KESAH.ID – Moralitas yang operasional dan punya pengaruh besar selalu lahir pada masa kejayaan, masa penuh kestabilan. Dalam situasi yang penuh persaingan, moralitas menjadi loyo. Persaingan yang runcing bukan kondisi ideal untuk moralitas, karena yang mengutamakan moral bisa jadi malah kalah. Nanti kelak kalau menang dan berkuasa, moralitas akan kembali ditegakkan agar seseorang dikenang sebagai pemimpin yang baik.
Karena pengaruh dari Plato, biologi dalam waktu berabad-abad mempercayai ada daya hidup atau elan vital dalam setiap mahkluk. Namun karena konsepsi nyawa atau roh berasal dari pemikiran filosofis maka sulit bagi biologi untuk menerangkannya.
Dan setelah Darwin mengemukakan teorinya, konsepsi elan vital dalam biologi hilang. Biologi kembali kepada sains. Roh, nyawa atau apapun sebutannya tidak ada dalam biologi. Gerak atau hidup ada karena ada kerjasama antar organ dan energi dalam sebuah tubuh. Kehidupan tidak ditiupkan dari luar melainkan berasal dari dalam dirinya sendiri.
Bahwa kemudian dokter, ahli biologi, guru biologi dan lain-lain percaya adanya roh, nyawa atau elan vital itu ya tidak apa-apa. Sebab adalah hal biasa kita mempercayai yang tidak ada atau bukan fakta sebagai ada dan nyata. Evolusi memang membuat otak manusia lebih suka atau lebih mudah menerangkan hal-hal yang tidak sebenarnya, otak bahkan cenderung menyembunyikan fakta apalagi kalau fakta itu tak menyenangkan.
Tidak semua yang dinyatakan oleh Darwin dalam teori evolusinya benar. Ada banyak detail yang mungkin saja kurang tepat karena keterbatasan alat atau teknologi untuk membuktikannya. Namun teori Darwin membuka cakrawala baru, melahirkan cabang ilmu baru yang semakin mendalam dalam memahami algoritma cara hidup dan bertindak manusia serta mahkluk lainnya.
Penemuan DNA membuat apa yang dinyatakan oleh Darwin menjadi lebih mudah dipahami. Dan kemudian disusul oleh temuan Mirror Neuron dalam neurosains, apa yang disebut dengan moralitas dan juga spiritualitas kemudian bisa diterangkan secara saintifik.
Secara sains moralitas tidak hanya dimiliki oleh manusia, beberapa binatang lainnya juga mempunyai dalam kadar yang berbeda-beda. Titik berangkat dari moralitas adalah kesadaran tentang dirinya yang ada.
Dengan menyadari dirinya ada maka mahkluk akan mengenali bahwa yang lainnya juga ada. Dari sini tumbuh yang disebut altruisme, peduli pada orang yang lain. Dalam bentuk yang paling purna yang disebut dengan altruisme adalah berani menolong yang lain tanpa memperhatikan keselamatan sendiri.
Seseorang otomatis akan menceburkan diri ke sungai ketika melihat ada orang lain yang tenggelam atau hanyut. Padahal mungkin saja dirinya tak bisa berenang, sehingga menolong orang yang tenggelam sama artinya dengan membahayakan dirinya sendiri. Tapi dorongan untuk menyelamatkan orang lain begitu besar sehingga keselamatan dirinya tidak menjadi pertimbangan untuk bertindak.
Kisah-kisah orang besar terutama tokoh yang kemudian melahirkan berbagai macam aliran atau spiritualitas dipenuhi dengan cerita altruisme. Mereka umumnya digambarkan berani meninggalkan kemapanan, berani mati raga, berani miskin bahkan berani mengorbankan diri demi kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan para pengikutnya.
Dalam kekristenan, Yesus Kristus rela mengorbankan dirinya di kayu salib demi penebusan dosa umat manusia. Itulah bentuk altruisme sejati, altruisme tanpa syarat yang kemudian menjadi moralitas utama untuk mengukur kesalehan orang-orang Kristen.
Altruisme kemudian berkembang menjadi moral religius, moralitas yang berbasis pada ajaran yang dituliskan dalam kitab suci.
Moralitas sendiri kemudian berkembang secara meluas dan plural seiring dengan perkembangan masyarakat. Ada moral religi, ada moral yang berbasis pada kebudayaan, adat atau tradisi, namun ada juga moralitas yang berbasis pada pemikiran humanitarian dan juga moralitas kelompok atau profesi.
BACA JUGA : Menguak Karnaval Sound Sebagai Ekpresi Kegembiraan Bersama
Plato mengambarkan dalam diri kita ada kuda hitam dan kuda putih. Dan kita menjadi pengendali agar kuda hitam itu berjalan selaras, serasi dan harmonis. Sehingga kita kemudian menjadi manusia yang utuh atau sempurna.
Gambaran Plato ini yang kemudian mempengaruhi cara merasa manusia sampai saat ini, kita berpikir dalam diri kita ada entitas baik dan buruk, ada malaikat dan setan yang terus berperang untuk mempengaruhi tindakan serta perilaku kita.
Pemikiran Plato tentang moralitas, tubuh dan roh terbukti salah. Ilmu tentang mahkluk hidup atau biologi membuktikan bahwa dalam tubuh tidak nyawa. Gerak atau hidup terjadi karena ada energi dan kerjasama antar organ.
Maka dikotomi antara otak dan hati, otak untuk berpikir dan hati untuk merasa juga tidak ada. Sebab sesungguhnya semua itu adalah kerja dari otak. Otak mempunyai bagian rasional dan bagian emosional. Adalah salah bahwa otak adalah supremasi rasional, sebab dalam kehidupan manusia otak lebih banyak bekerja pada bagian emosionalnya.
Dan tidak seperti Immanuel Kant yang menyebut bahwa keputusan moral adalah keputusan rasional, yang terjadi sesungguhnya justru sebaliknya. Keputusan atau tindakan moral bukanlah rasional, sebab dasar moral adalah altruisme atau bela rasa, kepedulian tanpa syarat pada orang atau mahkluk lain.
Rasional adalah tentang benar dan salah, sementara moral adalah tentang baik buruk dan bagaimana seharusnya.
Di dalam otak banyak sedikitnya neuron cermin yang mempengaruhi kuat tidaknya moralitas seseorang. Tindakan moral sendiri bukan sesuatu yang disadari, perasaan ikut merasakan penderitaan orang lain, semua muncul begitu saja. Dan bahkan saat mengambil keputusan untuk menolong orang lain dengan mengabaikan keselamatan diri sendiri.
Moral kemudian menjadi rasional karena dilembagakan. Ketika masyarakat manusia mulai berkembang pesat dan manusia mulai melampaui hukum alam ada banyak hal yang mesti diatur agar keteraturan hidup terjaga.
Moral kemudian berkembang menjadi ajaran-ajaran baik dan buruk, tentang bagaimana seharusnya seseorang berlaku dalam masyarakat, dalam hubungan dengan orang lain, dunia, lingkungan dan mahkluk lainnya.
Moral kemudian lebih berkembang seperti nasehat. Dan dalam perkembangan selanjutnya, moralitas kemudian muncul bersamaan dengan berkembangnya kepercayaan, sistem, ideologi dan kelembagaan-kelembagaan lain. Moralitas kemudian menjadi plural karena disusun atau dirumuskan berdasarkan sumber-sumber tertentu. Moralitas kemudian keluar dari aspek biologinya, berkembang sebagai narasi.
Dan ketika masyarakat semakin berkembang dan struktur serta relasinya makin rumit, moral tidak lagi cukup untuk mengatur masyarakat. Berkembang aturan lain yang disebut dengan hukum, sebuah aturan yang mengikat dan membuat yang melanggar atau tak mengikutinya bisa dihukum. Namun berbeda dengan moral, hukum disusun dengan pernyataan-pernyataan yang jelas dan diberlakukan sama untuk semua orang.
BACA JUGA : Politik Itu Abu Abu
Moralitas yang paling kuat sampai saat ini adalah moralitas seksual. Sebagai salah satu kekuatan alamiah bawaan seks direpresi oleh kaidah-kaidah moral hingga kemudian kebanyakan hal seksual kemudian menjadi tabu untuk dibicarakan, diperlihatkan atau dilakukan di ruang publik.
Padahal dalam sejarah panjang evolusi manusia, sebagian besar hal seksual tidak tabu. Dalam berbagai kebudayaan lahir kitab-kitab ikonik yang bisa disebut sebagai tutorial seksual. Seks secara ekplisit diperbincangkan dan dianggap normal.
Pembatasan seksual dalam diskursus publik belum lama, istilah pornografi juga merupakan istilah baru yang lahir dari moralitas seksual yang dikembangkan oleh Ratu Victoria, ratu dari kerajaan Inggris Raya.
Moralitas Victoria diterapkan salah satunya dengan melarang wanita Inggris menunjukkan bentuk tubuhnya. Wanita diharuskan memakai pakaian berlapis-lapis untuk menutupi tubuhnya. Di jaman pemerintahannya, wanita yang menunjukkan pergelangan kaki pada publik dianggap sebagai tindakan tak senonoh. Saking ketatnya moralitas untuk mengatur urusan seks, sampai ada mitos yang mengisahkan bahwa kaki meja di Inggris pun diberi penutup karena bentuknya seperti kaki wanita.
Karena Inggris Raya di masa pemerintahan Victoria tengah berada dalam masa puncak imperiumnya, pengaruh ajaran moral Ratu Victoria juga tersebar hingga seluruh penjuru jagad. Aturan moral Ratu Victoria layaknya menjadi aturan sejagad karena Inggris adalah Kerajaan Adi Kuasa. Moralitasnya seperti menjadi moral universal.
Moral yang berlaku umum kemudian moral yang bersifat top down, dirumuskan oleh yang berkuasa. Dan sampai sekarang situasi ini berlum banyak berubah, moral yang punya pengaruh atau moral operasional adalah moralitas yang didukung oleh kekuatan kekuasaan.
Menjelang pemilu 2024, semakin mendekati saat pencoblosan suara makin terlihat pula moralitas politik kepemerintahan kita morat-marit. Banyak pihak berbicara tentang pentingnya moral, namun di ruang publik yang ditunjukkan justru hal-hal yang tidak bermoral. Dan yang menunjukkannya justru para elit politik pemerintahan.
Situasi persaingan yang makin meruncing memang memberi tantangan pada moralitas. Moral adalah tentang baik dan buruk, sementara dalam konteks persaingan yang dipakai adalah benar atau salah. Apapun itu jika tak melanggar hukum maka bisa dilakukan, bahkan hukum yang menghambat bisa dirubah selama cara merubahnya juga sesuai dengan prosedur.
Perjalanan menuju kekuasaan memang kerap merupakan perjalanan tanpa moral. Kelak jika mereka meraih kekuasaan baru kemudian merumuskan moralitas-moralitas berdasarkan kekuasaannya. Yang tidak bermoral kemudian menjadi moralis yang kemudian merasa layak untuk menyebut yang lain sebagai tidak bermoral.
Ketika belum berkuasa gemar bicara soal benar dan salah, namun ketika duduk di kekuasaan akan lebih rajin bicara soal baik dan buruk.
Yang benar dan salah disimpan, dijadikan amunisi atau bahkan sandera untuk menginjak kaki teman koalisi. Yang benar dengan mudah disingkirkan sementara yang salah jangan coba-coba mbalelo atau membelot. Jika nekat maka aparat penegak hukum akan mudah bertindak karena sang penguasa sudah punya simpanan daftar kesalahan.
note : sumber gambar ilustrasi -KOMPAS.COM







