KESAH.IDSukses media sosial tak lepas dari naluri manusia yang cenderung suka disukai. Dan kemudian berbagai postingan berhambur di internet dengan tujuan menarik perhatian orang yang melihatnya. Yang disukai bukan hanya hal-hal baik, melainkan hal-hal buruk dan juga konyol. Trending, viral dan fyp kemudian menjadi tujuan.

Apa yang membuat media sosial menjadi salah satu platform tersukses di internet?

Suka atau tidak suka dibalik semua kode-kode pemrograman yang serba rumit, para pengembang aplikasi media sosial punya mantra yang tidak canggih-canggih amat.

Mereka paham, manusia di belahan bumi manapun punya kegemaran yang sama yakni suka disukai.

Bahwa orang juga suka makan, minum, seks dan lain-lain memang benar, tapi hal itu ada batasnya. Tapi soal rasa suka, sensasi senang karena disukai jelas tak terbaras, orang nggak akan bosan.

Dan media sosial menyediakan ruang bagi orang untuk disukai, lewat berbagai cara. Ada yang lewat teks, foto, video dan lainnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, berlaku untuk mendapat pujian sering dianggap tidak layak. Ada banyak istilah untuk menganggap hal semacam itu seperti sebutan caper atau cari perhatian.

Orang Manado misalnya menyebut orang-orang semacam itu sebagai ‘makang puji’.

Hambatan ini kemudian diatasi oleh aplikasi media sosial. Para pemakai media sosial mahfum melihat orang lain baik yang dikenal maupun tidak dikenal cari-cari perhatian, pamer, bikin drama dan lain-lain agar postingannya beroleh banyak like.

Kalau banyak yang suka maka postingan itu akan dibagi, semakin banyak yang membagi engagement-nya jadi tinggi.

Paparan yang tinggi itu disebut viral, atau kalau di Tik Tok dikenal dengan istilah FYP.

Mendapatkan banyak like saja tubuh sudah memproduksi hormon kesenangan, apalagi jadi viral, trending atau fyp.

Candu itu makin menjadi kuat karena penyedia aplikasi juga menyediakan rewards berupa uang lewat program monetisasi.

Mereka yang rajin posting, rajin bikin konten kemudian disebut sebagai content creator.

Yang bisa memberi rewards bukan hanya aplikasi melainkan juga entitas bisnis lainnya yang butuh promosi. Para content creator kemudian mendapat endorse dari produsen-produsen jasa atau barang. Popularitasnya dipakai oleh para produsen untuk mempengaruhi masyarakat.

Sepintas kehidupan content creator, selebritas di media sosial begitu menggoda. Lewat akun masing-masing masyarakat bisa stalking betapa enaknya hidup mereka. Bukan hanya bergelimang pujian tapi juga kenikmatan dan kesenangan karena banyak uang.

Semua kelebihan itu kemudian kembali dijadikan konten untuk mendulang pujian.

Kita semua tahu kalau yang lebih-lebih memang mudah untuk disukai, terlebih lagi kalau lebih-lebih uang.

Seperti pada pemilu, apa partainya menjadi tak penting sebab apapun partainya yang penting uangnya.

Politisi beruang adalah pemenang karena uang disukai oleh siapa saja. Maka kalau mau disukai oleh siapa saja, punyalah banyak uang.

BACA JUGA : Budak Beras

Bersamaan dengan pandemi Covid 19 dalam perbincangan publik kerap disebut istilah flexing. Pembatasan sosial dalam skala besar membuat banyak orang kemudian intens dengan internet termasuk di dalamnya sosial media.

Flexing adalah tindakan atau perilaku seseorang memamerkan kekayaan lewat postingan atau konten di sosial media.

Di sosial media bertebaran postingan saldo atm, tumpukan uang, piknik ke luar negeri, nginap di hotel mewah, makan di resto mahal, mobil mewah, outfit mahal, tabur duit dan hal-hal mewah lainnya.

Fenomena ini kemudian diperbincangkan karena tindakan pamer yang seolah menjadi wajar itu sebelumnya dianggap sebagai hal yang tak pantas, tabu.

Pamer kemudian dianggap umum dan mereka yang melakukan kemudian diberi gelar Crazy Rich atau Sultan. Ada beberapa selebritas sosial media kemudian digelari Crazy Rich Surabaya, Crazy Rich PIK, Sultan Andara dan banyak lagi.

Dibaptis sebagai Crazy Rich atau Sultan otomatis pengikut dan like, comment serta share di sosial medianya otomatis makin meningkat. Mereka kemudian menjadi influencer yang besar pengaruhnya.

Karena yang pamer-pamer banyak disukai, mode pamer kemudian menjadi konten, sengaja dibuat hingga apa yang ditampilkan adalah kepalsuan.

Misalnya belanja mobil mewah nggak pakai mikir, main tunjuk saja dan bayar. Padahal konten itu hasil collab antara penjual mobil dan influencer, mobilnya tidak benar-benar dibeli.

Netizen teperdaya, jiwa missqueen-nya meronta hingga menulis komentar “Sultan mah bebas,”

Yang tak punya kemampuan memang jadi insecure, padahal ingin pansos.

Jadilah barang-barang KW marak, memakai produk palsu bukan lagi kejahatan.

Fenomena Citayam Fashion Week kemudian mencuri perhatian. Rakyat jelata dari daerah pinggiran berhasil mengokupasi ruang publik di pusat perekonomian paling mentereng untuk ikut-ikutan arus mejeng pamer.

Ramai ketika diokupasi oleh sesame rakyat jelata namun kemudian buyar ketika influencer dan selebritas yang sudah bertabur endorsan mulai ikut-ikutan meramaikan. Yang rakjel kemudian kalah pamor karena outfitnya kalau buka KW ya hasil berburu di kios secondbrand.

Tapi Bonge dan kawan-kawan sempat menuai popularitas, kontennya mendapat banyak suka. Bonge pun tentu saja suka karena disukai banyak orang, diajak kolab sana-sini, berteman dengan orang-orang yang circle-nya tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Nobody kemudian menjadi some body lebih memungkinkan di media sosial ketimbang merantau ke negeri Paman Sam tempat yang diyakini sering menjadikan Impian jadi kenyataan.

Bahkan untuk go internasional tak perlu lagi meniru roadmap Agnes Monica yang menguras tabungannya untuk berkarya di Amerika Serikat sana. Tak usah kemana-mana, lewat media sosial orang bisa dikenal sampai manca negara.

Media sosial kemudian menjadi disukai oleh mereka yang suka disukai.

BACA JUGA : Air Kehidupan

Sebagai bagian dari revolusi industri, internet merubah banyak lanskap kehidupan secara global. Sebagai bagian dari Teknologi Informasi dan Komunikasi, internet semakin mendekatkan teknologi pada manusia, teknologi semakin terintegrasi dengan kehidupan.

Dan media sosial sebagai salah satu platform internet membuktikan klaim tentang teknologi yang mengerti manusia.

Ya media sosial adalah teknologi yang mengerti manusia karena menjawab dan memenuhi kebutuhan manusia akan rasa senang, gembira atau bahagia.

Media sosial meski tidak dicangkokkan dalam tubuh manusia ternyata bisa mempengaruhi manusia secara biologis. Sensasi dari media sosial mampu memicu  produksi hormon bahagia sekaligus juga hormon tantangan dalam diri pemakainya.

Cara kerja media sosial secara biologis mirip dengan narkoba. Bedanya narkoba mesti ditelan atau diinjeksi dalam tubuh untuk memicu hormon, sementara media sosial tidak. Jadi media sosial legal sementara mencari kesenangan dengan narkoba bisa berakhir di penjara.

Pengaruh media sosial secara biologis ini dimungkinkan karena media sosial dikembangkan dengan kesadaran akan cara kerja otak manusia. Meski sering dinasehati “Bersusah-susah dahulu baru senang kemudian,’, cara kerja otak manusia tidaklah demikian.

Otak manusia lebih memilih bersenang-senang tanpa bersusah-susah.

Dan media sosial bisa membuat orang senang tanpa susah-susah amat.

Dulu yang disebut konten kreator adalah mereka yang bikin konten di youtube, kini semua pemakai media sosial layak dan bahkan diharapkan menjadi konten kreator, platform media sosial sendiri tidak lagi menyebut pemakai sebagai user melainkan kreator.

Dan semua orang berlomba menjadi kreator, sebab kreasinya akan membuat orang disukai. Dan disukai oleh banyak orang maka kontennya berpotensi untuk di-monet. Konten disukai dan kemudian dimonetisasi menghasilkan dua kesukaan, suka rianya double.

Soal cara agar disukai masing-masing orang punya cara sendiri. Dari yang masuk akal sampai diluar nalar.

Maka tak perlu risau anda ada cara orang agar disukai ternyata menimbulkan rasa tidak suka bagi orang lainnya.

Contohnya seorang anak bikin konten memandikan orang tuanya dengan lumpur atau air dingin di dini hari dan lainnya. Kontennya ternyata FYP, komentar netizen meledak walau banyak komentar yang menyatakan tak menyukai.

Tapi banyak kreator tak risih dengan hatters, atau orang yang tak suka. Asal yang tak suka itu rajin memberi reaksi pada kontennya. Suka atau tidak suka bukan itu masalahnya, yang penting engagement-nya tinggi, di-react oleh banyak orang, viewernya banyak. Dan itu yang disukai oleh pemakai media sosial yang rajin bikin postingan.