KESAH.ID – Setahu saya segala sesuatu atau material di dunia ini bersifat kimia dan fisika. Dan kalau hidup maka akan ditambah dengan sifat biologi. Dengan pemahaman seperti itu maka saya tak terlalu sensitif dengan retriksi soal kimia dan non kimia, toh yang kita anggap non kimia essensinya juga tetap kimia. Soal positif negatif bukan pada soal kimia dan non kimia melainkan pada dosisnya serta sumber asalnya. Instan kemudian kerap dikaitkan dengan kimia buatan, hingga akhirya banyak yang waspada padanya. Yang instan dianggap kurang baik, padahal banyak yang alamiah juga tak kurang buruknya. Rasanya kita mesti membiasakan dengan yang serba instan, karena yang instan-instan kini bukan hanya berkembang di makanan dan minuman, melainkan sudah merasuk ke politik dan pemerintahan.
Ibu saya sensitif sekali dalam urusan makanan, salah satu yang paling dibencinya adalah kebiasaan jajan. Boleh beli makanan diluar namun di tempat-tempat yang ‘direstui’ olehnya.
Yang repot karena retriksinya bukan hanya kami anak-anaknya. Bahkan tukang bakso dorong yang sering lewat depan rumah pun tahu. Makanya dia jarang membunyikan mangkuk dengan pukulan sendok ting-ting-ting setiap kali lewat depan rumah saya.
Sebabnya kalau lewat dan kemudian dipanggil oleh ibu saya, dia bakal repot. Mantera pertama yang dikeluarkan oleh ibu saya ketika dia sedang meracik baksonya adalah “Jangan pakai bumbu masak,”
Alamak, kalau dia bisa berteriak mungkin akan bilang “Ya, nggak enak bu,”
Tapi ibu tak peduli, termasuk tak peduli pada lidah kami yang menelan bakso dengan rasa hambar. Yang dipikirkan oleh ibu saya adalah keyakinannya bahwa bakso enak yang asli itu ya enaknya tanpa micin. Kalau enak karena bumbu masak maka itu enak palsu.
Bukan hanya bumbu masak yang bermerek Sasa, Ajinomoto atau Miwon yang tak disukai oleh ibu saya. Penyedap rasa apapun dibencinya. Menurutnya semua itu mengandung bahan kimia berbahaya.
Sayangnya waktu itu saya lebih banyak bermain daripada belajar, sehingga tidak bisa membantah kalau apapun di dunia ini semua mengandung bahan kimia. Bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, kencur dan lainnya juga mengandung bahan kimia serta kalau kebanyakan juga berbahaya.
Tapi ya saya dan saudara-saudara yang lain nurut saja dengan penolakan ibu terhadap hal-hal yang bernada instan, termasuk mie instan dan juga minuman atau makanan kemasan lainnya.
Sikap ibu saya itu tak berubah, puluhan tahun kemudian ketika saya pulang mudik ke rumah, ibu tetap tak suka ketika saya membeli minuman botolan di Alfa Mart gerainya mulai merangsek hingga kampung saya.
Padahal yang saya beli adalah minuman rasa buah yang kaya dengan vitamin C. Yang begitu saja ibu sudah tanya “Minuman apa itu?”. Apalagi kalau sampai saya beli minuman penambah energi, pasti pertanyaan akan segera disusul dengan nasehat panjang, salah satunya “Jangan biasakan minum minuman begitu-begitu,”.
Tentu saja kewaspadaan ibu saya untuk hal-hal yang berbau instan itu bisa dimaklumi, namanya kewaspadaan dini. Tapi tidak semua yang dikhawatirkannya benar. Misalnya kekhawatiran kalau micin bisa memicu kanker. Mungkin memang benar tapi kanker yang mana, karena tidak semua kanker disebabkan oleh micin.
Ibu saya memang tipikal yang meyakini makanan buatan sendiri bisa lebih dikontrol kualitasnya. Tentu saja keyakinan ini benar, namun tidak berarti makanan yang bukan buatan sendiri juga tidak sehat.
Bahwa benar, ada banyak pedagang yang memakai bahan penyedap, pewarna, perasa dan lainnya yang kurang bisa dipertanggungjawabkan agar makanan atau produknya menarik serta murah. Tapi tentu saja tidak semua produsen yang kemudian menghasilkan makanan-makanan instan akan melakukan hal yang sama.
Dalam urusan makanan dan minuman ada pihak yang mengawasinya, termasuk mengawasi penggunaan bahan-bahan untuk pembuatnya. Makanan yang diawasi akan menggunakan bahan-bahan yang foodgrade, atau bahan yang layak untuk dimakan atau dikonsumsi.
Tentu tak mudah untuk merubah keyakinan ibu saya yang anti pada serba-serbi makanan dan minuman instan itu. Saya bisa menerangkan sampai berbusa-busa bahwa yang instan itu kini sudah biasa dan tidak seberbahaya yang dipikirkan oleh ibu saya, namun tetap saja saya tak yakin itu akan membuatnya berubah pikiran.
BACA JUGA : Kambing Samarinda
Kata instan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti langsung {tanpa dimasak lama} dan dapat dimakan atau diminum {tentang mi, sup, kopi, susu bubuk}.
Namun dalam penggunaan sehari-hari instan juga secara populer dimaknai sebagai sesuatu atau proses yang dihasilkan secara cepat. Sama seperti ibu saya yang tidak menyukai makanan atau minuman instan, sesuatu atau proses yang dihasilkan secara cepat umumnya dianggap negatif dalam persepsi masyarakat.
Seorang tetangga yang tiba-tiba saja menjadi kaya raya pasti kemudian akan digunjing oleh tetangga lainnya. Kekayaannya dianggap datang tiba-tiba lewat pesugihan, korupsi atau hal lainnya.
Keinginan untuk kaya dengan cepat, juga menjadi peluang orang lain untuk melakukan penipuan. Banyak yang tertipu oleh ‘keahlian’ menggadakan uang, investasi bodong, trading lewat aplikasi tertentu dan lain-lain.
Selain itu ingin menguasai sesuatu dengan cepat, sukses dengan cepat, saleh dengan cepat dan lain-lain juga melahirkan banyak kelas, seminar, pelatihan dan sessi-sessi lain yang bombastis.
Dalam konteks tertentu ingin mencapai atau melakukan sesuatu dengan cepat kemudian juga melahirkan banyak kejahatan. Seperti menyogok, menyuap, menjiplak, mambajak, mencuri dan lain-lain.
Tidak semua cara cepat menjadi sesuatu menjadi negatif. Dalam batasan tertentu bahkan menjadi sebuah industri, seperti misalnya popularity contest. Dalam dunia tarik suara misalnya ada Indonesian Idol, Academy Fantasy Indonesia, Akademi Dangdut Indonesiar, X Factor Indonesia, Indonesia Got Talent, The Master dan lain-lain.
Dengan mengikuti kontes ini seseorang secara cepat kemudian dikenal sebagai artis, penyanyi, pesulap atau entertainer lainnya.
Karena disiarkan oleh televisi dan mengajak pemirsa untuk memilih, kontes-kontes semacam ini mampu mengajak publik untuk mempunyai jagoan pilihan bahkan seorang idola baru.
Walau mampu melahirkan bintang-bintang baru namun jarang sekali kontes semacam ini melahirkan artis atau penghibur yang nama dan sinarnya bertahan lama. Seseorang cepat naik namun kemudian cepat surut atau pudar.
Bahkan mereka yang ditolak dalam audisi atau tidak menjadi juara dalam kontes ini seringkali malah lebih bertahan sebagai artis, lebih terkenal dan terus berkarya hingga sekarang.
Hal instan memang sering dikaitkan dengan teknologi, terutama teknologi komunikasi dan informasi. Media sosial salah satu yang kemudian banyak menghasilkan sesuatu dengan sangat cepat. Seseorang bisa dengan cepat mempunyai banyak kawan, pengemar atau pengikut karena media sosial.
Pemengaruh dan seleb banyak lahir dari media sosial karena viral. Persaingan di media sosial lebih terbuka dan lebih egaliter ketimbang popularity contest. Di media sosial nobody bisa menjadi somebody.
Mau cepat kaya, cepat pintar, naik kelas sosial, menjadi pakar segala pakar dan lain-lainnya semua bisa dilakukan di media sosial.
Semua dimungkinkan karena media sosial mempunyai algoritma tertentu yang membuat konten bisa menjadi viral. Dan media sosial juga dilengkapi dengan kecerdasan buatan yang memungkinkan segala sesuatu bisa dilakukan dengan cepat atau segera.
BACA JUGA : Relakan Mas Gibran Jadi Wakilnya Pak Prabowo
Pengetahuan yang diwujudkan menjadi sebuah teknologi kemudian menjadi kecerdasan buatan yang memungkinkan segala sesuatu bisa dilakukan dengan cepat atau segera. Manusia yang dulu berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan jalan kaki atau berlari, kemudian menjadi lebih cepat karena penemuan sepeda, gerobak, perahu dan kendaraan bermotor lainnya hingga pesawat terbang. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain kemudian bisa dilakukan dengan segera dan berlipat-lipat cepatnya ketimbang jalan kaki atau lari melewati daratan dan berenang ketika menyebrang perairan.
Teknologi pada dasarnya adalah kecerdasan buatan. Namun dimensi teknologi itu kini dianggap mengancam eksistensi manusia karena mulai memasuki kemampuan dasar manusia yang paling utama yakni berpikir dan belajar. Ya teknologi kecerdasan buatan saat ini dilengkapi dengan kemampuan belajar.
Tapi sudahlah, bagaimanapun juga teknologi selalu dilahirkan memang untuk membuat hidup manusia makin mudah. Sehebat apapun teknologi akan selalu kalah dengan kekuasaan karena teknologi selalu menjadi hamba, bukan menjadi pemimpin.
Hebatnya kekuasaan baru saja ditunjukkan dalam kehidupan kita bersama sebagai bangsa dan negara menjelang pemilu 2024.
Kekuasaan terbukti lebih cepat menjadikan seseorang menjadi ‘sesuatu’ walau sebagian memandang belum saatnya.
Bahkan ketika sesuatu itu secara tegas dinyatakan dalam sebuah aturan, tangan kekuasaanpun mampu merubahnya. Tidak dengan merubah pernyataan yang mengatur itu melainkan dengan menambahkan aturan atau syarat baru.
Dan karena kekuasaan, entitas yang seharusnya hanya bisa menyatakan menerima atau menolak itu ternyata bisa menambah sesuatu yang baru.
Seperti halnya makanan, minuman, selebritas dan teknologi, kini yang instan juga semakin merangsek dalam dunia politik pemerintahan.
Padahal kelembagaan politik dan pemerintahan adalah salah satu kelembagaan yang paling teratur di dunia. Semua ketetapan dan ketentuannya sudah lengkap, ditulis sedetail-detailnya agar politik dan pemerintahan tetap stabil. Karena stabilitas politik dan pemerintahanlah yang menentukan kestabilan sektor-sektor lainnya.
Sebab politik dan pemerintahan pada dasarnya adalah sesuatu untuk mengatur kehidupan bersama agar lebih baik untuk semuanya.
Hanya saja dalam politik dan pemerintahan kebaikan bersama itu bisa direduksi menjadi kebaikan kelompok atau bahkan kebaikan keluarga. Dengan tangan kekuasaan yang kuat, sekelompok rakyat yang berdaulat, dianggap sebagai yang punya mandat bisa dikendalikan, bahkan turut menjadi rombongan sirkus dan tim hore-hore yang mendukung tangan penguasa mencengkeram segalanya.
Politik dan pemerintahan yang pada dasarnya merupakan cermin altruisme tanpa syarat kemudian bergeser menjadi altruisme bersyarat. Dengan transaksi daulat dan mandat bisa dilemahkan, bahkan ditahklukkan.
Saya belum bertemu ibu saya setahun terakhir ini, entahlah apakah ibu masih ngotot dengan sikap anti instan-nya di tengah dunia yang semakin terbiasa dengan segala sesuatu yang berbau instan ini.
note : sumber gambar – VIVA.CO.ID








