KESAH.ID – Ada peribahasa berbunyi Pagar Makan Tanaman. Artinya seseorang yang dipercaya justru merusak apa yang dipercayakan padanya. Kini istilah itu menjadi misteri karena pagar bukan makan tanaman melainkan laut. Bayangkan pagar sepanjang 30 kilometer yang dipasang selama berbulan-bulan tak diketahui siapa pemiliknya. Ada yang mengaku-ngaku sebagai pemiliknya namun sayang profilnya tak terpercaya bisa mengalokasi dana milyaran rupiah untuk membangun pagar walau hanya dari bambu.
Masa kecil saya akrab dengan bambu, di lingkungan sekitar rumah dan tempat bermain banyak papringan. Atau kumpulan rumpun bambu yang lebat, menyerupai hutan bambu.
Mainan saya dan teman-teman banyak terbuat dari bambu. Di sekolah sering juga ada tugas prakarya dengan bahan bambu. Seperti membuat vas, hiasan dinding dan anyaman dari bambu.
Jika bermain sepeda, saya dan teman sepermainan juga sering mengambil selongsong yang lepas dari ruas bambu untuk dipasang di rangka sepeda. Selongsong yang ditekuk itu akan terkena jeruji roda sepeda saat sepeda dikayuh sehingga menimbulkan bumi. Kami merasa seperti naik motor, tanpa harus lelah menirukan bunyi motor dengan mulut.
Pada waktu tertentu, ketika ada yang membuat batu bata, kami antusias membantu menyapu daun bambu kering untuk kemudian diikat dalam bentuk menjadi bal-balan.
Ajakan mengumpulkan daun bambu berarti batu batanya telah siap dibakar.
Kegiatan membakar batu bata adalah salah satu hiburan di masa kecil. Kami senang karena bisa bermain di luar waktu malam.
Tapi kisah rumpun bambu itu kini hanya jadi kenangan. Papringan di kampung halaman saya sudah banyak yang hilang, lahannya beralih fungsi menjadi kompleks perumahan. Dan tak nampak pula anak-anak pergi bersepeda ke desa sebelah mencari bambu tulup. Bambu kecil yang ruasnya panjang, untuk diisi bijian dan kemudian ditiup kearah obyek yang dibidik.
Bambu semakin jarang digunakan. Padahal dulu setiap menjelang perayaan Hari Kemerdekaan, semua pagar bambu ada diperbaharui, gapura untuk memperingati HUT RI juga dibuat dari bambu, pun juga tiang untuk memasang bendera.
Kini pagar dan gapura telah berganti menjadi beton atau besi.
Bambu semakin menjauh ketika saya pindah ke Samarinda. Disini jarang sekali saya melihat rumpun bambu. Kalaupun ada kebanyakan bambu hias.
Makanya saya senang sekali ketika pergi ke Penajam Paser Utara dan kemudian diajak mampir ke Petung. Kalau tak salah di daerah yang disebut Lepon, berasal dari kata Log Pond saya menemukan rumpun bambu petung yang lebat.
Bambu yang ukurannya besar, tebal dan panjang ini, rebungnya enak sekali.
Ingat rebung saya jadi ingat acar Manado dan lumpia Semarang. Ingatan yang bikin meleleh gidi-gidi atau meneguk liur.
Tapi cerita rebung juga kerap membuat terbahak, jadi ingat cerita mop Papua.
Kisah tentang seseorang yang makan di warung mbak-mbak Jawa.
Obet yang lahap menyantap nasi campur pesanannya, merasa sayur yang tidak dikenalnya itu terasa enak.
Dengan mulut yang sedang mengunyah dia bertanya “Mbak, ini sayur apa?”.
Dijawab oleh mbak pemilik warung dengan singkat karena lagi sibuk “Rebung”.
Rebung?. Obet tak tahu lalu bertanya lagi.
“Rebung itu apa?”
Lagi dengan singkat mbak pemilik warung menjawab “Bambu muda”.
Obet berpikir sejenak dan tak lama kemudian berguman “Mudanya saja sudah enak apalagi tuanya,”.
BACA JUGA : Samarinda Banjir
Logika Obet tentu saja salah, jumping conclusion.
Yang enak waktu muda tak berarti enak saat tua bahkan kebanyakan yang terjadi adalah kebalikannya.
Bambu memang kerap disalahpahami.
Banyak orang sekarang menganggap bambu tak kuat. Makanya orang Jakarta pernah ribut besar saat Gubernur Anies Baswedan menyetujui anggaran untuk membuat instalasi bambu yang berjudul Getah Getih.
Instalasi bambu itu dimaksudkan untuk menyambut perhelatan Asian Games 2018.
Orang memang kerap menyepelekan bambu. Maka instalasi yang bernilai 500-an juta itu dianggap sia-sia, membuang uang saja.
Padahal bambu telah lama menyumbangkan peran dalam bidang konstruksi di Indonesia karena kekuatan dan kelenturannya.
Tak banyak orang tahu kalau jalan tol di jalur utara Jawa, bagian Semarang – Sayung yang melewati laut dibuat dari bambu.
Struktur timbunan diatas laut itu didukung oleh konstruksi matras bambu sebanyak 17 lapis.
Bambunya tentu pilihan, dengan kriteria panjang kurang lebih 8 meter dan diameter 8-10 cm. Jutaan bambu dirangkai dan kemudian dijadikan pondasi yang ramah terhadap ekosistem laut.
Penggunaan bambu untuk pembangunan jalan tol ini menjadi salah satu prestasi teknik dari para insinyur dan ahli konstruksi di Indonesia. Sayangnya sedikit saja yang membanggakannya.
Tentang kuatnya bambu untuk menopang daratan buatan di laut sedang menjadi perbincangan saat ini.
Sebenarnya sudah sejak pertengahan tahun lalu nelayan di Tangerang melaporkan gangguan adanya pagar laut, deretan bambu yang dipancangkan berjejer dan berlapis di lautan.
Karena dibiarkan, akhirnya di tahun 2025 ini panjangnya sudah 30-an kilometer.
Ketika ramai diberitakan, tak ada yang tahu siapa pemilik atau yang menyuruh membuat pagar laut itu. Instasi pemerintah yang berwenang soal laut merasa tak ada yang mengajukan ijin.
Kisah ini jadi perbincangan dengan nada heran dan bingung. Semua bingung, tapi mungkin sebagian pura-pura bingung biar tak ketahuan kalau tahu dan mendiamkan.
Lalu dalam sebuah dialog di televisi, ada pihak yang mengaku. Sayang pengakuannya kurang meyakinkan karena profil organisasi yang mengaku tak sesuai dengan anggaran yang dibutuhkan untuk membuat pagar laut sepanjang itu.
Pengakuan mereka memang keterlaluan, masak pagar sepanjang itu disebut swadaya masyarakat.
Kemudian ada yang ingin segera membongkar, tapi ada juga yang meminta waktu untuk menunggu karena akan dijadikan bahan bukti penyelidikan.
Ah, makin terbukti kalau salah satu masalah instasi negara atau pemerintah adalah koordinasi. Makanya sampai sekarang biaya koordinasi tetap tinggi, namun hasilnya rendah.
Kata AS. Laksana seorang penulis terkemuka, bangsa kita memang jago dalam menambah, mengurangi dan meng-kalikan. Tapi selalu payah dalam membagi. Koordinasi pada dasarnya adalah sinergi dalam membagi-bagi peran dan kerja bersama.
BACA JUGA : Ormas Tambang
Pagar laut dari bambu di Tangerang dan mungkin juga tempat lain ini sungguh membuat bambu ternista. Padahal dalam sejarah kita bambu selalu dimulyakan.
Dalam revolusi saat keadaan serba terbatas, perlawanan tetap digelorakan dengan bersenjatakan bambu runcing. Di sekolah lewat Pramuka kita juga dididik untuk disiplin, mampu mengatasi kesulitan, terampil dan lain-lain dengan batang bambu. Pramuka selalu dilengkapi dengan tongkat bambu. Yang jika dirangkai dengan tali bisa menjadi konstruksi tenda, juga tandu untuk membawa mereka yang terluka, pingsan dan lain sebagainya.
Bukan bambu yang sebenarnya nista melainkan nalar kita.
Masak pagar sepanjang itu yang dibuat berbulan-bulan tak diketahui siapa yang punya.
Pasti ini kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu.
Apalagi dalam sebuah sistem e-government ditemukan data kalau di lokasi itu telah dikeluarkan Sertifikat Hak Guna Bangunan, padahal lahannya belum ada.
Moralitas apa yang dipakai untuk mengatur kehidupan bersama di negeri ini?.
Padahal semua berjanji untuk bekerja mengedepankan moral, etika dan penghormatan lain pada kemanusiaan. Bertahun lalu kita mendengar para aparatur negara dan para pemimpinnya punya slogan BERAHLAK.
Tapi terbukti keputusan-keputusan busuk tetap disembunyikan bahkan saat bisa dilihat dengan mata telanjang. Masak bangkai mau dibilang bunga, kita belum se-ODGJ- itu.
Dalam kitab suci diceritakan kisah tentang Musa. Ular yang berubah menjadi tongkat dipakai oleh Musa untuk membelah lautan, lautan menjadi daratan sehingga bisa dipakai oleh Musa dan para pengikutnya lolos dari kejaran serdadu Mesir.
Kisah pagar laut bukanlah kisah mukjizat, abakadabra yang tercipta dalam sekejap.
Sebuta apa mereka yang tugasnya mengawasi lautan.
Setuli apa mereka yang tugasnya mendengarkan keluhan rakyat.
Tak ada negeri yang disabilitas, yang ada hanyalah pemerintahan yang gagal.
Agus mestinya sedih dan meraung-raung karena hal ini, bukan karena donasi yang ditarik dari rekeningnya.
Tentang kaplingan biru ini sayapun jadi sedih. Ingat kawan yang sudah lebih dahulu berpulang.
Di suatu sore pada pantai buatan karena direklamasi kami memandang Manado Tua dari kejauhan. Dan dia berkata “Ayo berbisnis”.
Ah, setahu saya dia kukuh dijalan budaya, pemikiran, sastra dan keseniannya.
“Bisnis apa?”
“Kaplingan,” jawabnya.
“Tuang ngali, tuang ngampung. Berak di kali cebok di kampung, rupa ngana ada tanah jo,”
Santai saja dia menjawab sambil menunjuk laut “Itu tanah biru,”
Dia telah beristirahat di alam sana, andai dia membaca berita dan kemudian bisa menemui saya pasti akan berkata “Apa kita bilang,”
note : sumber gambar – REPUBLIKA








