KESAH.ID – Megawati membuktikan diri sebagai pemimpin yang determinatif, punya prinsip dan mental yang teguh dalam memutuskan. Tak mau dibujuk-bujuk, diatur-atur atau didahului terbukti keputusan politik strategis Megawati berhasil menjadi ‘ledakan’ merubah peta permainan dan mempunyai efek ‘wow’. Selalu ada kejutan dari sosok yang suka ngeselin itu, yang diamnya seperti pintu dengan grendel dobel.
Bergabung dalam sebuah organisasi yang melakukan intervensi pendidikan dan penyadaran untuk pencegahan penyakit menular, saya waktu itu dipersiapkan menjadi petugas penjangkau masyarakat.
Salah satu pelatihan yang mesti saya ikuti adalah Pelatihan Komunikasi untuk Perubahan Perilaku agar saya menguasai cara penyampaian informasi sesuai dengan tahapan mulai dari penyadaran, input pengetahuan, peningkatan ketrampilan, memicu niat perubahan dan menyemangati untuk bertahan dalam pilihan perubahan.
Selain mempelajari pean atau informasi pokok dalam masing-masing tahapan, yang terus ditekankan dan dilatih dalam pelatihan itu adalah cara menyampaikan pesan. Keberhasilan penyampaian informasi dan pesan amat ditentukan oleh bahasa tubuh, intonasi dan pilihan kata-kata.
Bahasa tubuh sebagai komunikasi non verbal ternyata menyumbang point terbesar dalam keberhasilan komunikasi verbal karena akan membuat komunikasi menjadi dinamis dan menarik.
Yang dimaksud dengan bahasa tubuh meliputi ekpresi wajah, kontak mata, postur, gestur dan posisi serta gerakan bagian tubuh.
Dalam dunia politik, bahasa tubuh menjadi salah satu tema penting terutama untuk membaca pesan atau makna yang tersirat dari komunikasi politik para politisi yang kerap kali menyembunyikan tujuan dari pesan yang sebenarnya. Apa yang diucapkan oleh tokoh politik tidak serta merta bisa ditelan mentah-mentah, karena politisi kerap berbicara memakai kode atau tanda.
Maka dalam live event yang disiarkan oleh televisi untuk membincang peristiwa politik terkini selalu dihadirkan ahli komunikasi yang akan membincang bahasa tubuh dari sosok-sosok penting yang hadir atau ada dalam peristiwa politik tersebut.
Saat Megawati Sukarno Putri mengumumkan pencapresan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden dari PDIP, para pengamat bahasa tubuh menangkap ada aura ketegangan, kikuk, tidak bahagia dan lainnya yang lazimnya tak ditemukan dalam pengumuman sesuatu yang ditunggu-tunggu.
Puan Maharani, Joko Widodo, Megawati Sukarno Putri, Ganjar Pranowo dan Prananda Prabowo yang duduk di depan menghadap publik tidak banyak memamerkan senyum.
Sorotan lebih ditujukan kepada Joko Widodo yang sepertinya menunjukkan wajah lelah karena datang dari Surakarta. Mendengar Megawati menyebut nama Ganjar tak cukup membuat wajah Jokowi jadi sumringah.
Apakah Jokowi tak lagi suka pada Ganjar Pranowo karena dianggap sebagai biang yang menyebabkan penyelenggaraan Piala Dunia U 20 di Indonesia batal?.
Entahlah, namun tafsir moderat menyatakan bahwa Joko Widodo kikuk berada dalam acara deklarasi tersebut, sebab dia kini masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Dalam posisi sebagai presiden tentu Joko Widodo menjadi tak nyaman berada di depan, seolah ikut mendeklarasikan.
Posisi Joko Widodo menjadi serba sulit, makanya ekpresi dan gestur tubuhnya kemudian ditangkap negatif oleh mata para ahli pembaca bahasa tubuh.
Tafsir kemudian bisa diperlebar, Joko Widodo menjadi tak nyaman karena paska pembatalan penyelenggaraan Piala Dunia U 20, Jokowi digambarkan mulai berseberangan dengan PDIP. Dan faktanya, Jokowi kemudian berkumpul dengan ketua-ketua partai dari Koalisi Indonesia Baru dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya.
Setelah pertemuan itu para ketua partai menyebut tentang Koalisi Besar yang ada di bawah komando Jokowi. Mereka menyebut diri sebagai ‘Orangnya Joko Widodo”, apa yang akan diputuskan oleh Koalisi Besar tergantung pada arahan Jokowi.
Ucapan itu senada dengan ucapan para kader PDIP yang kerap menyatakan apapun itu akan diputuskan sendiri oleh Megawati. Kader PDIP akan mengikuti secara tegak lurus.
Diluar Koalisi Perubahan yang dibentuk oleh Nasdem, Demokrat dan PKS, kemudian ada dua sosok yang berpengaruh dalam pencapresan 2024 yakni Megawati dan Joko Widodo.
Joko Widodo yang diperlakukan oleh PDIP atau Megawati sebagai petugas partai nampaknya mulai mbalelo dan punya pikirannya sendiri soal suksesi 2024.
BACA JUGA : Mendulang Ingatan Lebaran Di Masa Kecil Dulu
Bacaan atas bacaan tubuh sebenarnya bukan sesuatu yang ilmiah, tafsirnya bisa bias. Penjelasan yang paling menyakinkan tetap didasarkan atas tafsir dengan menghubung-hubungkan pada peristiwa-peristiwa sebelumnya.
Para komentator politik mungkin tidak akan menafsir macam-macam bahasa tubuh Joko Widodo andaikan mereka tahu bahwa setelah pengumuman pencapresan Ganjar Pranowo, ternyata Joko Widodo mengajak Ganjar Pranowo pulang ke Solo naik pesawat kepresidenan.
Soal Jokowi jengkel pada Ganjar, tentu saja iya. Tapi sudah dieliminasi, hal mana ditunjukkan oleh Gibran yang datang menemui Ganjar Pranowo untuk meminta maaf karena telah berbeda pendapat.
Tak ada yang tahu apa yang dibicarakan Joko Widodo dan Ganjar saat satu mobil dan satu pesawat dalam perjalanan dari Batu Tulis menuju Surakarta. Tapi setelah Sholat Ied di Solo Ganjar keceplosan sedikit tentang obrolan dalam sepanjang perjalanan. Ada banyak yang dibicarakan.
Satu mobil, satu pesawat, satu masjid untuk mengikuti Sholat Ied, dengan jelas menunjukkan Joko Widodo tidak menolak atau tak suka pencalonan Ganjar Pranowo oleh PDIP. Joko Widodo bahkan dalam kedudukannya sebagai presiden, tetap menunjukkan loyalitasnya pada PDIP, pada Megawati.
Gibran lagi-lagi jadi kunci. Setelah Sholat Ied, Gibran menemani Ganjar Pranowo bersama keluarga sarapan pagi di sebuah warung angkringan. Setelah sarapan pagi, Ganjar berserta keluarganya bertolak ke Purbalinga kampung halaman istrinya, lalu ke Kutoarjo tempat tinggal Ganjar waktu SD, dan Tawangmangu tempat kelahirannya.
Siangnya, Presiden Jokowi yang tidak mengadakan open house kedatangan tamu, yakni Prabowo yang disertai oleh putranya. Prabowo diterima oleh Joko Widodo bersama dengan keluarganya. Ini pertemuan pertama Jokowi dan Prabowo setelah pengumuman Ganjar Pranowo menjadi calon presiden PDIP.
Pertemuan ini tidak bisa dibaca macam-macam karena Prabowo memang selalu datang ke Jokowi disaat lebaran. Pasti ada pembicaraan empat mata antara Jokowi dan Prabowo tapi tak ada yang tahu apa isinya.
Lagi-lagi Gibran yang menjadi kunci. Setelah bertamu kepada Joko Widodo, Prabowo kemudian diantar oleh Gibran berkeliling Kota Solo, juga ditemani berkunjung ke tokoh penting lainnya.
Prabowo dengan tegas menyatakan dirinya diberi mandat oleh Partai Gerindra untuk menjadi calon presiden. Dan Gerindra adalah partai pemenang pemilu terbesar kedua, partainya punya kekuatan.
Namun yang didoakan oleh Prabowo justru Gibran, agar terus menguat elektabilitasnya.
Sebelum pengumuman dari Megawati atas penugasan Ganjar Pranowo, angin tengah berpihak pada Prabowo, elektabilitasnya yang dianggap sudah stagnan di posisi tinggi ternyata bisa naik. Endorse dari Joko Widodo nampak jelas, partai-partai pemerintah kecuali PDIP juga mulai merapat ke Prabowo.
Gabungan antara KKIR dan KIB bahkan mulai menyebut Koalisi Besar dan dengan percaya diri mempersilahkan PDIP untuk bergabung.
PDIP menyambut tawaran itu, namun bersikukuh bahwa calon presidennya harus dari PDIP.
BACA JUGA : Logika Popularitas, Tiket Menuju Pilpres 2024
Andai saja Megawati Sukarnoputri menunjuk Puan Maharani sebagai capres PDIP mungkin suasananya berbeda. Para pengamat tidak akan riuh bicara soal masa depan Koalisi Besar yang muncul dari buka puasa yang diadakan oleh Ketua PAN.
Banyak yang menduga Megawati akan menugaskan Puan Maharani sebagai calon presiden sekaligus sebagai penanda suksesi kepemimpinan di PDIP. Namun Megawati tak memilih melakukan hal itu, tanpa ditunjuk menjadi capres sekalipun, tampuk kepemimpinan PDIP tetap akan aman ditangan keluarga keturunan Sukarno.
Dengan ditunjuknya Ganjar Pranowo sebagai capres dari PDIP, sekurangnya telah muncul 3 capres yang resmi dicalonkan oleh partai atau koalisi partai dengan kekuatan yang seimbang.
Koalisi Perubahan yang diusung Nasdem, Demokrat dan PKS tidak terlalu terpengaruh dengan pencalonan Ganjar Pranowo, namun Koalisi Besar kemudian jadi tanda tanya.
Mulai muncul duga-duga bahwa Koalisi Besar akan layu sebelum berkembang. Sebab nampak jelas bahwa PDIP membuka peluang posisi calon wakil presidennya berasal dari luar, dari partai lain atau yang non partai namun diterima oleh partai lainnya.
Dalam hari, minggu atau bulan mendatang, pertanyaan apakah Koalisi Besar, KIR dan KIB akan berduet atau berduel dengan PDIP mulai akan terlihat dinamikanya.
Yang pasti kursi kosong calon wakil presiden akan menarik banyak pihak untuk bergabung dengan PDIP, bahkan tanpa peluang menduduki kursi calon wakil presiden sekalipun tetap menarik. Partai Hanura misalnya, segera setelah pengumuman Ganjar Pranowo sebagai capres dari PDIP langsung mengumumkan dukungannya.
Joko Widodo menyebut beberapa nama yang potensial untuk menjadi calon wakil presiden bagi Ganjar Pranowo. Beberapa nama yang disebut diketahui telah diendorse oleh Jokowi, seperti Erick Thohir dan Sandiaga Uno.
Erick bukan anggota partai, namun namanya setahun terakhir ini dilekatkan pada Nahdatul Ulama, Erick telah menjadi anggota Banser dan berhasil menjadi Ketua Panitia Perayaan Satu Abad NU.
Sedangkan Sandiaga Uno yang adalah pengurus Partai Gerindra, telah menyatakan pamit dari Gerindra untuk kemudian bergabung ke PPP. Peresmiannya bergabung dengan PPP tinggal menunggu waktu.
Dan masih banyak calon lainnya yang bisa saja merapat atau mencoba peruntungan agar diterima menjadi pasangan Ganjar Pranowo.
Selama nama pasangan belum didaftarkan ke KPU, segala kemungkinan masih terbuka. Komitmen atau kesepahaman yang dibangun yang belum diwujudkan lewat pendaftaran pasangan capres dan cawapres selalu bisa dirubah.
PKB yang telah mengkampanyekan Cak Imin, bisa mengambil peluang itu. Meski sudah jauh-jauh hari mengkampanyekan diri sebagai calon presiden, namun Cak Imin tidak akan keberatan digandeng sebagai cawapres.
Pun dengan Partai Golkar, Airlangga Hartarto diamanati oleh partainya untuk ikut serta sebagai peserta pemilu presiden 2024. Posisinya tidak dibatasi hanya menjadi capres, maka bisa saja Golkar membawa KIB menyeberang ke PDIP untuk mendukung pasangan Ganjar Pranowo dan Airlangga Hartarto.
Ada banyak kemungkinan yang akan terjadi, duet atau duel akan segera terlihat dalam beberapa hari mendatang.
note : sumber gambar – DETIK.COM








