KESAH.IDSudah sejak 38 tahun lalu Pemerintah Kota Samarinda berencana menata Sungai Karangmumus. Namun sampai kini penataan yang disebut dengan normalisasi belum juga selesai. Walau sebagian sudah dinormalisasi apa yang ingin dituju ternyata tidak terbukti. Sungai Karangmumus masih terus meluap, airnya juga masih kotor dan sedimentasinya juga tinggi. Penataan Sungai Karangmumus tidak menjawab persoalan sebenarnya yakni soal kualitas, kuantitas dan kontinuitas airnya.

Karangmumus, nama itu perlahan luntur dalam percakapan warga Kota Samarinda. Dulu merupakan primadona, karena keberadaannya lekat dengan tumbuh kembangnya kota ini.

Salah satu permukiman perdana Kota Samarinda memang tumbuh di tepiannya. Kala itu airnya masih  jernih hingga bisa dimanfaatkan secara langsung. Kanan kirinya juga masih ditumbuhi pepohonan. Ada pohon rambai di sekitar muara lalu disusul dengan nipah-nipah hingga sekitar wilayah yang kini menjadi Kampus Universitas Mulawarman.

Geliat ekonomi Kota Samarinda di masa mula tak lepas dari Karangmumus. Di muara sungai, tempat Karangmumus berakhir di Sungai Mahakam ada pelabuhan. Berbagai komoditas yang dibongkar di pelabuhan ini diangkut dengan perahu ke pasar-pasar yang ada di sepanjang Sungai Karangmumus. Ada pasar Sungai Dama, ada Pasar Rahmat {di sekitar jalan Tarmidi sekarang}, hingga Pasar Segiri.

Jalan di sepanjang tepiannya dulu dikenal dengan nama Jalan Banjar, tapi kini menjadi Jalan Tarmidi, Abdul Muthalib dan Muso Salim.

Tepian Sungai Karangmumus ini melahirkan orang-orang besar. Banyak pejabat di tingkat provinsi Kaltim dan Kota Samarinda lahir, tumbuh dan besar di tepi Sungai Karangmumus, atau pernah tinggal di asrama mahasiswa yang dibangun di tepiannya.

Hanya saja ledakan populasi yang terjadi di Samarinda berkali-kali, membuat tepian Karangmumus tumbuh menjadi kawasan hunian padat bahkan kemudian distigma sebagai permukiman kumuh. Saking padatnya, permukiman tepi Karangmumus mencatat kejadian kebakaran hebat berkali-kali.

Dengan rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu dan dihubungkan dengan gang-gang berupa jembatan panjang dari kayu pula, api memang sulit dikendalikan apabila mulai membakar.

Hanya saja kota yang tumbuh dari tepi air ini kemudian berubah paradigma pembangunannya di masa orde baru. Samarinda tumbuh menjadi kota dengan konsepsi pembangunan darat. Wilayah tepian air tidak diperhatikan, dibiarkan berkembang secara organik tanpa penataan kawasan sejak awal.

Dari sungai, arah hadap hidup Kota Samarinda kemudian berubah ke jalan raya.

Karangmumus, sang primadona kemudian merana. Bahkan lama-lama distigma sebagai aib yang mencoreng warga kota. Anak-anak tak lagi bangga menyebut diri sebagai bocah Karangmumus. Anak-anak laki-laki muda mulai menyamarkan diri dengan menyebut dirinya sebagai Primus. Tanpa menerangkan kepanjangannya yakni Pria Karangmumus.

Kabarnya dulu anak-anak Jalan Abdul Muthalib, sekitar jembatan Kehewanan kalau berkenalan dengan teman sekelasnya menyebut berasal dari Jalan Kartini.

Sampai dengan sekitar tahun 80-an kondisi air Sungai Karangmumus masih terbilang baik. Ekosistemnya masih terjaga sehingga masih banyak nelayan tinggal di sepanjang alirannya.

Namun setelah tahun 90-an hingga awal-awal tahun 2000-an, kondisi Sungai Karangmumus dengan cepat memburuk. Air sungainya tercemar oleh limbah rumah tangga, industri dan pusat ekonomi seperti pasar. Di bagian tengah dan hilir dimana banyak bukaan lahan untuk pertanian juga menghasilkan polutan, terutama pestisida dan insektisida.

Selain kualitas airnya memburuk, badan atau bentuk sungainya juga berubah. Setelah era reformasi, dimana pemerintah daerah diberi kewenangan untuk memberikan ijin pertambangan, Sungai Karangmumus mengalami pendangkalan luar biasa.

Sejak saat itu, Sungai Karangmumus distigma bukan hanya sebagai sungai kotor dan jorok, melainkan juga dianggap sebagai penyebab banjir.

Bermain SUP di sekitar jembatan kehewanan.

BACA JUGA : Mantra Energi

Sungai Karangmumus di bagian hilir memang tumbuh menjadi kawasan permukiman yang tak teratur, mungkin juga memang diatur. Perubahan paradigma hubungan dengan sungai, arah hadap hidup yang berubah dari air ke jalan raya membuat rumah merangsek ke badan sungai.

Secara tampakan dan fisiknya, sungai berubah. Tak terlihat lagi kelokan sungai dengan pepohonan hijau atau riparian di kanan kirinya. Berganti dengan permukiman padat dengan sampah dan limbah yang langsung dibuang ke sungai.

Saat airnya surut, ketika hujan tak lama turun terlihat lumpurnya menghitam. Lumpur yang menyebarkan bau tidak nyaman di hidung.

Pemerintah Kota Samarinda kemudian berencana menata Sungai Karangmumus. Rencana itu dimulai sejak tahun 1989 lewat Program Kali Bersih atau Prokasih. Program ini dicetuskan oleh Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim. Tujuannya untuk mengedukasi masyarakat dan industri untuk mengontol limbah agar tak mencemari air sungai, menjaga kualitas air dan mencegah bencana.

Hanya saja konsep yang kemudian lebih dikenal dengan nama normalisasi, baru diimplementasikan di tahun 1998. Waktu itu tercatat kurang lebih ada 3.915 rumah yang harus dibongkar dari Jembatan satu {Jembatan Selili} hingga Jembatan Kehewanan.

Warga dipindahkan ke beberapa lokasi. Hanya saja pemindahan ini tidak tuntas karena baru separuh dari jumlah rumah yang masuk dalam rencana pemindahan dibongkar. Proyek normalisasi ini kemudian terhenti dan kembali dilanjutkan pada tahun 2019 dengan membongkar area Gang Nibung.

Menjelang berakhirnya jabatan walikota Sjahrie Jaang pada tahun 2021, normalisasi dilanjutkan di segmen Jembatan Niaga dan kemudian dilanjutkan oleh Walikota Andi Harun di segmen Jalan Sutomo. Namun apa yang direncanakan sampai saat ini belum tuntas. Sisi kanan ke arah hilir dari Jembatan Kehewanan hingga Jembatan Gelatik belum ditanggul dan diturap.

Dengan demikian pemerintah Kota Samarinda sudah 38 tahun berusaha menata Sungai Karangmumus untuk mengembalikan fungsinya sebagai sumber air bersih atau air baku, pengendali banjir dan elemen alami wajah kota yang asri.

Hasilnya?. Uang trilyunan rupiah seperti hanyut bersama air Karangmumus yang kemudian masuk Mahakam dan dikirim ke laut.

Air Sungai Karangmumus tetap buruk, sedimentasi tetap tinggi dan airnya terus meluap saat hujan deras turun dari hulu ke hilir.

Normalisasi Sungai Karangmumus lebih ke proyek fisik dan teknik, wajah sungainya justru berubah. Sungai Karangmumus kehilangan wajah alamiahnya. Bagi sebagian orang yang peduli pada sungai dan fungsi essensialnya, Sungai Karangmumus bukan dinormalisasi melainkan dikanalisasi.

Normalisasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti tindakan atau langkah untuk membuat normal kembali. Namun yang terjadi normalisasi sungai malah membuat sungai menjadi tidak normal.

Normalisasi membuat ekosistem antara, batas antara ekosistem air dan darat hilang karena dipasangi tembok. Sungai kehilangan ripariannya, ekosistem yang merupakan habitat bagi banyak flora dan fauna.

Menuju jembatan yang menghubungkan antara Masjid Al Misbach dan majelis Guru Udin.

BACA JUGA : God Killer

Di beberapa negara yang mulai bertobat karena menemukan kalau konsep normalisasi ternyata tidak memperbaiki kualitas sungai, semen disingkirkan. Di Amerika Serikat banyak bendungan atau dam dibongkar. Bendungan membuat kepunahan banyak jenis ikan, ikan di hulu dan di hilir menjadi berbeda.

Pun juga di Eropa, banyak tembok tepian sungai dibongkar dan kembali ditanami agar riparian tumbuh kembali. Tanpa ripaian, air permukaan atau runoff saat hujan akan langsung masuk ke sungai, tidak ada sistem filtrasi alami untuk menjaga kualitas air sungai.

Nasi sudah menjadi bubur, dan rasanya tidak ada harapan bahwa Pemerintah Kota Samarinda bahkan Pemerintah Nasional RI Indonesia akan mengambil langkah menyingkirkan semen dari tepian sungai. Jadi lebih baik tambahi bubur dengan ayam sehingga nikmat untuk sarapan pagi.

Amat jelas bahwa langkah normalisasi Sungai Karangmumus dengan menurap dan menanggul tidak memperbaiki kualitas airnya. Banjir juga masih terus terjadi karena jelas banjir tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Lagipula tidak semua banjir di Kota Samarinda berhubungan dengan Sungai Karangmumus.

Biar dikeruk dan dilebarkan, Sungai Karangmumus juga tidak bisa menjadi sandaran bagi air liaran yang makin tinggi di Daerah Aliran Sungainya akibat penggunaan lahan yang tidak berkesesuaian dengan air.

Daripada hilang muka, maka Pemerintah Kota Samarinda berupaya mempercantik tampilan segmen Sungai Karangmumus yang sudah dinormalisasi dengan membangun taman atau Ruang Terbuka Hijau.

Taman terbaru di tepian Sungai Karangmumus adalah Taman Para’an. Taman ini berada di ujung jembatan yang menghubungkan antara lingkungan Pasar Segiri dengan permukiman di Gang Nibung.

Dibangun oleh sebuah proyek iklim, dari tampakannya taman ini tak terlihat sebagai Ruang Terbuka Hijau karena lebih banyak bangunan atau tutupan semennya.

Satu-satunya taman atau Ruang Terbuka Hijau terbaik di segmen Sungai Karangmumus yang telah dinormalisasi adalah Pangkalan Pungut GMSS SKM. RTH ini bermula dari inisiatif orang per orangan yang kemudian diteruskan okupasinya oleh komunitas.

Dijaga hari demi hari, Ruang Terbuka Hijau yang terletak di Jalan Abdul Muthalib dan diapit oleh Jembatan Kehewanan dan Masjid Al Misbach ini menjadi tempat favorit bagi sebagian warga Kota Samarinda untuk menikmati dan berinteraksi dengan Sungai Karangmumus.

Ketika air Sungai Karangmumus pasang, banyak anak bermain di sungai. Betajun, ciruk dan bekunyung. Tak sedikit anak-anak melompat dari atas Jembatan Kehewanan, berakrobat menjatuhkan diri di air Sungai Karangmumus yang warnanya coklat mirip coffee mix.

Beberapa waktu terakhir ini saya juga kembali ikut-ikutan menikmati dan berinteraksi dengan Sungai Karangmumus dengan bermain SUP, Stand Up Padlleboard.

Krisdiyanto, usahawan muda yang juga aktif di GMSS SKM bermaksud ingin mengembangkan wisata berbasis olahraga air. Kris membeli beberapa buah padlleboard. Papan karet yang harus dipompa agar bisa dipakai untuk permainan yang mengabungkan antara kano dan surfing itu yang saya pakai untuk menikmati Sungai Karangmumus.

Akhirnya saya dan teman-teman lainnya bisa kembali menikmati Sungai Karangmumus dengan aji mumpung. Mumpung Krisdiyanto belum mengkomersialisasikan padlleboard-nya.