KESAH.IDTahun 2023 Marc Marquez membuat kejutan dengan meninggalkan Honda untuk berpindah ke Gresini Racing, tim satelit Ducati. Dan saat seri Moto GP 2024 belum melewati separuh musim, Marc Marquez sudah menimbulkan kegemparan. Efek dari Ducati yang tak mau kehilangan dirinya membuat pergerakan pembalap untuk tahun 2025 nanti sudah terjadi jauh-jauh hari. Karena Marc, Ducati bukan hanya kehilangan pembalap-pembalap terbaik tetapi juga tim yang sudah 20 tahun bekerja sama sebagai tempat membibit dan mempersiapkan pembalap utama Ducati.

Usai kejayaan Marc Marquez di Moto GP terjeda karena cidera panjang ternyata kedudukannya sebagai sosok pembalap terkuat tak tergoyahkan.

Semenjak 2020, kursi juara dunia Moto GP diisi oleh Johan Mir, Fabio Quartararo dan Fancesco Bagnaia. Tapi Marc tetap difavoritkan menjadi juara.

Padahal come back-nya dari cidera tak mulus. Marc kehilangan sentuhannya bersama Honda. Motor yang membawanya merajai lintasan seperti melempem.

Marc Marquez kemudian melakukan perjudian, meninggalkan Honda untuk mencari tunggangan yang lebih kompetitif. Tentu saja motor dari pabrikan Eropa yang mempunyai potensi itu.

Namun tak ada pabrikan yang mau merekrut Marc Marquez. Kursi pembalap utama di Ducati, Aprilia dan KTM sudah terisi. Pembesar tim pabrikan juga tak mau berjudi, merekrut Marc Marquez yang baru sembuh dari cidera.

Memutus kontrak dengan Honda yang menjadikannya sebagai pembalap dengan bayaran termahal di Moto GP, Marc Marquez kemudian menyusul adiknya yang lebih dahulu bergabung dengan Gresini untuk menunggangi Ducati.

Marc Marquez tak peduli harus memperkuat tim satelit, yang penting motornya kompetitif walau ketinggalan satu tahun dengan motor yang dikendarai pembalap utama tim pabrikan Ducati.

Perpindahan dari Honda ke Gresini Racing menjadi perbincangan. Marc Marquez kemudian menjadi sorotan utama pemberitaan Moto GP. Dari sisi perhatian, Marc mampu menyedot seluruh perhatian terhadap Moto GP kepadanya.

Media tak bosan-bosannya memberitakan Marc Marquez, sampai-sampai mereka yang meraih kemenangan dari setiap seri Moto GP 2024 seperti tak diberi perhatian. Mata awak media selalu tertuju pada Marc Marquez.

Menaiki motor Ducati, Marc Marquez seperti kembali membuktikan potensinya. Meski belum merebut kemenangan, namun jumlah podium yang diraihnya menempatkan Marc Marquez sebagai pembalap Ducati GP23 terbaik. Marc hanya kalah dari Pecco dan Martin yang menunggangi Ducati GP 24.

Melihat perkembangan yang ditunjukkan oleh Marc Marquez, Ducati kemudian mulai meliriknya. Marc digadang-gadang tetap akan di Ducati dan bakal diberi tungangan motor terbaru pada seri 2025 nanti.

Belum juga separuh musim, pemberitaan Moto GP sudah mulai diisi oleh proyeksi-proyeksi 2025 nanti.

Pangkalnya adalah pertarungan 3 pembalap Ducati untuk memperebutkan kursi sebagai tandem Francesco Bagnaia pada seri Moto GP 2025 nanti.

Tentu saja kandidat terkuat adalah Jorge Martin yang dalam tiga tahun terakhir menunjukkan potensinya sebagai penantang para juara. Raihan poinnya di Moto GP 2024 juga meyakinkan karena Jorge memimpin klasemen kejuaraan.

Ducati membuat skenario untuk tetap mempertahankan Marc Marquez, Jorge Martin dan Enea Bastianini di tahun 2025 nanti.

Martin sudah memberi sinyal bahwa hanya kursi pabrikan yang menjadi opsinya. Sementara Marc Marquez ditenggarai hanya mengejar motor pabrikan atau motor dengan spek terbaru.

Ducati didesak untuk segera mengumumkan line up pembalapnya di tahun 2025, pabrikan lain sepertinya menunggu untuk menyusun pembalapnya setelah Ducati. Mereka juga menunggu siapa yang hendak dibuang oleh Ducati.

BACA JUGA : Air Karst

Ducati belum mengumumkan pembalapnya, namun sudah gempar duluan karena pengumuman dari Aprilia. Jorge Martin akan menjadi pembalap Aprilia pada tahun 2025 nanti.

Nampaknya skenario Ducati untuk tetap mempertahankan Jorge Martin dan Marc Marquez sekaligus gagal. Sepertinya Jorge Martin sudah diplot untuk menjadi rekan Francesco Bagnaia dan Marc Marquez akan dipindah dari Gresini ke Pramac Ducati yang mendapat jatah motor versi terbaru.

Hanya saja Marc Marquez nampaknya kurang setuju dengan skenario itu. Marc tidak mau pindah dari satu tim satelit ke tim satelit lainnya.

Penolakan Marc Marquez itulah yang membuat Ducati gundah. Ducati seperti tak ingin kehilangan Marc Marquez.

Mungkin ini yang dibaca oleh Jorge Martin sehingga mengambil langkah duluan, menyabet peluang yang diberikan oleh Aprilia. Jorga mungkin merasa seharusnya Ducati tak perlu gundah dan perlu waktu lebih lama lagi untuk memutuskan siapa pendamping Francesco Bagnaia. Karena pilihan itu mudah, yakni dirinya.

Namun karena Ducati ragu-ragu, Jorge Martin pun mengambil langkah drastis meninggalkan Ducati tahun depan.

Dan benar, Ducati kemudian memilih Marc Marquez untuk menjadi tandem Francesco Bagnaia.

Pilihan Ducati ini kemudian menjadi angin putting beliung. Pramac kemudian meninggalkan Ducati, mereka merasa kemitraan selama 20 tahun lebih sebagai tempat pembibitan pembalap Ducati tak dihargai.

Pembalap Pramac adalah masa depan Ducati namun tak dipilih.

Hengkangnya Pramac juga membuat Enea Bastianini mulai memikirkan masa depannya diluar Ducati. Enea memilih hengkang ke KTM karena ditawari untuk menaiki motor pabrikan. KTM tahun 2025 tidak membedakan antara tim pabrikan dan tim satelit. Empat pembalapnya akan diberi dukungan yang sama.

Marco Bezzecchi, pembalap Mooney VR46 Racing Team juga merasa peningkatan karir balapnya di Ducati menjadi gelap. Dia kemudian juga memilih untuk meninggalkan timnya untuk hengkang ke Aprilia menyusul Jorge Martin.

Entah apa yang ada dalam benak para petinggi Ducati saat memilih Marc Marquez untuk bertandem dengan Francesco Bagnaia. Daya tarik apa yang membuat Ducati abai pada prinsip dan filosofi yang dikembangkannya sendiri ketika menurunkan 8 motor dalam lintasan balapan.

Banyak yang menduga, alasan utamanya bukan soal balapan melainkan penjualan atau sisi komersil Ducati di pasar, terutama Asia.

Format balapan Moto GP seperti saat ini hanya akan berlangsung dua tahun lagi. Tahun 2027 regulasi akan berubah. Dan nampaknya Ducati yakin tak perlu pembalap yang jago balapan untuk menjadi pelapis Francesco Bagnaia. Yang diperlukan Ducati adalah pembalap yang bisa menaikkan penjualan motornya terutama di Asia.

Dan Marc Marquez adalah pilihan yang paling tepat. Bagaimanapun juga Marc adalah pembalap terbesar yang masih mengaspal. Pengemarnya banyak meski dibenci oleh para fans-nya Valentino Rossi.

BACA JUGA : Dibunuh Kebebasan

Bagaimanapun tujuan dari sebuah pabrikan adalah menjual motor sebanyak mungkin. Honda dan Yamaha mungkin tak mengalami masalah penjualan, walau pembalapnya keteteran di lintasan. Sementara Suzuki kemudian memilih meninggalkan Moto GP setahun setelah Johan Mir meraih gelar juara dunia, karena penjualannya merosot.

Ducati, dengan dua kali raihan juara dunia berturut-turut oleh Francesco Bagnaia ternyata tidak menghasilkan penjualan yang mengembirakan. Meski kerap menguasai lintasan, pembalap-pembalap Ducati seperti gagal melakukan branding dan marketing untuk merek tunggangannya.

Pembalap utama Ducati terlalu manis hingga tak membuahkan berita dan obrolan setelah balapan.

Lain halnya dengan Marc Marquez, setiap kali turun lintasan selalu ada cerita tentangnya.

Marc menarik perhatian karena cara mengendarai motornya. Di lintasan selalu ada drama-drama yang menyertai penampilannya.

Seri Moto GP 2024 ini harus diakui akan membosankan tanpa kehadiran Marc Marquez. Walau belum meraih kemenangan, namun Marc menyajikan sebuah balapan, bukan parade motor yang tidak saling terkejar.

Selintas seperti Ducati tengah berjudi karena memilih Marc Marquez. Namun sesungguhnya tidak. Sebab sampai dengan tahun 2026 nanti dipastikan posisi pembalap Ducati sebagai juara dunia sudah diamankan. Pengembangan motornya dalam jangka panjang juga tak diperlukan karena tahun 2027 nanti akan ada perubahan regulasi.

Maka Ducati tak mengalami kerugian apapun karena memilih Marc marquez. Ditinggalkan 3 pembalap potensialnya juga tak apa. Toh masih mudah bagi Ducati untuk mendapat pembalap terbaik, karena bagaimanapun juga motornya masih terbaik.

Sebagai investor pemilik merek tentu ingin penjualan meningkat. Dan Marc Marquez yang potensial untuk melakukannya. Selain itu Marc juga akan mampu melapis Francesco Bagnaia jika ada apa-apa.

Di luar itu, pada tahun 2027 nanti Moto GP akan dipangkas spesifikasi dan aerodinamikanya. Justru disitu Ducati membutuhkan banyak data untuk mempersiapkan motornya.

Dan Marc bisa menyediakan hal itu karena Marquez terkenal tangguh dengan motor protolan. Motor yang tak dilengkapi dengan ini itu agar semakin mudah dikendarai dan dipacu.

Lagi pula dengan menurunkan 6 pembalap di tahun 2025 nanti, Ducati masih menjadi tim dengan pembalap terbanyak di lintasan Moto GP.

Hengkangnya 3 pembalap dari Ducati bahkan akan membuat persaingan di Moto GP pada tahun 2025 makin seru. Moto GP tak lagi menjadi ajang Ducati Cup, karena sebaran pembalap yang berpotensi menang semakin luas.

note : sumber gambar – AKURASI