KESAH.ID Sebuah praktek perawatan diri berbasis tradisi dan sumberdaya lokal diungkap oleh Jamiah. Kisah kecil ini bisa menjadi contoh bagaimana masyarakat lokal mempraktekkan pengetahuan dan kearifan tradisionalnya yang berkelanjutan karena memakai energi alami atau asali. Konsumsi energi yang tak menghasilkan emisi. Dengan demikian merawat diri bukan hanya untuk aktivitas untuk menjaga kesehatan melainkan juga merawat tradisi dan sekaligus merawat bumi.

Sepenggal kisah kecil dibagikan oleh Jamiah sebagai buah interaksi dengan masyarakat Juaq Asa, sebuah kampung yang berada di Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat.

Warga kampung ini dikenal gigih mempertahankan hutannya, hingga kemudian Hutan Adat Juaq Asa yang dinamai Hemaq Beniung, dikukuhkan lewat pengakuan dari Pemerintah RI sebagai hutan adat pertama di Kalimantan Timur.

Dalam hutan seluas 48,85 hektar ini dan kesekitarannya banyak ditemui tanaman yang oleh warga setempat disebut anger dan beruruq. Keduanya juga sering disebut sebagai tanaman akar.

Oleh warga dua tanaman ini dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembersih kepala dan shampoo. Warga biasa memakainya selepas berkegiatan di hutan, ladang atau kebun.

Peran penting tanaman akar dalam tradisi perawatan diri warga Kampung Juaq Asa ini yang menarik perhatian Jamiah sehingga mendokumentasikannya dalam bentuk postingan di instagram.

BACA JUGA : Mahkluk Alamiah

Dalam caption postingannya, Jamiah menyebut sebuah istilah yang mulai arkaik yakni subsitensi. Subsitensi biasa dipahami sebagai aktivitas untuk memenuhi kebutuhan sendiri yang berbasis pada pengetahuan setempat dan sumberdaya lokal atau alami.

Bagi Jamiah repoduksi sosial warga Juaq Asa dalam tradisi merawat diri dilakukan dalam konteks energi asali. Model perawatan diri mereka jauh dari konsumsi energi yang tinggi, terutama energi yang berbasis fosil.

Bandingkan dengan aktivitas warga perkotaan dalam merawat diri. Butuh bensin dan listrik, bensin untuk pergi ke salon atau warung membel shampoo atau listrik saat mengeringkan rambut sehabis creambath.

Masyarakat Juaq Asa tak butuh energi itu, mereka mengambil tanaman akar dari hutan atau sekitar hutan dengan jalan kaki. Lalu mengolahnya dengan cara memukul-mukul memakai tangan dan kemudian memerasnya untuk menghasilkan cairan pembersih diri.

Kebiasaan merawat diri ini juga merupakan bagian dari merawat pengetahuan lokal, tradisi dan juga bumi.

Mungkin saja mereka tak peduli dengan riuh rendah dan silang pendapat soal transisi energi. Toh alam telah menyediakan energi untuk mereka. Energi alami, panas matahari untuk mengeringkan hasil panen, api untuk membakar serasah sehingga menjadi abu yang menyeimbangkan unsur hara dalam tanah dan lain-lain.

BACA JUGA : Fiksi Buruk

Lewat postingannya di IG Jamiah ingin mengatakan bahwa narasi terkait transisi energi yang belakangan kerap digaungkan pemerintah, masih menjadi perbincangan menara gading yang elitis dan seolah jauh dari realitas di tingkat tapak.

Padahal menurutnya masyarakat sejak lama telah mempunyai pengetahuan dan mempraktekkan kearifan lokal masyarakat dalam pemanfaatan energi subsisten lewat kehidupan praktik berkehidupan.

Hanya saja praktek semacam ini kerap luput dari perhatian dan tidak turut diperbincangkan dalam berbagai konperensi, seminar, diskusi atau dialog terkait transisi energi.

Tanpa pengakuan dan perlindungan terhadap pengetahuan dan praktek subsistensi energi, maka transisi energi berpotensi untuk menimbulkan kerentanan dalam masyarakat. Akses masyarakat terhadap energi terbarukan pasti akan timpang, sehingga bisa melahirkan ketidakadilan.

Masyarakat perdesaan bisa menjadi korban pembangunan proyek energi terbarukan, karena sebagaimana proyek lainnya, proyek energi terbarukan juga butuh lahan serta sumberdaya lain yang bisa menyingkirkan masyarakat dari ruang hidup dan penghidupannya.

Nasib buruk masyarakat bahkan bisa berlipat, selain tersingkir, energi yang dihasilkan kemudian tidak ditujukan untuk mereka. Energi akan lebih melayani pasar. Dan warga Kalimantan Timur telah punya banyak memori tentang hal ini lewat ekstraksi batubara. Energi yang dihasilkan oleh batubara yang diambil dari Kalimantan Timur malah mensejahterakan masyarakat d luar wilayahnya.

note : tulisan ini direproduksi oleh Yustinus Sapto Hardjanto dari postingan IG Jamiah