KESAH.IDKabarnya Agus merupakan peringkat ketiga dari nama-nama yang paling banyak dipilih oleh orang tua di Indonesia untuk menamai anaknya. Wajar jika kemudian ada banyak berita tentang orang yang bernama Agus. Tapi jangan sampai kita kemudian berpikir bahwa yang bernama Agus kelakuannya pasti random. Ingat tidak ada hubungan antara nama dengan kelakuan. Jadi tetaplah berteman dengan Agus, karena pasti banyak Agus yang berkelakuan baik sehingga tetap bisa dijadikan konco sak lawase.

Memasuki bulan Desember mestinya atmosfir pembicaraannya kalau tidak gebyar discount Nataru ya hujan atau liburan. Tapi yang terkenal malah agus, nama umum yang  diberikan untuk anak-anak kelahiran bulan Agustus. Memang ada agus lain yang mungkin tidak lahir di bulan Agustus, yakni Agustinus, nama baptis.

Sepanjang hidup, saya mempunyai banyak teman yang bernama Agus. Wajar karena yang dinamai Agus oleh orang tuanya memang banyak. Menurut orang yang iseng membuat peringkat nama terbanyak di Indonesia, konon Agus menduduki peringkat ketiga, setelah Muhammad dan Ahmad. Kabarnya ada 1,45 juta orang di Indonesia bernama Agus.

Karena banyak orang yang bernama Agus, maka wajar saja jika kemudian banyak berita perihal orang yang bernama Agus ini.

Bandingkan dengan orang yang namanya sangat jarang, unik atau bahkan agak-agak nyeleneh sehingga nggak masuk dalam pikiran kebanyakan orang tua untuk memakainya sebagai nama anak.

Sebut saja, Andy Go To School dan Rudi A Good Boy. Rasanya belum ada berita dari mereka yang bikin heboh. Oh, iya ini nama asli bukan karang-karang. Mereka berdua adalah kakak adik yang berasal dari Magelang. Go To School kini berprofesi sebagai Polisi, sementara A Good Boy adalah seorang tentara.

Atau ada nama lain yang tak kalah unik, seperti Satria Baja Hitam, Saito, Anti Dandruf, Honda Suzuki Impalawati, Tuhan, Nabi, Slamet Dunia Akhirat, Royal Jelly, Dontworry, Jas Hujan, dan Pintu Pemberitahuan. Nama-nama ini sepertinya juga belum pernah diberitakan membuat kontroversi.

Ada lagi yang lebih unik yakni V,J,L, dan N, nama empat kakak beradik yang berasal dari Banyuwangi. Nama mereka mungkin saja viral ketika diberitakan, tapi bukan kelakuannya. Yang mungkin agak random justru kelakuan orang tuanya yang sulit menghafal nama sehingga hanya memilih satu huruf.

Bandingkan dengan Agus, hampir hari-hari ada berita tentang kelakuan Agus dan beberapa diantaranya sungguh mengiris hati.

Sekurangnya ada dua Agus yang bisa dipilih sebagai Agus of The Year untuk tahun 2024 ini.

Yang pertama adalah Agus Salim, namanya seperti pahlawan nasional yang dikenal ulung dalam berdiplomasi dan punya kontribusi dalam pembentukan UUD 1945.

Agus Salim awalnya dikenal sebagai korban kejahatan, dia disiram air keras oleh staffnya. Air keras mengenai muka sehingga merusak matanya dan terancam buta.

Untuk mengobati, menyembuhkan atau memberi penanganan pada matanya, Agus jelas butuh biaya banyak. Ongkos itu diluar kemampuan.

Agus kemudian bertemu dengan Novi, seorang kreator konten yang akunnya banyak berisi kepedulian dia untuk merawat ODGJ. Novi kemudian membawa Agus ke Denny Sumargo, yang juga seorang kreator konten. Denny yang sebelumnya dikenal dengan julukan Pebasket Sombong ini bersimpati dan kemudian menggalang dana.

Urusan menggalang dana memang para publik figur jagonya. Tak lama kemudian terkumpul uang satu milyard lebih. Novi dan Denny tidak menyangka.

Sepertinya Agus tidak memberi laporan penggunaan donasi yang terkumpul lewat rekeningnya. Dan ketika ditanya oleh Novi tidak segera menunjukkan transparansi. Dan setelah dikulik dari mutasi rekeningnya ternyata ada penggunaan uang ayng tidak sesuai dengan tujuan donasi.

Novi keberatan dan demkian pula dengan Denny Sumargo. Dan kemudian terjadilah kisruh. Novi dan Denny Sumargo ini agar uang donasi digunakan secara amanah. Sementara Agus berpendapat uang yang diberikan kepadanya adalah miliknya sehingga terserah padanya untuk mempergunakannya sepanjang memenuhi kebutuhan dia dan mungkin juga keluarga.

Timbul ketidaksepakatan dan kemudian ada beberapa kali mediasi untuk mencari jalan keluar terbaik. Dalam ribut-ribut ini masuklah para pengacara, sebagian pengacara betulan sebagian lain pengacara pansos.

Beredar beberapa video yang menampakkan perilaku Agus yang kurang pantas, agak berlebihan. Padahal tak ada yang menyangkal kalau donasi yang diberikan memang hak Agus, walau dengan catatan harus dipertanggungjawabkan sesuai dengan niat donatur untuk membantu yakni penyembuhan atau penanganan matanya.

BACA JUGA : KTM Merana

Nama Agus lain yang menyodok perhatian adalah Agus Buntung. Nama lengkapnya I Wayan Agus Suartama atau IWAS.

Agus yang kemudian disebut Agus Buntung karena sama sekali tak punya tangan mulai dari lengan.

Dengan kondisi tubuh yang tak lengkap itu tak heran jika kabar tentangnya begitu mengemparkan. Agus membuat gempar karena dilaporkan oleh kurang lebih 15 orang perempuan yang mengatakan dirinya sebagai korban pelecehan.

Dalam logika publik peristiwa semacam itu tentu tak terbayangkan, banyak yang tak percaya kalau Agus bisa melakukannya.

Pasti berat bagi korban pertama yang melaporkannya, karena publik bisa jadi menuduhnya mengada-ada.

Tapi dengan semakin banyak korban yang melaporkan, modus Agus perlahan-lahan terkuak.

Agus yang tubuhnya tak utuh sejak lahir pasti tahu persis dengan naluri orang Indonesia yang gampang iba dan keranjingan tahayul.

Padahal sebagai orang yang mengalami kekurangan sejak kecil, Agus pasti berlatih memaksimalkan bagian tubuh lainnya untuk menggantikan tangan. Dan Agus bisa menulis, mengambar, makan, minum bahkan naik motor yang sudah dimodifikasi dengan menggunakan kakinya.

Kemampuan yang mungkin tak terpikirkan atau terbayangkan oleh kebanyakan dari kita.

Kelemahan orang yang mudah iba inilah yang diekploitasi oleh Agus. Baik korban maupun publik dimanipulasi dengan rasa iba ini.

Manipulasi sendiri merupakan hal yang normal atau biasa dalam hubungan sosial seluas-luasnya.

Dalam dunia politik, manipulasi kerap dilakukan lewat aksi pencitraan. Para konsultan politik umumnya merupakan ahli perception engineering.

Sektor ekonomi terutama pemasaran juga amat lekat dengan manipulasi. Iklan, promosi atau program-program diskon dan lain-lain juga amat manipulatif.

Membangun circle pergaulan sosial juga tak lepas dari manipulasi, maka dikenal istilah pansos.

Namun manipulasi seperti ini bukanlah kejahatan, tipu-tipu dikit itu biasa saja. Namanya juga PDKT.

Seperti politisi yang ingkar janji, itu juga bukan pelanggaran yang membuatnya bisa didongkel dari kedudukannya yang tinggi. Toh ada banyak alasan yang bisa dicari-cari sebagai pembenaran.

Tapi modus ala Agus Buntung jelas sebuah kejahatan karena dia mendekati perempuan bukan untuk berkawan, tapi untuk berkawin tanpa persetujuan.

BACA JUGA : Doyan Tahayul

Kabarnya ada belasan perempuan yang mengaku sebagai korban dari modus ala Agus ini. Sepertinya Agus sudah menemukan algoritma untuk menjebak perempuan agar mau dibawa ke penginapan.

Rumus yang dipakai oleh Agus untuk memanipulasi perempuan ternyata ampuh.

Konon kunci keberhasilan dari Agus adalah profiling calon kurbannya. Agus akan memantau calon korban dari jauh, mencari sosok perempuan yang duduk sendiri di taman, cukup lama dan tidak segera meninggalkan taman meski jamnya orang pulang ke rumah.

Bagi Agus, perempuan yang duduk di taman sendirian dalam waktu yang cukup lama dianggap sebagai perempuan yang sedang punya masalah. Sosok bermasalah inilah yang dicari oleh Agus.

Ketika melihat calon korban yang potensial, Agus akan mendekati dan langsung melempar jurus mengobral kesedihan untuk memancing empati dan simpati korban.

Jurus pamungkasnya, Agus mengatakan ingin bunuh diri.

Bagi seseorang, siapapun itu mendengar orang ingin bunuh diri jelas mengerikan sehingga pasti akan mencoba untuk menggagalkannya. Amat jarang ada orang yang mempersilahkan orang lainnya untuk bunuh diri.

Nah ketika korban terpancing ibanya, Agus kemudian akan membalikkan keadaan. Dengan bertanya apakah korban pernah mengalami kesedihan yang dalam, kekecewaan yang besar dan hal-hal buruk lainnya.

Agus melakukan mirroring, kisah sedihnya dipindahkan pada korban.

Jadilah korban yang kemudian akan bercerita atau curhat. Agus akan memperhatikan curhatannya dan mencatat poin-poin yang bisa dianggap sebagai aib oleh sang kurban, sesuatu yang disembunyikan dari orang tua atau kerabat terdekat.

Agus dari yang menghiba-hiba kemudian menampilkan diri sebagai motivator, menyemati sang kurban dan kemudian menawarkan alternatif untuk healing.

Otak orang yang sedang mengalami masalah berat terutama yang berkaitan dengan moralitas, cenderung akan memilih jalan termudah untuk menyelesaikan masalah. Dukun tukang tipu-tipu tetap tumbuh subur karena watak semacam ini.

Dan Agus menawarkan ritual yang biasa dipraktekkan oleh dukun-dukun.

Jika kurbannya ragu atau mungkin menolak, Agus yang sudah mencatat aib korban akan mengancam. Dia akan menggunakan apa yang didengarnya untuk membongkar aib korban pada orang tua.

Campuran antara iba, takut dan berharap antara iya atau tidak membuat korban mengikuti mau Agus.

Beberapa korban yang masih berpikir rasional meski telah dibawa Agus ke penginapan berhasil meloloskan diri.

Dan nampaknya penginapan yang sering dipakai Agus untuk beroperasi tempatnya tetap. Sehingga penjaganya kalau melihat perempuan yang ingin lari segera menyuruhnya pergi.

Tapi Agus tak hilang akal. Pernah ada korban yang lari diteriaki hingga dikepung orang sekampung. Tuduhannya berbahaya sekali, dibilang mengambil uangnya. Untung yang dituduh perempuan sehingga masyarakat tak langsung main hakim sendiri.

Otak Agus nampaknya penuh rencana. Walau konon kurang konsisten. Salah satu korban yang dikepung warga kemudian dilepaskan oleh warga karena alasan Agus berubah-ubah.

Polisi sudah menetapkan Agus sebagai tersangka. Dan nampaknya sulit baginya untuk lepas dari jeratan hukum karena kejahatannya terencana dan berulang.

Mumpung proses persidangannya masih butuh waktu, ada baiknya lembaga permasyarakatan mempersiapkan ruang tahanan yang membuat Agus tidak kesulitan menjalani hari-harinya di penjara nanti.

Oh, iya walau akhir-akhir ini banyak yang bernama Agus kelakuannya random, namun jangan anggap semua yang bernama Agus begitu. Ingat tidak ada hubungan langsung antara nama dengan kelakuan.

Walau kita mempercayai nama adalah doa, yang namanya doa adalah hak prerogratif Tuhan. Tak semua doa dikabulkan.

note : sumber gambar – KOMPAS