KESAH.ID – .Kemajuan yang dicapai oleh China dalam berbagai hal tak lepas dari usaha dan upaya yang panjang untuk mentransformasi masyarakat dari corak agraris ke corak industrial. Proses yang bersifat evolutif ini kemudian membawa China menjadi salah satu negara terdepan dalam ekonomi dan teknologi. Cinda yang sebelumnya distigma sebagai negeri peniru, kini sudah menjadi pusat inovasi. Ada banyak produk dan teknologi yang mumpui yang terlahir dari negeri China
Mencari ilmu itu wajib hukumnya, kalau perlu sampai jauh melintasi lautan sebagaimana terungkap dalam kalimat motivasional “Tuntutlah ilmu hingga ke Negeri China”.
Jika kita bicara China 10 atau 15 tahun terakhir ini, perintah itu menjadi semakin relevan. Kini China terdepan dalam banyak hal.
Tapi di masa orde baru, jelas perintah ini tak populer walau sering dikutip-kutip. Hubungan China dan Indonesia pada masa orde baru diwarnai oleh stigma komunisme. Negeri itu disebut sebagai negeri tirai bambu, negeri tertutup.
Kaum migran China yang telah beranak pinak dan meng-Indonesia pun tak lepas dari stigma. Menjadi China di Indonesia waktu itu jelas tak enak, kerap diumpat “Dasar Cino,”. Mau memberi nama anak, nama toko atau nama lainnya bahkan diatur-atur.
Ada anggapan, orang China di negeri manapun walau sudah menjadi warga negara negeri lain, selalu masih mempertahankan diri sebagai Bangsa China. Maka di Indonesia, tak pernah benar-benar dianggap meng-Indonesia. Padahal di masa saya kecil dan remaja, orang-orang yang mengharumkan nama Indonesia kebanyakan keturunan China. Mereka merupakan pemain bulutangkis handal waktu itu.
Rudi Hartono, Tjunjun, Johan Wahyudi, Lie Sumirat, Lius Pongoh, Liem Swei King, Ivanna Lie, Verawati dan lain-lain, menjadi nama yang akrab di telinga warga Indonesia karena bulu tangkis.
Nanti dominasi mereka di bulutangkis kemudian dilawan oleh pemain-pemain dari China juga, setelah sebelumnya ada pemain dari Denmark, Inggris, India, Korea Selatan dan Malaysia yang juga gigih melawan.
Sebenarnya sejak kecil, saya sudah akrab dengan barang-barang buatan China. Label bertulis Made in China, mudah ditemukan pada barang-barang yang dijual di toko-toko. Mulai dari pernak-pernik, seperti gunting, pemotong kuku, staples hingga tinta. Baru kemudian disusul dengan produk-produk mainan.
Barang-barang dari China dikenal sebagai barang murah, namun mutunya rendah.
Semenjak tahun 1978 China memulai membuka diri, adalah Deng Xiaoping yang membuka pintu China pada dunia. China mulai berubah dari wajah miskin, terbelakang dan fokus pada pertanian, mulai melakukan industrialisasi.
China bukan lagi hamparan sawah atau lahan pertanian, tetapi pabrik-pabrik.
Dalam waktu tak terlalu lama China berhasil menjadi pabrik dunia. Masyarakat di tempat lain boleh bergelut dengan ide-ide, namun orang China yang mewujudkannya. China berubah menjadi tempat produksi aneka barang dengan tujuan diekspor.
Yang membangun pabrik di China bukan hanya penguasa atau badan usaha milik pemerintah China, banyak perusahaan besar dari Amerika seperti Aple dan Tesla, membangun giga factory di China.
Dalam berbagai laporan dan kanal-kanal youtube bisa disaksikan kalau China tidak hanya rajin membangun gedung, melainkan juga jalan tol, sistem transportasi cepat, bandara, pelabuhan bahkan kota-kota baru.
Langkah Deng Xiaoping membuka pintu China pada dunia, dan diikuti oleh pembangunan industri massal yang berorientasi ekspor membuat kelas menengah China tumbuh sangat pesat. Jumlah kelas menengah di China lebih dari 400 juta orang. Kelompok ini menjadi pasar besar, terutama untuk produk-produk gaya hidup.
BACA JUGA : Messi Kiri
Di Indonesia kita bicara pertumbuhan, yang terjadi di China adalah ledakan.
Dalam waktu 20-an tahun GDP China melonjak berlipat-lipat dari USD 150 menjadi USD 10.000. dalam jangka waktu itu sumbangsih China pada PDB Global juga naik dari 1,8 persen menjadi 18 persen.
Ketika Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang stabil pada rata-rata 5 persen, China tumbuh dua kali lipatnya, rata-rata 9,9 persen.
Dengan tingkat pertumbuhan seperti itu, China berhasil membebaskan 800 juta warga dari kemiskinan ekstrim.
Suharto punya ‘revolusi’ yang sama, namun pilihannya berbeda karena hampir sepanjang masa kepemimpinannya Suharto mengejar swasembada beras. Sementara China mengejar industrialisasi.
Pun dengan spirit untuk mengejar pembangunan, Indonesia dan China tak terlalu berbeda. Sama-sama suka mengelorakan slogan, jargon dan lain sebagainya. Suharto bahkan digelari Bapak Pembangunan.
Tapi kenapa China lebih melaju, sementara Indonesia yang dicita-citakan mampu tinggal landas malah kandas?.
Banyak yang menyangka keberhasilan China membangun karena hanya ada satu partai yakni Partai Komunis. Dengan partai tunggal pembangunan di China berada dalam satu komando.
Namun tidak semata hanya karena itu, kemajuan di China selain karena spirit warganya, juga karena pengorbanan banyak orang. Di balik kemajuan China ada banyak pekerja yang terus bermandi peluh tanpa perlindungan dan lingkungan kerja yang layak.
Selain itu generasi muda China juga belajar lebih dari sepuluh jam sehari demi bisa bersaing masuk di universitas terbaik.
Dulu ada kisah-kisah tentang para konglomerat di Indonesia yang kebanyakan adalah keturunan China. Saat memulai bisnisnya di Indonesia, para konglomerat dan keluarganya rela makan bubur bertahun-tahun. Bahkan sampai cukup kaya gaya hidupnya yang minimalis belum berubah.
Sampai-sampai ada banyak yang mengatakan, orang China menyembunyikan kekayaan. Dan ketika menunjukkan, masyarakat sekitar menuduh mereka mempraktekkan pesugihan.
Hidup prihatin untuk mencapai tujuan dikenal dalam falsafah China “makan pahit”. Orang China terbiasa hidup prihatin, rela menelan pahit dan getir kehidupan demi masa depan anak-anaknya. Para pendahulu rela bekerja keras, hidup dalam keterbatasan agar generasi berikut hidupnya semakin layak.
Seperti yang sering ditunjukkan pada film-film kungfu China, dimana seorang pendekar melewati jalan panjang dengan berlatih sangat keras untuk menguasai jurus-jurus andalan. Demikian juga dengan China, perjalanannya meletakkan dasar industrialisasi lewat manufaktur melewati jalan panjang dan berliku.
Kini China sudah berani berhadap-hadapan dengan Amerika Serikat dalam soal teknologi. Dalam beberapa hal bahkan sudah menjadi terdepan. Dalam soal transisi energi misalnya, China jauh lebih maju dari Amerika Serikat dalam soal supply chain.
BACA JUGA : Gajah Kurus
Tak sedikit julukan miring yang diberikan kepada China, bahkan oleh orang Indonesia sekalipun.
Dulu yang disebut dengan barang China, walau laris manis dianggap sebagai barang tak bermutu. Istilah Motor China atau HP China mewakili persepsi itu.
Selain dianggap tak bermutu atau berkualitas rendah, barang dari China juga dianggap sebagai produk tiruan. Inovasi China memang dimulai dari meniru, menjiplak plek ketiplek.
Awal tahun 2000-an, ketika pasar Indonesia diserbu motor China, beberapa model yang dijual sangat mirip dengan Honda Supra.
China memang mengawali dengan meniru, namun mereka juga belajar, belajar menguasai teknologi dari produk-produk yang mereka bongkar.
Konon di Amerika Serikat, mahasiswa asing terbanyak berasal dari China.
Dalam daftar rangking universitas terbaik di dunia, beberapa universitas dari China mulai masuk daftar teratas.
Dan bangsa yang dulu kerap dihina sebagai peniru, gudang barang KW, kemudian melahirkan raksasa-raksasa inovasi. Dari China lahir perusahaan-perusahaan besar yang turut merubah dunia seperti Alibaba, Huawei, BYD, Tencent dan lain-lain.
China kemudian menjadi kiblat untuk industri terkini seperti kendaraan listrik. Kini China bukan meniru, tak perlu menunggu teknologi dari Amerika Serikat atau Eropa karena China telah menciptakan sendiri.
Dan mungkin menuruti nasehat untuk belajar hingga ke negeri China, kampanye industri kreatif kerap mendorong model pengkaryaan dengan ATM, Amati Tiru dan Modifikasi.
Hanya saja tak ada kemajuan tanpa meninggalkan jejak luka. Sama seperti banyak negara lain, kemajuan ekonomi akan selalu melahirkan ketimpangan sosial. ada masyarakat miskin, terutama di perkotaan.
China juga membayar mahal untuk semua kemajuannya terutama dalam bentuk degradasi lingkungan. Kota-kota besar di China menjadi salah satu kota yang paling tercemar di dunia. Anak-anak sungai tercemar oleh limbah industri.
Banyak yang iri dengan kemajuan China, termasuk Amerika Serikat. Namun generasi muda China merasa ada yang hilang dari semua keajaiban China, kehidupan. Di China negara terlalu kuat, rakyat kesepian.
Hidup mungkin menjadi lebih efisien, tak ada debat di parlemen, satu perintah, satu komando, rakyat hanya mengekor tanpa boleh bertanya-tanya. Padahal mereka adalah manusia yang tidak bisa diwakili hanya oleh angka-angka.
Maka belajar dari atau ke China tentu saja boleh-boleh saja. Ada banyak hal yang baik yang bisa dipelajari dari sana, ada banyak ilmu dan pengalaman yang berguna. Tapi yang pasti ada hal yang harus dibayar mahal andai semua inovasi atau kreasi tidak berhasil memperlakukan manusia sebagai manusia.
note : sumber gambar – CNBCINDONESIA








