KESAH.ID – Gerakan slow fashion muncul dalam bentuk thrifting. Masyarakat membeli barang bekas yang layak pakai untuk mengurangi sampah fashion. Dulu disebut cakar atau rombeng, kini dikenal sebagai thrift shop atau thrift store. Namun dalam perkembangan lanjut, thrift yang melabeli menjual secondbrand ternyata menyertakan barang fake atau kw. Ingin bergaya dengan harga murah, barang-barang palsu atau tiruan kemudian dimaklumi, bahkan digemari dan dijual bebas di market place maupun penjualan live lewat akun sociocommerce.
Mulanya saya suka membeli sepatu bekas di lapak-lapak berlabel secondbrand. Sama seperti baju, thrift sepatu berkembang pesat, thrift store sepatu menjamur baik offline maupun online.
Hanya saja lama kelamaan saya curiga, yang dipajang atau ditunjukkan kok sepertinya sepatu masih baru.
Saya masih berpikir positif, mungkin itu sepatu reject atau tak lolos QC pabrik. Atau sepatu di toko yang sudah lewat masa jualnya karena muncul seri baru.
Hanya saja lama-lama kok terlihat banyak sepatu yang seperti baru, saya jadi curiga jangan-jangan yang dilabeli secondbrand itu sebetulnya sepatu KW, palsu atau tiruan.
Dan penjualan sepatu KW ini bukan hanya marak di thrift store, tetapi juga di penjualan langsung lewat live di media sosial maupun socio commerce, bahkan di lapak-lapak marketplace. Dilabeli mall ori sekalipun tidak ada jaminan yang dijual bukan barang tiruan.
Produk-produk ini umumnya berasal dari Vietnam, Tiongkok, Thailand, Bangladesh dan juga Indonesia.
Saking biasanya dengan peredaran barang KW sampai-sampai dikenal istilah KW Super, Premium, Mirror Product, Replika, 1:1 dan lain-lain. Barang palsu dianggap biasa dan dimaklumi.
Keberadaan barang-barang KW ini malah disyukuri.
“Memangnya kenapa kalau pakai sepatu KW, toh kalau dipakai sama saja rasanya?”
Atau “Mau pakai yang ori atau kw toh orang lain nggak akan tahu,”
Dan banyak pemakluman lainnya.
Benar kata David Gadgetin kalau di Indonesia banyak kaum mendang-mending. Suka membandingkan hal yang tak sebanding. Seperti memilih lebih baik beli barang KW daripada beli barang ori yang harganya mahal sekali.
Ekosistem ini membuat barang KW marak peredarannya di negeri ini karena semua ditiru. Dan pedagang atau lapak tak segan-segan menjual barang tiruan secara terbuka, nggak malu-malu bahkan mengakui sebagai barang ori.
Dulu yang sering ditiru adalah produk-produk ternama, merek luar negeri yang populer. Tapi kini tiru meniru sudah tidak pandang bulu, produk dalam negeri yang sedang laku atau harganya di-goreng-goreng juga banyak muncul tiruannya.
Dalam dunia kreatif memang dikenal ATM, amati, tiru dan modifikasi. Tapi cara kerja kaum pemalsu tidak begitu karena produk dicontoh persis, mereka maunya barang yang diproduksi dianggap barang asli.
Sedangkan yang memakai prinsip ATM, produsennya akan mempunyai merek sendiri tapi produknya mirip-mirip dengan merek ini atau itu. Seperti ada sepatu dengan merek tertentu tapi modelnya mirip sepetu Van, On Cloud, Solomon, Nike, NB dan lain-lain, sepatu-sepatu yang sedang popular.
Tiru meniru sebenarnya biasa saja, bahkan merek-merek ternama juga sering melakukannya. Salah satu yang sering melakukannya adalah Skechers.
Prinsip ATM memang sering diterapkan pada produk-produk yang sedang laku, sedang hype. Atau prinsip ini juga sering dilakukan oleh perusahaan-perusahaan yang belum atau tidak mempunyai R&D yang kuat.
BACA JUGA : Jalur Narcos
Trend sneaker, running dan walking shoes, membuat aksi pemalsuan kian marak. Yang lagi kekinian menjadi sasaran pemalsuan, termasuk produk-produk terbatas hasil kolaborasi dengan perancang atau produsen tertentu.
Yang langka-langka kerap dipakai sebagai senjata untuk meraup untung.
Dan yang memalsupun sadar kualitas, sampai-sampai muncul istilah Unauthorized Authentic dan Godkiller. Sebuah istilah yang sangat terkenal di kalangan kaum mendang-mending.
Istilah ini merujuk pada barang yang tampilan atau kualitasnya diklaim mirip bahkan sama dengan yang asli. Sama bentuk dan bahannya.
Dan barang seperti ini harganya juga tidak murah, bisa sampai jutaan. Saking miripnya, barcode yang disertakan dalam kemasan bisa dipindai dan masuk dalam aplikasi. Kejahatan pemalsuan sudah sangat serius.
Produk yang diklaim sebagai UA atau Godkiller umumnya berasal dari Tiongkok. Negeri ini memang dikenal sebagai peniru.
Cara Tiongkok berkembang memang begitu, hingga muncul istilah-istilah yang sebenarnya bernada ejekan, seperti Mocin atau Motor China, atau HP China. Walau kemudian muncul produk atau pabrikan yang kemudian mempunyai merek dan mengembangkan model sendiri.
Piawai dalam meniru, tak mengherankan jika produk sepatu fake dari Tiongkok oleh para pemakainya diklaim sebelas dua belas dengan yang asli.
Propaganda para pemakai ini membuat produknya laris manis, hingga yang ori kalah omzetnya.
Yang tiruan kemudian membunuh yang asli, godkiller.
Yang kerap menyebut tiruan sama seperti yang asli, umumnya adalah orang-orang yang belum atau tidak pernah memakai yang asli. Karena yang asli dan palsu pasti berbeda.
Tidak mungkin perusahaan pemalsu punya SOP yang sama dengan perusahaan yang asli, sumber daya dan kompetensinya pasti berbeda. Demikian juga dengan peralatan dan bahan bakunya.
Ada banyak bahan untuk pembuat sepatu yang dikembangkan sendiri oleh sebuah brand. Bahan baku itu tidak dijual untuk pabrik atau produsen lainnya. Bagian R&D juga kerap membuat sistem tertentu pada sepatu yang tentu tidak dibuka pada pembuat atau produsen lainnya.
Kalaupun bahannya dipasok oleh vendor tertentu, vendor itu juga akan menjaga mutu dan tidak sembarang menjual pada pihak-pihak lain. Jadi produk yang dihasilkan oleh mereka hanya dijual atau beredar pada produsen tertentu.
Hanya menilai sepatu dari tampilan tentu berbahaya, sebab sepatu mesti dinilai dari ketahanan dan perfomance ketika dipakai.
Sama dengan makanan, memburu yang murah-murah bisa berujung di rumah sakit. Demikian juga dengan sepatu, bergaya dengan sepatu tiruan bisa membuat kaki bermasalah. Diklaim sebagai sepatu lari, saat dipakai untuk lari malah membuat kaki terkilir.
BACA JUGA : Mantra Energi
Tidak ada larangan untuk bergaya. Tapi untuk apa bergaya dengan barang palsu kalau ada barang ori yang harganya tidak terlalu jauh berbeda.
Tentang sepatu, beberapa tahun terakhir ini muncul brand-brand lokal yang keren-keren. Sepatunya tidak kalah dalam kualitas dan penampilan dibanding brand-brand luar negeri yang populer.
Sudah keren harganya ramah di kantong pula.
Jika dibandingkan antara harga dan kualitas, sepatu lokal dengan harga dibawah 500 ribu, kualitasnya bisa diadu dengan sepatu brand internasional yang berharga diatas 1,5 juta. Sedangkan yang harganya 1 jutaan, pasti tidak kalah dengan brand internasional yang harganya 3 jutaan.
Sepatu lokal yang harganya satu jutaan biasa sudah berani memakai sol buatan Vibram.
Local pride, bangga pada produksi dalam negeri itu penting. Sebab kalau tidak barang-barang fake akan membanjiri pasar dalam negeri.
Kegemaran belanja barang palsu membuat produsen asli tak punya saingan sehingga mereka tetap akan menjual barang dengan harga di awang-awang.
Andaikan kita bangga pada produk lokal, produsen brand-brand internasional mungkin akan merasa terancam, pasarnya bisa tergerus sehingga mereka akan menjual produknya dengan harga yang lebih obyektif, bukan menjual gengsi dan merek.
Memberangus pemalsu jelas sulit, sepatu palsu bukan narkoba.
Cara untuk mengurangi peredaran barang palsu yang paling masuk akal dan berdampak adalah mengurangi permintaan, demand reduction.
Jika barang-barang fake, KW, AU atau godkiller tak laku, para pemalsu pasti kapok.
Yakinlah memakai produk dari brand-brand dalam negeri tak kalah kerennya. Sebab banyak brand dalam negeri sudah berkolaborasi dengan seniman, perancang atau desainer yang pernah berkolaborasi dengan brand-brand internasional.
Ambil contoh Kanky x Staple Exc 02, atau sering disebut Kanky Pigeon. Di marketplace harganya dibawah 500 ribuan.
Model yang mengeluarkan dua color way ini merupakan kerja sama antara Kanky dengan Jeff Staple.
Lehir dengan nama Jeff Ng, Staple merupakan seorang desainer dan direktur kreatif ternama dalam industri streetwear dan sneaker.
Namanya mulai dikenal di kalangan sneakerhead, sewaktu berkolaborasi dengan Nike lewat seri “Nike SB Dunk Low Pro ‘Pigeon” yang dirilis pada tahun 2005.
Diluncurkan dalam edisi terbatas, kolaborasi antara Nike dan Jeff Staple ini menampilkan desain sederhana namun mencolok dengan sulaman merpati di bagian tumit. Saat dirilis sepatu ini menyebabkan kehebohan di komunitas sepatu sneaker, orang-orang yang mengantri selama berhari-hari.
Sepanjang karirnya Jeff Staple kemudian berkolaborasi dengan Converse, Puma, Timberland, New Balance dan lain-lain. Gambar merpati menjadi salah satu kekhasannnya.
Tampil dengan kombinasi warna yang berani dan gambar merpati yang mencolok, karya Jeff Staple kini bisa dinikmati oleh kaum mendang-mending berkat kolaborasinya dengan Kanky, produsen sepatu dalam negeri yang harganya bisa dibilang murah meriah.
Tentu bukan hanya Kanky yang patut dipuji. Ada brand dalam negeri yang juga tak kalah gengsinya seperti Ortuseight, Mills, Unerd, Brodo, Ardilles, Weiderman, Geoff Max, Nineten, Piero, Ventella, Compass, Nah Project dan lain-lain.
Jangan biasakan bergaya dengan sepatu fake, yang dilabeli UA atau Godkiller sekalipun. Palsu tetaplah palsu. Bergayalah dengan sepatu lokal, brand dalam negeri yang memproduksi sepatu asli, berkualitas dan ramah kantong.
note : sumber gambar – SUSUR GANG SAMARINDA








