KESAH.ID – Berlawanan dengan pendapat umum yang mengatakan model pertanian rotasi atau ladang berpindah sebagai ketinggalan karena minim peralatan dan pengolahan tanah, ternyata apa yang dilakukan oleh masyarakat tradisional terbukti positif untuk memelihara daya dukung lahan. Kini metode itu diimplementasikan dalam budidaya Tanpa Olah Tanah. Teknologi alat pertanian kemudian dimodifikasi agar pemakaiannya tidak membunuh atau menganggu mikroorganizer dan mulsa di lahan.
Tak jauh dari belakang rumah bapak dan ibu saya terhampar sawah yang luas, begitu membuka pintu belakang akan nampak dari sela-sela pohon kelapa pemandangan hijau dengan latar belakang gunung entah Merapi atau Sumbing.
Karena dekat dengan sawah maka saya sering bermain-main di sawah, terutama saat musim penghujan. Ketika akan bertanam, sebagian petani yang kuat akan mencangkul lahannya untuk membalik tanah dengan pacul. Tapi yang tak cukup kuat atau yang punya cukup uang akan meminta jasa tukang bajak sawah.
Waktu itu traktor belum lazim, membajak atau me-luku sawah dilakukan dengan bantuan ternak, bisa kerbau bisa juga sapi. Biasanya saat me-luku kami boleh naik di garpu atau penggaruk yang ditarik oleh sapi atau kerbau.
Meski tak bisa dipacu seperti balapan, namun buat saya dan teman-teman baik luku sudah cukup untuk membawa imajinasi pada kereta kuda yang dipakai untuk perang pada jaman Romawi.
Ketika sawah sudah di-luku, pada malam harinya saya dan teman-teman sering nyuluh, mencari belut dengan bekal lampu oncor/suluh yang terbuat dari bambu. Belut yang licin itu akan kami tebas dengan pedang tumpul yang terbuat dari batang fork sepeda yang digepengkan.
Setelah ditanami tentu kami tak bisa menyuluh lagi karena akan dimarahi oleh yang punya sawah, bibit padi terinjak-injak. Kalau sawah mulai ditanami maka kami akan memancing Belut dengan senar yang terbuat dari pilinan tali rafia, sedangkan pancingnya dibuat dari peniti. Umpan yang dipakai adalah percil atau kodok kecil, bukan cebong.
Selain mancing belut biasanya kami juga akan nyeser, menangkap ikan dibawah grojokan air. Biasanya dibawah grojokan akan ada cebakan yang cukup besar untuk diserok dengan seser. Kalau beruntung kami akan dapat ikan betik, lele, sepat, ikan gabus dan lainnya. Tapi terkadang yang kami terperangkap di seser adalah ular sawah.
Setelah padi dipanen dan sawahnya masih ada genangan air, biasanya pengembala bebek akan membawa rombongan ternaknya ke sawah. Bebek di-angon ke sawah agar bisa makan kerang-kerangan dan sisa-sisa bulir padi yang jatuh. Biasanya akan ada beberapa bebek betina yang bertelur, setelah bebek mentas dan digiring lagi ke kandangnya oleh pengembala, kamipun bergegas ke sawah mencari tahu kalau ada telur yang tertinggal.
Padi biasanya dipanen menjelang musim kemarau, sehingga setelah dipanen sawah biasanya akan mengering. Sebelum benar-benar kering biasanya petani akan menanam palawija, seperti kacang atau kedelai. Namun ada juga yang akan menanami dengan tembakau.
Desa tempat saya tinggal bernama Cangkrep, konon merupakan singkatan dari Kacang Kerep yang artinya sering menanam kacang atau kalau menanam kacang jaraknya berdekatan.
Ketimbang kedelai atau tembakau, saya dan teman-teman lebih senang kalau sawah ditanami kacang tanah, sebab kami bisa nyolong. Biji kacang tanah yang baru dicabut terasa enak dimakan mentah-mentah.
Nanti setelah dipanen, kami juga bisa dukir-dukir atau menggali di bekas cabutan untuk mengambil kacang tanah yang tertinggal. Jumlahnya cukup banyak, lumayan bisa direbus.
Bertanam kacang tanah cukup menguntungkan untuk petani, karena yang bisa dijual bukan hanya kacang tetapi juga daunnya. Rendeng atau daun kacang tanah biasanya akan dibeli oleh Tukang Dokar, untuk campuran makan kudanya.
Setelah panen palawija akan memasuki puncak musim kemarau, tanah persawahan akan dibiarkan. Sebelum pecah-pecah bisa kami kami manfaatkan untuk bermain sepakbola atau permainan lainnya yang butuh tanah lapang.
Setelah itu sawah yang biasanya hanya akan ditumbuhi krokot, cimplukan dan lainnya akan pecah-pecah. Tanah yang pecah-pecah menjadi pertanda saatnya kami akan mencari jangkerik di sela-sela tanah. Bunyi jangkerik akan menjadi hiburan kami di malam hari.
BACA JUGA : Yang Menkhawatirkan Di Pemilu 2024
Meski secara umum model bercocok tanam yang diterapkan oleh petani di desa tempat tinggal saya masih seperti itu, namun seiring dengan waktu ada beberapa hal yang berbeda.
Revolusi hijau yang dicanangkan oleh Presiden Suharto ditindaklanjuti dengan pembangunan waduk, bendungan dan lain-lain untuk keperluan irigasi. Pemerintah waktu itu berusaha agar petani bisa menanam padi 3 kali setahun. Menanam padi terus menerus dengan dukungan infrastruktur pengairan.
Jenis padi yang ditanam juga berbeda, jika sebelumnya adalah varietas lokal yang dipetik dengan ani-ani, kemudian diganti dengan padi genjah, padi pendek yang umurnya juga lebih pendek namun hasilnya lebih banyak.
Padi itu dikenal dengan nama IR.
Program penanaman padi IR disebut sebagai intensifikasi pertanian. Yang ditanam bibit unggul dan kemudian diberi asupan pupuk sintetik. Sayapun mulai mengenal sebutan pupuk seperti urea, npk dan lain-lain.
Intesifikasi ini merubah budaya dan tradisi bertanam, setelah ditanami padi IR tidak ada lagi ‘ritual’ di sawah. Wiwitan hilang, begitu juga nderep atau panen secara gotong royong dimana nanti yang ikut memanen mendapat bagian.
Begitu sawah ditanami padi IR, panen dilakukan secara borongan. Ada spesialis penyedia jasa untuk panen yang akan membawa mesin perontok padi. Sebab padi dipanen dengan cara dipotong batangnya bukan lagi dipetik per tangkai buahnya.
Hama padi juga berubah, kalau biasanya padi diserang Walang Sangit, hama yang paling rajin menyerang padi IR adalah Wereng, ada Wereng Hijau dan Wereng Coklat yang susah dibasmi.
Petanipun kemudian mulai mengenal insektisida, memakai racun pembunuh hama dan kemudian juga herbisida, racun pembunuh rumput-rumputan dan gulma lainnya.
Dengan pemakaian berbagai macam racun itu perlahan-lahan belut dan jenis ikan lainnya menghilang. Ular juga mulai jarang terlihat hingga kemudian sawah kerap diserang oleh tikus.
Kamipun mulai jarang memancing belut, nyuluh dan nyeser. Bermain disawah juga jarang karena sawah kemudian dibajak atau di-luku dengan traktor dan rotary.
Wajah sawah berubah, galengan atau pematang menjadi semakin sempit, hingga tak leluasa lagi berjalan diantara dua petak sawah.
Karena kebutuhan air makin banyak karena semua menanam padi pada waktu yang bersamaan, terkadang muncul konflik karena kebutuhan air. Tak sedikit petani yang berkelahi karena berebut air pada saat-saat tertentu.
Dari berbagai catatan dinyatakan bahwa revolusi hijau ala Suharto disebut berhasil. Indonesia sempat mencapai swasembada beras. Namun intensifikasi tanam ala Suharto yang baik pada jamannya itu ternyata membuat kualitas lahan makin lama makin memburuk.
Sawah yang terkikis terus menerus oleh aliran air semakin miskin hara atau material organik yang mendukung keberlanjutan lahan.
Dengan logika sederhana semakin pupuk semakin banyak hasil, praktek pemberian pupuk sintetis dan pemakaian pestisida serta herbisida yang ugal-ugalan membuat lahan semakin kehilangan daya dukungnya.
Ditambah lagi dengan perubahan iklim, siklus kemarau dan hujan yang makin tak teratur membuat petani lebih sering tertimpa bencana, ketimbang bersuka karena memanen hasil yang berlimpah.
BACA JUGA : Mereka Yang Pingin Banget Jadi Presiden
Tak sengaja saya mendapatkan rekomandasi tentang pertanian di Jerman pada halaman youtube. Dalam video itu ditunjukkan bagaimana petani di Jerman melakukan adaptasi pada perubahan iklim. Nampaknya masalah petani di Jerman dan di Indonesia sama saja karena perubahan iklim memang merupakan fenomena global.
Digambarkan dalam video itu lahan pertanian yang sering dihantam banjir dan kekeringan yang panjang. Maka persoalannya adalah manajemen air dan kesuburan lahan.
Banjir akan mengikis lahan pertanian dan mengerosi permukaan tanah sehingga meninggalkan lahan yang miskin hara. Dan model pertanian yang mengutamakan penggunaan pupuk sintetik serta pertisida dan herbisida akan semakin membuat lahan miskin kesuburan.
Petani di Jerman kemudian mulai melakukan adaptasi pada perubahan iklim dengan mempraktekkan pertanian yang meminimalisir penggunaan penyubur atau pembasmi hama sintetik. Dalam pengolahan tanah mereka kemudian mempraktekkan budidaya Tanpa Olah Tanah {TOT}.
Tanah yang akan ditanami kembali setelah panen tidak lagi dibajak, atau dibalik. Karena pembalikan tanah akan membuat permukaan tanah yang terpapar sinar matahari langsung makin tebal, yang juga berdampak pada penguapan air yang makin cepat.
Lahan yang akan ditanami hanya dibuat alur pada area yang akan ditebari bibit, bukan dengan bajak tapi pengembur tanah yang lebih tipis atau rotari. Bekas-bekas tanaman sebelumnya dibiarkan agar menjadi mulsa, lapisan organik diatas permukaan tanah sehingga kelembaban tanah terjaga, bekas perakaran yang terdekomposisi juga akan membantu penyerapan tanah saat hujan.
Adaptasi Tanpa Olah Tanah ini diikuti dengan perubahan mesin pertanian. Mesin untuk mengemburkan lahan, menebar benih, memanen dan lainnya dirubah. Seperti roda alat untuk panen kemudian diperlebar agar tekanan pada tanah berkurang sehingga tidak membunuh cacing yang ada dalam tanah.
Keberadaan cacing di dalam tanah penting karena lubang-lubang di dalam tanah yang dibuat olehnya bisa menjadi alur untuk membantu peresapan air waktu hujan dan sekresi atau kotoran cacing akan menjadi pupuk atau penyubur tanah.
Melihat video itu, saya jadi teringat pada kisah tentang pertanian masyarakat tradisional Kalimantan di masa lampau. Baik di lingkungan lahan kering yang disebut dengan pertanian rotasi, atau di lahan basah yang disebut sebagai pertanian pasang surut.
Kedua model pertanian ini tidak dilakukan Tanpa Olah Tanah, petani tradisional Kalimantan tidak mengenal cangkul, untuk menanam hanya digunakan tongkat kayu yang ujungnya dibuat runcing, semacam tombak yang disebut tugal.
Petani atau peladang hanya mengandalkan kesuburan alam, material terdekomposisi yang telah menjadi humus pada lantai hutan yang dibuka. Sementara di lahan basah, kesuburan berasal dari material organik yang dibawa oleh air permukaan yang kemudian mengendap dalam lumpur saat air surut.
Maka benar model pertanian rotasi atau lebih dikenal dengan ladang berpindah dan pasang surut adalah puncak dari peradaban Kalimantan, teknologi dan pengetahuan pertaniannya paripurna karena berkelanjutan.
Seperti halnya di Jerman dimana petani melakukan mitigasi terhadap perubahan iklim, di Kalimantan Timur juga mulai ada kecenderungan dari beberapa kelompok petani untuk mempraktekkan budidaya Tanpa Olah Tanah.
Entah dengan kesadaran memeilihara pengetahuan jenius dari nenek moyang atau tidak, namun praktek pertanian Tanpa Olah Tanah yang mulai berkembang tetap bernilai positif karena para petani mulai sadar terhadap lahannya yang bermasalah sehingga perlu dibenahi dengan memperkaya mikroorganisme di dalam tanah.
Hal ini akan menjadi keadaban baru, peradaban budidaya yang terevitalisasi kembali dengan pengetahuan bahwa kesuburan atau penyubur bagi pertanian ada di lahan petani itu sendiri. Petani tak perlu mencari penyubur dari pabrik-pabrik yang barangnya kerap langka dan dipermainkan harganya.
Model pertanian Tanpa Olah Lahan akan membuat petani mandiri dan ongkos produksinya juga bisa ditekan sehingga petani akan beroleh laba dari usahanya.
Kembali ikepada kearifan tradisional bukan berarti menolak kemajuan. Petani masa kini menerapkan pengetahuan yang sudah ditemukan sejak masa lampaui karena berpengaruh positif pada lahan yang merupakan modal utama untuk bercocok tanam.
Kemajuan teknologi atau peralatan pertanian tetap bisa dicocokkan dengan apa yang dipraktekkan pada masa lalu tanpa alat. Dengan demikian petani masa kini bisa tetap menjaga alam atau lahan sekaligus beroleh hasil yang berlimpah yang akan membuatnya menjadi masyarakat sejahtera.







