KESAH.ID – Sejak jaman kerajaan-kerajaan Nusantara, Indonesia selalu dipengaruhi oleh kuliner yang dibawa masyarakat dari negeri seberang. Terus diserbu dan menjadi pasar, Indonesia yang punya keragaman kuliner sangat tinggi belum melakukan serangan balik lewat diplomasi kuliner yang komprehensif. Diplomasi kuliner kita masih bersifat eventual, mengebrak di depan, loyo di belakang.
Tahu saya menyukai kopi, oleh-oleh dari tantenya yang baru pulang dari luar negeri justru diberikan pada saya.
“Ini Kopi Luwak dari Vietnam,” ujar teman saya sambil mengulurkan sebungkus kopi bubuk dengan berat kurang lebih 250 gram.
Saya gembira, tapi juga bertanya-tanya dalam hati “Adalah Luwak di Vietnam sana?”
Peristiwa itu terjadi hampir sepuluh tahun lalu. Dan waktu itu saya tak terlalu mengulik lebih lanjut. Saya juga tahu Vietnam memang punya cara seduh kopi yang populer yakni Vietnam Drip atau kemudian populer dengan Kopi Vietnam.
Saya tertarik untuk mengulik kembali Kopi Luwak Vietnam ketika membaca tentang diplomasi gaya baru yang disebut Gastro Diplomacy atau diplomasi kuliner.
Konon Vietnam sangat berhasil mengembangkan pemahaman dan penerimaan masyarakat di luar negeri melalui pengenalan kulinernya. Vietnam mulai menyusul Jepang, Korea, Tiongkok, Thailand dan Singapura yang kulinernya lebih dahulu populer di luar negeri.
Kembali ke Kopi Luwak, pasti Vietnam belajar dari Indonesia. Sebab kebiasaan mengkonsumsi Kopi Luwak bermula dari kebijakan belanja yang melarang petani kopi memetik dan memungut buah kopi untuk dikonsumsi.
Karena itu petani kemudian memungut kopi yang dimakan oleh Luwak. Karena bijinya tak tercerna maka akan dikeluarkan sebagai kotoran oleh Luwak.
Tai Luwak yang berupa biji kopi menggumpal itu kemudian dicuci, dijemur lalu disanggrai dan kemudian dihaluskan menjadi bubuk kopi.
Lama kelamaan kebiasaan ini diketahui oleh orang Belanda. Dan mereka mencoba, ternyata Kopi Luwak punya keunggulan rasa, lebih halus dan bercitarasa coklat.
Proses fermentasi dalam perut Luwak membuat biji kopinya menjadi istimewa.
Kopi Luwak kemudian menjadi komoditas yang mahal.
Harga yang mahal dan penggemarnya cukup banyak buat komoditas Kopi Luwak dilirik oleh negara tetangga, bukan hanya Vietnam melainkan juga Thailand.
Namun Vietnam lebih maju, jika di Indonesia yang berkembang adalah Kopi Luwak Tangkar, di Vietnam ada perusahaan yang mengembangkan Kopi Luwak Imitasi.
Mengandeng ilmuwan perusahaan itu membuat teknologi fermentasi yang meniru proses fermentasi dalam perut Luwak. Dengan teknologi ini mereka bisa menghasilkan komoditas Kopi Luwak secara lebih cepat dan dalam jumlah yang besar.
Dan Kopi Luwak Imitasi ini disebarkan dengan sangat masif melalui gerai-gerai yang ekpansif. Di setiap destinasi wisata selalu ada gerai yang menjual Kopi Luwak dalam kemasan yang eklusif.
Orang Indonesia yang berwisata ke Vietnam menjadikan Kopi Luwak itu sebagai oleh-oleh, selain karena citarasanya yang eksotik, harganya juga lebih murah dari Kopi Luwak pada umumnya.
BACA JUGA : Pemilu 2024 Dan Pemilih Muda
Sekitar tahun 1975 terjadi pengungsian besar-besaran dari masyarakat Vietnam yang takut menjadi korban kekejaman Regim Vietkong.
Masyarakat berbondong-bondong meninggalkan negerinya bersama keluarnya pasukan Amerika Serikat yang tak berhasil menaklukkan pasukan komunis Vietnam.
Memakai perahu, masyarakat Vietnam mengarungi laut ganas untuk mencari kehidupan baru. Mereka kemudian dikenal sebagai manusia perahu.
Sebagian ingin ke Australia, namun kemudian terdampar atau mendarat di Indonesia. Karena banyak, maka pemerintah Indonesia dan Lembaga Internasional menjadikan Pulau Galang sebagai kamp pengungsian.
Kamp Pengungsian Pulau Galang beroperasi dari tahun 1975 hingga 1996. Kamp kemudian ditutup setelah sebagian bisa diterima oleh Australia, Amerika Serikat dan lainnya serta sebagian besar lainnya dipulangkan karena politik di Vietnam kembali stabil.
Kelak para pengungsi yang kemudian menjadi masyarakat diaspora berkembang menjadi garda depan untuk memperkenalkan kebudayaan Vietnam di negara yang mereka tinggali.
Jumlah masyarakat diaspora yang besar kemudian menjadi tulang punggung suplay chain bahan makanan dan bumbu-bumbuan dari Vietnam. Di pusat-pusat permukiman kaum diaspora Vietnam ada toko atau kedai yang menjual sembako yang didatangkan dari Vietnam.
Lengkapnya bahan baku membuat masyarakat Vietnam di luar negeri bisa membuka warung atau restoran yang menyajikan makanan khas Vietnam sesuai dengan bahan aslinya.
Dikenal mempunyai ciri makanan yang mengandung banyak sayuran, dibumbui rempah dan sedikit minyak, makanan Vietnam kemudian digemari.
Terpengaruh oleh budaya kuliner Perancis yang pernah menduduki Vietnam, tampilan dan citarasa kuliner Vietnam merupakan paduan antara timur dan barat.
Pho, Com Tan, Goi Cuan, Cha Ca, Banh Xeo, Non Hoa Chuoi adalah menu-menu favorit yang selalu ada di restoran Vietnam di luar negeri.
Vietnam kemudian menyusul Tiongkok, Jepang, Korea dan Thailand bahkan Singapura yang kulinernya telah dikenal di luar negeri dan menjadi bagian dari branding kebudayaan di mata masyarakat dunia.
Kuliner Tiongkok memang lebih dahulu terkenal karena imigrasi besar-besaran dan kegiatan dagang semenjak jaman Kerajaan. Di banyak negara bahkan kuliner dari Tiongkok sudah mengalami transformasi, menjadi kuliner lokal lewat proses akulturasi.
Sementara di Jepang kuliner telah menjadi industri, yang populer dari Jepang bukan hanya menu di restoran melainkan juga makanan minuman dalam kemasan.
Bersamaan dengan strategi penyebaran budaya K Pop, makanan Korea Selatan juga ikut mendunia.
Tteokbokki, Kimbab, Ramyeon, Jjangmyeon, Corn Dog, Korean Fried Chicken, tidak hanya dijual di restoran melainkan juga di kios-kios kaki lima. Jajaran Korean Street Food bermunculan di Indonesia.
Cara orang Korea menyantap mie dengan mengeluarkan suara “sluruuup” juga ditiru dan populer di kalangan konten kreator yang gemar menyiarkan mukbang, atau makan besar/banyak ala Korea.
Padahal dalam kebudayaan Indonesia pada umumnya, makan sambil mengeluarkan bunyian dianggap tidak sopan.
Indonesia yang mempunyai kekayaan kuliner beragam, baik kuliner tradisional maupun hasil akulturasi dengan kebudayaan dari luar ternyata terus menjadi pasar yang ramah bagi diplomasi kuliner luar negeri.
Kalau dulu yang gencar melakukan penetrasi adalah Eropa dan Amerika, beberapa tahun terakhir ini negeri tetangga, mulai membanjiri Indonesia dengan kuliner unggulannya. Baik makanan besar, camilan hingga minuman.
Negeri penghasil teh ini masyarakatnya kemudian lebih menyukai dan menggilai Thai Tea dan Oca juga Boba Tea.
BACA JUGA : Nasi Kuning
Indonesia memang mudah terlena. Sudah senang ketika Barack Obama mengatakan Nasi Goreng dan Sate adalah makanan kesukaannya sewaktu masih tinggal di Indonesia.
Atau sudah cukup berbangga tatkala Rendang dimasukkan sebagai salah satu makanan terenak di dunia.
Pujian-pujian atau review-review semacam itu sudah dianggap cukup. Hingga kemudian tidak melakukan serangan balik atas serbuan kuliner luar negeri yang membanjir hingga sampai ke kios-kios kaki lima.
Diplomasi kuliner untuk memperkenalkan dan memperkuat posisi Indonesia di mata pemerintahan dan masyarakat luar negeri belum menjadi pilihan strategis untuk branding.
Padahal terbukti “perang” dengan senjata kuliner bisa lebih memenangkan hati. Karena tembakan peluru kuliner bukan mematikan melainkan memabukkan dan meninggalkan kenangan dalam memori. Terpesona dengan kulinernya akan membuat seseorang punya rasa dan pandangan positif terhadap negeri asalnya.
Dalam pertemuan G20 di Bali, Presiden Jokowi melakukan diplomasi kuliner lewat jamuan makan malam. Menu dan cara penyajian dipikirkan dengan betul dengan bimbingan ahli gastronomi.
Terlihat Presiden Jokowi mengajari pemimpin negeri lain makan dengan tangan. Cara makan yang khas Indonesia, seperti halnya ‘tubruk” dalam menyeduh kopi.
Cara makan memang bisa menjadi kekhasan. Jika Eropa makan menggunakan sendok, garpu dan pisau, Tiongkok dengan sumpit, cara makan ‘puluk’ atau menyuap dengan tangan kosong bisa menjadi keunggulan tersendiri karena keasyikannya.
Hanya saja diplomasi kuliner ala Jokowi masih bersifat eventual. Pun juga yang dilakukan oleh banyak pemerintah daerah, yang sering hanya mengirim rombongan muhibah atau mengikuti dan menyelenggarakan festival tertentu.
Belum ada upaya yang sistematis untuk mendorong tumbuhnya restoran Indonesia di luar negeri. Termasuk membangun suplay chain sehingga bahan makanan yang khas dari Indonesia bisa cukup mudah ditemui di luar negeri. Ada toko sembako khusus Indonesia di kota-kota utama negeri lain.
Sekarang ini masyarakat Indonesia yang rindu dan ingin memperkenalkan makanan Indonesia di luar negeri umumnya berbelanja bahan makanan di toko sembako Vietnam atau Thailand.
Akhirnya masyarakat diaspora Indonesia justru lebih akrab dengan bahan makanan negeri tetangga. Citarasa dan kekhasan kuliner Indonesia tidak diperkenalkan secara otentik, karena lemper misalnya dibungkus dengan daun pisang yang diimport dari Vietnam.
Sudah saat pemerintah lebih serius dalam melakukan diplomasi kuliner. Agar negeri kita bisa menaklukkan negeri tetangga dan negeri seberang dengan cara yang elegan serta tak bernuansa kekerasan.
Kita bisa membangun persahabatan, saling pengertian dan hormat menghormati dengan negeri lainnya lewat diplomasi kuliner, senjata ampuh untuk memanjakan mata, menaklukkan lidah dan mengenyangkan perut.
Ada pepatah yang mengatakan jika kampung tengah sudah penuh, otakpun akan lebih damai hingga interaksi dan komunikasi akan lebih damai serta menyenangkan.
note : sumber gambar – TEMPO.CO








