pertama akhirnya ditahklukkan oleh Marc Marquez di paruh kedua kalender Moto GP. Setelah istirahat tengah musim, Marc tetap gacor dan menyapu dua kali kemenangan berturut-turut sehingga mengenapi tujuh kali kemenangan berturut-turut dengan Ducati. Marc telah mencatatkan rekor 7 kali menang berturut-turut dengan dua motor berbeda, Honda dan Ducati.

Sebuah catatan kemenangan yang tidak normal untuk seorang pembalap Moto GP karena persaingan di Moto GP begitu ketat.

Sepanjang musim Moto GP 2025 Marc Marquez tetap konsisten, sementara dua lawan terdekatnya mendekati paruh musim justru makin memburuk. Alex Marquez dan Pecco Bagnaia sering gagal mendulang poin sehingga jaraknya makin jauh dengan Marc Marquez.

Dengan hitung-hitungan seperti itu, Marc Marquez diperkirakan bisa mengklaim gelar juara dunia Moto GP 2025 di Sirkuit Misano, Italia.

Marc Marquez sendiri tak menolak kemungkinan itu. Namun saat ditanya, marc lebih menyukai jika gelar juara dunia Moto GP 2025 dikuncinya di Mandalika. Membungkus gelar di Misano oleh marc Marquez dianggap terlalu cepat dalam artian adiknya Alex Marquez bakal menuai hasil yang buruk.

Ya, Alex dijagokan untuk memperoleh hasil yang baik di sirkuit Catalunya. Dengan hasil yang bagus, Alex akan memperpanjang nafas untuk mendapatkan hasil yang baik musim ini. Menjadi nomor 2 sudah bagus untuk Alex Marquez. Meski sudah hampir pasti namun tak bakal sempurna jika poinnya berjarak amat jauh dengan Marc Marquez.

Marc Marquez tentu ingin merengkuh kembali gelar juara dunia Moto GP. Dan sudah dipastikan gelar juara itu tak akan lari darinya. Kepercayaan diri yang tinggi itu membuatnya tak ingin cepat-cepat mengunci mahkota juara. Selain adiknya, Marc juga ingin Pecco Bagnaia kembali tampil bagus.

Bisa jadi Marc sadar, kalau terlalu dominan, balapan menjadi tak menarik lag, padahal penonton perlu hiburan, balapan yang seru.

Memang paruh musim kedua ini terlihat KTM dan Aprilia mulai bangkit. Keduanya mulai melawan Ducati, lebih tepatnya Ducati yang ditunggangi oleh Marc Marquez.

Pedro Acosta, Marco Baezzecchi, Maverick Vinalles dan Enea Bastianini mulai berani bersaing dengan Marc Marquez. Perlawanan mereka cukup meyakinkan walau pada akhirnya Marc bisa menyudahi dengan jarak yang meyakinkan. Tapi baik KTM maupun Apriia telah mencatatkan bisa berada di depan Marc Marquez.

Berani melawan Marc Marquez sudah cukup untuk menghibur penonton Moto GP seperti yang ditunjukkan oleh Marc Bezzecchi. Ya melawan, bukan mengalahkan, karena mengalahkan Marc Marquez jelas sulit.

Target para pembalap Moto GP jelas bukan mengalahkan Marc Marquez. Seperti Bagnaia yang adalah tandem Marc dan memakai motor yang sama, target Pecco bukan Marc melainkan Alex Marquez. Pecco tahu hasil terbaik yang bisa diraihnya tahun 2025 ini adalah peringkat kedua. Keinginan untuk menjadi peringkat pertama sudah dibuangnya jauh-jauh.

Ya udahlah, mungkin begitu yang terucap dalam hati pembalap begitu dilewati lalu ditinggal oleh Marc Marquez. Para pembalap tahu, Marc menang dengan modal belum seratus persen, masih ada yang disimpan oleh Marc Marquez ketika pembalap lainnya sudah habis-habisan.

Ternukti ketika tertinggal dan kemudian mengejar, ketika Marc berhasil melewati tak lama kemudian jarak akan tercipta. Marc langsung ngacir ke depan dan membuat pembalap di belakangnya mengurungkan niat untuk mengejar. Memaksa untuk mengejar Marc Marques bisa berakhir celaka, mencium aspal.

BACA JUGA : Kebenaran Baru

Tanda-tanda kebangkitan Marc Marquez sudah terlihat ketika bergabung ke Gresini Racing. Menjadi tandem adiknya sendiri, Marc terlihat mulai lebih banyak tersenyum.

Melakukan penyesuaian dengan cepat Marc Marquez berhasil bersaing dengan Jorge Martin, Pecco Bagnaia dan Enea Bastianini.

Kemenangan pertama di Aragon pada akhir Agustus 2024, mengakhiri puasa Marc Marquez yang seribu hari tanpa kemenangan. Semenjak tahun 2021 Marc tak pernah menduduki podium pertama.

Kemenangan dalam sprint race di Sirkuit Aragon, membuka jalan bagi Marc Marquez meraih kemenangan-kemenangan berikutnya. Marc Marquez kembali percaya diri. Mengakhiri seri Moto GP 2024 dengan duduk pada klasemen 3, sepanjang musim yang menjadi perbincangan adalah Marc Marquez.

Terlebih lagi menjelang akhir musim, saat Jorge Martin berhasil menjadi juara dunia Moto GP 2024, yang dipilih olah Ducati untuk menjadi pembalap pabrikan justru Marc Marquez.

Bertandem dengan Francesco Bagnaia yang kepleset di tahun 2024 sehingga gagal mengamankan gelar juara dunia ketiga kalinya berturut-turut, Francesco Bagnaia digambarkan akan hadir sebagai sosok yang lapar gelar di seri Moto GP 2025.

Marc Marquez bergabung di Ducati pabrikan juga dengan tujuan yang sama, ingin kembali merengkuh gelar juara dunia. Apalagi hanya perlu satu gelar lagi untuk Marc Marquez agar bisa menyamai prestasi Valentino Rossi.

Diramalkan garasi Ducati akan panas karena ada dua matahari kembar. Satu pembalap bintang masa depan, satu pembalap bintangnya meredup namun mulai bersinar kembali.

Yang diramalkan tidak terbukti, Marc dan Pecco baik-baik saja. Atmosfer Ducati yang menjaga keterbukaan antar pembalapnya, membuat garasi Ducati tidak sepanas jaman Rossi dan Lorenzo,

Memulai seri di luar Eropa, Marc Marquez segera tancap gas. Seri pembuka dimenangkan oleh Marc Marquez, Francesco Bagnaia mengimbanginya. Dan yang tak diduga ternyata Alex Marquez menyelip diantara keduanya.

Dalam beberapa balapan saja, Alex Marquez langsung mendapat gelar Mr P2 karena selalu berhasil finis di podium 2.

Marc justru sial di sirkuit yang menjadi kesukaan, terjatuh di Sirkuit Austin.

Beberapa kali terjatuh di paruh musim pertama, Marc Marquez kemudian mulai merubah gaya balapnya. Di awal musim Marc percaya harus secepatnya memimpin di depan agar membuat jarak yang sulit untuk dikejar. Sejak start Marc sudah memaksa motornya.

Namun kemudian strategi itu berubah, Marc tidak memaksa motornya sejak start. Sering membiarkan diri berada di belakang pembalap lainnya. Baru setelah setengah balapan Marc Marquez akan meningkatkan tekanan, mengejar dan kemudian melewatinya. Menjelang akhir balapan Marc Marquez kemudian memaksimalkan kecepatan motornya untuk membuat jarak dengan pembalap berikutnya.

Menjelang istirahat paruh musim, Marc sering mempraktekkan strategi tarik ulur. Kerap mengendorkan kecepatan motor, sehingga penonton sering menduga Marc mengalami masalah dengan motornya.

BACA JUGA : Bangsa{t} Besar

Sebagian orang yang aktif di lingkungan Moto GP adalah orang-orang yang mengenal Marc Marquez. Kini sebagai pengamat atau kru, mereka bisa tahu ada yang berubah dari gaya balap Marc di tahun 2025 ini. Marc tampil sebagai pembalap yang berbeda.

Yang pasti Marc Marquez tidak grusah-grusuh lagi, tak ngotot atau membalap dengan memaksa motornya melewati batas.  Satu hal yang pasti rekor Marc sebagai pembalap yang paling sering terjatuh tak terjadi lagi.

Cara membalap Marc Marquez makin halus, motornya terlihat lebih tenang, jalan bergoyang-goyang.

Dengan keterbukaan data di Ducati, kehebatan Marc Marquez makin terlihat lagi. Data Marc memang menarik untuk dilihat, ada banyak hal yang unik namun sulit untuk ditiru. Datanya tak bisa menjadi pembanding.

Rekan-rekannya di Honda dulu akhirnya juga buka suara. Johan Zarco, Carl Cruchow dan lain-lain mengatakan sering melihat data Marc Marquez tapi tak bisa menirunya. Selain butuh skill tersendiri, dari data Marc terlihat sering mengambil resiko yang sangat tinggi, Marc berani melakukan aksi-aksi yang berbahaya.

Cara membalap Marc Marquez memang makin santuy. Wajar saja, karena jarak antara dirinya dengan peringkat kedua amat jauh. Lawan Marc setiap balapan gonta-ganti, tidak ada yang sekonsisten dirinya.

Yang kena mental bukan hanya Francesco Bagnaia, rekan satu timnya. Semua pembalap di Moto GP tahun 2025 ini sudah kena mental. Walau senang bisa di depan Marc Marquez bahkan meninggalkan dengan jarak satu detik lebih, mereka hanya bisa menunggu saatnya akan dilewati oleh Marc Marquez dan kemudian diasapi.

Walau sudah bisa dipastikan siapa yang akan merengkuh gelar juara dunia Moto GP 2025 yang bahkan bisa diklaim tak lama lagi, Moto GP tetap menarik. Tetap ada persaingan untuk memperebutkan posisi kedua, atau paling tidak 10 besar dalam klasemen. Dan Marc juga tetap menyajikan tontonan yang menarik.

Marc pasti sadar, tugasnya kini bukan memenangkan balapan karena kemenangan seperti sudah menjadi kepastian untuknya. Tugas utama Marc Marquez justru menghibur pononton, membawa atmosfir balapan yang menarik, lewat aksi-aksi yang tak diduga.

Mandalika lah yang akan menjadi ujian untuk Marc Marquez. Selalu menjadi bintang saat balapan di Mandalika, Marc berturut-turut memperoleh hasil buruk. Namun bersama Ducati mungkin saja hasilnya akan berbeda seperti yang telah ditunjukkan di sirkuit-sirkuit yang kurang disukai oleh Marc Marquez namun nyatanya berhasil meraih kemenangan juga.

Semoga saja Marc Marquez akan mendeklarasikan kemenangannya kembali di Moto GP 2025 di Mandalika, sehingga sirkuit ini akan dicatat seturut sejarah hebat yang ditorehkan oleh Marc Marquez.

Di Mandalika, Marc Marquez akan dicatat sebagai GOAT dalam dunia Moto GP, bersanding sejajar dengan Giancommo Agustini, Pablo Nieto dan Valentino Rossi. Bahkan Marc bisa lebih besar lagi karena bersama Ducati Marc Marquez masih punya peluang mencatat prestasi besar bertahun-tahun lagi.

note : sumber gambar – DETIK