KESAH.ID – Pada umumnya orang memang kuat di bagian kanan, kebanyakan memang demikian. Maka memegang, menulis, makan dan lain-lain dengan tangan kiri kemudian dianggap tidak normal, mereka dibilang kidal. Semestinya ini hanya sebuah variasi biologis, namun kemudian muncul penilaian moral. Memakai tangan kiri untuk hal-hal tertentu dianggap tidak sopan. Orang tua sering mengajarkan kalau tangan manis adalah tangan kanan dan tangan jorok adalah tangan kiri. Di sekolah anak-anak kidal sering dibully.
Indonesia itu kanan, hingga yang kiri-kiri sering dianggap sebagai masalah.
Mungkin satu-satunya kiri yang bukan masalah adalah ketika kita naik kendaraan umum dan berteriak “Kiri, pak sopir”. Dalam kasus ini kiri artinya berhenti, stop di depan.
Tapi kiri yang lain jelas dihindari, terlebih lagi ideologi kiri, buruk sekali.
Saking buruknya bahkan korupsi, nepotisme, oligarki dianggap lebih baik daripada terpapar ideologi kiri. Seburuk-buruknya korupsi dan lain-lain, tetap ideologi kiri lebih buruk, lebih kejam, lebih menghancurkan.
Dan ketakutan terhadap bangkitnya ideologi kiri atau komunisme baru masih terus dipelihara sampai sekarang. Komunisme dianggap sebagai hantu abadi di negeri.
“Komunis kamu,” itu tuduhan yang paling ampuh untuk membuat orang diam dan kemudian minta ijin untuk sembahyang.
Memang aneh, dianggap kalau komunis pasti tak beragama atau ber-Tuhan.
Kiri lain yang dianggap menyimpang adalah kidal.
Di jaman saya kecil anak-anak kidal kami panggil kede.
Anak yang kuat tangan kirinya ini biasa tertekan hidupnya. Karena dirumah sering dianggap tidak sopan, makan dengan tangan kiri. Tangan kanan dianggap tangan manis, sementara tangan kiri dianggap jorok.
Saya tak membayangkan andai Lionel Messi lahir di Indonesia. Bisa jadi dia tak akan menjadi pemain besar dunia, GOAT, great off all time.
Messi memang jagoan menendang pakai kaki kiri, dia pemain sepakbola kidal.
Suka menendang pakai kaki kiri, bisa-bisa dianggap tidak sopan oleh pelatihnya.
Yang suka sepakbola pasti tahu banyak pemain hebat yang kidal, jagoan menendang, mengocek bola atau mengumpan pakai kaki kiri. Messi salah satunya, dan masih ada yang lain seperti Erling Harlaand, Thibaout Courtois, Andrew Robertson dan Mohamed Salah.
Realitas dunia memang sering bersifat biner, A atau B, kiri atau kanan. Masalahnya kemudian kita memberi nilai pada kedua sisi, yang satu baik yang satu buruk. Padahal dua sisi itu hanya variasi, bisa sama baiknya bisa sama buruknya.
Dan sebenarnya fakta juga tak sepenuhnya biner. Sebab soal tangan atau kaki, bukan hanya ada orang yang kuat kanan atau kuat kiri, tapi ada juga yang kuat dua-duanya, kanan dan kiri sama baiknya walau jarang.
Lihat saja Marc Marquez, selama ini dia dikenal sebagai pembalap yang tak terkalahkan saat menikung ke kiri. Kemampuannya dalam melahap tikungan kiri bahkan sulit ditiru oleh pembalap lainnya. Namun pada musim Moto GP 2025, Marc Marquez terlihat mulai sama baiknya di belokan kiri maupun kanan. Kini Marc bukan hanya dominan di sirkuit yang anti clockwise atau banyak belokan kirinya, di sirkuit yang banyak tikungan ke kanan Marc juga kuat.
Sikap kita tak adil pada kiri dan kanan ternyata masih subur hingga sekarang.
Hari ini saya membaca postingan di facebook perihal kekhawatiran orang tuanya atas anaknya yang kidal.
Sang orangtua yang punya anak kidal khawatir anaknya tertekan, tekanan lingkungan. Jadi sang orangtua itu bertanya bagaimana cara membela anak yang kidal agar tak tertekan.
BACA JUGA : Candu Politik
Kita mengenal istilah pada umumnya, seperti contoh pada umumnya anak laki-laki suka pada anak perempuan, pun sebaliknya. Kondisi ini kemudian disebut sebagai normal. Maka jika ada anak laki-laki tergila-gila pada anak laki-laki lainnya akan disebut tidak normal. Istilah tidak normal ini setara dengan menyimpang atau kelainan.
Masalahnya kemudian yang normal, tidak normal, menyimpang atau kelainan itu kemudian diberi nilai. Yang normal artinya baik, dan yang tidak normal artinya buruk.
Nah, normalnya manusia memang kuat di kaki atau tangan bagian kanan. Sebagian kecil yang kuat di kiri. Berdasarkan perbandingan itu maka yang kanan normal dan yang kiri tidak normal.
Kanan kemudian dianggap manis, kiri dianggap jorok.
Saya tidak tahu anggapan ini hanya ada di Indonesia atau ada juga di negeri lainnya.
Lebih kuat tangan kiri memang tidak normal, artinya bukan kebanyakan atau pada umumnya, tapi itu tidak berarti buruk, nggak sopan atau jorok.
Sekali lagi itu adalah variasi, variasi yang mungkin saja bawaan dari orok. Dan kalau kecenderungannya kuat jelas sulit dirubah, sistem dalam dirinya sudah terinstall demikian.
Andai kecenderungannya tak kuat, masih mungkin untuk dilatih atau dibiasakan sehingga yang tadinya kuat kiri perlahan bergeser ke kanan.
Kita sering kali mengampangkan dengan menganggap itu kebiasaan. Lebih parah lagi kita beranggapan kebiasaan mudah untuk dirubah, dirubah dengan nasehat.
Padahal kita punya pengalaman, betapa kebiasaan sulit dirubah dengan nasehat, bahkan hukuman sekalipun.
Contohnya membuang sampah sembarang. Sepanjang usia kemerdekaan Indonesia sepanjang itu pula nasehat untuk membuang sampah pada tempatnya digaungkan, dan dengan mudah kita melihat bahkan dibawah tulisan sumpah serapah mengutuk pembuang sampah dibawah tulisan itu pula sampah bertumpuk.
Konon kata ahli otak, dokter Ryu Hasan, plastisitas otak kita sebenarnya rendah. Yang banyak merubah wajah dunia sebenarnya bukan kelakuan orang per orang tapi teknologi.
Para ahli teori perubahan perilaku menyatakan bahwa pengetahuan sekalipun tak akan merubah perilaku. Perokok tak akan berhenti rokok setelah dikasih tahu bahwa merokok itu tidak baik untuk tubuh, merokok bisa menyebabkan banyak penyakit. Walau mulut kita berbusa-busa menerangkannya perokok tetap merokok.
Maka nyinyiran orang yang kidal sebenarnya keterlaluan alias tidak ada pekerjaan.
Kidal memang tak normal, tapi bukan salah atau buruk.
Masalahnya kita memang kerap kali menyoal hal-hal yang sebenarnya tak perlu disoal.
BACA JUGA : Urus Karangmumus
Masalahnya lambe kita ini sering kali kelebihan energi, mulut kita seperti didorong-dorong untuk ngomong kekurangan dan cacat cela orang lain, kekurangan dan cacat yang hanya ada dalam opini kita.
Mirip dengan polisi yang mencari-cari kesalahan pengendara dan kekurangan kendaraannya agar bisa menilang.
Cara orang Indonesia bersenang-senang memang gampang, ngomongin orang, terutama kekurangannya. Bullyan pun tumbuh subur.
Semua hal bisa disoal, mulai rambut, cara jalan, cara makan, cara bicara, bahkan cara bertindak atau bergerak.
Seseorang yang jangkung dipanggil genter atau penjolok buah. Sedangkan yang bertubuh pendek dijuluki cebol.
Kalau hidungnya tak mancung dipanggil pesek, sementara yang berhidung mancung digelari pinokio yang kerap diartikan pembohong.
Bertubuh ramping dibilang biting atau lidi, konotasinya cacingan.
Yang bermata sipit, siapapun dia dipanggil China.
Tentu tak ada yang sempurna, semua orang bisa dicari kelemahannya.
Oh, iya selain gemar ngomongin orang alias masyarakat gosip, orang Indonesia kebanyakan juga merian, suka iri pada orang lain, capaian atau keadaaannya.
Jika di sebuah permukiman ada keluarga yang menonjol ada saja yang usil untuk cari-cari kelemahannya. Muncul julukan kaya tapi pelit, ujung-ujungnya dituduh main pesugihan.
Jadi jangan heran jika kemudian ada keluarga yang nyaris sempurna dalam segala hal mulai dari pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial dan religius, tetap saja bisa jadi omongan.
“Itu lho bapak ibunya pintar, pekerjaan bagus, rajin beribadah dan membantu masyarakat tapi kok anaknya kidal, salah didik sepertinya?”
Nah, lho.
Anak kidal disebut salah didik.
Ya memang benar ekosistem pendidikan kita baik formal maupun informal memang tak adil dalam bertindak, tak netral terhadap tubuh.
Tidak di rumah, tidak di sekolah, semua selalu mengajarkan bahwa tangan kanan adalah tangan baik, sementara tangan kiri tangan buruk.
Padahal faktanya banyak tindakan atau perilaku buruk justru dilakukan dengan tangan kanan.
Maka kalau anda waras, jangan sekali-kali mem-bully anak atau orang kidal. Kuat kiri atau kanan itu hanya variasi kehidupan, tak ada hubungan dengan baik dan buruk, manis atau jorok.








