KESAH.IDJarak Samarinda Hingga Melak, Kutai Barat kurang lebih 322 kilometer. Jika ditempuh dengan kapal penumpang waktu yang diperlukan kurang lebih 18 – 19 jam, sementara dengan speedboat bisa terpangkas hingga sekitar 5-6 jam. Sedangkan lewat jalan darat, dengan kondisi jalan yang sering rusak disana-sini waktu yang dibutuhkan antara 9 hingga 12 jam. Bandingkan dengan jarak antara Jakarta dan Surabaya yang kurang lebih 783 kilometer. Dengan jarak dua kali lipat lebih perjalanan dari Jakarta ke Surabaya dengan menumpang kereta api bisa ditempuh dalam waktu 9 – 11 jam, sementara dengan bis bisa ditempuh dalam waktu 13 hingga 14 jam. Perlu stamina tinggi dan hati yang riang gembira untuk bepergian dari satu kota ke kota lain di Kalimantan Timur.

Sewaktu pertama kali menapakkan kaki di Kota Samarinda hal yang pertama membuat saya terpana adalah Sungai Mahakam, lebarnya seperti lautan. Melintasi Jembatan Mahakam Kota dada serasa berdesir, panjang sekali hingga rasa khawatir muncul karena takut kalau terjadi apa-apa.

Biasa menumpang perahu dari pinggir pantai Teluk Manado ke Pulau Bunaken, ajakan untuk menyusuri Sungai Mahakam dari Sei Kunjang ke Tenggarong segera saya iyakan. Menumpang kapal jurusan Melak, perjalanan pertama menyusuri Sungai Mahakam menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Waktu itu Kapal penumpang dari Samarinda ke Kutai Barat masih singgah di dermaga tak jauh dari Museum Tenggarong.

Beberapa tahun kemudian saya berkesempatan menjajal naik kapal penumpang dari Melak ke Samarinda. Berangkat petang dan sampai di Samarinda kala matahari bersinar terang serta mulai menyemburkan panasnya. Perjalanan dari Melak hingga Pelabuhan Samarinda Hulu, kurang lebih 17 – 19 jam, sedikit lebih cepat ketimbang Samarinda – Melak karena melawan arus.

Segmen lain aliran Sungai Mahakam yang pernah saya susuri adalah dari Tering, Long Bagun hingga Long Isun. Bukan menaiki kapal kayu melainkan speedboat yang penumpangnya berjumlah antara 20 hingga 28 orang.

Perjalanan dari Long Bagun menuju Long Isun seru karena melewati riam-riam Mahakam.

Namun lebih seru lagi perjalanan dari Long Pahangai ke Long Bagun karena menumpang Long Boat melewati riam-riam.

Tapi yang lebih mengasyikkan adalah menaiki perahu ketinting, dari Long Isun ke Data Dawai.

Segmen aliran Mahakam Bagian Tengah juga cukup sering saya susuri. Naik longboat dan ketinting dari Desa Pela, melewati Sungai Pela ke Sungai Mahakam, menuju hulu ke arah Muara Wis lalu Muara Mutai dan masuk ke Danau Melintang melewati Rebak Rinding. Sungai ini menghubungkan antara Sungai Mahakam dan Danau Melintang yang bersambungan dengan Danau Semayang.

Perjalanan dari Kota Bangun ke Muara Muntai, ini bisa diisi dengan menyinggahi dua danau yang berada di sisi kiri Sungai Mahakam ke arah hulu. Ada danau Kedang Murung di Kota Bangun dan kemudian Danau Uwis di Muara Wis.

Di Muara Muntai sendiri ada pulau di tengah Sungai Mahakam, namanya Pulau Harapan. Mengitari pulau ini dengan perahu juga menyenangkan.

Di aliran Sungai Mahakam dari Kota Samarinda ke arah hulu {Melak} memang bisa ditemui beberapa pulau. Kalau tak salah pulau pertama ada di sekitar Loa Kulu, entah namanya pulau apa. Setelah itu ada pulau yang paling terkenal, berada tak jauh dari Kantor Bupati Kutai Kartanegara, namanya Pulau Kumala.

Kemudian di sekitar Muara Kaman, kalau tak salah di Sambitulung ada juga pulau yang cukup besar, sepertinya tidak berpenghuni. Dan kemudian di Muara Muntai, ada Pulau Harapan yang berpenghuni di sisi hilirnya.

Beberapa tahun terakhir ini di Samarinda ada layanan wisata susur sungai. Ada beberapa kapal yang melayani rute reguler pada akhir pekan dari Pelabuhan Pasar Pagi ke arah hilir hingga Jembatan Mahkota Dua dan kemudian balik ke arah hulu hingga Jembatan Mahakam Hulu, melewati depan Kantor Gubernur Kaltim, Islamic Centre dan Big Mall.

Kapal Wisata ini bisa juga di sewa, rutenya bisa hingga Anggana atau Kutai Lama. Tempat dimana Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura pertama kali didirikan. Disana ada makam para raja perdana dan makam ulama penyebar Islam pertama yang ramai didatangi para peziarah.

Kapal juga bisa disewa untuk rute ke hulu, ke Tenggarong dan seterusnya.

Di Tenggarong juga ada layanan Kapal Wisata yang bisa melayani perjalanan ke arah hulu, menyinggahi desa-desa wisata yang berada di tepian Sungai Mahakam dan Danau Danau Kaskade Mahakam. Ukurannya tidak sebesar kapal wisata yang dioperasikan oleh pengusaha wisata di Kota Samarinda.

Rakit kayu, kayu gelondongan yang dirangkai agar bisa dihanyutkan di Sungai Mahakam dengan ditarik kapal atau perahu.

BACA JUGA : Inter Miami Barcelona U 35

Awal bulan lalu saya mendapat undangan untuk berbicara tentang Pengelolaan Kebersihan Lingkungan Di Desa Wisata. Kegiatannya akan diadakan di Barong Tongkok Kutai Barat. Panitia memberi pilihan akan lewat darat atau lewat sungai.

Saya mendengar perjalanan darat dari Samarinda ke Kutai Barat jalanannya buruk, waktu tempuhnya bisa 10 jam lebih. Maka ketika ditawari melalui sungai dengan naik speedboat dari Pelabuhan Pasar Pagi, saya segera mengiyakan. Namun ternyata mencari tiketnya cukup sulit, speedboat yang berangkat reguler setiap harinya hanya satu atau dua.

Untungnya ada satu speedboat yang dicarter oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa. Sayapun ikut menyisip menjadi penumpang speedboat yang berisi pejabat dan staff DPMPD beserta mitra-mitranya. Mereka akan ke Kubar dan Mahulu untuk meninjau Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat {Pamsimas}.

Senin, 7 Agustus 2023 saya catat sebagai pengalaman pertama menaiki speedboat dari Samarinda menuju Melak. Kapal berangkat sekitar jam 9 pagi dengan ditumpangi oleh 26 penumpang. Perjalanan dengan speedboat memang terasa cepat, belum setengah jam jembatan Kutai Kartanegara dan Patung Lembuswana di ujung Pulau Kumala sudah terlihat.

Sebelum Pulau Kumala, ada satu pulau agak kecil di daerah Jembayan. Dan setelah Pulau Kumala nanti ada lagi pulau besar di daerah Embalut, tak jauh setelah PLTU Tanjung Batu, Kecamatan Tenggarong Seberang.

Di daerah Muara Muntai juga ada pulau besar, namanya Pulau Harapan. Dan kemudian di wilayah Kutai Barat, sebelum perjalanan berakhir di Pelabuhan Melak, ada satu pulau lagi di Kampung Empakuq.

Jarak antara Samarinda – Melak kurang lebih 322 km. Perjalanan melalui Sungai Mahakam dengan speedboat kurang lebih 6 jam dengan satu kali singgah untuk makan dan mengisi BBM di Kota Bangun.

Karena duduk di kursi bagian tengah, ruang pandang saya kurang luas. Saya tak bisa leluasa memandang kanan kiri sungai sebagaimana jika menumpangi perahu ketinting, long boat atau kapal penumpang yang jalanya pelan.

Namun akan terasa bahwa jalur transportasi air melalui Sungai Mahakam adalah jalur yang sibuk. Selain perahu dan kapal masyarakat, lalu lalang tugboat menarik tongkang tiada henti. Yang utama adalah tongkang batubara dan sesekali tongkang kayu hasil panenan HTI, kayu untuk bahan kertas. Sedangkan tongkang yang mengangkut kayu gelondongan juga hanya sesekali terlihat. Saya merasa beruntung masih bisa melihat rakit kayu yang cukup panjang. Tapi tak tahu persis di daerah mana, mungkin sekitar kecamatan Muara Kaman.

Pemandangan lain yang menonjol di kanan kiri Sungai Mahakam adalah konveyor Batubara, stock pile atau tempat penimbunan batubara, jetty dan pelabuhan khusus batubara milik beberapa perusahaan besar.

Pemandangan deretan ponton parkir menunggu giliran diisi batubara menjadi pemandangan biasa, speed dan kapal juga akan sering berpapasan dengan ponton yang berisi muatan gunungan batubara, ukurannya beragam.

Entah batubara itu milik perusahaan apa, namun salah satu kode yang paling sering ditemui di badan ponton adalah BYN.

Kode itu kemungkinan merujuk pada Bayan Resources Tbk atau Bayan Grup yang mempunyai kode BYAN di pasar saham. Di Kalimantan Timur anak perusahaan Bayan Group yang menambang batubara antara lain PT. Bara Tabang, PT. Fajar Sakti Prima, PT. Indonesia Pratama, PT. Mahakam Bara Energi, PT. Mahakam Energi Lestari dan lain-lain.

Operasi Bayan Resources yang saham mayoritasnya dipegang oleh Dato Low Twuck Kong ini membuatnya bergantian dengan Budi Hartono dan Michael Hartono menjadi orang terkaya di Indonesia.

Cengkraman Bayan Resources dimulai ketika Dato Low Twuck Kong mengakuisi PT. Gunung Bayan Pratama Coal yang menambang di wilayah Muara Tae, Kutai Barat. Perusahaan ini mengoperasikan Balikpapan Coal Terminal yang mempunyai kemampuan bongkar muat hingga 24 juta metrix ton per tahun.

Batubara akan dimuat ke kapal pengangkut dengan ukuran Panamax dan Capesize dari kapal ke kapal atau dari daratan {stockpile}. BCT menjadi salah satu terminal batubara terbesar di Indonesia yang dilengkapi dengan 5 grab crane yang bisa memindahkan muatan sebanyak 1000 ton per jam.

Bayan Resources pernah menjadi perbincangan karena masyarakat dan pemerintah Kalimantan Timur memprotes pemberian dana CSR yang sangat besar kepada beberapa universitas di luar Kalimantan Timur. Masyarakat dan pemerintah daerah di Kalimantan Timur merasa diperlakukan tidak adil.

Melihat banyaknya konveyor untuk menumpahkan batubara diatas tongkang dengan koden BYN, bisa dibayangkan berapa banyak bongkahan batubara yang ditumpah ke Sungai Mahakam dan debu abu batubara {flyash} yang dihamburkan ke udara, terbang tertiup oleh angin.

Air Sungai Mahakam yang mulai surut membuat rumah apung atau lanting kandas di lantai tepian sungai.

BACA JUGA : Bajingan, Rasa Bahasa Dan Kecerdasan Sosial 

Meski dengan pandangan yang terbatas, saya berusaha menikmati pemandangan kanan kiri Sungai Mahakam. Dari Samarinda ke Tengarong saya masih bisa menduga-duga melewati daerah mana. Dari sisi air saya masih mengenali sisi daratannya karena ada jalan darat di sisi sungai yang pernah saya lewati dari Samarinda ke Tenggarong.

Tapi antara Tenggarong hingga Kota Bangun yang melewati Muara Kaman benar-benar tak saya ketahui. Jalan darat antara Tenggarong hingga Kota Bangun tidak berdekatan dengan Sungai Mahakam.

Saya baru mengenali lagi pemandangan tepian Sungai Mahakam ketika melewati Kota Bangun menuju Muara Wis dan Muara Muntai.

Namun selepas Desa Batuq, Muara Muntai saya tak lagi mengenali daerah kanan kiri Sungai Mahakam hingga sampai di Melak. Namun ketika saya melihat tulisan Penyinggahan, hati terasa lega karena begitu memasuki wilayah Penyinggahan maka speedboat telah masuk bagian Sungai Mahakam wilayah Kutai Barat.

Meski Sungai Mahakam sedang dalam kondisi surut akibat lama tidak hujan dan cadangan air di danau-danau Kaskade Mahakam mulai mengering namun tak ada hambatan berarti dalam perjalanan. Belum ada gusung atau sedimen yang menyembul di tengah sungai hingga menghalangi atau menghambat perjalanan.

Semakin kea rah hulu memang nampak ada sembulan sedimen di pinggiran, juga tebing di daerah-daerah yang alirannya dalam. Selepas dari Muara Muntai nampak pemandangan tepi Sungai Mahakam seperti pantai, ada hamparan pasir halus berwarna coklat yang cukup luas. Nampak beberapa orang memanfaatkannya untuk menjadi tempat memancing dengan teduhan ranting pohon dan dedaunan.

Di wilayah yang tidak berpenghuni, terlihat monyet bermain-bermain, berkejaran diatas hamparan pasir Mahakam.

Menurut perkiraan saya air Sungai Mahakan surut sekitar 2 hingga 4 meter dari ketinggian rata-rata biasanya di musim penghujan. Namun yang pasti belum sesurut beberapa video yang diupload ke tik tok yang menyebutkan anak-anak bisa bermain hingga ke tengah sungai.

Mungkin di bagian hulu sana, di wilayah Kabupaten Mahulu barangkali ada segmen Sungai Mahakam yang bisa diseberangi dengan berjalan kaki.

Atau pemandangan sungai yang teramat dangkal itu bisa jadi ada di anak-anak Sungai Mahakam, misalnya Sungai Belayan mulai dari daerah Muara Ritan keatas. Disana barangkali sudah bermunculan karangan. Gundukan tanah, pasir dan batuan di tengah sungai yang bisa dipakai untuk piknik.

Yang pasti wilayah air yang mulai mengering justru terjadi di danau-danau Kaskade Mahakam. Mulau muncul daratan luas berwarna kecoklatan. Dan beberapa sudah mulai ditumbuhi rerumputan sehingga dari jauh nampak seperti lapangan dengan permadani hijau. Namun beberapa minggu ke depan pemandangan akan berubah, rumput akan semakin meninggi hingga nampak seperti padang sabana.

Sebelum jam 3 sore, speedboat merapat ke dermaga pelabuhan Melak. Meski merasa senang sepanjang perjalanan namun ada rasa yang kurang. Saya tak bisa menikmati pemandangan Sungai Mahakam sambil mengepulkan asap rokok.

Sayapun bergegas turun bukan untuk mencari tas yang ditaruh diatas deck speedboat. Saya ingin segera membakar sebatang rokok karena mulut sudah terasa asam. Berdiri sambil menghisap rokok dalam-dalam saya memandang kearah hilir.

Di kejauhan nampak pylon jembatan berdiri tegak di kanan kiri Sungai Mahakam namun bentang jalan diatas sungai belum tersambung.

“Jembatan mangkrak,”

Bertambah lagi satu perbendaharaan jembatan mangkrak di Sungai Mahakam. Setahu saya ada satu di Tering dan satu lagi di atas Sungai Pela, anak Sungai Mahakam yang menjadi penghubung dengan Danau Semayang. Jembatan yang dicat berwarna kuning itu dikenal oleh warga sebagai Jembatan Abunawas.

Phyloan jembatan yang terlihat dari atas dermaga pelabuhan Melak itu adalah bakal jembatan Aji Tulur Jejangkat. Jembatan itu mulai dibangun pada tahun 2008 dan kemudian terhenti di tahun 2015 hingga sekarang.

Jembatan itu mestinya menghubungkan Kecamatan Melak dengan Kecamatan Mook Manaar Bulan. Jika jembatan ini jadi maka akan ada jalan pendekat dari Samarinda ke Melak. Konon jika melewati jembatan ini perjalanan dari Melak sampai Kota Bangun bisa ditempuh dalam waktu 3 jam. Sehingga dari Melak ke Samarinda kemungkinan bisa ditempuh dalam waktu 6 jam bukan 9 hingga 12 jam seperti saat ini.

Jika jembatan ini jadi maka perjalanan dari Melak Ke Samarinda, akan melewati Manaar Bulan, Tabang, Kembang Janggut, Kenohan dan kemudian menyeberangi Jembatan Martadipura ke Kota Bangun. Bisa juga dari Kenohan melewati Muara Muntai dan Muara Wis untuk ke Kota Bangun menyeberangi Sungai Mahakam dengan kapal penyeberangan.

Entah kapan jembatan itu akan jadi hingga perjalanan dari Samarinda ke Kubar tak terasa sedang pergi ke luar pulau karena lamanya waktu tempuh.

Ibarat kata perjalanan dari Samarinda ke Barong Tongkok, Sendawar atau Melak Kutai Barat hampir sama lamanya dengan perjalanan dari Jakarta hingga Surabaya dengan kereta api. Ongkosnya pun kurang lebih sama dengan kenyamanan yang jauh berbeda.

note : Perjalanan kesah.id ke Kutai Barat ini difasilitasi oleh Bidang Pengembangan Sumberdaya Ekraf, Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur dalam rangka Pelatihan Kebersihan Lingkungan, Sanitasi dan Pengeloaan Sampah di Desa Wisata.