KESAH.ID – Sebagai kota yang tumbuh dan berkembang dari perjumpaan antar suku bangsa, sulit bagi Samarinda untuk mencari apa kekhasannya. Percampuran justru menjadi kekhasan bagi Kota Samarinda walau belum terkonstruksi dengan terang dan jelas. Namun jika mesti dipaksa, Ayam atau Bebek Ganja mungkin bisa disebut sebagai yang paling Samarinda untuk saat ini.
Lahir di Sukabumi, Philipus Joko Pinurbo atau lebih dikenal dengan nama Jokpin hingga wafatnya lekat dengan Yogjakarta.
Meski telah pergi, puisi Jokpin yang humoris, santai dan cair namun kerap berisi larik dengan susunan kata yang mengejutkan tetap abadi.
Dari antara deretan panjang puisi hasil pengkaryaannya salah satunya dibaptis ‘Yogya Sekali’.
Yogya terbuat dari rindu, pulang dan angkringan. Begitu penggalan sajak Jokpin yang dengan sangat tepat merepresentasikan apa yang ‘Paling Yogya’ di hati dan pikiran banyak orang.
Tanpa berpanjang-panjang, Joko Pinurbo berhasil meringkas beribu alasan yang membuat orang menyukai Yogyakarta, ingin datang, tinggal dan menikmati pengalaman di Yogya.
Tiga kata yakni, rindu, pulang dan angkringan adalah persembahan gratis serta manis dari Joko Pinurbo untuk branding Kota Yogyakarta.
Yogja beruntung punya Joko Pinurbo yang menjaga puisi agar tidak mati hingga dirinya tiada.
Puisi Jokpin terus meng-ada karena berhasil menangkap keramahan, kebersamaan dan kebersahajaan Yogyarta ditengah segala gemerlap kemajuannya yang bisa saja menelan puisi.
Tentang puisi tak perlu iri dengan Yogyakarta, toh setiap kota pasti punya hal palingnya sendiri.
Sudah lama saya dan teman-teman sepergaulan membincang Samarinda tapi sulit untuk menemukan hal yang paling Samarinda.
Mungkin memang sulit, tapi seorang teman yang tinggal di wilayah Kutai Kartanegara disisi perbatasan dengan Balikpapan bilang kalau ibunya selalu bertanya merindu pada Gabin dan Amplang Samarinda.
Amplang, saya setuju. Ketika mengenal Samarinda pertama kalinya yang masuk di rasa memang Kuku Macan, sebutan lainnya untuk Amplang.
Amplang memang enak karena waktu itu dibuat dari daging ikan pipih, ikan Mahakam.
Sekarang meski label amplang selalu disertai gambar ikan pipih tapi rata-rata amplang sudah berbahan ikan tenggiri, bahkan sudah ada yang dimodifikasi dengan bahan ikan bandeng atau rumput laut.
Pun dengan Gabin yang sudah digulung oleh Roti Gembong.
Samarinda memang dinamis, yang menetap adalah Mahakam.
Maka saya sebenarnya lebih cenderung untuk setuju yang paling Samarinda itu ya Mahakam terlebih airnya, RaMa atau Ranam Mahakam.
Dulu sempat berkembang kepercayaan bahwa siapa yang ke Samarinda dan meminum air Mahakam maka akan kembali ke Samarinda.
Dan menempatkan Mahakam sebagai yang paling Samarinda juga sesuai dengan slogan Samarinda sebagai Kota Tepian dalam arti yang sesungguhnya. Samarinda adalah kota yang berada di tepian aliran sungai.
Mestinya tiga jembatan yang membentang panjang diatas Sungai Mahakam, yakni Jembatan Mahakam Hulu, Jembatan Mahkota 1 dan Jembatan Mahkota 2 cukup untuk menegaskan hal itu.
Tapi hubungan antara Samarinda dan sungai tak selalu manis. Paska kemerdekaan, orientasi ruang Kota Samarinda berpindah, dari sungai ke daratan.
Daerah Aliran Sungai lama kelamaan menjadi kritis. Sungai meski menjadi sumber air baku utama untuk kebutuhan air bersih di Kota Samarinda, namun sering dinista oleh persepsi jorok warga.
BACA JUGA : Samarinda Kreatif
Kebanyakan orang akan sulit untuk menjawab dengan segera ketika ditanya “Apa yang paling Samarinda?”
Mirip ketika bocah-bocah dahulu diminta menjawab pertanyaan “Who am I”
Kesulitan ini bisa dipahami karena Samarinda adalah kota yang tumbuh dari perjumpaan berbagai macam suku bangsa.
Ada orang Kutai, Dayak, Banjar, Bugis, Jawa, Toraja, Timor, Batak, Minahasa, Madura, Thionghoa, Padang, Minang dan seterusnya. Masing-masing membawa kebudayaannya sendiri hingga kemudian menjadikan Samarinda berwarna.
Dari sisi arsitektur, corak ragam hias Dayak cukup kuat dan dengan mudah ditemukan diberbagai gedung pemerintahan maupun infrastruktur umum lainnya.
Sedangkan untuk wastra, akulturasi tenun sarung Bugis berkembang menjadi tenun sarung Samarinda. Pemerintah berupaya memperkuat identitas kain Samarinda ini, namun motifnya kemudian lebih sering dipakai untuk menghiasi gapura dan bahkan lantai pada area taman di Citra Niaga.
Batik memang tumbuh di Samarinda, ada beberapa pengrajin yang mengulik motif-motif khas Borneo. Tapi jarak dengan penghasil batik lainnya sangat jauh, harus dikejar dengan sangat keras. Terlebih hampir semua keperluan untuk membatik belum dihasilkan sendiri oleh para pengrajinnya.
Saya lupa persis namanya siapa, namun ada satu pembatik yang sudah sepuh usianya dari Samarinda yang melakukan lompatan kreatif. Pak Tua ini berhasil meng-hack malam untuk batik tulis dengan membuat ramuan sendiri dari bahan tepung. Agar seperti malam batik, adonan tepung untuk membatik itu diberi pewarna kunyit.
Kelebihan malam batik dari tepung ini adalah dingin, tidak perlu dicairkan dengan cara dipanaskan. Sehingga anak-anak yang ikut kursus atau mencoba ikut membatik tidak akan kepanasan atau melepuh jika terkena malam batiknya.
Aplikasinya juga jauh lebih mudah, tidak perlu canting. Bahkan bisa juga dipakai dengan memakai kuas sehingga lebih cepat untuk menutupi permukaan kainnya.
Walau begitu, batik tetap belum bisa menjadi paling Samarinda.
Ditengah geliat sektor pariwisata yang punya potensi menjadi paling Samarinda adalah destinasi wisata dan kuliner.
Samarinda punya potensi destinasi wisata air, bukan wisata air alami melainkan buatan yakni bekas-bekas lubang tambang yang sering disebut danau. Ada ratusan ‘danau’ tersebar di seluruh penjuru Samarinda.
Hanya saja wisata ini mungkin masih jadi kontroversi, terlebih dalam soal kepantasan dan keamanan lingkungannya. Banyak yang merasa lubang bekas tambang tak pantas dijadikan lokasi wisata karena bisa membuat penambang abai pada tanggungjawab memulihkan lingkungan bekas area pertambangannya.
Maka yang paling Samarinda mesti dikulik dari kuliner atau makan minum. Industri makan minum ini dalam beberapa tahun terakhir tumbuh pesat di Samarinda. Dalam kajian atas sumbangan ekonomi kreatif pada PDRB Kalimantan Timur, terbukti sektor usaha kuliner memberikan sumbangan besar. Terlebih industri makanan crunchy seperti krupuk, kripik dan rempeyek, serta roti kering.
Memang banyak yang skeptis, bahkan sinis atas potensi berkembangnya makanan dan minuman khas Kota Samarinda ditengah gempuran peradaban makan minum yang datang dari wilayah lainnya.
Apalagi yang sering diberitakan sebagai kuliner khas Samarinda yakni ayam cincane tak pernah terlihat wujudnya di warung, kedai, kios atau resto.
BACA JUGA : Ducati Pusing
Bersamaan dengan datangnya pandemi Covid 19, muncul berbagai macam trend makanan dan minuman di Kota Samarinda. Namun salah satu yang bertahan dan kemudian pantas disebut sebagai yang paling Samarinda adalah ayam ganja.
Menu ini hebat bukan karena ayam atau bebek gorengnya melainkan kondimennya yakni kangkung goreng dan sambal mangga.
Kangkung goreng meski mungkin terinspirasi oleh kol goreng, daun bayam goreng atau buncis goreng tetap saja mesti diacungi jempol. Ini adalah sebuah inovasi yang meski kecil tapi plot twist-nya besar, sebab kangkung selama ini di resto identik dengan cah atau oseng.
Saya memang tak melakukan penelitian yang dalam, meski begitu saya berani mengklaim kangkung goreng ini lahir di Samarinda.
Ayam atau Bebek Ganja menjadi paling Samarinda bukan hanya karena menjadi kegemaran orang Samarinda, atau enak dan lezat belaka melainkan karena dampak sosialnya yang besar.
Awalnya istilah ganja memang membuat tak nyaman, ada yang kemudian berusaha mengeliminasinya. Tapi kemudian tetap bertahan menjadi brand karena toh sama saja dengan istilah serupa seperti Oseng Mercon, Bakso Rudal, Rawon atau Mie Setan dan lain sebagainya. Itu hanya sebutan populer atau slank belaka.
Istilah itu kemudian diterima, Ayam atau Bebek Ganja sama sekali tak ada ganja-ganjanya, seperti Oseng Mercon yang tak ada merconnya namun meledak di mulut.
Efek sosial terbesar Ayam dan Bebek Ganja adalah kangkung menjadi sayur favorit orang Samarinda. Dan ini mengembirakan untuk petani sayur, terutama sayur kangkung. Kangkungnya menjadi laris manis, tak lagi layu karena tak laku dijual. Seperti sepeda motor matik seri terbaru yang sering indent, kangkungpun juga sering diindent oleh pedagang Ayam dan Bebek Ganja agar pelanggannya tak kecewa.
Konon karena saking populernya kangkung di Samarinda sampai-sampai menyebabkan inflasi. Inflasi karena kangkung barangkali baru terjadi satu kali di negeri ini, terjadi di Samarinda.
Pasalnya beberapa waktu terakhir ini Samarinda memang mendidih. Dan iklim atau cuaca seperti ini membuat kangkung menderita karena kangkung butuh air agar tumbuh sempurna.
Petani yang kesulitan air menjadi kesulitan bertanam kangkung dan kangkungpun jadi langka hingga harganya melonjak di pasaran.
Kangkung membuat petani sejahtera bukan isapan jempol. Saya punya seorang teman petani yang beberapa tahun terakhir ini punya spesialisasi kangkung. Konon penghasilannya satu bulan dari kangkung bisa berkali lipat dari gaji pokok seorang kepala daerah.
Hanya bedanya, petani tak mendapat tunjangan. Sementara kepala daerah mendapat berbagai tunjangan sehingga membuat pendapatanya berkali lipat dari gaji pokoknya. Kalau kepala daerah hanya memperoleh gaji pokok, niscaya tak ada yang mau maju untuk bertarung sebagai penguasa daerah.
Nah mau bertani kangkung atau mau jadi kepala daerah itu hanya sebuah pilihan. Tapi terbukti petani kangkung bisa berhasil membuat sumbangsih besar untuk Kota Samarinda lewat kolaboraya dengan pengkarya dan pedagang kuliner yang mengkreasi Ayam dan Bebek Ganja.
note : sumber foto – SUMBARPRO








