KESAH.IDDalam lingkaran kehidupan, sebuah kehidupan bisa dikendalikan oleh kehidupan lain. Pertumbuhan mahkluk hidup yang satu dikendalikan oleh mahkluk hidup lainnya agar terjadi keseimbangan. Maka sebuah penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau kuman tertentu bisa dikendalikan dengan bakteri atau kuman lainnya yang merupakan predator atau pemangsanya. 

Selama sepuluh tahun terakhir trend malaria semakin mengalami penurunan, Indonesia diprediksi bisa bebas dari penyakit malaria pada tahun 2030.

Saya yang terlahir sebagai generasi tahun 70-an menyimpan alert dalam memori terhadap malaria. Ada semacam kekhawatiran yang otomatis muncul begitu hendak menginjak daerah tertentu yang dikenal sebagai kawasan endemik malaria.

Dulu untuk bepergian keluar daerah, utamanya keluar pulau mesti dilengkapi surat jalan. Selain itu sebelum pergi juga lebih dahulu menelan pil untuk mencegah malaria.

Obat malaria yang paling terkenal waktu itu adalah Pil Kina. Obat ini dibuat dari senyawa yang berasal dari kulit pohon Kina, tanaman perdu yang berasal dari Pegunungan Andes.

Rasanya pahit, sehingga memunculkan anggapan bahwa yang pahit-pahit cocok untuk penawar atau obat malaria. Makanya banyak orang yang mengkonsumsi rebusan atau sayur daun pepaya berharap bisa mencegah atau terbebas dari penularan malaria.

Saya dan teman-teman sepermainan waktu kecil pernah beranggapan bahwa Pil Kina dibuat dari biji buah Mahoni. Soalnya biji Mahoni pahit sekali.

Kena serangan Malaria memang nggak enak sama sekali. Panas dingin datang dan pergi, badan, perut dan mulut terasa tak karuan. Di saat matahari terik sekalipun badan bisa menggigil kedinginan.

Sewaktu tinggal di asrama saat masih kuliah di sebuah sekolah tinggi yang ada di Minahasa, saya cukup dekat dengan pengalaman malaria. Jika siang-siang ada teman yang memakai jaket tebal lalu lari-lari keliling lapangan, bisa dipastikan dia sedang bertempur melawan malaria.

Teman-teman dari Maluku umumnya percaya Malaria bisa dilawan dengan memompa keringat dari tubuh dengan cara berolah raga disiang bolong.

Serangan Malaria umumnya juga dialami oleh teman-teman seasrama alumni ‘Kuliah Kerja Nyata’ di Papua. Malarianya ganas, yang terkena bisa merancau. Jika dibawa ke rumah sakit kadang diikat pada tempat tidur karena sering memberontak. Tak sedikit yang berusaha memanjat dinding seperti Spiderman.

Daerah yang mempunyai hutan dan rawa-rawa memang sering menjadi wilayah endemik penyakit Malaria. Di daerah semacam ini nyamuk berlimpah. Dan Malaria ditularkan oleh gigitan nyamuk Anopheles betina  yang terinfeksi parasite plasmodium.

Parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk itu akan berkembang biak di organ hati dan kemudian menginfeksi sel darah merah.

Plasmodium sendiri ada beberapa macam jenisnya, sehingga gejala dan berat ringan serangannya bermacam-macam. Yang tergolong paling berbahaya adalah Plasmodium Falcifarum karena bisa menimbulkan berbagai macam komplikasi, kejang hingga koma. Kematian biasanya disebabkan oleh Malaria jenis ini.

Kini Malaria sudah menjadi penyakit yang jarang ditemui. Orang tak takut lagi pergi ke mana-mana. Bahkan di Kalimantan Timur, daerah yang dulu dikenal sebagai sarang Malaria kini telah diresmikan menjadi Ibu Kota Negara yang baru dari Indonesia.

Anak-anak generasi sekarang relatif bebas dari rasa khawatir terhadap Malaria, mereka lebih takut kepada malarindu karena tak punya pengalaman tidur didalam kelambu.

BACA JUGA : Otak Feodal 

Malaria boleh berkurang, namun obat nyamuk masih menjadi salah satu ‘obat’ yang paling terkenal dan tersedia di semua warung.

Nyamuk tetap menjadi masalah karena penyakit lain yang dibawa oleh nyamuk masih tetap ada dan serangannya kerap meledak dimana-mana. Kali ini bukan nyamuk Anopheles betina sang vektornya, melainkan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus.

Penyakit yang ditularkan lewat nyamuk ini adalah Chikungunya dan Demam Berdarah.

Chikungunya ditularkan oleh nyamuk yang terinfeksi oleh virus chikungunya. Gejalanya hampir sama dengan malaria, namun juga menyerang persendian. Penderitanya sering kali menderita ‘lumpuh’ sementara.

Gejala-gejala penyakitnya bisa dengan cepat diatasi jika segera dibawa ke dokter, namun nyeri sendinya kadang-kadang bisa bertahan cukup lama.

Sedangkan infeksi demam berdarah ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti betina yang membawa virus dengue.

Penyakit inilah yang kini populer karena hampir setiap tahun selalu menjadi wabah di Indonesia terutama pada saat musim penghujan.

Serangan Demam Berdarah Dengue meningkat pada musim penghujan karena banyak genangan yang kemudian menjadi tempat bersarangnya nyamuk.

Jumlah kasus yang tinggi dan beresiko menyebabkan kematian membuat pemerintah menjadi DBD sebagai salah satu prioritas untuk diatasi. Salah satu kampanye paling sederhana yang dilakukan oleh pemerintah adalah Gerakan 3 M {Menguras, Menutup, Mengubur}.

Sejak tahun lalu muncul terobosan dari pemerintah untuk mencegah penularan DBD lewat aplikasi bio teknologi. Diketahui bahwa bakteri Wolbachia yang lazim ditemukan pada sebagian besar serangga.

Dan sejauh ini bakteri Wolbachia tidak ditemukan menginfeksi manusia, pun vertebrata lainnya selain manusia.

Temuan dalam riset menyatakan nyamuk aedes jantan yang mempunyai Wolbachia ketika mengawini nyamuk betina ternyata telurnya tidak menetas. Dan nyamuk jantan yang tidak membawa bakteri ini kemudian kawin dengan nyamuk betina yang membawa bakteri ini telurnya akan menetas dengan keturunan yang membawa bakteri ini.

Kabar baiknya ternyata bakteri Wolbachia ini bisa menekan virulensi dari virus dengue.

Fakta ini yang kemudian menjadi dasar untuk menerapkan bio teknologi untuk menghambat perkembangan virus dengue dalam komunitas nyamuk aedes di wilayah tertentu.

Hasil riset ini kemudian diterapkan atau dilakukan ujicoba lapangan. Sebagai percontohan dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tim peneliti dari Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gajah Mada menyebutkan Aedes Aegypti yang ber-wolbachia mampu menurunkan 77 persen kejadian dan 86 persen rawat inap di Rumah Sakit akibat dengue.

Keberhasilan ini memndorong pemerintah untuk memperluas penyebaran nyamuk Aedes Aegypti jantan dengan Wolbachia di daerah-daerah lainnya.

BACA JUGA : Presiden Kecap 

Rencana ini kemudian menimbulkan kontroversi, pro dan kontra. Berisik di media sosial timbul karena masing-masing punya buzzer dan influencer.

Padahal adalah hal biasa saja dalam realita dunia sebuah kehidupan digunakan untuk melawan kehidupan lainnya.

Kita mengenal istilah predasi, dimana satu jenis kehidupan {predator} berfungsi mengendalikan kehidupan lainnya dengan cara menjadikan makanan. Begitu kehilangan predator kehidupan yang tidak terkendali itu akan dianggap hama atau bencana.

Ambil contoh memelihara kucing. Banyak yang beranggapan dengan memelihara kucing maka tikus dirumah akan berkurang, karena kucing dianggap akan selalu memburu tikus seperti di film-film kartun.

Nyatanya dengan semakin sejahteranya kucing, lama kelamaan kucing malas mengejar tikus. Kalaupun kemudian kucing tergerak untuk menangkap tikus, tujuannya bukan untuk dimakan tetapi untuk mainan.

Rasanya sekarang ini sulit menemukan kucing lapar sehingga akan berburu tikus. Bahkan kucing liarpun mudah mendapat makanan karena ada ‘pasukan peduli’ yang kemana-mana membawa makanan kucing.

Nah bahwa Wolbachia bisa menekan virulensi virus dengue memang sudah terbukti tapi apakah setinggi yang diklaim oleh para peneliti di Yogyakarta mungkin perlu diteliti lebih lanjut.

Ada banyak variabel lain yang perlu didalami, termasuk kenyataan bahwa ujicoba di Yogyakarta itu dilakukan ketika sedang terjadi pandemi Covid 19, dimana banyak angka presentasi dalam hal apapun turun drastis.

Tapi sekali lagi cara mengatasi permasalahan lewat predasi sebenarnya bukan cara asing. Sejarah dalam dunia pertanian mencatat hal ini. Salah satunya adalah pembiakan belalang untuk memakan wereng.

Hanya saja wereng itu ada dimana-mana sehingga pelepasan predatornya ternyata kurang efektif. Hama wereng kemudian bisa diatasi ketika ditemukan padi varietas unggul tahan wereng.

Maka kasus nyamuk ‘Wolbachia’ ini juga sama, sebab nyamuk aedes ada dimana-mana jadi dibutuhkan pembiakan besar-besaran untuk nyamuk jantan ber-wolbachia untuk kemudian dilakukan pelepasan secara serentak agar efektif.

Pertanyaannya, mampukah kita?.

Kalau mampu lakukan, tapi kalau tidak ya sudah jangan terlalu melakukan klaim yang berlebihan. Bahwa ada bukti soal efektifitas memang tak perlu disangkal, namun bukti itu masih sangat terbatas, jika baru meliputi satu desa atau satu kecamatan untuk mengklaim keberhasilan bagi seluruh Indonesia.

Dan ingat soal gerakan-gerakan terutama yang di-launching oleh pemerintah biasanya hanya hangat-hangat tahi kerbau.