KESAH.ID – Pembunuh dibebaskan, hakim disuap, korupsi timah, kriminalisasi sekjen partai, pagar laut dan korupsi pertamina adalah sederet cerita buruk di masa transisi pemerintahan dari Joko Widodo ke Prabowo Subianto. Yang buruk bukan hanya kejadiannya melainkan juga penyikapan atasnya oleh Pemerintah terutama ketika masyarakat atas sederet peristiwa itu kemudian memunculkan tagar Indonesia gelap. Kehidupan berbangsa dan bernegara seperti cerita diatas panggung hingga membuat banyak yang berpikir untuk #kaburajadulu.
Dulu saya suka sekali membaca cerita, buku atau majalah cerita bergambar. Biasanya saya dan teman-teman bertukar bacaan, walau pertukarannya sering tak seimbang. Sebab ada teman yang punya lebih banyak dari teman lainnya.
Seorang teman yang bapaknya tinggal di Jakarta, sering mendapat kiriman majalah cergam Eppo. Majalah komik ini aslinya terbit di Belanda di tahun 70-an. Lalu diterbitkan pula versi Bahasa Indonesia hingga tahun 80-an. Karena bergambar, kami suka membacanya.
Setelah SMP, saya mulai membaca buku cerita yang tidak bergambar. Kisah empat sekawan yang ditulis oleh Enid Blyton yang juga dikenal dengan nama Marry Pollock.
Buku itu ada di meja depan rumah Mbah Kaji tetangga saya, tempat saya dibiarkan bermain-main di halaman rumahnya yang hijau asri.
Ada banyak buku tinggalan anak-anaknya yang telah dewasa dan tinggal di kota lain. Di rumah Mbah Kaji ini saya juga membaca novel Lelaki Tua dan Laut, karya Ernest Hemingway. Juga cerita tentang Sukarno yang diasingkan di Wisma Yaso.
Cerita memang selalu menarik untuk saya.
Nanti ketika SMA, saat memilih jurusan yang ada di benak saya adalah A4, jurusan bahasa/budaya.
Selain karena suka fiksi, pilihan A4 sebenarnya lebih didasari oleh ketidaksukaan dan ketidakmampuan saya pada matematika. Pelajaran matematika selalu menyiksa untuk saya sedari SD, matematika itu mati-matian.
Sebenarnya saya juga tak terlalu serius mempelajari bahasa, sekenanya saja yang penting angkanya tidak merah.
Inggris nggak lancar, Jerman cuma hafal “Ich liebe dich,”. Nanti ketika belajar bahasa Latin yang paling saya ingat hanya “Agricola terram parat,”.
Jadi saya memilih A4 sebetulnya karena tak terlalu niat sekolah. Dan di A4 akan banyak membaca buku cerita. Kebetulan di sekolah saya ada rak buku di setiap kelas. Karena jurusannya A4, banyak buku novel di rak itu, tapi ada juga buku filsafat. Saya lupa entah tentang epistemologi atau fenomenologi.
Yang ada di rak kebanyakan novel populer waktu itu karya NH. Dini, Mira W, Marga T, NV. Lestari dan lain-lain.
Ada juga novel-novel sastrawi karya Mariane Katopo, Mangun Wijaya, Linus Suryadi, Danarto, Umar Kayam dan seterusnya.
Karena teman sekelas saya ada yang anaknya pemilik toko buku, saya juga sering mendapat pinjaman buku darinya. Salah satu yang paling menyenangkan adalah seri cerita Musashi. Novel serial karya Eiji Yoshikawa yang terdiri dari 7 buku.
Kemudian saya menempuh pendidikan di sekolah berasrama. Saya punya waktu untuk membaca buku dan mulai beralih dari buku-buku fiksi ke buku-buku yang lebih faktawi dan analitik.
Saya lebih bergelut dengan artikel opini, esai dan lainnya.
Sesekali saya masih membaca novel, termasuk karya Pramudya Ananta Toer yang tertata dengan gagah di rak perpustakaan. Padahal waktu itu karya-karyanya dilarang.
Lama setelah itu saya tak bergaul dengan fiksi meski masih sesekali mementaskan baca puisi. Nanti memang saya membaca karya Ayu Utami biar tidak dibilang ketinggalan jaman. Lalu juga Laskar Pelangi, walau hasil dari pinjaman.
Kadang ketika singgah ke toko buku, deretan novel menggoda. Beberapa kali saya membeli tapi sampai sekarang tak tamat dibaca. Energi saya membaca novel sepertinya sudah mengering.
Seingat saya ada penulis cerita memberikan tiga buku pada saya. Bukunya berdebu karena tak tersentuh semenjak saya taruh di rak.
BACA JUGA : Mental Oplosan
Dunia ini sebenarnya fiksional. Kisah-kisah pengambarannya lebih berwatak cerita, kesah-kesah.
Walau begitu kita selalu terobsesi dengan kebenaran.
Padahal sebagian besar yang kita sampaikan sehari-hari tak lebih dari cerita, fiksi, kisah yang tidak sebenarnya.
Konon berdasarkan analisa sejarah evolusi, ketrampilan pertama homo sapiens yang paling intens dikembangkan adalah “Menceritakan hal yang tidak sebenarnya,”.
Karena api yang kemudian berjasa melahirkan bahasa, moyang kita mengalami revolusi kognitif. Otak rasional dan intelektualitasnya berkembang pesat mengalahkan semua jenis mahkluk hidup lainnya.
Pikirannya selalu bekerja. Muncul banyak pertanyaan dalam benaknya.
Dan namanya homo sapiens selalu saja ada keinginan untuk segera mendapat jawaban.
Jawaban-jawaban itu jadi legenda, kisah asal usul, mitos, cerita rakyat dan seterusnya.
Mungkin dimulai dari kisah celetukan, sewaktu berkumpul mengelilingi api unggun. Lalu ada yang bertanya “Kita ini dari mana?”
Dan mulailah cerita, kisah yang dipercaya, diturunkan turun temurun.
Benarkah cerita-cerita soal asal usul itu. Asal usul sebuah kaum, asal usul sebuah tempat, asal usul sebuah kerajaan, asal usul gunung, asal usul sungai dan lain-lain.
Bukan soal benar atau tak benar, sebab semua memang berasal dari hal tak sebenarnya.
Justru yang paling penting cerita itu kemudian mengikat. Karena cerita itu ikatan menjadi kuat, yang berbeda-beda dipersatukan, karena diikat oleh kisah yang sama.
Setiap kelompok kemudian punya kebenaran interpersonal atau komunal. Itu adalah pengetahuan, pengetahuan yang dirawat sebagai tradisi.
Maka tak salah jika kemudian ada yang mengatakan “Semua bermula dari kata,”
Kelak ketika pengetahuan ilmiah berkembang, terbukti struktur dasar dari kehidupan yakni DNA, ternyata berisi rangkaian atau pilinan kode yang berisi empat huruf.
Seuntai DNA memiliki sekuens atau urutan yang tersusun dari empat huruf yakni Adenin {A}, Cytocine {C}, Guanin {G} dan Timin {T} dengan susunan yang bervariasi.
Jauh sebelum itu, berbagai kitab menyebutkan bahwa dunia tercipta dari kata.
Yang Maha Kuasa menyebut dan terjadilah.
BACA JUGA : Mahkluk Alamiah
Indonesia juga fiksi.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, sebelum jam 10 pagi Indonesia belum ada.
Tepat jam 10 ketika dinyatakan oleh Sukarno – Hatta Indonesia mendadak ada.
Negeri ini kemudian dikisahkan membentang dari Sabang sampai Merauke. Yang narasinya kemudian disempurnakan oleh iklan mie instan dengan tambahan dari Mianggas sampai Pulau Rote.
Bernama lain nusantara, oleh Koes Plus tanahnya digambarkan subur makmur. Tongkat kayu dilempar jadi tanaman.
Dengan singkat wilayah dari Sabang sampai Merauke, Mianggas sampai Pulau Rote ini digambarkan sebagai negeri ijo royo royo, gemah ripah loh jinawi.
Hanya saja fiksi dari negeri ini kemudian lebih banyak tak punya moral cerita. Bahkan kalah dari kisah Kancil yang cerdik. Kancil nyolong timun atau Kancil menipu buaya.
Godbless, sekelompok pemusik gitar rancak menyebut negeri ini sebagai Panggung Sandiwara.
Fiksi negeri ini penuh drama, sensasi, eya..eya…eya…. layaknya Tukul Arwana ketika membawakan acara Bukan Empat Mata.
Fiksi negeri ini kelewat buruk. Cerita MBG yang mestinya mencerdaskan anak bangsa malah menjadi cerita efisiensi, pemotongan dana disana-sini yang berpotensi membuat banyak hal yang harus dipenuhi tak tersedia anggarannya.
Jangan heran jika kemudian mendorong orang untuk ngalih, menyingkir dengan hastag #kaburajadulu.
Menyingkir sejenak karena cerita negeri ini sungguh keterlaluan. Bayangkan laut saja dipagari dan tak tahu siapa yang menyuruh, membiayai atau bertanggungjawab atasnya. Ceritanya jadi mirip Bandung Bondowoso yang membuat seribu candi dalam waktu sekejap.
Pagar laut jadi fiksi buruk karena tiba-tiba ada yang mengakui. Pengakuan yang sungguh tak bisa dipercaya. Fiksi buruk karena kisahnya dibuat-buat. Mana ada sekelompok nelayan bisa berswadaya milyard-an?.
Dan makin buruk lagi, ketika pagar laut diperiksa oleh berbagai instansi. Hingga akhirnya ditetapkan seseorang yang harus bertanggungjawab. Dan tahukah siapa orang itu?. Kepala Desa.
Dia mengakui dan kemudian bersedia membayar denda, 48 milyard.
Jangankan kepala desa, bupati, gubernur dan konglomerat sekalipun tak akan gagah berani mengatakan “Saya akan bayar denda 48 milyard itu,”.
48 milyard itu uang bukan fiksi.
Mungkin karena kehidupan kita sudah punya fiksi yang buruk, maka akhir-akhir ini jarang ada buku fiksi yang menjadi best seller karena isi, logika dan penyajiannya meyakinkan.
Selera kita tentang fiksi semakin buruk. Karena yang disajikan dalam kehidupan sehari-hari kita juga sangat buruk.
Ya buruk sekali, kalau tidak bagaimana mungkin pertalite bisa disangka pertamax.
Mungkin sudah tak tepat lagi mengatakan ini fiksi buruk, cerita-cerita ini harusnya justru dianggap sebagai kejahatan besar. Fiksi di negeri ini sepertinya dikisahkan untuk melindungi para kriminal yang adalah orang-orang besar.
Di balik wajah-wajah bersih ternyata tersembunyi kelakuan kotor. Kotor sekali karena mereka menyangka rakyatnya tolol. Sehingga mudah diperdaya dengan cerita-cerita konyol.
note : sumber gambar – DONASIONLINE








