KESAH.ID – Evolusi mengantar manusia menjadi mahkluk utama dan merasa paling berhak atas bumi serta seisinya. Dalam kelahiran yang sederhana Yesus mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta. Damai dan kebahagian di dunia mesti dibangun atas nilai kesejahtera dan keadilan bersama serta berwatak ekologis.
Saya termasuk dalam jemaat Katolik Napas, umat yang mewajibkan diri mengikuti misa di gereja pada hari Natal dan Paskah.
Natal selalu meriah, sementara rangkaian perayaan paskah yang meliputi trihari suci yakni Kamis Putih, Jum’at Agung dan Vigili Paskah selalu syahdu.
Sampai dengan separuh umur saya, setiap hari Natal saya selalu membuat gua natal. Entah di rumah sendiri, rumah tetangga, gedung pertemuan maupun gereja. Bersama teman-teman saat masih remaja dulu, berkali-kali kami membuat Gua Natal yang hampir menutupi separuh altar gereja.
Cerita kelahiran Yesus di waktu saya masih ikut Sekolah Minggu memang teramat nyata. Terlebih ketika kami kerap melakonkan drama kelahiran-NYA. Saya suka jika ditunjuk untuk melakonkan Tiga Raja atau Gembala, ketimbang harus menjadi Yosep, suami Maria.
Anak-anak dahulu memang cenderung malu-malu, jika harus memerankan lakon suami istri.
Natal waktu kecil juga mengembirakan karena akan mendapat hadiah. Hadiah yang dipercaya dibawa oleh Santa Klaus atau Sinterklas.
Kegembiraan Natal memang lebih merupakan kegembiraan profan ketimbang kegembiraan religi.
Hal yang wajar karena Natal adalah kisah kelahiran, ulang tahun yang selalu disambut dengan kegembiraan, syukuran dan hadiah.
Dan lama-lama saya tahu kalau Yesus tidak lahir di tanggal 25 Desember. Perayaan Natal adalah akulturasi budaya antara kekristenan dan budaya Eropa saat itu. Perayaan Natal awalnya merupakan perayaan kaum Pagan untuk merayakan titik balik musim dingin atau winter solstice.
Di era Romawi Kuno, masyarakat Romawi merayakan winter solstice untuk menghormati para dewa, salah satunya Dewa Saturnus. Sementara pada masyarakat Jerman Pra Kristen, perayaan winter solstice dirayakan dengan makan minum bersama dan pengorbanan darah. Nama perayaan adalah Yule Yule.
Ketika kekristenan masuk ke Eropa, perayaan untuk menghormati para dewa ini kemudian berubah secara perlahan menjadi perayaan untuk menghormati kelahiran Yesus Kristus yang dianggap sebagai juru selamat oleh orang-orang Kristen.
Dan secara resmi penetapan tanggal 25 Desember sebagai Hari Natal atau hari kelahiran Yesus Kristus dilakukan oleh Santo Agustinus dari Hippo.
Ritus Kristen Romawi sampai sekarang memperingati hari Natal pada tanggal 25 Desember, sementara gereja Kristen ritus timur atau Gereja Ortodoks memperingati Hari Natal pada tanggal 7 Januari. Perbedaan ini disebabkan oleh pemakaian dua kalender yang berbeda. Gereja Ortodok memakai kalender Julian sementara Gereja Romawi memakai kalender Gregorian.
Seiring dengan waktu perayaan natal justru berkembang menjadi perayaan profan. Ada banyak negara yang masyarakat bukan mayoritas Kristen merayakan perayaan Natal dengan penuh sukacita, seperti masyarakat Jepang, Korea, Singapura bahkan Uni Emirat Arab.
Yang terpenting dari perayaan Natal adalah sukacita, damai dan saling berbagi.
BACA JUGA : Ndasku Mumet Mikir Ndasmu
Sebenarnya jarang sekali saya pergi mengikuti misa natal di sore hari. Natal terasa tak begitu berkesan saat lagu Malam Kudus dinyanyikan ketika matahari masih bersinar terang.
Yang tersimpan dalam memori, kisah natal memang kisah malam yang dihiasi bintang, terang dimalam Natal adalah terang temaram karena kerlap-kerlip bintang.
Tapi Natal tahun ini saya merayakan misa di sore hari, saat jendela gereja masih memancarkan terang dan hangat sinar mentari. Datang dua jam sebelum misa dimulai agar bisa mendapat tempat duduk dalam gereja, menunggu saat misa tiba terasa sangat lama.
Dengan hanya dua jadwal misa, datang menjelang misa dimulai jelas nggak bakal dapat tempat di dalam gereja. Dan mengikuti misa di luar gedung gereja, dibawah tenda atau di basement gereja berasa seperti menghadiri kondangan saja.
Meski begitu misa natal sore hari ini terasa Istimewa karena dipimpin oleh Uskup Agung Samarinda. Sayapun tersenyum kepada anak saya ketika arak-arakan Misdinar, Diakon, Petugas Misa, Pastor dan Uskup menuju altar. Dan anak saya membuang muka, tak mau dengar dan melihat muka saya yang akan mengatakan kalau nama baptis uskup itu sama dengan nama baptis saya.
Saya dan uskup sama-sama punya nama baptis Yustinus.
Biasanya misa kalau dipimpin oleh uskup akan lebih panjang. Sebab sering kali uskup memakai kesempatan untuk berbicara banyak kepada umat, mulai dari pengantar misa, homili atau kotbah dan penutup. Pendeknya kotbahnya serasa tiga kali.
Tapi Uskup Yustinus nampaknya tidak demikian, misanya serasa sat set, seperti misa hari biasa. Misa malam natal yang dipimpinnya kurang dari dua jam.
Walau misanya cepat namun tetap saja begitu misa selesai mesti segera keluar dari gereja karena di depan sudah menunggu umat yang pingin masuk untuk mencari tempat dalam gereja mengikuti misa kedua yang akan dimulai pada jam 9 malam.
Sayapun segera bergegas keluar, tak terpikir untuk salaman ngalap berkah dengan mencium cincin di jari Uskup Yustinus.
Tak apalah, beberapa tahun lalu saya pernah melakukannya sewaktu bertemu di Bandara Sam Ratulangi Manado. Saya bertemu dengan Uskup Yustinus yang waktu itu sama-sama pulang setelah menghadiri tahbisan Uskup Manado, Monsigneur Rolly Untu.
Romo Rolly Untu yang kini jadi Uskup Manado, dulu merupakan magister saya ketika mengikuti pendidikan spiritual di Novisiat Sananta Sela, Karanganyar, Kebumen.
Ketika melewati pintu depan gereja, HP yang tadinya saya setel dalam mode hening saya kembalikan ke mode normal. Muncul beberapa notifikasi pertanda masuknya beberapa pesan.
Sebagian pesan berisi ucapan selamat natal dari beberapa teman. Sayapun segera membalas untuk mengucapkan terimakasih. Termasuk kepada teman yang sudah lebih dahulu mengirimkan ucapan namun belum saya balas. Saya memang merasa belum afdol menerima ucapan natal ketika belum mengikuti misa. Maka ucapan dari teman-teman yang dikirim semenjak pagi tadi saya pending untuk membalasnya.
Balasan saya template saja. Saya mengucapkan terima kasih dan kemudian membagikan salam damai, damai di bumi dan damai di hati.
BACA JUGA : Debat Tanpa Debat Politik Tanpa Politik
Dalam kotbahnya yang tidak semuanya saya perhatikan, Uskup Samarinda menyampaikan tentang kebahagiaan Natal. Kebahagiaan karena berdamai dengan sesama dan terlebih lagi karena berdamai dengan lingkungan atau alam.
Ya berdamai dengan alam juga merupakan bagian dari keutamaan dari Natal yang kerap memakai simbol-simbol semesta dan isinya seperti bintang, salju, pohon, bunga, dedaunan, domba, onta, keledai, rusa dan lain-lain.
Semua isi alam bergembira di depan palungan yang sederhana secara setara.
Merasa setara, merasa sebagai bagian dari alam menjadi salah satu keutamaan yang hilang dalam diri kita manusia. Evolusi memang mengantarkan manusia melampaui mahkluk lain bahkan mulai meng-hack hukum alam.
Namun pencapaian ini tidak membuat manusia berhak untuk menjadi mahkluk paling utama di dunia, keselamatan dan kebahagiaan di bumi atau dunia mesti dibangun atas semangat sejahtera, adil dan ekologis.
Selamat Natal, damai di bumi, damai di hati.







