KESAH.ID – ATM, Amati Tiru dan Modifikasi sering dijadikan rumus dalam industri kreatif. Keinginan meniru kerap muncul dari rasa tak mau ketinggalan. Gejala yang disebut FOMO tak selalu buruk. Di Samarinda, terutama dalam kontek arsitektur FOMO terhadap rumah bergaya Yankee, memunculkan model rumah yang disebut dengan Jengki. Berbeda dengan rumah Yankee pada umumnya, di Samarinda rumah Jengki berbahan kayu dan beratap sirap. Bahan ini menyesuaikan dengan kondisi lahan atau tanah di Samarinda yang berupa tanah endapan.
Istilah FOMO—Fear of Missing Out—mungkin baru populer belakangan ini, terutama di era media sosial. Namun, perilaku yang mendasarinya sudah lama menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia, termasuk warga Samarinda. FOMO menggambarkan ketakutan seseorang untuk tertinggal dari tren, peristiwa, atau pengalaman yang sedang ramai diperbincangkan. Perasaan ini mendorong orang untuk selalu terlibat, tampil terkini, dan mengikuti perkembangan zaman dengan kecepatan tinggi.
Di Samarinda, gejala FOMO bukanlah hal baru. Sejak dulu, warga kota ini dikenal sigap mengikuti tren, terutama dalam urusan penampilan, gaya hidup, hingga teknologi. Fashion terbaru, kendaraan keluaran mutakhir, atau tren kuliner viral—semuanya cepat ditangkap dan diikuti. Media sosial memperkuat dorongan ini. Melalui platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook, orang-orang berbagi gaya hidup, menciptakan standar baru tentang apa yang dianggap “kekinian”, dan membentuk semacam perlombaan tak tertulis untuk tidak ketinggalan zaman.
Komunitas digital di Samarinda pun aktif berinteraksi. Komentar-komentar yang muncul dalam diskusi daring mencerminkan antusiasme sekaligus rasa ingin tahu tinggi. Tak jarang, ada yang tampil sebagai “si paling tahu”—mereka yang merasa paling cepat tanggap terhadap isu terbaru, atau paling memahami tren yang sedang naik daun. Fenomena ini bukan hanya hiburan semata, tapi juga menjadi cermin dari sifat masyarakat kota: dinamis, responsif, dan adaptif terhadap perubahan.
Sifat ini tampaknya tak terlepas dari latar belakang historis Samarinda itu sendiri. Kota ini tumbuh dari keragaman—ditopang oleh arus urbanisasi, perpindahan penduduk dari berbagai daerah, dan aktivitas ekonomi yang padat, terutama di sektor migas dan perdagangan. Samarinda menjadi melting pot berbagai budaya: Bugis, Banjar, Jawa, Kutai, Dayak, hingga pendatang dari Sulawesi dan Sumatera. Identitas kota ini pun tidak tunggal, melainkan terbentuk dari keberagaman yang terus bergerak. Dalam kondisi seperti ini, tidak mengherankan jika tren—terutama yang datang dari luar—cepat mendapat tempat. Warga Samarinda terbiasa terbuka, menerima, dan berkreasi dengan hal-hal baru.

BACA JUGA : Mengejar China
Salah satu bentuk FOMO yang menarik untuk dikaji secara historis adalah tren arsitektur pascakemerdekaan, yakni munculnya Rumah Jengki. Gaya ini dapat dianggap sebagai simbol modernitas Indonesia pada masa awal kemerdekaan. Muncul pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an, gaya Jengki merupakan bentuk perlawanan halus terhadap gaya kolonial yang sebelumnya mendominasi lanskap arsitektur Nusantara.
Secara harfiah, “Jengki” merupakan pelafalan lokal dari “Yankee”, merujuk pada gaya Amerika yang masuk ke Indonesia pasca Perang Dunia II. Arsitektur Jengki banyak dipengaruhi oleh desain rumah-rumah suburban Amerika, namun telah mengalami lokalisasi agar sesuai dengan iklim tropis dan budaya setempat. Rumah Jengki dicirikan oleh bentuk geometris yang tidak simetris, atap miring, sudut-sudut yang tajam dan unik, serta tampilan yang berani dan dinamis—sebuah gaya yang mencerminkan semangat kemerdekaan dan pembaruan.
Rumah-rumah gaya Jengki pertama kali muncul di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, yang saat itu dirancang sebagai kota satelit modern. Kawasan ini dirancang oleh arsitek-arsitek muda Indonesia, termasuk dari ITB dan UI, yang ingin lepas dari pengaruh arsitektur kolonial dan menciptakan gaya nasional yang baru. Rumah-rumah Jengki yang dibangun untuk para pegawai perusahaan minyak BPM (sekarang Pertamina) menjadi model arsitektur baru yang kemudian menyebar ke berbagai kota industri seperti Bandung, Surabaya, Balikpapan, dan Samarinda.
Sebagai salah satu kota penting di Kalimantan Timur, Samarinda tidak luput dari pengaruh gaya ini. Banyak warga dari etnis Banjar dan Bugis—yang umumnya bekerja di sektor minyak dan perdagangan—mengadopsi gaya Jengki untuk rumah tinggal mereka. Namun, kondisi geografis Samarinda menghadirkan tantangan tersendiri.
Berbeda dengan Jakarta atau Bandung yang memiliki kontur tanah padat dan stabil, sebagian besar wilayah Samarinda berada di tepian sungai Mahakam yang beraliran lambat namun luas. Struktur tanah yang lunak dan rentan terhadap banjir membuat pembangunan rumah bertingkat dengan fondasi semen menjadi tidak praktis. Namun semangat untuk tetap mengikuti tren tidak surut. Warga Samarinda—dengan kreativitas dan kearifan lokal—menyesuaikan desain Jengki dengan kondisi lingkungan.
Rumah Jengki versi Samarinda mulai bermunculan, menggabungkan gaya arsitektur modern dengan prinsip rumah panggung dan rumah kayu khas Kalimantan. Material bangunan seperti beton diganti dengan kayu ulin dan atap sirap, sementara bentuk fasad dan atap miring khas Jengki tetap dipertahankan. Beberapa bahkan mengadaptasi struktur rumah palimasan—rumah adat Banjar—yang dimodifikasi menjadi dua lantai dan tetap mengedepankan sirkulasi udara yang baik serta ketahanan terhadap kelembapan.
Inilah yang disebut dengan kreasi dalam keterbatasan. Alih-alih menyerah pada kondisi alam, masyarakat Samarinda justru menjadikannya sebagai titik tolak untuk menciptakan gaya arsitektur yang unik—memadukan modernitas dengan tradisi, dan menjadikan FOMO bukan sekadar ikut-ikutan, tapi juga ajang untuk menunjukkan identitas lokal.

BACA JUGA : Spanyol Italia
FOMO di Samarinda hari ini masih terus hidup. Tren fashion, gaya hidup sehat, kendaraan listrik, teknologi digital, bahkan konsep ruang publik seperti kafe Instagramable dan coworking space pun segera direspons oleh masyarakat kota. Namun, jika dilihat lebih dalam, FOMO di Samarinda bukan hanya refleksi ketakutan akan ketertinggalan, melainkan semangat keterbukaan terhadap perubahan dan dorongan untuk terus relevan.
Lebih menarik lagi, FOMO di Samarinda seringkali tidak berhenti pada konsumsi atau adopsi pasif. Warga kota ini kerap memodifikasi tren luar menjadi bentuk yang sesuai dengan kebutuhan dan nilai-nilai lokal. Dari rumah Jengki di tahun 1960-an hingga konten kreatif TikTok dan tren fesyen lokal hari ini—semuanya menunjukkan bahwa masyarakat Samarinda memiliki kecerdikan dalam mencipta dan menyesuaikan.
Dalam konteks ini, FOMO tidak hanya menjadi simbol keterhubungan dengan dunia luar, tetapi juga menjadi lahan subur untuk membentuk identitas kultural baru. Identitas yang lentur, adaptif, dan terus bergerak. Identitas yang tidak takut mencoba, namun tetap bersandar pada akar kebudayaan sendiri.
Samarinda adalah kota yang tak pernah diam. Kota ini hidup dari pergerakan—manusia, ide, budaya, dan semangat zaman. FOMO yang tumbuh di tengah masyarakat bukanlah kelemahan, tetapi potensi. Ia bisa menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara lokal dan global, antara masa lalu dan masa depan.
Dan rumah Jengki adalah salah satu bukti bagaimana ketertarikan terhadap tren bisa berubah menjadi warisan budaya baru—unik, kontekstual, dan membanggakan.
Penulis : Wahyu Musyifa
Editor : Yustinus Sapto Hardjanto
Sumber Gambar : Wahyu Musyifa








