KESAH.IDDebat capres dan cawapres Indonesia tentu saja memakai bahasa Indonesia. Sebab masyarakat Indonesia mayoritas berkomunikasi dalam bahasa Indonesia sehingga lebih mudah mengerti jika segala sesuatu disampaikan dalam bahasa Indonesia. Tapi dalam debat memang ada trik untuk mengalahkan lawan dengan memakai istilah asing. Pemakaian itu mungkin tak terhindarkan karena ada beberapa terminologi yang belum ada bahasa Indonesianya. Tapi memakai istilah asing tanpa menjelaskan konteksnya dan membuat lawan gelagapan hanya akan menyenangkan pendukung tapi tak mendidik masyarakat pemilih untuk kemudian paham dan mengerti isu penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ke depan.

Ijo royo-royo, toto titi tentrem karto raharjo, gemah ripah loh jinawi, sedemikian menghijau, tidak ada yang berbuat merugikan orang lain karena selalu rukun sehingga keadaan menjadi subur makmur, yang berdagang tidak ada putusnya, yang bertani selalu berhasil ibarat menanam pohon pisang akan berbuah selendang emas.

Pepatah diatas secara ringkas mengambarkan apa yang diajarkan kepada saya tentang Indonesia di masa kecil dulu. Indonesia dalam bayangan saya adalah negara dengan wilayah yang luas, penduduk yang banyak namun karena potensi alamnya yang besar akan membuat negaranya tentram dan makmur.

Hanya saja pada akhirnya ketika mulai bisa berpikir kritis, apa yang diungkapkan dalam peribahasa, lagu-lagu, pidato pejabat, penjelasan para guru, sebagian terasa sebagai sebuah glorifikasi.

Ijo royo-royo, yang artinya sedemikian menghijau merefleksikan Indonesia yang sebagian besar wilayahnya tertutup hujan dan subur. Tapi apa yang terjadi, hutan sebagai sumber kesuburan, justru terus dikonversi. Laju deforestasi belum tertahankan sampai sekarang dan sebagian besar lahan kehilangan kesuburan alamiahnya.

Sialnya sampai sekarang para pemimpin dan calon pemimpin belum juga sadar untuk terus mengumbar potensi guna meninabobokan rakyat dan menarik simpati pemilih.

Dalama debat kedua cawapres yang akan mengikuti kontestasi pemilu 2024, Gibran Rakabuming Raka misalnya atas salah satu cara masih mengumbar peribahasa ‘Ijo royo-royo, toto titi tentrem karto raharjo, gemah ripah loh jinawi,”

Gibran “Samsul” merupakan sosok yang dianggap mewakili orang muda, generasi produktif yang dipanen dari bonus demografi Indonesia. Generasi emas yang dianggap akan mengantar menuju Indonesia Emas.

Gemar memakai istilah terkini, istilah jaman now, Gibran yang gemar menyebut hilirisasi, UMKM, pengusaha lokal dan ekonomi kreatif nyatanya tidak se-out off the box dalam pemaparannya.

Sadar atau tidak dalam urusan pangan misalnya, Gibran mengulang kembali mantra sakti Presiden Suharto, ektensifikasi dan intensifikasi. Gibran juga berulang kali menyebut pupuk adalah kunci.

Pupuk yang dimaksudkan adalah pupuk sintetik, pupuk fabrikasi yang dalam satu contohnya dijelaskan akan dibangun dimana-mana, termasuk yang baru diresmikan di Papua.

Padahal dalam konteks lahan, terutama lahan untuk tanaman pangan permasalahan terkait dengan produktifitas justru disebabkan oleh dampak pemakaian pupuk sintetik sejak jaman revolusi hijau Suharto.

Pupuk sintetik yang pada jaman Suharto mampu meningkatkan produksi pangan hingga Indonesia swasembada beras, bertahun kemudian justru ‘mematikan’ tanah. Produktifitas lahan menurun karena unsur hara dalam tanah hilang, tanah atau lahan pertanian kita menjadi lahan kritis.

Dan bagaimana memulihkan kesuburan tanah, kekayaan unsur hara tanah atau pembenahan tanah sama sekali tidak dijelaskan. Sehingga seolah kita kekurangan lahan untuk bercocok tanam sehingga perlu membuka lahan baru {ektensifikasi}. Yang artinya mengkonversi lahan hutan menjadi lahan pertanian.

Dalam pengalaman saya beberapa bulan terakhir di Samarinda, ternyata banyak lahan pertanian dibiarkan karena produktifitas lahannya menurun, dipupuk sebanyak apapun hasilnya tak akan maksimal, karena tanahnya mati.

BACA JUGA : Mereka Yang Hilang Kalau Mati Dimana Makamnya

Kenapa saya menyebut Gibran, karena dia yang paling muda, paling mewakili generasi out of the box, namun sayang generasi now ini tetap saja sama seperti katak dalam tempurung, ngomong tentang masa depan dengan contoh masa lampau yang belum diuji benar validitasnya.

Probem utama dalam pemanfaatan semua keunggulan komparatif Indonesia entah sumber alam, luas wilayah, jumlah penduduk dan lainnya tetap bercorak ekploitatif, ekstraktif. Monetisasinya pada jalan tunggal, keruk, olah dan jual.

Paradigma seperti ini bukan hanya khas kepala Gibran, melainkan juga ada dalam kepala calon atau pasangan calon lainnya.

Maka benar apa yang disampaikan oleh Cak Imin, bahwa kepala pemerintah itu berpikir soal kebijakan saat menghadapi pertanyaan Gibran yang memakai teknik tricky dalam debat dengan pemakaian istilah terkini yang pada dasarnya belum baku atau masih menjadi perdebatan juga di kalangan ahli-ahlinya.

Saya yakin jika dalam debat capres-cawapres ada tema esport atau gaming, calon-calon lain akan dibuat kelihatan tolol oleh Gibran.

Ketika Gibran menyebut greenflation, mungkin cawapres lain dan sebagian hadirin yang berada dalam ruang debat termasuk para pendukung Gibran mungkin lebih mendengar sebagai greenfashion.

Alih-alih menangkap dalam konteks transisi energi, istilah yang disampaikan oleh Gibran mungkin lebih dianggap berhubungan dengan gaya hidup hijau atau ekonomi hijau.

Saat diminta oleh moderator memberi konteks, Gibran menjelaskan dengan singkat sebagai inflasi hijau namun tidak memberi konteks, infalasi hijau bukan definisi tapi terjemahan.

Tapi memang begitu konteks debat politik terutama untuk politik elektoral. Peserta debat tidak sungguh-sungguh ingin tahu apa rencana, paradigma atau visi misi calon lainnya terhadap persoalan tertentu yang dihadapi bangsa ini, melainkan cenderung untuk mempermalukan dan mengalahkan calon lainnya dengan cara membuat tidak bisa menjawab.

Berdasarkan tema debat, sebenarnya istilah greenflation memang tepat untuk dielaborasi. Karena istilah ini memang berhubungan erat dengan salah satu temanya yakni transisi energi.

Isu transisi energi adalah isu hot saat ini, isu global sekaligus tantangan bersama se dunia.

Pemerintah di berbagai belahan dunia selama ini berupaya menstabilkan ekonomi dengan basis energi fossil. Namun dampak pemakaian energi fosil ternyata buruk karena energi fosil terbatas sehinga menimbulkan volatilitas harga dan cenderung naik terus secara berkala.

Fossilflation atau inflasi karena pemakaian energi fosil menjadi masalah yang akut. Selain mulai kekurangan pasokan, perang atau konflik di negara penghasil dengan mudah memicu inflasi. Ambil contoh perang antara Rusia lawan Ukraina yang kemudian menyebabkan inflasi di Eropa hingga mencapai 50 persen.

Inflasi di Indonesia umumnya juga bernuansa fossilflation semenjak terjadi perubahan status dari negara penghasil minyak bumi menjadi negara pengekpor minyak bumi. Kenaikan harga minyak bumi yang tiba-tiba akan selalu menimbulkan masalah karena menyebabkan kenaikan ongkos produksi yang berimbas pada kenaikan harga barang dan jasa.

Imbas lain dari pemakaian energi fosil yang tidak terkendali adalah climateflation. Energi fosil akan menghasilkan emisi, mulai dari penambangan, pengolahan hingga konsumsinya. Emisi yang kemudian akan mempengaruhi iklim dalam jangka panjang yang kini kita namakan sebagai fenomena pemanasan global.

Iklim menjadi tidak seimbang dan berubah sehingga menghasilkan bencana, sebut saja bencana iklim.

Bencana iklim ini kemudian mempengaruhi produksi, salah satunya adalah pangan. Karena bencana banjir, kekeringan dan lainnya hasil panen merosot atau gagal sehingga menimbulkan gejolak harga, terjadi inflasi harga pangan.

Kenaikan ini berdampak buruk untuk masyarakat terutama kelompok masyarakat kebanyakan. Jika sebagian besar pendapatan masyarakat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangannya niscaya kebutuhan lain untuk meningkatkan kualitas kehidupan menjadi tak bisa dipenuhi.

Refleksi bersama masyarakat dan pemerintah satu dunia menyepakati bahwa ketergantungan atau kecanduan pemakaian energi fossil mesti dikurangi secara signifikan. Dunia mesti bersepakat dan bersegera melakukan transisi energi, dari energi fossil ke energi hijau, energi yang terbarukan dan berkelanjutan.

BACA JUGA : Mendambakan Kota Yang Ideal 

Dalam debat terakhir cawapres, ada satu sosok panelis atau ahli yang relate dengan istilah greenflation yang disampaikan oleh Gibran. Namun hampir 12 jam setelah debat saya tidak menemukan satu pernyataan pun dari Fabby Tumiwa dari Institute For Essential Reform memberi pencerahan tentang hal itu.

Ketika memberi tanggapan atas pertanyaannya pada Mahfud MD, Gibran menunjukkan gesture mencari-cari sesuatu dan kemudian mengatakan “Saya lagi cari-cari jawabannya Prof Mahfud. Saya cari dimana ini, kok enggak ketemu. Saya tanya inflasi hijau kok jawabannya ekonomi hijau,”

Sebetulnya wajar saja Profesir Mahfud nggak ngeh, soal inflasi hijau. Dia kan profesor hukum. Jadi jangan dikira kalau sudah profesor itu tahu semuanya. Profesor itu spesialis, bukan generalis. Kalau yang tahu segalanya itu Prov, provokator seperti Rocky Gerung.

Tapi sudahlah itu kan teknik debat, delivery-nya tergantung masing-masing.

Lalu apakah tanggapan Gibran juga tepat ketika memberi contoh greenflation dengan Demo Rompi Kuning Perancis?.

Entahlah, yang jelas demo di Perancis itu berkaitan dengan rencana kenaikan pajak bahan bakar untuk pengembangan energi bersih.

Masyarakat tidak sepakat dengan rencana kenaikan itu karena kenaikan pajak itu tidak sepadan dengan kenaikan kualitas hidup.

Baik jawaban Mahfud maupun tanggapan Gibran keduanya memang punya hubungan dengan greenflation walau tidak clear and cut.

Greenflation adalah resiko atau potensi kenaikan harga dalam jangka tertentu atas produk atau jasa karena transisi energi.

Mudahnya bisa jadi kita akan menghadapi inflasi harga jagung, ketela pohon atau minyak goreng karena jagung, ketela pohon dan kelapa sawit akan dijadikan bahan utama bio fuel.

Bahan pangan ini kemudian akan terserap untuk industri energi hijau, sehingga sebagai bahan pangan kemudian akan langka di pasaran hingga kemudian pasokan dan kebutuhan tidak seimbang sehingga naik harganya.

Dalam konteks lain misalnya industri, perusahaan yang menerapkan transisi energi akan melakukan investasi baru untuk menghasilkan barang atau jasa. Dengan demikian barang dan jasa dalam masa tertentu akan lebih mahal dibandingkan barang serupa sebelumnya.

Mobil Tesla misalnya harganya mahal sekali dibanding dengan mobil sekelasnya. Juga mobil EV Wuling yang munggil itu. Kenapa mahal, karena biaya produksinya tinggi sementara jumlah pembelinya masih sedikit. Pembeli harus menanggung bukan hanya ongkos produksi melainkan juga investasi perusahaan.

Pun bagi konsumen, membeli mobil listrik walau bisa mengurangi biaya bahan bakar namun masih menanggung beban ongkos lain yang mungkin lebih tinggi dari mobil berbahan bakar minyak. Ongkos pemeliharaannya tinggi, pemakaian juga belum praktis karena tidak bisa dipakai jarak jauh, terancam mogok di jalan dan tidak ada stasiun pengisian listrik, sulit ganti onderdil karena layanan purna jualnya terbatas dan lain-lain.

Itulah penjelasan sederhana tentang inflasi hijau, nilai harga lebih yang mesti dibayar atau ditanggung produsen dan konsumen karena penerapan transisi energi dari energi mainstream {fosil} ke energi hijau {bio, panas matahari, angin, panas bumi, dll}.

Transisi energi memang tak terhindarkan namun tugas pemerintah, kepala negara dan pemerintahan yang utama adalah memastikan agar dampaknya tidak memberatkan masyarakat terutama masyarakat kecil karena harus menanggung beban hidup yang lebih besar.

note : sumber gambar – WORLDBANK.ORG