KESAH.IDAda banyak konten kreator, motivator dan penceramah yang fasih bicara soal hati. Konten-kontennya sungguh menginspirasi hingga banyak mendapat like, comment dan share. Tapi kalau ditelisik lebih lanjut, sering kali obrolan soal hati yang memang indah itu ternyata cermin dari rasa malas untuk belajar ilmu biologi.

“Buat perempuan jangan sibuk mempercantik fisik, kecantikan fisik hanya membuat laki-laki menatap. Tapi sibuklah mempercantik hati, karena kecantikan hati membuat laki-laki menetap,”

Amboi, konten-konten semacam ini yang dibuat oleh laki-laki berwajah cool dan sok peduli pada perempuan banyak bertebaran di media sosial, terutama setelah tik-tok, reels dan youtube short populer.

Sekilas memang menyejukkan, mereka tampil seperti orang-orang yang peduli pada hati, membangun kedirian yang hakiki.

Saya sendiri tak terlalu tertarik untuk mengikuti hal-hal semacam itu. Kalau ada konten semacam itu singgah di timeline saya, yang saya perhatikan adalah komentar-komentar dari pemirsanya.

Urusan komentar, netizen Indonesia adalah jagonya. Membaca komentar-komentar itu menjadi hiburan tersendiri.

Saya sendiri tak pernah mau ikut berkomentar, bukan karena tak punya komentar.

Melihat video yang narasinya soal hati, main hati dan hal-hal yang senada dengannya, membuat saya kerap berpikir bahwa kebanyakan kita malas belajar lagi soal biologi.

Kesalahan pertama soal hati adalah ketika mengatakan hati orang sering kali memegang dada. Padahal posisi hati atau liver ada ronga perut kanan bagian atas, tepat di bagian rusuk sebelah kanan.

Kita kemudian tidak membedakan antara hati sebagai organ dan kiasan. Sebagai organ tentu saja hati tidak bisa dipercantik karena fungsi hati bukan untuk menarik perhatian orang lain.

Fungsi organ hati adalah memproduksi empedu, menyerap dan memetabolisme bilirubin, membantu menciptakan faktor pembekuan darah, memetabolisme lemak, memetabolisme karbohidrat, menyimpan vitamin dan mineral, produksi albumin, fungsi imunologi, menyaring darah dan lain-lain.

Namun secara kiasan hati kerap ditautkan dengan perasaan, kebaikan, perilaku terpuji dan lainnya. Hingga kemudian perempuan sering lebih dikaitkan dengan hati karena perempuan dianggap mesti lemah lembut, pemaaf, ngemong, menyembunyikan kesedihan dan lain-lain.

Anggapan umum dalam masyarakat, perempuan lebih berpikir dengan hati sementara laki-laki dengan kepala atau otak.

Hal yang rasional kemudian ditempatkan di otak, sementara yang non rasional/emosional atau perasaan dikaitkan ke hati.

Padahal kalau kita benar-benar belajar biologi, sesungguhnya yang rasional dan emosional ada pada tempat yang sama yakni otak.

Jadi baik orang rasional maupun emosional sama-sama menggunakan otak. Otaknya sama-sama bekerja seratus persen.

Adalah salah menganggap orang yang tidak berpikir berarti tidak menggunakan otak. Dipakai untuk berpikir atau tidak, otak tetap bekerja. Kalau otak tidak bekerja seratus persen, akan ada bagian tubuh yang lumpuh, kesadaran akan menurun, respon akan lemah dan lain-lain.

Maka dalam arti kiasan, mempercantik hati sebenarnya tidak hanya berlaku untuk perempuan. Laki-laki yang tak ‘cantik hatinya’ pun akan membuat bukan hanya perempuan menjadi ogah namun laki-laki lainnya juga muak.

Jujurly, untuk laki-laki heteroseksual, perempuan yang menarik tentu saja yang cantik secara fisik. Urusan, sekali lagi kiasan ‘cantik hati’ sulit untuk diketahui dengan segera. Dan baik laki-laki maupun perempuan sama-sama akan ‘cantik hati’-nya jika kebutuhan, keinginan dan harapannya terpenuhi.

BACA JUGA : The Super President Jokowi

Kenapa kita suka sekali bicara soal hati dalam konteks kiasan?. Semua bermula dari para filsuf yang rajin mempertanyakan semua hal. Mempertanyakan secara radikal, sampai ke akar-akarnya hingga tak ada lagi pertanyaan.

Karena semangat mempertanyakan itu kadang-kadang filsuf menanyakan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan, tidak ada pertanyaannya.

Ketika bertanya “Siapa itu manusia?”, Plato salah seorang filsuf besar jaman Yunani mengatakan bahwa manusia adalah mahkluk ganda. Dualisme Plato menyebutkan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa.

Dualisme semacam ini kemudian juga menjadi pandangan umum dalam pemikiran agama. Manusia dipandang sebagai mahkluk fisik dan rohani. Dalam tubuh ada roh.

Ilmu biologi yang pada waktu itu masih terpengaruh filsafat dan mengkonsumsi teologi kemudian juga memandang manusia adalah tubuh dengan jiwa atau roh. Ilmu biologi menyebutnya roh sebagai nyawa.

Filsuf modern kemudian masih mempertahankan dualisme manusia, meski dengan berbagai macam varian pemikirannya. Namun tidak lagi memakai istilah jiwa untuk energi atau pengerak dalam tubuh melainkan disebut sebagai elan vita.

Soal kesehatan jiwa, kemudian dari biologi lahir ilmu psikiatri dan dari filsafat lahir ilmu psikologi.

Munculnya teori evolusi Darwisian kemudian membuat biologi kembali ke pangkuan sains, ilmu pasti atau ilmu alam murni. Ilmu biologi kemudian menyingkirkan roh dari tubuh manusia dan mahkluk hidup lainnya.

Yang disebut hidup oleh biologi bukan karena ada sesuatu kekuatan hidup yang ‘ditiupkan’ dari luar oleh kekuatan keilahian melainkan karena ada sel, yang kemudian membentuk organ dan masing-masing organ bekerja sama. Kerjasama antar organ inilah yang menimbulkan hidup, karena ada gerak, ada pertumbuhan dan ada perkembangbiakan.

Mati bagi ilmu biologi bukan diakibatkan oleh nyawa yang dicabut atau roh terpisah dari tubuh melainkan berhentinya kerjasama antar organ, organ tidak berfungsi dengan baik entah karena gangguan atau penuaan.

Mati artinya hidup biologi selesai, dan secara fisika kemudian akan terurai. Meski demikian unsur-unsur kimia pembentuk tubuh tetap ada karena kembali ke material kimia semula yakni oksigen, karbon, hidrogen, nitrogen, kalsium dan fosfor.

Ketika biologi kembali ke pangkuan sains, maka biologi memandang manusia sebagai mahkluk biologi, fisika dan kimia. Sama seperti mahkluk hidup lainnya. Maka dalam biologi manusia dimasukkan dalam kerajaan binatang atau kingdom of animalia. Binatang bertulang belakang, binatang menyusu {bukan menyusui, karena yang menyusui adalah ibu}, dan binatang berjalan tegak.

Neurosains salah satu ilmu terakhir yang berkembang dari rahim biologi setelah temuan teknologi komputer, semakin memperjelas bahwa yang disebut perasaan, mental, emosi, irasionalitas dan lain-lain adalah kerja dari organ tubuh yang bernama otak.

Ilmu tentang otak atau cara kerja otak ini berhasil mengungkap dan men-take down banyak anggapan, pemahaman dan pengetahuan yang salah tentang otak. Temuan peralatan seperti path scan, MRI dan lain-lainnya membuat neurosains mampu memetakan algoritma yang mendasari cara kerja otak.

Kenapa seseorang suka marah-marah, kenapa laki-laki tertarik pada laki-laki, kenapa orang peduli pada orang lainnya, kenapa orang menjadi radikal radikul semuanya bisa ditelusuri sebab musababnya dari dalam otak.

Dan yang paling penting semua yang disebut sebagai rasional, irrasional atau emosional, mental dan lainnya, semua merupakan kerja dari otak, bukan karena dualitas tubuh, jasmani dan rohani.

Di otaklah semua dinamika fisik dan rohani terjadi serta dikendalikan. Dan tidak benar kata para motivator bahwa orang sukses adalah orang yang menggunakan otaknya 100 persen, sementara yang tidak sukses hanya memakai otak kurang dari 50 persen sehingga perlu dinaikkan dengan melatih otak agar bekerja 100 persen.

Semangat pagi, yang diteriakkan mulai pagi, siang hingga malam hari itu bukan untuk melatih otak namun membiasakan diri, melatih disiplin, bekerja keras dan lainnya.

Latihan atau pengulangan bertujuan untuk membiasakan diri, bukan untuk meningkatkan kerja otak dari 10 persen ke 100 persen. Kalaupun punya hubungan dengan otak, dengan terus berlatih maka otak akan mempunyai banyak memori tentang sesuatu, sehingga pengetahuan itu tersimpan di memori internal. Dengan tersimpan di memori internal maka pengetahuan dengan mudah di-recall, sehingga seseorang bisa melakukan segala sesuatu dengan mudah, seperti otomatis, tanpa banyak berpikir.

BACA JUGA : Kita Tak Sungguh Ingin Melawan Korupsi 

Dalam waktu yang sangat lama manusia memahami dirinya berdasarkan ajaran-ajaran atau teori non biologis. Hal-hal yang bersifat ekstenal atau kelihatan mudah dipahami, namun kesadaran diri, sadar dirinya ada, sadar kalau dirinya tidak sedang tak sadar, sifat, perasaan, keinginan dan lain-lainnya menjadi lebih sulit.

Hal-hal yang intriksik itu kemudian dipahami sebagai jiwa, ruhaniah, metafisik, psikologis, mental dan lain-lain yang disebabkan karena manusia punya nyawa.

Untuk sekian lama biologi juga mengakui adanya nyawa yang disebut dengan elan vital. Namun kemudian setelah kembali kepada sains, biologi tidak lagi membicarakan nyawa, yang disebut dengan jiwa, kesadaran, merasa ada dan lainnya semuanya merupakan kerja otak.

Dan otak bekerja bukan karena adanya pengaruh atau unsur dari luar, melainkan berdasarkan hukum alam hasil dari evolusi biologi.

Ilmu biologi terutama neurosains sudah bisa memetakan cara kerja otak, namun algoritmanya belum banyak diketahui. Masih ada banyak misteri, walaupun sudah bisa dipastikan bila ada masalah pada otak maka sikap, perilaku dan kesadaran manusia akan berubah. Tapi bagaimana bisa berubah, masih banyak yang belum bisa dijawab.

Untuk kebutuhan klinis, dokter atau ahli medis telah mengkuantitatifkan tingkat kesadaran melalui prosedur tes respon mata, verbal dan motoric. Ukuran tingkat kesadaran mulai dari 3 sampai 15.

Meski demikian orang yang rendah kesadaran atau tidak sadar kalau dirinya tak sadar, tidak kehilangan jiwa. Namun ketika kesadaran rendah atau tak sadar pasti ekpresi jiwa atau mentalnya akan buruk, ngaco dan sulit dipahami oleh orang lain.

Kesadaran, jiwa atau mental berhubungan dengan memori atau ingatan. Ingatan manusia disimpan diseluruh tubuh, tidak berpusat di satu tempat seperti halnya komputer. Maka orang bisa hilang ingatan pada hal-hal tertentu.

Ingatan atau memori juga bisa tumpang tindih, karena manusia mempunyai memori jangka panjang dan jangka pendek. Memori juga bersifat internal dan eksternal. Memori internal berasal dari pengalaman kita sendiri sementara memori eksternal berasal dari luar, dari pengetahuan, dari kata orang dan lain-lain.

Dan memori internal sendiri  terdiri dari memori semantik dan memori episodik. Sehingga sering bergeser, makanya setiap kali menceritakan pengalaman sendiri meski hal yang sama yang diceritakan selalu ada beda setiap kali menceritakannya.

Kesadaran, jiwa atau mental juga dipengaruhi oleh narasi yang diterimanya sejak kecil dan penglihatan. Orang dengan penglihatan yang bagus biasanya mempunyai memori yang lebih bagus. Makanya orang buta tidak akan punya memori tentang warna dan pemandangan. Apa yang dilihat hanyalah pengambaran dirinya sendiri.

Tetap saja orang buta bisa mengenali orang baik dan tidak baik, namun bukan dari penglihatan atas tindak tanduk orang melainkan dari nada suara dan memori lainnya.

Melihat tidak dengan mata sering dikatakan sebagai melihat dengan mata batin.

Lalu kenapa hal-hal yang sifatnya non rasional, irrasional, psikologis, mental dan lainnya kerap disangkutkan dengan hati. Sekali lagi karena anggapan bahwa otak adalah pusat kendali berpikir, pusat intelektualitas.  Sehingga hal-hal diluar itu diletakkan di dalam hati.

Padahal dalam kenyataannya otak manusia juga mempunyai bagian otak emosional, bahkan kebanyakan cara kerja otak lebih cenderung lebih besar pada bagian nalar emosional. Terus menerus menggunakan otak rasional akan menguras energi, respon atas segala sesuatu menjadi tidak cepat.

Karena lebih sering menggunakan otak emosional maka yang disebut realitas dalam kesadaran manusia lebih banyak realitas subyektif dan intersubyektif ketimbang realitas obyektif. Itu sebabnya manusia selalu mencari makna dibalik segala sesuatu.

Dengan bahasa kemudian manusia bisa menarasikan makna itu, membuat nilai atau norma hingga kemudian mengembangkan sistem kepercayaan atau religiusitasnya. Dengan bahasa manusia kemudian jauh melampaui dunia binatang dan tumbuhan.

Ada beberapa binatang yang berkesadaran, namun karena tak mempunyai cukup kosa kata maka binatang tak bisa memaknai hidupnya. Walau bisa membangun komunitas namun karena keterbatasan bahasa binatang tidak bisa membuat sistem pengetahuan, sistem kepercayaan, sistem nilai, moralitas dan religiusitas.

Karena tak punya bahasa, binatang tak bisa main hati.

Sementara manusia gemar sekali main hati, sebagian diantaranya tidak benar-benar tulus. Seperti para konten kreator yang sesungguhnya hanya menjadi budak adsense.

Narasinya memang bagus, menyentuh dan menginspirasi. Tapi sesungguhnya kebanyakan hanya bunyi-bunyian kosong akibat malas belajar ilmu biologi.

note : sumber gambar – LIPUTAN6.COM