KESAH.ID – Politik sebagai salah satu elemen penting dalam kehidupan bersama selalu berada dalam spektrum antara baik dan buruk, benar dan salah. Sebagaimana banyak hal lainnya, politik tidak benar-benar bisa berdiri pada satu sisi entah hitam atau putih saja, sisi A atau sisi B saja. Dengan demikian yang benar atau salah, yang baik atau buruk kerap menjadi nisbi. Itulah kenapa politik kerap bergejolak, masing-masing merasa benar dan menunjuk yang lain salah. Dan tak mungkin kesemuanya benar, yang kerap terjadi keduanya, ketiganya atau keempatnya salah semua.
Dalam sebuah WAG dimana saya sejak diajak bergabung belum sekalipun memposting pesan, selalu ramai dengan diskusi dan perdebatan tentang politik. Maklum anggotanya adalah orang-orang yang pernah belajar filsafat, sehingga terus saja berfilsafat.
Ditengah silang pendapat soal politik terkini, seseorang memposting semacam meme yang berisi percakapan dalam bahasa Inggris dengan judul How Politic Work.
Kisahnya tentang seorang bapak yang bercakap-cakap dengan anak laki-lakinya.
Sang bapak berkata sambil menunjukkan foto “Kamu harus menikahi perempuan ini,”
Sontak saja sang anak mengatakan “Tidak, saya tak mau,”
Bapaknya tak hilang akal, dia kemudian mengatakan “Eh, ini anaknya Bill Gates,”
Mendengar nama Bill Gates, anak laki-laki itu langsung berubah 180 derajat. Dia mengatakan “Oke, kalau begitu segera nikahkan saya dengannya,”
Bapaknya kemudian menelepon Bill Gates dan berkata “Bill, putrimu harus menikah dengan putra saya,”
Alamak, Bill Gates yang tak juntrungan orang yang menelepon tentu saja langsung berkata “Oh, no,”
Tapi Bill Gates penasaran jadi tak langsung menutup teleponnya. Dia bertanya “Kenapa, putri saya harus menikahi putramu?”
Mendengar pertanyaan Bill Gates, Bapak itu langsung berkata “Anak saya ini CEO Bank Dunia,”.
Bank Dunia!!, mendengar itu Bill Gates pun berkata “Oh, oke kalau begitu,”.
Mendengar jawaban Bill Gates, sang bapak itu kemudian menelepon pembesar Bank Dunia dan mengatakan “Hallo, anda harus menjadikan anak saya sebagai CEO Bank Dunia,”.
Tentu saja pembesar Bank Dunia kaget seperti disambar geledek. “Apa-apaan ini,” batinnya dalam hati. Namun lagi-lagi dia juga penasaran, kenapa ada orang aneh seperti itu. Diapun kemudian bertanya “Kenapa saya harus menjadikan anak anda sebagai CEO,”
Dengan cepat bapak itu menjawab “Anda harus tahu, putra saya itu menantunya Bill Gates,”
Mak jleeb, mendengar nama Bill Gates, pembesar Bank Dunia pun segera menjawab “Oke, kalau begitu putra anda adalah CEO Bank Dunia,”
Sudah jelas itu percakapan imajinasi, kesah-kesah saja. Walau begitu percakapan yang bernada komedi satir itu bisa menjelaskan bagaimana politik bekerja. Politik pada akhirnya adalah kesepakatan dan kesepakatan itu dibangun dengan narasi, narasi yang dipercaya meski narasi itu bukan hal yang sesungguhnya.
Dengan memahami konteks politik seperti itu niscaya kita tidak akan memandang politik secara hitam putih. Politik bukanlah tentang benar atau salah seperti matematika, fisika, kimia dan biologi, kebenaran politik adalah tentang kepentingan dan rasa. Hal-hal lainnya itu hanya argumen yang seolah ndakik-ndakik padahal hanya untuk alasan pembenaran saja.
Memandang dinamika politik dengan kacamata hitam putih hanya akan membuat kepala mendidih, badan panas dingin dan nafsu makan jadi hilang. Hari-hari kita akan diisi dengan uring-uringan. Bahkan kalau sudah kelewatan yang muncul dari mulut hanya sumpah serapah, hujatan dan kutukan.
BACA JUGA : Sungai Makin Lebar, Aliran Tambah Lancar Jadinya Cepat Dangkal
Sayangnya teman yang mengirim meme How Politic Work itu malah bukannya memoderasi perdebatan, tapi justru paling rajin ikut nimbrung dengan corak argumen yang sangat hitam putih. Argumen-argumennya sangat tendesius yang membuat perdebatan cenderung menjadi emosional bukan rasional.
Oh, iya ini bukan soal salah atau benar, tetapi semakin memberi kejelasan pada saya bahwa politik itu memang emosional bukan rasional. Dalam menentukan pilihan, seseorang akan punya preferensi sendiri-sendiri, bemula dari suka dan tidak suka.
Itulah kenapa pendidikan politik yang bertujuan untuk menjadikan masyarakat cerdas dalam memilih, memilih berdasarkan track records dan keutamaan-keutamaan yang lainnya hingga saat ini boleh dikatakan gagal.
Ambil contoh saja soal politik transaksional, dari pemilu ke pemilu anti politik uang selalu menjadi tema utama dalam modul pendidikan politik tapi yang terjadi makin hari politik uang justru makin menguat. Jangankan pemilih, politisi sendiri sudah mulai meyakini bahwa tanpa uang politik tidak jalan.
Dengan tingkat persaingan antar kandidat yang makin tinggi karena pemilu multi partai dan kaderisasi yang tidak berjalan dengan baik sehingga banyak kandidat dicomot atau masuk di tikungan maka bukan kualitas yang kemudian dikedepankan.
Akibatnya banyak kandidat yang sebenarnya tidak dikenal oleh publik, atau keterkenalannya terbatas. Bagaimana pemilih bisa menentukan pilihan berdasarkan track records kalau aktivitas publik seorang kandidat tidak diketahui secara luas oleh masyarakat?.
Kurangnya pengetahuan publik pada partai dan kandidatnya inilah yang kemudian membuka peluang terjadinya politik transaksional, politik untuk memobilisasi dukungan secara instan.
Partai dan kandidat kemudian sibuk melakukan pencitraan, melakukan show of force agar publik terpengaruh dengan cepat. Sebuah event kemudian digambarkan sebagai cermin dukungan pada partai dan kandidat karena dihadiri ribuan massa. Padahal bukan rahasia kalau massa itu adalah massa bayaran, massa non organik. Tapi citra di publiknya tidak demikian.
Saya jadi ingat nasehat seorang teman dalam membaca realita. Menurutnya di Indonesia banyak realita atau fenomena harus dibaca secara terbalik. Sehingga apa yang nampak dipublik sebenarnya kerap kali mencerminkan realita yang sebaliknya.
Jadi tak perlu heran jika seseorang yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari begitu underestimate pada anak muda, tiba-tiba saja menjelang pemilu begitu getol menyuarakan tentang pentingnya anak muda diberi kesempatan menjadi pemimpin.
Padahal yang disebut anak muda yang mesti diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin itu hanya dua orang yakni Kaesang dan Gibran. Keduanya begitu istimewa karena merupakan anak presiden yang dalam survey terakhir mempunyai approval rating yang tinggi.
Kalau memang rela anak muda menjadi pemimpin, kenapa tidak diberikan kesempatan kepada Agus Harimurti Yudhoyono?. Atau yang masih terbilang muda lainnya seperti Erick Thohir dan Sandiaga Uno?.
Tapi itulah politik, selalu saja alasan bagus untuk menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya.
Ya, Kaesang dan Gibran memang punya value tinggi. Anggap saja dengan approval rating bapaknya berkisar 70 persen, maka hanya 30 persen yang tak suka bapaknya.
Artinya 70 persen suara pemilih adalah milik Pak Jokowi. Artinya siapapun yang memilih untuk menjadi bukan penerus Joko Widodo hanya akan kebagian 30 persen suara, berjuang sampai mencret-mencret ya tetap kalah, terkecuali mukjizat itu ada.
BACA JUGA : Yang Serba Instan Itu Sudah Biasa
ng Serba Instan Itu Sudah BiasaDengan hitung-hitungan seperti itu maka wajar jika ada yang ngotot dengan kepemimpinan orang muda, sekali lagi orang muda tertentu yang jumlahnya tidak lebih dari nol koma sekian persen dari anak muda yang punya hak pilih dan hak dipilih.
Jadi kalau ada partai yang dicitrakan sebagai partai orang muda yang cerdas kemudian menentukan ketuanya sama sekali tidak mencerminkan watak orang muda yang cerdas tidaklah perlu heran, kita tak perlu membuang pikiran dan tenaga untuk pusing memikirkannya. Sekali lagi politik tidak hitam putih seperti perkiraan kita.
Dalam pidato atau penampilan publik adalah biasa para pemimpin politik mesti mengucapkan segala sesuatu yang dilandasi oleh moral dan etika. Bahwa menjadi pemimpin adalah pengabdian, menempatkan kepentingan umum diatas kepentingan golongan, melupakan keluarga demi bangsa dan negara, pemimpin harus menjamin kepastian hukum dan berderet kata-kata indah di telinga lainnya.
Tapi kalau sudah bertemu dengan antar mereka terutama antar sekutu yang dibicarakan tentu saja lain. Moral dan etika bisa diabaikan karena tak membawa konsekwensi apapun, paling hanya sumpah serapah dari kaum moralis dan etikus. Kalau masyarakat ikut-ikutan mengutuk toh bisa mudah dihentikan, cukup diberikan bantuan langsung. Dengan bantuan langsung rakyat yang mutung segera bisa berubah menjadi pemuji-muji.
Dan kalau rakyat sudah mengatakan seseorang itu baik, umpatan bloon dan dungu dari Rocky Gerung tak punya pengaruh apapun.
Sekali lagi begitulah algoritma politik sekalipun dilabeli dengan demokrasi. Sebab sistem demokrasi tidak memberi jaminan bahwa yang memenangkan kontestasi adalah para pejuang demokrasi.
Kaum konservatif dengan watak monarki pun bisa menang, kaum pejuang anti demokrasi juga bisa memenangkan kontestasi. Sebab demokrasi memberi ruang untuk semuanya, termasuk ruang kepada para penunggang demokrasi.
Masalahnya mencermati warna abu-abu dan kemudian melakukan separasi agar jelas kelihatan mana yang hitam dan mana yang putih sulit untuk dilakukan, butuh nalar yang jembar dan energi yang besar.
Dan rasanya sebagian besar kita tak mampu untuk melakukannya, kalaupun mampu belum tentu juga mau sebab ada resiko-resikonya.
Dan berkaca dari survey LSI Denny JA terakhir perihal seberapa banyak warga negara yang peduli politik, ternyata jumlahnya memang tak besar, tidak sampai separuh rakyat Indonesia peduli politik.
Dan dari mereka yang peduli, sebagian diantaranya mungkin saja tak mau atau enggan terlibat secara aktif dalam politik. Mungkin mereka enggan karena menemukan kenyataan bahwa politik itu abu-abu sehingga membuat mereka merasa tak nyaman.
Maka dari dulu hingga sekarang kalau kemudian ada pemimpin politik yang baik, itu bukan merupakan kerja atau pilihan kolektif masyarakat. Pemimpin yang baik muncul hanya karena kita sedang beruntung.
note : sumber gambar ilustrasi – ANTARAFOTO.COM








