KESAH.ID – Mulutmu harimaumu, begitu peribahasa lama mengingatkan untuk menjaga ucapan agar tidak menyingung atau menyakiti orang lain. Dewasa ini peribahasa itu mesti dikoreksi menjadi jempol/jarimu harimaumu agar sesuai dengan dinamika dan kearifan jaman. Pasalnya kini banyak orang tersinggung karena postingan atau konten yang diupload atau dibagikan di media sosial.
“Kesedihan ternyata bisa menghibur orang lain,” ujar Kiky Saputri.
Tahun 2017 lalu dia gagal menikah dan merasa dunianya seolah berakhir sampai ingin bunuh diri. Disaat galau itu Kiky mulai menyaksikan stand up comedy. Tak hanya terhibur melainkan juga termotivasi untuk menjadikan lawakan tunggal sebagai cara melepaskan diri dari semua keresahannya.
Kiky Saputri kemudian memilih stand up comedy sebagai saluran untuk speak up, membuat dirinya lega sekaligus terhibur karena mendapat cuan.
Dia kemudian dikenal sebagai komika yang piawai dalam melakukan roasting.
Istilah roasting yang juga populer di kalangan pengemar kopi, dalam dunia komika dipahami sebagai sebuah teknik komedi atau formula lelucon dengan cara mengolok-olok subyek atau obyek leluconnya. Umumnya adalah orang tertentu, tokoh yang dikenal oleh publik pemirsanya.
Mentertawakan yang lain tidak hanya merupakan formula dalam komedi, kehidupan keseharian kita juga akrab dengan hal itu. Kita terbiasa mengolok-olok yang lain, mengejek atau merendahkan dengan tujuan untuk mentertawakan.
Ada banyak obyek yang bisa menjadi bahan tertawaan, mulai dari tampilan fisik hingga kelakuan.
Panji Pragiwaksono seorang komika ternama Indonesia menamai tour pertunjukan stand up-nya Komoidoumenoi. Kata ini tak ada hubungannya dengan binatang melata purba, Komodo yang ikonik itu.
Istilah ini berasal dari bahasa Yunani yang dipopulerkan oleh Aristhopanes, seorang dramawan yang menulis dan mementaskan naskah-naskah komedi. Komoidoumenoi artinya obyek tertawaan.
Dalam karirnya sebagai dramawan komedi, Aristhopanes kerap menjadikan politisi dan tokoh-tokoh terhormat dalam masyarakat sebagai obyek tertawaannya.
Drama dengan judul The Babylonians yang ditulis oleh Aristhopanes berhasil memenangi festival drama Athena pada tahun 426. Namun naskah yang berisi penggambaran perilaku orang-orang Athena selama perang Pelopponesia itu membuat Aristhopanes diajukan ke pengadilan oleh Kleon, seorang politisi. Aristhopanes dianggap merendahkan dan menfitnah orang-orang Athena dihadapan orang asing.
Kelak di kemudian hari, Aristhopanes kemudian disebut sebagai bapak komedi.
Model komedi yang men-spill atau menyentil orang lain, situasi atau kelompok tertentu ini memang gampang membuat orang yang membawakannya terpeleset. Berniat memberi hiburan yang menyegarkan, namun jatuhnya bisa dianggap menghina, mempermalukan, menista dan merendahkan yang lainnya.
Deddy Corbuzier, podcaster paling ternama di Indonesia kemudian menggunakan teknik ini pada acara di channel youtube Close The Doors. Namanya Somasi, singkatan dari Stand On Mic Take It Easy yang menampilkan seorang komika untuk membawakan materinya dengan tema-tema yang disebut pinggir jurang.
Acara ini terinspirasi oleh kenyataan bahwa Deddy Corbuzier kerap disomasi karena omongan dan pertanyaan dalam podcastnya. Kabarnya sampai tahun 2021 saja, Deddy sudah disomasi sebanyak 143 kali.
Sering mendapat peringatan dari pihak lainnya, Deddy kemudian malah seperti menceburkan diri, sengaja membuat acara yang nyerempet-nyerempet bahaya, tapi dengan meminjam mulut para komika.
Ketika Close The Door tampil dalam format baru, acara Somasi diganti dengan Ormas, singkatan dari Obrolan Masyarakat. Dengan tagline dimana ada masalah disitu ada ormas.
Format Ormas adalah debat dua pro kontra antar empat orang yang dibagi dalam dua kelompok. Dibanding dengan Somasi yang hanya menampilkan satu orang komika, obrolan dalam Ormas bukan hanya pinggir jurang melainkan berpotensi masuk jurang.
Studio Deddy Corbuzier sendiri konon berkali-kali digeruduk oleh Ormas gara-gara obrolan dalam podcastnya.
BACA JUGA : Bima, Tak Ada Orang Yang Suka Dikritik
Channel Close The Door sejauh ini merupakan saluran podcast yang paling terkenal di Indonesia, subscribernya telah mencapai 20 juta lebih. Dan setiap konten yang diupload, dalam waktu satu hari hari saja bisa menuai viewer jutaan.
Kuncinya adalah keberhasilan Deddy dan tim-nya menghadirkan masalah. Kenapa masalah menarik perhatian orang?. Menurut Mongol Stres, salah satu ciri yang paling kuat dari masyarakat Indonesia adalah Kepo, pingin tahu. Namun lebih tepatnya GU atau Gila Urusan.
Magnet masalah diakui oleh Nikita Mirzani, selebritas yang keahlian utamanya membuat masalah, atau cari-cari masalah. Nikmir, begitu panggilannya, pernah mengatakan jika dirinya terlibat polemik atau masalah maka endorsannya akan naik.
Baik Deddy maupun Nikmir meski tak mengeluti dunia jurnalistik, kedua paham dengan rumus bad news is good news, kabar buruk adalah berita baik.
Dulu ketika surat kabar masih berjaya, dikenal istilah koran atau tabloid kuning. Isinya berita-berita tentang kejahatan, kecelakaan, kesialan, perkosaan dan gosip serta ghibah. Ada yang menyebut korang seperti itu kalau diremas akan meneteskan darah, sperma dan air mata.
Formula kabar seperti koran kuning itu kemudian semakin mengerucut dilayar kaca lewat program berjuluk infotainment. Acaranya disukai oleh para pemirsa, pembawa acaranya terkenal namun yang diberitakan biasanya murka.
Tapi ada pula yang menunggangi acara ini, istilahnya berita setingan. Seseorang diberitakan seolah-olah pacaran, berkonflik, selingkuh dan lainnya, padahal tidak. Dia diberitakan biar jadi omongan, namanya naik lagi, terkenal kembali walau dengan cara yang buruk.
Masyarakat memang suka kontroversi, makanya layar kaca butuh orang-orang kontroversial walau karyanya tidak ada isi.
Sekarang televisi tak populer lagi. Apa yang dulu hanya bisa ditemukan di televisi kini dengan mudah didapatkan di internet. Ada banyak akun di internet yang mendedikasikan diri untuk menyebar kabar-kabar kontroversial, mengungkap aib, borok dan busuknya pihak-pihak tertentu.
Pemakai internet sendiri, terutama media sosial bahkan sadar atau tidak kerap membongkar borok, aib atau keburukannya sendiri. Seperti merekam dirinya sendiri saat bermesraan dengan pasangan {entah resmi atau tidak}, merekam saat memukuli orang lain, membuat rekaman kekonyolannya sendiri, membuat konten prank dan lain-lain.
Soal bongkar membongkar netizen Indonesia memang jagoan. Yang disembunyikan seseorang dengan cepat bisa terkuak dan kemudian menyebarluas dengan cepat. Banyak netizen kita berbakat untuk melakukan ‘jurnalisme investigatif’.
BACA JUGA : KIB – KKIR, Duet Atau Duel
Perkembangan internet kemudian memicu kekhawatiran merebaknya kejahatan informasi dan ekonomi. Pemerintah kemudian melahirkan UU ITE, Undang Undang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Filosofi yang mendasari adalah menjaga ruang dan aktivitas digital di Indonesia agar bersih, sehat, beretika sehingga ekosistem digital menjadi ekosistem yang produktif.
Namun kemudian UU ITE ternyata produktifitasnya lebih pada banyaknya orang atau pihak yang melaporkan orang atau kelompok lain dengan alasan-alasan yang sangat subyektif.
Ada banyak orang atau pihak tertentu yang diadukan ke polisi gara-gara cuitan, postingan status, grafis dan video yang diunggah di internet atau media sosial.
Dengan UU ITE, orang atau kelompok tertentu dengan mudah melabeli konten yang lainnya sebagai menghina, menista, memfitnah, menyebar aib dan lain sebagainya.
Yang lebih aneh, postingan yang bernada mempertanyakan kebijakan pemerintah kemudian sering ditanggapi oleh orang-orang atau kelompok non pemerintah.
Yang terbaru misalnya video Bima Yudho Saputro yang mempertanyakan kondisi infrastuktur, pendidikan dan layanan publik lainnya di Provinsi Lampung, membuatnya dilaporkan oleh Ginda Ansori, seorang pengacara.
Apa logikanya seorang sipil melaporkan warga sipil lainnya karena mengkritik pemerintah?.
Ketersinggungan random seperti ini membuat UU ITE dimanfaatkan secara salah kaprah.
Semulia apapun alasan Ginda mengadukan Bima, tindakan semacam ini jelas melukai prinsip utama demokrasi.
Model ketersingungan random semacam ini bukan hanya ditunjukkan oleh Ginda Ansori, tapi banyak orang dan kelompok lainnya. Harusnya ini menjadi refleksi kita bersama bahwa ada yang salah dengan model kepemimpinan demokrasi kita belakangan ini.
Ada kecenderungan para pemimpin yang dipilih lewat pemilu mempertahankan kelompok pendukungnya setelah menduduki jabatan publik. Ada yang membiarkan namun tidak sedikit yang kemudian melembagakannya.
Kelompok non pemerintah inilah yang kemudian kerap bereaksi kelewatan ketika ada masyarakat atau kelompok masyarakat yang mengkritisi kebijakan pemerintah.
Yang dikritisi anteng saja, namun kelompok pendukungnya yang blingsatan dan kemudian melakukan serangan balik. Atau yang lebih tidak sehat lagi, yang dikritisi kebijakannya kemudian meminjam tangan dan mulut kelompok pendukungnya untuk membungkam pihak-pihak yang mengkritisi kebijakannya.
note : sumber gambar – SEHATQ.COM








