KESAH.ID – Windasari, mahasiswa aktif Prodi Kesmas Universitas Mulawarman mengisahkan tentang komunitas Susur Gang Samarinda yang mengkampanyekan kaki sebagai alat atau moda transportasi bebas emisi. Jalan kaki bisa menjadi bagian dari langkah sederhana untuk berpartisipasi dan mendukung transisi energi yang berkeadilan. Pembangunan yang berorientasi pejalan kaki seharusnya menjadi salah satu isu dalam transisi energi berkeadilan.
Lima tahun terakhir ini, transisi menuju energi berkelanjutan dan berkeadilan telah menjadi salah satu isu prioritas pemerintah Indonesia. Transisi energi adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh pemerintah Indonesia sebagai bentuk komitmen bersama secara global untuk ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak gas bumi.
Selain itu komitmen transisi energi yakni peralihan dari energi kotor ke energi bersih juga merupakan bagian dari upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim dan emisi karbon, secara global.
Walau demikian isu transisi energi masih merupakan isu yang asing di tengah masyarakat. Survey membuktikan kalau pemahaman tentang transisi energi masih terbatas pada kelompok masyarakat tertentu, masyarakat kelas atas.
Lebih-lebih di Samarinda atau Provinsi Kalimantan Timur pada umumnya. Isu transisi energi belum menjadi perbincangan. Alih-alih percaya, masyarakat malah ragu pada isu itu mengingat pemandangan sehari-hari menunjukkan hal yang sebaliknya.
Cobalah menikmati hari di tepian Mahakam, duduk-duduk di Teras Tepian, ruang publik yang baru diresmikan sebagai bagian dari penataan kawasan tepian Mahakam. Yang pintar berhitung, bisa menghitung jumlah ponton dengan gunungan hitam batubara yang lewat, berapa jumlahnya?.
Sebagian besar pasti akan mengatakan “Banyak”.
Atau coba tanyakan pada ibu-ibu di Muara Kate, Kabupaten Paser soal energi bersih, mereka pasti akan mencibir. Karena tahun-tahun belakangan ini mereka terus berjuang mengusir truk-truk pengangkut batubara melewati jalanan mereka. Upaya mereka bahkan berbuah tragedi.
Geliat industri ekstraksi terutama batubara belum surut di Kalimantan Timur bahkan terkesan digenjot untuk memaksimalkan potensi sebelum saat pelarangan tiba yang entah kapan.
Soal perubahan iklim dan pemanasan global, masyarakat Kaltim lebih akrab dengan dana iklim. Kaltim menjadi daerah pertama penerima konpensasi dana iklim. Dana yang diupayakan sejak 14 tahun lalu itu menurut Sri Wahyuni, Sekdaprov Kaltim akan didistribusi ke seluruh Kabupaten/Kota di Kaltim untuk diterima oleh 417 desa, 24 kelurahan, 143 kelompok masyarakat dan 7 masyarakat adat.
Provinsi Kalimantan Timur juga menjadi salah satu penerima dana RBP atau Result Based Payment, dana insentif untuk mendukung program pengelolaan hutan berkelanjutan.
Sebagai lumbung energi, dana iklim yang diterima oleh Kalimantan Timur lebih dimaksudkan untuk memperbaiki tata kelola lingkungan hidup dan kehutanan yang berkelanjutan. Dana iklim seperti tak terkait dengan transisi energi.
Tapi Samarinda, atau Kalimantan Timur pada umumnya tentu tak sesuram itu soal transisi energi yang berkeadilan. Kesadaran tentang energi bersih tentu saja ada, karena masyarakat Kalimantan Timur sudah lama menjadi korban ektraksi SDA alam untuk kebutuhan energi nasional maupun global.
BACA JUGA : Fiksi Buruk
Sebuah geliat kecil mulai membesar di Kota Samarinda, muncul komunitas-komunitas berbasis jalan kaki. Windasari, mahasiswi aktif Program Studi Kesehatan Masyarakat, Unversitas Mulawarman menghubungkan aktivitas jalan kaki dengan transisi energi.
Komunitas yang disorotnya adalah Susur Gang Samarinda, kelompok jalan kaki yang rutin menyusuri gang-gang di Kota Samarinda setiap hari Selasa dan Jum’at sore.
Dalam uraiannya, Winda demikian panggilan akrabnya mengingatkan kalau kaki adalah moda transportasi yang pertama dan utama di masa lalu. Tapi jalan kaki mulai tak populer karena kemunculan moda transportasi baru terutama yang bermesin.
Mengiatkan jalan kaki seperti yang dilakukan oleh Susur Gang Samarinda merupakan bagian dari kampanye transisi energi, kembali kepada energi asali yang dipunyai hampir oleh semua orang.
Cara sederhana ini menurut Winda bukan hanya mengurangi konsumsi energi, sebab jalan kaki juga tak menghasilkan emisi. Selain itu juga sehat karena tubuh manusia memerlukan gerak.
“Tubuh manusia perlu menyetor langkah harian, antara 5000 – 10.000 langkah untuk mengurangi resiko diabetes, osteoporosis, stress dan meningkatkan kesehatan jantung,” ujarnya mengutip penjelasan Dokter Tirta, podcaster kesehatan andalannya.
Terbiasa melakukan kegiatan aktivisme lingkungan hidup, Winda bersikap kritis terhadap transisi energi yang digaungkan oleh pemerintah. Menurutnya transisi energi tidak sepenuhnya bebas dari aktivitas ektraktif.
Menyebut istilah sirkuit ekstraktivisme, dia mengambarkan transisi energi adalah peralihan dari satu tambang ke tambang lainnya. Yang dikampanyekan dalam transisi energi seperti mobil listrik dan tenaga surya tetap butuh mineral. Mobil listrik butuh baterei yang terbuat dari nikel, kobalt, almunium dan lainnya. Sementara panel surya juga butuh aluminium dan silika atau pasir kuarsa.
Awal tahun 2025 ini, Kalimantan Timur diramaikan dengan kabar tentang 300 an, perusahaan tambang pasir silika yang sedang menunggu ijin. Silika akan menjadi bahan tambang galian C terbesar di Kalimantan Timur.
Pertamisi, atau Perkumpulan Pertambangan dan Industri Silika Indonesia menyebutkan potensi cadangan pasir silika Kaltim sebanyak 2 milyard metrik ton. Adapun luasan area yang mempunyai kandungan silika kurang lebih 50 ribu hektar. Konsentrasi terbesar silika berada di wilayah Mahakam Tengah, di kawasan Danau Kaskade Mahakam yakni Semayang, Melintang dan Jempang.
Di tengah desakan transisi energi, tambang batubara yang belum surut sudah diikuti tambang batu gamping dan kemudian bumi benua etam akan kembali dikoyak oleh tambang pasir silika.
Jadi benarkah kita serius dengan transisi energi?.
Waktu yang akan menjawab, bukan pidato presiden atau menteri serta ketua delegasi perunding iklim dari konperensi-konperensi global.
Bagaimanapun juga transisi energi memang diperlukan. Namun keterlibatan para pihak yang lebih luas menjadi sebuah tuntutan yang tak dinafikan.
Kita selama ini mungkin telah menyempitkan istilah energi, hanya terjepit pada listrik dan BBM yang diproduksi dengan bahan tambang berbasis fosil.
Belum lagi korupsinya, yang makin membuat masyarakat tak percaya.
Kalimantan Timur setahun terakhir ini dipayungi berita tentang korupsi Sumber Daya Alam, tentang mereka-mereka yang didakwa karena tersangkut suap atau gratifikasi pemberian ijin tambang. Ada yang sudah dihukum lama, ada yang dinyatakan sebagai terdakwa tapi belum dihukum, dan ada yang sedang diperiksa. Yang tersangkut adalah mereka-mereka yang punya kedudukan terhormat di masyarakat, bahkan dikenal sebagai sosok yang dekat dengan pembangunan hijau dan mitigasi iklim.
BACA JUGA : Mengulik Praktek Tradisional Masyarakat Juaq Asa Dalam Merawat Diri
Tapi langkah tetap harus diambil, sesuai dengan kapasitas masing-masing.
Susur Gang Samarinda memilih jalan kaki, menyusuri gang-gang di Kota Samarinda, naik turun bukit, tanjakan dan turunan curam dengan permukaan semen yang berlumut di musim hujan.
Menurut Winda dengan berjalan kaki, kita tengah diingatkan bahwa yang disebut energi bukan hanya listrik dan bahan bakar minyak. Masih banyak energi alami yang ditemukan di gang-gang. Masyarakat yang masih memakai kayu bakar atau biomassa untuk keperluan domestik. Atau warga yang memakai angin untuk menimbulkan bebunyian guna mengusir hewan atau binatang pengganggu.
Hanya saja arti energi makin menyempit hingga makan biaya. Masyarakat makin tergantung pada energi yang disediakan oleh provider, listrik oleh PLN dan BBM oleh Pertamina.
Jalan kaki yang nol biaya, nol emisi, makin terlupakan. Kalaupun ada yang berjalan kaki lebih dimaknai sebagai rekreasi dan olahraga atau malah dianggap miskin.
Menurut BPS, jumlah kendaraan roda dua di Samarinda pada tahun 2024 adalah 993,224 unit. Sedangkan jumlah penduduknya pada Desember 2024 adalah 881,225 jiwa. Jumlah motor lebih banyak dari jumlah penduduknya.
Bukan hanya malas berjalan kaki, karena setiap orang punya motor, transportasi umum atau massal juga tak berkembang di Kota Samarinda. Transportasi yang berwatak privat membuat konsumsi energi menjadi tinggi.
Jadi memperbanyak jalan kaki, mengurangi pemakaian transportasi privat merupakan langkah awal untuk warga Samarinda berpartisipasi dalam transisi energi. Tanpa membiasakan diri untuk jalan kaki, niscaya upaya untuk membangkitkan atau mengembangkan kembali transportasi massal sebagai langkah untuk mengurangi konsumsi BBM berbasis fosil akan berakhir sia-sia.
note : tulisan ini direproduksi oleh Yustinus Sapto Hardjanto dari postingan IG WINDASARI









