KESAH.ID – Pada peringatan Hari Bhayangkara, Polri menunjukkan Robocop dan Robodog. Kehadirannya masih bersifat demonstratif dan edukatif, sebagai langkah awal bagaimana polisi bekerja dengan teknologi. Memancing komentar dari banyak netizen, bukan hanya soal harga tetapi juga soal apa gunanya untuk polisi. Praktek polisi dibantu oleh robot sebenarnya sudah lazim di berbagai negara, bahkan di Indonesia sendiri. Robot sering dipakai dalam menangani terorisme terutama berkaitan dengan teror bom.
Tanggal 1 Juli 2025 lalu Kepolisian Republik Indonesia banyak menerima puja-puji, termasuk dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo.
Polri memang pantas dipuji, karena hari itu adalah hari istimewa, Hari Bhayangkara, peringatan HUT Polri.
Jadi tak salah kalau yang tengah merayakan diberi pujian atas semua capaian dan kinerja sejak kelahirannya. Bagaimanapun peran Polri dari hari ke hari semakin penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan dalam negeri.
Banyak orang tidak paham kalau kinerja polisi berkaitan dengan index kebahagiaan. Semakin baik kinerja polisi semakin tinggi pula potensi masyarakat untuk bahagia.
Dalam Laporan Kebahagiaan Dunia, Indonesia ditempatkan di peringkat 83 dari 156 negara, lumayanlah, berada di tengah sedikit ke atas.
Artinya kinerja polisi cukup lumayan juga untuk membuat masyarakat merasa aman.
Polisi memang mempunyai tantangan besar karena kita memasuki peradaban digital, kejahatan makin beragam dan muncul banyak kejahaan model baru yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi, bahkan kecerdasan buatan.
Kerja-kerja polisi kemudian banyak berkaitan dengan teknologi.
Pada peringatan HUT Polri tahun 2025, Kepolisian Republik Indonesia menunjukkan hal itu. Pada puncak peringatannya Polri menunjukkan robot. Ada robot polisi, robocop dan ada robot anjing K3, robodog.
Diberitakan robocop Polri bisa memberi salam dan hormat kepada Presiden Prabowo.
Puja-puji pun diberikan untuk Polri. Masyarakat memang pantas senang kalau Polri maju dan menguasai teknologi terkini.
Lebih mengembirakan lagi karena kabarnya robot-robot Polri yang digelari Ropi atau robot pintar itu sebagian dikembangkan oleh perusahaan di Indonesia. Robocop Polri dibuat oleh sebuah startup yang didirikan oleh seseorang yang digelari “Tony Stark dari Cengkareng”.
Walau ramai pujian, nyinyiran dan hujatan juga tak kalah kencangnya.
Polri memang gampang diserang karena kelakuan random anggotanya memang terjadi dimana-mana. Dalam iklim digital banyak pelanggaran atau hal-hal tak pantas yang dilakukan oleh anggota Polri terekam dan kemudian dipublikasikan.
Salah satu yang banyak disorot adalah soal harga.
Konon untuk mendapatkan robot berkaki empat atau Robodog, Polri harus mengeluarkan uang sekitar 3 milyard per buah. Harga itu untuk sebuah robot dengan kemampuan dasar. Netizen menganggap harga ini terlalu mahal hingga dibandingkan dengan robot serupa yang dijual di marketplace, harganya hanya sekitar 200-an juta.
Yang lain bertanya soal tujuan atau gunanya. Untuk apa polisi menunjukkan robot-robot itu, mau pamer atau apa. Sebab tak dijelaskan benar, apa guna robot-robot itu, apakah untuk mengatur lalu lintas, patroli, operasi penangkapan, penembak tepat dan lain-lain.
Kalau perihal kecanggihan, terlihat robot-robot itu dikendalikan dengan remote, jarak dekat. Robot tak beda dengan mainan anak-anak yang dijual di toko-toko atau marketplace.
BACA JUGA : Good Killer
Karakter Robocop sudah lama muncul dalam film. Di tahun 1987, lewat sebuah film dikenalkan cyborg, penegak hukum yang kuat dan tak tergoyahkan.
Dalam film Robocop dikisahkan tentang petugas polisi bernama Alex J. Murphy yang mengalami nasib nahas saat bertugas di Detroit, Michigan.
Tubuh biologis Alex kemudian diberi sokongan elektronik dan mekanik, dia dirubah menjadi Cyborg oleh sebuah mega korporasi teknologi. Transformasi ini memberinya kekuatan dan ketahanan yang melebihi manusia biasa pada umumnya. Robocop menjadi lebih handal dalam menjaga dan menegakkan hukum.
Robocop pantang pulang sebelum menyelesaikan tugasnya hingga tuntas. Dia kerap mengatakan “Dead or alive, you’re coming with me,” saat melakukan penangkapan.
Fiksi ilmiah ini yang kemudian mengilhami para pengembang teknologi untuk mengembangkan robot-robot yang akan menggantikan peran manusia dalam melakukan layanan publik secara lebih efisien. Sebab robot tidak akan mengeluh, juga tak merasa lelah, pun moodnya tidak akan berubah-rubah.
Tentu saja robot yang dikembangkan bukan Cyborg karena dipandang tidak etis.
Istilah Cyborg sendiri sudah muncul lama, sejak tahun 60 dan diperkenalkan oleh Manfred E. Clynes dan Nathan S. Kline. Istilah ini muncul dalam dunia komputer dan medis, yang berhubungan dengan penelitian interface otak-komputer yang kemudian bisa diimplementasi untuk mengatasi masalah medis tertentu. Kemajuan teknologi komputer dengan microchipnya kemudian mendorong munculnya ‘biohacking’ yang memungkinkan pengembangan implan atau organ pengganti yang mempunyai kekuatan atau kemampuan lebih.
Batas antara manusia dan mesin kemudian menjadi kabur. Hanya saja untuk implementasi terhadap manusia persoalan ini masih menimbulkan perdebatan filosofis, moral dan etik.
Cyborg sendiri didefinisikan sebagai cybernetic organism atau makhluk hidup yang tubuhnya mengandung komponen mekanik atau elektronik untuk meningkatkan kemampuan fisik atau mental.
Dalam kasus Alex J. Murphy maka dia bukan lagi manusia murni, mungkin lebih pantas disebut sebagai post human. Karena eksistensinya bukan lagi sebagai Alex, melainkan sebuah ciptaan pabrik karena dimodifikasi dengan teknologi. Dia bisa ‘hidup’ karena dalam dirinya ada paduan antara biologis dan mekanik, pengabungan antara elemen alami dan artifisial.
Apa yang berkembang dalam dunia fiksi ilmiah ini sebenarnya sudah diimplementasi dalam dunia nyata, terutama dunia medis, entertainment dan lain-lain. Sifatnya masih terbatas karena tidak seekstrim yang terjadi pada tubuh Alex J. Murphy yang kemudian bertranformasi menjadi Cyborg.
Elon Musk yang lebih dikenal karena Tesla dan Space X, juga mempunyai start up bernama Neural Link. Perusahaan ini mengembangkan neouroprotetik yang bisa dipasang atau diimplan dalam tubuh manusia untuk memulihkan fungsi-fungsi yang hilang atau terganggu. Dalam batas tertentu nanti yang lumpub bisa bergerak lagi, yang buta bisa melihat, yang tuli bisa mendengar dengan bantuan neuroprostetik.
Kemajuan ini tentu saja akan menantang pemahaman konvensional tentang apa artinya menjadi manusia. Penerapan teknologi Cyborg akan mengaburkan batas antara organik dan non organik, yang alami dan buatan. Tapi disisi lain teknologi Cyborg juga akan menjadi revolusi lanjutan tentang bagaimana konvergensi antara teknologi dan biologi. Ada simbiosis antara manusia atau tubuh biologis dengan teknologi, saling tergantung dan saling mempengaruhi.
BACA JUGA : Menikmati Karangmumus
Yang ditunjukkan oleh Polri di HUT-nya tentu bukan jenis Cyborg. Bukan pula robot otonom yang sudah dilengkapi dengan kecerdasan buatan tingkat tinggi dan multi fungsi.
Menurut sumber dari dalam Polri, kehadiran robot ini diinspirasi oleh Robocop yang diperbantukan oleh Polisi Dubai dan China. Robot polisi yang bertugas untuk patroli jalanan.
Sejak tahun 2017 Kepolisian Dubai memang telah dilengkapi oleh Kesatuan Robocop. Memakai seragam yang sama dengan polisi pun juga ukuran tubuhnya. Sama seperti Robocop Polri, Robocop Dubai juga bisa memberi hormat, bahkan berjabat tangan.
Hampir sama dengan polisi pada umumnya, Robocop Dubai tidak diberi senjata api. Mereka berpatroli di kawasan padat perkotaan untuk mengidentifikasi pelaku kejahatan dan mengumpulkan barang bukti.
Robocop Dubai dilengkapi dengan kamera dan sofware pengenal wajah. Masyarakat bisa berdialog dengan Robocop ini untuk melaporkan kejahatan yang baru terjadi. Sofware kemudian akan bekerja untuk merespon laporan dengan mencari kecocokan wajah pelaku berdasarkan rekaman yang diperoleh saat patroli.
Di dada Robocop Dubai dilengkapi oleh layar touchscreen, dimana warga bisa menyampaikan informasi atau bertanya padanya. Robocop Dubai dikembangkan oleh perusahaan robotic dari Barcelona, Spanyol. Robot ini dikategorikan sebagai REEM, robot humanoid yang bisa berbicara dan mengerti beberapa bahasa.
Tahun 2024 lalu, Tiongkok juga meluncurkan Robocop untuk berpatroli di jalanan. Robocop terlihat antusias menyapa warga di jalan dan rajin berjabat tangan. Robocop Tiongkok berpatroli bersama polisi dan merespon tindakan berdasarkan perintah suara.
Robot Tiongkok versi PM01 yang dirilis tahun 2024 mempunyai tinggi 1,3 meter dengan berat sekitar 40 kg. Konon harga satu robot sekitar 197 juta rupiah dengan kurs waktu itu.
Robot ini dibekali kemampuan belajar untuk meniru gerakan. Sehingga Robocop Tiongkok bisa berjalan seperti manusia dan melakukan gerakan yang rumit seperti salto ke depan. Robocop Tiongkok juga dibekali dengan chip canggih dan bermacam sensor termasuk LIDAR atau teknologi penginderaan jarak jauh dengan laser. Dengan bekal ini Robocop Tiongkok mampu merespon perintah dan navigasi lingkungan yang rumit secara akurat.
Dengan dibekali chip canggih dan beragam sensor, termasuk LiDAR (teknologi penginderaan jarak jauh menggunakan laser), robot ini merespons perintah dan menavigasi lingkungan yang rumit secara akurat.
Entah seperti apa kecanggihan Robocop Polri yang terinspirasi dari Dubai dan Tiongkok itu. Sebab Robocop Polri baru ditunjukkan di acara peringatan HUT-nya.
Dan biasa dalam acara-acara semacam ini sering ditunjukkan ini dan itu yang belum ketahuan juntrungannya.
Kalaupun kelak Robocop Polri ini muncul di publik maka pasti akan jadi tontonan. Bakal dikerumuni banyak orang yang minta foto bersama dengannya. Jika Robocop Polri hanya dilengkapi dengan kamera depan yang dipasang di mata, maka di kerumunan itu copet akan bekerja.
note : sumber gambar – TIRTO








