KESAH.ID – Sejak teknologi komputer ditemukan, muncul juga teknologi peretasan yang bekerja sebagaimana virus dalam dunia biologi. Salah satu model yang berkembang adalah menyandera akses atau mengunci data. Data yang terkunci atau akses yang terblokir akan dibuka jika pemilik mau menebusnya. Dan itulah yang terjadi pada Pusat Data Nasional dan pusat data dari beberapa institusi penting di Indonesia. Konon hacker-nya baik hati dan hanya berniat menguji, tujuannya agar pemerintah mempekerjakan mereka yang benar-benar ahli.
Masih ingat WS dan Lotus nggak?. Mungkin ingat tapi ada yang nggak mau ngaku karena takut ketahuan sudah tua.
Sekitar tahun 80 menjelang 90-an, muncul operating system bernama Word Star atau disingkat WS. WS adalah produk yang menemukan gagasan ‘What You See What You Get’ atau WYSWYG. Yang terlihat dilayar jika diprint akan sama hasilnya.
WS berakhir pada seri WS 7 karena ditimpa oleh WP. Namun tak lama kemudian Word Perfect juga dilintas oleh Microsoft Words.
Selain itu ada aplikasi spreadsheet yang terkenal yakni Lotus yang dikembangkan oleh IBM. Terdiri dari Lotus 1,2,3, aplikasi ini salah satu hasil terbaik IMB yang sukses di pasaran.
Saya mengenal komputer pertama kali saat sudah memakai WS 7, pertengahan tahun 90-an. Waktu itu bisa menghidupkan komputer, ngetik dan mematikan saja sudah senang. Jadi belum kepikiran soal virus, hacking dan lainnya. Komputer belum terhubung satu sama lain.
Baru nanti setelah komputer memakai Word Perfect dan Microsoft Office, istilah virus mulai dikenal. Virus bisa menular atau menginfeksi file dan komputer lewat disket, atau kemudian lewat flash disk.
Hacking atau peretasan kemudian dikenal ketika komputer saling terhubung. Di jaman awal-awal internet dan saat website mulai terkenal. Seorang peretas biasanya masuk ke dashboard untuk menganti tampilan web.
Virus di komputer cara kerjanya mirip virus dalam dunia biologi. Begitu menginfeksi virus mampu mereplikasi diri dan menyebar melalui file yang terinfeksi.
Virus sendiri sudah mulai muncul sejak awal kemunculan komputer. Yang pertama ditemukan pada tahun 1971. Virusnya dinamai creeper karena saat menyerang komputer akan menampilkan pesan “I’am a creeper, cacth me if you can,”
Selanjutnya muncul rabbit virus yang sangat aktif. Virusnya dengan cepat mereplikasi diri dan merusak sistem komputer.
Tahun 1982 muncul virus untuk PC. Diciptakan oleh seorang anak remaja yang masih berusia 15 tahun, namanya Rich Skrenta. Virus yang dinamai Elk Cloner menyebar melalui floopy disk game. Saat game dimainkan untuk ke 50 kali akan muncul pesan dilayar.
Setelah itu virus makin meresahkan. Akhir tahun 80-an muncul banyak virus walau isinya gurauan dan lelucon. Virus tidak hanya menyerang media penyimpan, melainkan setiap file yang ada di dalamnya.
Tahun 90-an virus jadi semakin aktif karena kehadiran internet. Virus mulai menyebar lewat email dan situs-situs web.
Tahun 2000-an virus semakin berbahaya, infeksinya menyebar dengan luas. Cara penyebarannya semakin beragam termasuk ketika mulai ada sosial media.
Seiring dengan itu berkembang ransomware, semacam virus yang dipakai untuk menyerang obyek tertentu dengan cara menyandera data. Virus ini biasa dipakai untuk memeras pihak yang diserang. Data yang disandera, dienkripsi atau dirubah kodenya bisa dikembalikan seperti semula jika yang diserang membayar.
BACA JUGA : Dibunuh Kebebasan
Semingguan ini ada yang menghebohkan dalam pemberitaan. Pusat Data Nasional diretas, ada kecurigaan datanya dicuri. Beritanya heboh tapi masyarakat tidak. Pencurian data bukan hal yang penting untuk masyarakat, toh tak ada masyarakat yang dirugikan.
Tuntutan 8 juta USD dari peretasnya juga tak bikin dahi masyarakat berkenyit. Angka 100 milyard itu tak dianggap. Pemerintah mau membayar apa tidak, wargapun tak peduli.
Yang pasti tuntutan itu tak akan dipenuhi. Tolol saja rasanya kalau sampai mau membayar untuk mendapatkan kembali akses pada data yang disandera.
Tapi soal retas meretas ini teknis sekali. Walau ada pesan tuntutan untuk membayar, tak selalu hal itu merupakan pekerjaan serius dari orang yang mau cari uang. Soal retas meretas bahkan pada pusat data badan intelijen bisa jadi hanya keisengan seorang bocah.
Anak-anak jaman dulu suka menyusup untuk masuk ke bioskop atau pertunjukan lain biar nggak bayar. Dan mungkin takdir anak-anak jaman sekarang sudah lain. Mereka bukan lagi pengintip dan penyusup untuk nonton karena tontonan ada di mana-mana. Mereka kini mengintip dan menyusup ke sistem orang lain lewat gadgetnya.
Keamanan siber memang menjadi persoalan di negeri kita. Wajah pemerintah sama saja dengan wajah rakyatnya. Sebab yang berada di pemerintahan juga rakyat.
Soal informasi masyarakat kita memang ceroboh, hampir tak ada rahasia. Semua-semua diceritakan. Bahkan aib orang terdekat sekalipun sering diumbar.
Di media sering beredar, capturan percakapan lewat aplikasi perpesanan. Yang menyebarkan ingin meluapkan kejengkelan atau mempermalukan. Yang membaca menganggap sebagai hiburan.
Saya tak tahu persis bagaimana pengamanan data di Pusat Data Nasional. Mungkin yang lebih banyak adalah satpam di gedungnya ketimbang penjaga keamanan di pusat datanya.
Beberapa waktu terakhir ini terdengar soal jabatan fungsional. Pejabat menduduki jabatan karena kualifikasi keahlian teknis tertentu. Itu kabar baik.
Masalahnya dalam waktu panjang sebelumnya, formasi jabatan tidak seperti itu. Jadi yang disebut jabatan fungsional kualifikasinya tidak benar-benar fungsional karena jarang ada pegawai pemerintah yang meniti karir dari bawah hingga keatas dalam jalur yang sama. Pejabat pemerintah selalu dirotasi, dari satu jabatan ke jabatan lain, dari satu instansi ke instansi lain. Hasilnya kebanyakan hanya pintar pidato dan menasehati.
Dan ketika sistem pemilu berubah, pemimpin mulai dipilih secara langsung oleh masyarakat. Ekosistem atau iklim penentuan pejabat juga berubah. Banyak kursi jabatan diisi karena kedekatan politik, bahkan karena balas jasa.
Kabarnya yang diretas bukan hanya PDN, tetapi juga instansi-instansi lainnya.
Berantakan sekali.
Ya bagaimana tidak berantakan kalau Menteri Kominfo saja jadi menteri karena jasa mengorganisir pendukung.
Padahal dunia komunikasi dan informasi menjadi salah satu lapangan yang paling dinamis perkembangannya.
Kalau sang menteri logikanya sudah bodong, apalagi bawahan-bawahannya yang walaupun banyak yang lebih pintar tapi kepintaran itu tak ada gunanya jika berhadapan dengan kedudukan. Pengetahuan terpenting dalam birokrasi itu adalah tahu diri. Yang dibawah jangan mengkritik yang diatas, cukup ngedumel saja dalam hati.
BACA JUGA : Mesin Marketing
Perdana Menteri Jepang, Yukio Hatoyama yang baru memerintah selama delapan bulan mengundurkan diri karena gagal memenuhi janji politiknya. Salah satunya adalah memindahkan pangkalan militer Amerika Serikat di Jepang.
Kisah pengunduran diri seorang pejabat adalah biasa di Jepang.
Masyarakat Jepang dididik untuk punya kehormatan, harga diri dan malu.
Jangan harap kisah itu ada di Indonesia.
Apakah berarti kita lebih buruk dari Jepang?. Tidak juga.
Pejabat atau apapun di negeri kita jarang mau mengundurkan diri karena kita selalu menganggap kedudukan adalah sukses bukan tanggungjawab.
Nggak mungkin bukan seseorang akan mengingkari suksesnya?.
Apakah itu berarti pejabat kita tak punya harga diri, kehormatan dan rasa malu?. Sekali lagi tidak juga.
Jabatan itu amanah. Maka kalau ada kesalahan atau bahkan kekonyolan di lembaga atau instansi yang dipimpinnya maka itu salah pegawainya, salah bawahan-bawahannya. Atau bahkan salah negara karena anggarannya kurang.
Yang lebih parah lagi dia malah menyalahkan media. Pemberitaan media dianggap menyesatkan dan tidak mendidik.
Indonesia bukan Jepang, jadi jangan meminta Menteri Kominfo mengundurkan diri karena skandal peretasan data berbagai lembaga penting negara.
Kita justru lebih penting untuk berharap pada para peretas yang suka iseng itu. Jangan meretas untuk memeras, tapi retaslah data untuk membongkar kebusukan di negeri ini.
Coba retas aliran dana di PPATK, biar kita tahu siapa wakil rakyat yang suka main judi online.
Atau kemana para wakil rakyat mengalirkan uang, memberi transferan ke artis siapa, penyanyi dangdut mana atau membayar cicilan ladies-ladies yang mana.
Mungkin seru pula jika yang diretas adalah messenger para pejabat atau wakil rakyat. Biar kita tahu apa isi obrolan mereka, ha-hi-hu-nya dan pesekongkolan atau deal-deal bawah tanahnya.
Yakinlah yang begini ini bakal lebih heboh, bukan hanya di media tapi juga di tengah masyarakat.
Tapi jangan harap yang terbongkar akan mundur teratur.
Sebab seorang pejabat yang terperangkap korupsi sekalipun, jika sebelum masuk penjara mengadakan perpisahan di instansinya, niscaya akan mendapat sambutan perpisahan yang mengatakan “Kita kehilangan salah satu putra terbaik, karena difitnah atau ada yang tidak senang dengannya,”
Anjay bukan.
note : sumber gambar – LIPUTAN6








