KESAH.IDHampir semua stasiun televisi pernah mempunyai acara unggulan berupa tayangan dunia mistik yang menguak misteri tentang hal-hal gaib, tahyul dan lain-lainnya. Kini di youtube juga banyak konten kreator yang mendapat banyak subscriber dan viewer karena video-video yang berisi atau membincang tentang hal-hal misteri, horor, gaib, supranatural, metafisik, mitos dan tahyul. Meski banyak yang keberatan namun tanpa hal-hal semacam itu, dunia nggak bakalan seru.

Pada suatu ketika saya berupaya menghindari hal-hal yang saya anggap sebagai material kimia. Misalnya ketika makan atau minum maka saya akan memilih makanan dan minuman yang saya anggap alami, paparan atau asupan unsur kimia dari luarnya kecil.

Makanya saya suka makan sayur yang tumbuh liar, tidak ditanam dan dipelihara dengan pemakaian pupuk, obat anti hama dan hormon-hormon pertumbuhan lainnya.

Saya merasa telah menerapkan cara hidup atau sekurangnya cara makan yang sehat pada waktu itu.

Namun pada akhirnya saya sadar ternyata kategori kimia dan non kimia yang saya pahami tidak sepenuhnya benar.

Mengkonsumsi tumbuhan, buah-buahan dan apapun yang liar tanpa campur tangan teknologi budidaya tidak otomatis lebih sehat dibandingkan dengan konsumsi makanan atau minuman yang dipelihara dengan pemupukan dan kemudian diolah di dalam pabrik.

Sebab diujung apapun material yang ada di dunia ini pada akhirnya bersifat kimia.

Air yang kita minum sehari-hari sebenarnya merupakan zat kimia, nama kimianya H20. Udara yang kita hirup juga merupakan materi kimia, sebutannya CO2. Jadi salah kalau kemudian menyebutkan bahwa kimia itu semuanya berbahaya.

Memang ada kimia yang berbahaya, namun yang tidak berbahaya jika jumlahnya berlebihan juga akan menimbulkan bahaya, sehingga diperlukan batas-batas toleransi tertentu.

Perbedaan antara makanan organic dan anorganik, bukan soal keberadaan unsur kimia melainkan pada jumlah kandungannya. Makanan organik dianggap lebih rendah kandungan kimia berbahayanya dibanding makanan anorganik. Tapi itu anggapan umum, sebab soal kandungan mesti dilakukan pengetesan atau ujicoba masing-masing. Sebab kandungan kimia berbahaya tidak hanya berasal dari pupuk, pestisida atau hormon-hormon tambahan lainnya melainkan juga dari lingkungan seperti udara atau sumber polusi lainnya.

Singkatnya manusia dan mahkluk hidup lainnya adalah mahkluk kimia, fisika dan biologi.

Manusia disebut mahkluk fisika dan kimia karena mempunyai tubuh atau materi yang tersusun dari unsur kimia utama yakni oksigen, hidrogen, nitrogen, karbon, kalsium, fosfor dan lain-lain.

Namun manusia berbeda dari batu, tanah, pasir dan benda atau materi lainnya yang bersifat abiotik karena manusia merupakan mahkluk biologi. Mahkluk biologi atau hidup karena bisa bergerak, bertumbuh dan berbiak.

Sebagai mahkluk biologi manusia adalah mahkluk yang rumit karena mempunyai sel sehingga terbentuk banyak organ dalam tubuhnya. Disebut hidup ketika masing-masing organ bekerja/berfungsi dan mampu bekerjasama. Jika organ tidak lagi berfungsi dan tak mampu bekerja sama maka manusia akan mati dan kembali menjadi mahkluk kimia, terdekomposisi sehingga materi fisiknya berubah atau bahkan lenyap.

Tapi begini, menempatkan manusia hanya sebagai mahkluk fisika, kimia dan biologi tentu saja nggak seru. Bukankah sebagai manusia kita selalu merasa harga diri kita lebih tinggi dibandingkan batu, semen, kerikil, air, kayu, tumbuhan dan berbagai jenis binatang lainnya.

Contoh paling gampang, kita manusia tak mau disamakan dengan binatang. Padahal secara biologi kita termasuk dalam kingdom of animalia. Kita adalah binatang bertulang belakang {vertebrata}, menyusui {mamalia} dan berjalan tegak {primata}.

Fakta bahwa kita manusia bersaudara dekat dengan babi, tikus, anjing, monyet, kera, sapi dan lain-lainnya bisa ditemukan dalam prosedur pembuatan obat-obatan atau vaksin. Semua obat atau vaksin yang diproduksi sebelum dipakai secara massal oleh manusia akan diujicobakan kepada binatang. Jika obat atau vaksinya bekerja pada binatang maka akan bekerja pula secara efektif pada manusia.

Makanya muncul istilah tikus atau kelinci percobaan, untuk menyebut binatang-binatang yang dipakai sebagai sarana ujicoba dalam laboratorium.

Hasil pemeriksaan DNA atau Deoxyribonucleic Acid, kode genetik yang menjamin bahwa sel dari anak akan mewarisi karakter yang sama dari induknya menunjukkan DNA manusia kurang lebih sama atau sangat dekat kemiripannya dengan DNA Simpanse, Bonobo, Orang Utan dan kera besar lainnya. Juga masih dekat dengan DNA Tikus, Kucing, Sapi, Anjing dan Babi.

Bahkan kalau diurut-urut lagi juga ada kemiripan walau dibawah 60 persen dengan DNA Pisang, Kol, Lalat Buah, Lebah dan Ayam.

BACA JUGA : Main Hati Karena Malas Belajar Biologi

Namun tenang saja, selisih sangat kecil itu sudah membuat perbedaan yang teramat besar. Coba bandingkan antara kita dengan Simpanse yang kemiripan DNA-nya mencapai 98,7 persen. Artinya hanya berbeda 1,3 persen. Namun beda antara manusia dan Simpanse seperti bumi dan langit.

Kalau dengan Simpanse saja sudah jauh berbeda apalagi dengan Tikus, Anjing, Kucing, Babi dan Kecambah.

Binatang, tumbuhan dan mahkluk hidup lainnya umumnya berkembang secara evolutif jadi pelan sekali bahkan terkesan. Sementara manusia mengalami beberapa revolusi, bukan hanya biologis tetapi perilaku, pengetahuan dan teknologi.

Menurut Yuval Noah Harari, faktor kecil yang memicu perbedaan antara manusia dan binatang pada umumnya adalah kemampuan manusia menguasai api. Dengan menguasai api, rentetan revolusi terjadi pada manusia hingga meninggalkan dunia binatang jauh sekali. Manusia kemudian berperadaban.

Api memicu revolusi kognitif. Karena dengan api manusia kemudian mempunyai senjata untuk melawan ancaman binatang buas, dingin, kegelapan dan energi yang dikeluarkan untuk mencerna makanan menjadi lebih kecil karena makanan dimasak.

Api kemudian membuat manusia merasa aman, nyaman dan bisa memanfaatkan waktu luang di malam hari. Kondisi ini membuat kemampuan komunikasi antar manusia makin berkembang lewat bahasa. Dengan bahasa manusia bisa memproduksi pengetahuan, informasi dan membangun kerjasama yang luas dengan yang lainnya.

Dengan bahasa manusia bisa mengambarkan imajinasinya, membentuk dan menciptakan realitas, , melahirkan teori, mengkreasi nilai, norma dan tuntunan etik lainnya.

Kombinasi antara kesadaran diri dan bahasa mendorong manusia untuk mempertanyakan segala sesuatu, kenapa dan bagaimana segala sesuatu terjadi atau ada. Teori sebab akibat menjadi jawaban atas adanya segala sesuatu, bagaimana sesuatu bermula.

Karena banyak ketidaktahuan, pengetahuan atau keyakinan manusia di masa-masa perdana diwarnai oleh kisah atau cerita yang tidak sebenarnya. Semua kisah asal usul bermula dari hasil karangan, duga-duga yang kemudian dijadikan kisah atau cerita.

Muncul sosok-sosok yang kemudian dianggap sebagai validator pengetahuan, orang-orang yang didudukan sebagai sumber pengetahuan karena kedudukan atau kekuasaannya. Pengetahuan kemudian berbasis kekuasaan.

Yang disebut orang pintar adalah kepala suku, raja, dukun, panglima perang, bangsawan, penasehat raja dan lainnya.

Penasehat kemudian ditempatkan sebagai orang bijak yang tugasnya berpikir atau memikirkan segala sesuatu dengan menimbang-nimbang banyak hal. Kelak para pemikir ini kemudian disebut dengan filsuf. Tugasnya mempertanyakan segala sesuatu, mencari jawab atas semua pertanyaan-pertanyaan.

Filsafat kemudian berkembang menjadi ibu dari segala ilmu.

Meski ada ribuan filsuf yang mengeluti realitas dunia namun tetap ada misteri yang tersisa, ada banyak hal yang tidak bisa diterangkan dengan tuntas dan gamblang. Dunia masih menyisakan banyak keajaiban-keajaiban, ada banyak kejadian yang sulit diterima akal dan nalar, penyebabnya tidak diketahui. Manusia kemudian menyebutnya sebagai hal-hal yang gaib. Dimana ada kekuatan yang tak terlihat, berasal dari luar yang menyebabkan kejadian atau fenomena tersebut.

Manusia memang selalu butuh jawaban. Namun berbagai fenomena tidak semuanya bisa dijawab karena keterbatasan pengetahuan dan juga teknologi atau alat untuk mengenalinya. Maka dulu gempat bumi kerap diterangkan bahwa naga atau ular besar di bawah tanah sana tengah ngulet atau menggeliat.

Dan ketika ada letusan gunung, kalau tak besar dianggap gunungnya sedang batuk. Namun jika meluluh lantakkan kawasan sekitarnya maka dikatakan gunung sedang marah.

Saat sudah mengenal Tuhan, berbagai bencana yang terjadi sering diterangkan sebagai ujian atau teguran dari-NYA.

BACA JUGA :  The Super President Jokowi

Sampai dengan tahun 1960-an pengetahuan tentang cara kerja otak masih terbatas. Hal-hal yang dipahami tentang otak masih bersifat asumsi, bahkan sebagian berupa karangan. Pun ketika ilmu neurosains perlahan bisa memetakan algoritma otak, pengetahuan tentangnya tidak segera bisa menyebar. Kalaupun menyebar pengetahuan yang telah lama diyakini juga tidak mudah untuk dirubah.

Dengan neurosains kemudian diketahui bahwa otak mengendalikan semua yang berhubungan dengan tubuh, mulai dari gerak, perasaan, keinginan, niat dan lain sebagainya. Jika otak tidak aktiv maka tubuh tidak aktiv.

Jadi tidak benar kalau otak perlu diaktivasi, sebab sejak lahir otak manusia sudah aktiv seratus persen.

Dan terkait dengan pandangan umum bahwa otak umumnya hanya dikaitkan dengan aktivitas berpikir dan kecerdasan intelektual ternyata juga tidak demikian. Dalam otak yang sama ternyata da bagian otak rasional dan otak emosional. Pun yang disebut dengan kecerdasan bukan hanya kecerdasan intelektual melain juga kecerdasan emosional, kecerdasan sosial dan lain-lain.

Temuan lain dari neurosains ternyata otak tidak terobsesi dengan kebenaran. Otak cenderung menerima hal-hal yang menyenangkan, yang disukai atau dimaui. Otak lebih mudah untuk diyakinkan, apa yang diyakini dianggap sebagai benar.

Dalam banyak hal, kerja otak rasional lebih sering dibajak oleh otak emosional. Dalam memilih misalnya, kita akan cenderung memilih dengan cepat berdasarkan kesukaan kita. Baru kemudian kita akan memberikan alasan jika ditanya.

Perihal hal-hal yang gaib, mistik dan lainnya, sejak menguasai bahasa, kecerdasan yang pertama dikuasi oleh manusia adalah mengatakan hal yang tidak sebenarnya. Teori pertama yang lahir adalah teori konspirasi. Dengan bahasa manusia bisa menghubungkan pengalaman masa lalu, masa kini dan masa depan.

Dengan bahasa manusia mulai menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Apa yang tadinya cerita kemudian dipercaya oleh banyak orang dan kemudian menjadi kebenaran, pengetahuan umum.

Soal hantu atau penglihatan lainnya, otak memang bisa melihat hal-hal yang orang lain tak lihat. Seperti mimpi, kita bisa melihat walau sedang tidur, mata terpejam. Jika kita tak sadar kalau sedang bermimpi maka kita merasa apa yang kita mimpikan benar-benar terjadi.

Jika kita tak bisa membedakan mana mimpi, mana halusinasi dan mana hasil pandangan mata maka kita pun akan menyakini apa yang tak ada itu ada.

Dalam neurosains apa yang nyata adalah apa yang bisa dilihat oleh orang lain, bisa dirasakan sama oleh orang lain atau bisa dilihat dengan alat bantu. Jika tidak maka sesuatu itu tidak ada.

Lalu apakah kita nggak boleh percaya orang sakti, jin, setan, gendruwo, energi positif, energi negatif, aura dan lainnya?. Ya boleh saja, namanya juga percaya tentu tidak boleh dilarang.

Selama yang dipercayai itu bisa membuat senang, membuat hidup lebih baik, lebih akrab dengan tetangga, membuat kita jadi suka menolong orang lain tentu saja baik-baik saja.

Tapi ketika kita menjadi Bupati, Gubernur atau Presiden tentu tak bakal percaya kalau uang di brangkas atau di rekening pemerintah hilang karena dicuri tuyul.

Atau ketika ditangkap KPK, lalu mengatakan bahwa ada bisikan dari pohon disebelah ruang kantor untuk menarik uang fee proyek, pasti penyidik KPK tak akan percaya kecuali kemudian dokter ahli kejiwaan bisa memastikan anda adalah Orang Dengan Gangguan Kejiwaan.

Akhirnya dalam hidup dan kehidupan ini memang tak semuanya harus ilmiah. Sebab dunia tanpa misteri, tahayul dan hal-hal gaib lainnya tak bakalan seru. Mirip dengan dunia ketika semua orang jujur semua, pasti nggak asyik karena tidak ada drama, tak ada panggung sandiwara.

note : sumber gambar – REMOTIVI.OR.ID