KESAH.IDKarangmumus, anak sungai Mahakam ini identik dengan Samarinda. Salah satu permukiman pertama berada di muaranya. Kelak di sepanjang sungai ini tumbuh pusat-pusat ekonomi berupa pasar. Namun perubahan orientasi pembangunan dari air ke darat membuat Sungai Karangmumus tumbuh tak kendali hingga kemudian distigma menjadi pencoreng wajah Kota Samarinda. Karangmumus identik dengan kekumuhan, slum area. Dan tigapuluh tahun lebih Pemerintah Kota Samarinda berupaya menata lingkungan Sungai Karangmumus lewat normalisasi sungai, yang justru membuat Samarinda kehilangan primadonanya.

Berapa panjang Sungai Karangmumus dari hulu ke hilir?. Rerata mengatakan 42 kilometer. Kalau nggak percaya silahkan ukur sendiri.

Meski akrab dengan Sungai Karangmumus sejak akhir 2015-an, saya belum pernah menyusuri dari hulu hingga hilir. Segmen Sungai Karangmumus yang saya kenal adalah dari spillway Bendungan Lempake hingga muara di Sungai Mahakam.

Segmen ini yang sesungguhnya dikenal oleh masyarakat sebagai Sungai Karangmumus. Panjangnya kurang lebih 19 kilometer.

Bisa disebut segmen ini merupakan bagian tengah dan hilir Sungai Karangmumus. Pada segmen ini Sungai Karangmumus dipersepsikan sebagai banjir dan kotor alias jorok.

Pada segmen ini Sungai Karangmumus memang dihiasi oleh permukiman di kanan kiri sungai, sebagian memasuki badan sungai. Selain bersumber dari limpasan air Bendung Lempake, sumber air Sungai Karangmumus di sepanjang segmen ini berasal dari beberapa anak sungai, namun yang paling banyak adalah got, saluran air atau bahkan pipa pembuangan limbah. Jadi wajar kalau air Sungai Karangmumus kemudian dianggap jorok.

Pada segmen ini Sungai Karangmumus juga melewati permukiman padat di sekitarnya. Dan warga terbiasa membuang sampah secara langsung ke sungai. Bukan hanya warga yang dekat dengan aliran sungai melainkan yang cukup jauh juga melakukan hal yang sama. Sampah yang dibuang ke sungai biasanya dikemas bagus, entah di kresek besar atau karung lalu dibuang dari atas jembatan sambil mengendarai motor, terkadang tanpa berhenti.

Tapi sampah juga masuk melalui got atau saluran air, terlebih disaat hujan deras. Ketika hujan selain airnya semakin keruh, Sungai Karangmumus selalu dihiasi dengan sampah apung yang berlimpah ruah.

Tigapuluhan tahun lebih pemerintah Kota Samarinda berupaya membersihkan tepian Sungai Karangmumus dari permukiman. Dimulai dari muara hingga Jembatan S. Parman atau dulu dikenal sebagai Jembatan Ruhui Rahayu. Bahkan rencana itu diteruskan, mungkin hingga Jembatan PM. Noor.

Sudah 4 atau 5 Walikota, rencana ini belum juga tuntas. Bahkan ketika dieksekusi oleh Andi Harun, walikota yang dikenal terus membangun hingga periode kedua ini, penataan tepian Sungai Karangmumus nampaknya belum akan tuntas. Karangmumus sepertinya akan menjadi PR bagi para Walikota Kota Samarinda mungkin hingga jaman Indonesia Emas nanti.

Walau sudah sedemikian panjang ditata, membuat Sungai Karangmumus lebih lebar dan lebih lurus, namun masalah yang dihadapi oleh Sungai Karangmumus belum juga sirna. Airnya tetap buruk, sampahnya tetap berlimpah. Belum lagi kalau dinilai secara ekologis, jelas kwalitas air dan Sungai Karangmumus sebagai habitat tidak membaik.

Sungai Karangmumus kehilangan banyak biota airnya, jenis ikan yang kini dominan di alirannya adalah Ikan Sapu Sapu atau lazim disebut Ikan Cicak karena suka menempel di beton pinggiran sungai. Ikan yang berasal dari Amerika Selatan, masuk dalam famili Loricariidae.

Ikan berwarna hitam kecoklatan ini mampu tumbuh sampai 50 cm dan bisa bertahan hidup selama 50 tahun. Meski berlimpah, ikan ini dianggap tidak punya nilai ekonomis. Pemancing atau penjala akan membuang ikan ini di tepi sungai begitu mendapatkannya.

Padahal ikan ini sebetulnya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi jika diolah sebagai tepung ikan untuk bahan pakan ternak.

Karena tak dimanfaatkan, ikan ini menjadi species invasif,  walau memakan lumut lama kelamaan ikan ini bisa menjadi pemangsa biota air lainnya.

Dari Tepian Lempake ke Perumahan Griya Mukti Sejahtera

BACA JUGA : Pemajuan Kebudayaan

Selain kehilangan biota air, lingkungan sungai biasanya dihuni oleh banyak burung, mulai burung atas, burung semak hingga burung bawah/tanah.

Hanya saja sungai yang dilebarkan dan kemudian dibeton kehilangan vegetasi alamiahnya. Lingkungan yang tadinya merupakan habitat bagi beberapa komunitas burung termasuk monyet kemudian berubah. Jika tak bisa menyesuaikan dengan perubahan, mahkluk-mahkluk ini pun akan pergi.

Beberapa tahun lalu sebelum pengerukan dan pelebaran sungai begitu invasif hingga mencapai Muang Ilir, cukup mudah menyaksikan gerombolan berbagai jenis burung Kuntul di tepian Sungai Karangmumus, juga Burak Burak yang berlarian di permukaan lumpur dan rerumputan tepian sungai. Burung Bubut yang cukup besar namun tak terbang tinggi juga sering melintas, dan bertengger diatas pohon-pohon semak.

Bolak balik dari hilir ke bagian tengah, sejatinya lingkungan Sungai Karangmumus masih menyisakan budaya air di Kota Samarinda, baik dari sisi arsitektur vernakular maupun dari sisi kehidupan masyarakat dan interaksinya dengan sungai.

Sungai Karangmumus oleh sebagian warga di sekitarnya masih dimanfaatkan airnya secara langsung untuk kegiatan MCK. Di sepanjang alirannya masih banyak juga pengusaha tahu dan tempe yang memanfaatkan air Sungai Karangmumus, terutama tempe disaat memisahkan kulit ari biji kedelai.

Di beberapa titik juga masih ada warga yang bekerja sebagai nelayan di Sungai Karangmumus, walau mungkin merupakan pekerjaan sambilan. Ada juga pemulung berperahu.

Sedangkan warga yang memanfaatkan Sungai Karangmumus untuk berjualan dengan perahu nampaknya sudah menghilang seiring dengan diturapnya tepian sungai dan hilangnya rumah-rumah di tepiannya.

Sebelum bagian belakang Pasar Segiri dibongkar, bagian itu dihiasi oleh deretan rumah potong ayam diatas sungai. Waktu itu masih ada satu layanan perahu penyeberangan. Namun kini hilang tak ada bekasnya.

Karangmumus sepanjang 30 tahun terakhir memang mencatat banyak kepunahan.

Seingat saya beberapa tahun lalu masih ada Pohon Putat, Katong, Kaboau dan Rambai Padi, tapi kini menghilang. Bahkan Pohon Rengas juga mulai langka. Normalisasi yang dilakukan dengan memperlebar dan mempedalam aliran sungai juga menghilangkan indukan Pohon Kratom. Dua atau tiga Pohon Kratom yang ada di seberang perumahan Griya Mukti Sejahtera telah ditumbangkan.

Kini sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Karangmumus kehilangan lingkungan sungainya. Ekosistem sungai telah berubah menjadi ekosistem buatan. Yang dibanggakan oleh pemerintah tentu saja taman-tamannya, walau sebagian tidak terurus setelah dibangun.

Sepintas memang kelihatan lebih rapi, tapi jelas sunyi karena kehilangan suara alami. Tinggal di tepi sungai tak beda jauh dengan tinggal di tepi jalan raya.

Masyarakat Karangmumus tak lagi berbincang tentang hantu banyu. Kebiasaan untuk ‘melarut’ juga makin langka. Yang masih melakukan juga tak leluasa, sebagian memilih ketika hari mulai senja agar tak dilihat banyak orang. Ritual air ini mulai dianggap aneh oleh banyak orang, orang-orang pinggir sungai.

Dari Jembatan Girya Mukti Sejahtera Menuju Gunung Lingai

BACA JUGA : Perintis Pewaris

Salah satu cita-cita Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus {GMSS SKM} adalah menumbuhkan kembali budaya air di Kota Samarinda.

GMSS SKM memilih cara yang sederhana dengan memungut sampah di Sungai Karangmumus. Jelas bukan untuk menghabisi sampahnya karena akumulasi sampah di Sungai Karangmumus sudah sampai dasarnya.

Yang diinginkan adalah dengan memungut sampah, orang kemudian tidak membuang. Jadi yang ingin dihapus adalah membuang sampah baik langsung atau tak langsung ke sungai.

Untuk memperkuat langkah, GMSS SKM kemudian mendirikan Sesukamu, Sekolah Sungai Karang Mumus. Sekolah ini menjadi ruang untuk menata pikiran, menambah pengetahuan, mendorong sikap hormat pada air dan mengajarkan perilaku baru terhadap air.

Di Sesukamu para pembelajar sungai diajak untuk berinteraksi dengan lingkungan sungai. Memahami fungsi dasar dan ekologi atau lingkungan sungai. Dan bagaimana sungai membantu manusia membangun peradaban.

Sayang ketika mencapai peradaban tertentu, sungai ditinggalkan, sungai diekploitasi sehingga keberlanjutannya terancam. Dan cara mengatasi masalah sungai kemudian semakin membuat sungai kehilangan identitasnya. Pemerintah memilih normalisasi ketimbang restorasi.

Sesukamu tetap bertahan dalam paradigma restorasi, walau ruangannya terbatas karena tak punya kuasa atas wilayah dan ruang sungai.

Dan dua bulan terakhir ini, bersama kemajuan teknologi dalam olahraga air, Sesukamu kembali melakukan pendidikan sungai dengan cara menyenangkan. Tidak melewati kelas melainkan langsung berada di sungai dengan dibalut kegiatan bernuansa piknik dan olahraga.

Dengan Stand Up Padlleboards milik Krisdiyanto, Sesukamu mengajak lewat mulut ke mulut untuk bermain Padlleboards di Sungai Karangmumus.

Dengan SUP, GMSS SKM dan Sesukamu bersama Komunitas Susur Gang, XR Kaltim Bunga Terung dan Komunitas Jurnalis Warga sempat memperingati Hari Sungai Nasional dengan memungut sampah memakai SUP.

Rencananya pada tanggal 17 Agustus nanti, GMSS SKM dan Sesukamu serta komunitas lainnya akan mengadakan parade SUP sepanjang 17 kilometer dari Bendung Lempake hingga Jembatan Sungai Dama, atau kalau masih kuat sampai ke muara.

Minggu, 3 Agustus lalu kami mencoba jalur, tidak dari Bendung Lempake melainkan dari Jembatan Tepian Lempake. Uji coba ini mengajak teman-teman dari Yayasan Bumi, Komunitas Susur Gang Samarinda dan Komunitas Jurnalis Warga.

Dengan menurunkan 4 SUP, perlahan Karang Mumus disusuri mengikuti arus yang tak terlalu kencang. Akhirnya setelah kurang lebih 2,5 jam jarak 9 kilometer bisa ditempuh dengan beberapa kali istirahat.

Kris dan saya berhasil menumpangi SUP sepanjang 9 kilometer. Jelas saya dan Kris menjadi manusia pertama di Karang Mumus yang mencatat rekor itu walau tak perlu ditulis dalam buku sejarah.

Dengan bekal menaiki SUP sepanjang 9 kilometer di Sungai Karang Mumus meski tak selamanya berdiri, saya yakin tanggal 17 Agustus nanti bisa melahap jarak 17 kilometer dari Bendung Lempake hingga bawah Jembatan Sungai Dama.

Semoga olahraga air yang mampu mengkontraksi seluruh bagian tubuh ini akan mampu mendekatkan kita dengan Sungai Karangmumus, dan menghargai air serta alirannya.

note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA