KESAH.IDDunia yang tunggang langgang menjadi pikiran dari banyak pemikir dan diteorisasi dalam banyak istilah yang memusingkan. Faktanya perkembangan pengetahuan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teknologi memang selalu membuat dunia menjadi tunggang langgang. Sebab tidak ada jalan mundur untuk teknologi, sementara manusia selalu saja masih suka nostalgia, senang menghadirkan yang lampau dan telah lewat menjadi realitas hari ini.

Anthony Giddens, seorang pemikir terkemuka mengatakan dunia yang kita diami sekarang ini adalah dunia yang tunggang langgang. Secara metaforik dia menggambarkan segala sesuatu bergerak terbirit-birit, terputar-putar dan terbolak-balik walau di situ-situ saja, seolah tanpa tujuan yang jelas.

Oleh Jean Baudrillard realita semacam ini diteorisasikan sebagai simulacra. Sebuah konsep yang mewakili tentang ketiadaan batas antara yang nyata dan yang semu. Dunia telah menjadi dunia imajiner.

Disneyland dijadikan contoh oleh Baudrillard sebagai ruang pemujaan muktahir, dimana orang rela antri berjam-jam untuk membayar tiket yang mahal guna memuaskan nafsu imajinatifnya, mengkonsumsi mimpi futuristik yang membius masyarakat konsumen modern.

Ah, ruwet. Tunggang langgang atau simulacrum hanyalah kata yang pendek dan jelas, namun tak mudah diterangkan. Pun ketika diterangkan dengan panjang lebar juga tak mudah untuk dipahami.

Apa boleh buat memang begitulah kerja para filsuf, kaum yang disebut sebagai pemikir. Mereka doyan berpikir lalu mengungkapkan pikiran yang kemudian sering membuat banyak orang nggak sampai pikirannya, nggak habis pikir.

Tapi buat mereka yang belajar neurosains tentu akan paham sebab memang begitu cara kerja otak manusia.

Neurosains menemukan bahwa otak manusia memang bisa menerima hal-hal yang bertentangan karena otak manusia terdiri dari otak emosional dan otak rasional. Jadi yang terbiasa membuat hal yang tak ada menjadi ada serta mengada bukan hanya seorang filsuf. Semua manusia selama tidak ada gangguan otak terbiasa melakukan hal itu. Tapi tak semua punya ketrampilan untuk menarasi atau menteorikannya.

Dosen filsafat saya mengatakan kita semua berfilsafat tapi tidak semua bisa disebut filsuf.

Semenjak manusia unggul dalam berbahasa, fiksi menjadi bagian penting dalam semua kebudayaan dan peradaban. Rocky Gerung menyebut fiksi sebagai hal yang tidak sebenarnya. Dan sejak semula manusia memang gemar mengatakan hal yang tak sebenarnya.

Kebiasaan itu dengan gamblang kita temukan dalam bentuk warisan dongeng, legenda dan mitos.

Realitas dunia sebagian besar memang dongeng, legenda dan mitos, makanya dunia kerap disebut sebagai panggung sandiwara.

Hanya ada dua bidang yang amat teguh memegang prinsip memisahkan antara fakta dan mitos, yakni jurnalistik dan sains.

Tapi bayangkan betapa tak asyiknya dunia jika semua orang berlaku layaknya seorang jurnalis dan saintis sejati.

Makanya Dokter Ryu Hasan tanpa ragu mengatakan kebohongan –  yang olehnya dipahami sebagai mengatakan yang tidak sebenarnya – itu perlu, bisa diterima atau bahkan menguntungkan manusia.

Singkatnya, peradaban manusia memang dibangun oleh kebohongan, hal-hal yang tidak sebenarnya. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa manusia yang berbeda-beda bisa merasa satu, bersaudara, saling bisa bekerjasama dan lainnya karena narasi tentang hal yang tidak sebenarnya.

Dalam realitas hubungan antar manusia, mengatakan atau melakukan hal yang tidak sebenarnya dilembagakan dalam tata krama atau manners.

Tanpa tata krama, sopan santun, unggah-ungguh dunia bakal lebih tunggang langgang lagi.

BACA JUGA : Partai Dengan Pemegang Saham Tunggal 

Internet yang cikal bakalnya lahir di tahun 1969 lewat Arpanet yang dikembangkan oleh militer Amerika Serikat dalam waktu kurang lebih 20 tahun mampu membuat dunia semakin tunggang langgang. Dunia maya, menjadi nyata dengan kehadiran internet.

Berkembang sejak tahun 1970-an, saya baru mengenal internet menjelang akhir tahun 1996. Berbekal PC rakitan yang bermerek IDM, meniru-niru PC branded IMB untuk pertama kali saya mengakses internet memakai dial modem. Penyedia koneksinya adalah wasantara.net.

Tech industry yang terkenal di internet waktu itu adalah compurseve, aol dan yahoo. Mereka menyediakan layanan yang paling populer waktu itu yakni email. Saya memakai email dari yahoo, tapi mereka yang lebih dahulu mengenal internet banyak yang memakai layanan email compuserve dan aol. Penyedia email lainnya yang terkenal adalah Hotmail.

Koneksi internetnya masih lelet, mengirim email apalagi disertai dengan lampiran gambar butuh waktu lama. Upload dan download masih jadi pekerjaan berat, banyak gagalnya.

Karena kecepatannya masih terbatas, berbagai aplikasi yang diperlukan untuk menjelajahi dunia internet harus diinstal dengan CD Software.

Perasaan waktu itu sungguh keren kalau di meja kerja ada banyak CD dan disket.

Setelah kecepatan internet bertambah, media penyimpan juga menjadi lebih praktis karena ada flash disk, pertukaran file di internet menjadi semakin mudah, cepat dan besar ukurannya.

Start up mulai tumbuh, salah satu pionernya adalah layanan pertukaran file lagu-lagu lalu disusul layanan berbagi video.

CD dan disket menghilang. File-file digital ditempatkan di berbagai layanan penyimpanan yang ada di internet sehingga bisa diakses kapan saja dan dimana saja tanpa harus dibawa-bawa.

Cara orang menikmati lagu dan video menjadi berubah.

Smartphone kemudian membawa internet ke dalam genggaman. Wifi atau koneksi paket data kemudian menjadi kebutuhan pokok disamping udara, air dan makanan.

Klaim-klaim informasi serba cepat dari media-media mainstreams menjadi runtuh. Radio, koran, televisi runtuh. Diterjang arus pertukaran informasi melalui media sosial. Masing-masing orang dengan smartphone-nya bisa menjadi pengkabar.

Tidak ada lagi yang menguasai informasi, pun juga alur dan arusnya, semua serba liar.

Kebenaran menjadi tidak penting, sesuatu benar apabila disukai, dipercayai, dibagikan oleh banyak orang.

Hoax dimana-mana, muncul gerakan anti hoax, membedah dan membongkar informasi tapi analisisnya tak banyak dibaca  banyak orang, seperti mengumpulkan semut dengan umpan garam.

Kebohongan semakin mendapat tempat di internet, sebagian bertujuan untuk senang-senang. Situs berbagi foto dan video penuh dengan orang-orang memamerkan hal yang tidak sebenarnya. Pamer kepintaran, kekayaan, kebahagiaan, kebodohan, penderitaan dan lain-lain untuk meraup popularitas.

Kejahatan juga semakin subur karena internet, isu keamanan masih menjadi persoalan krusial. Hacking atau pembobolan menjadi semakin marak, pencuri atau perampok tak perlu mengedor pintu atau mencongkel jendela.

Teknologi terus berevolusi namun otak dan perilaku manusia tetap berapa dalam jalur evolusi. Manusia tahun 1900 dan 2000 tidak terlalu berbeda jauh cara berpikir dan bertindaknya.

BACA JUGA : Kopi Antara Aroma, Rasa Dan Keringat Petaninya

Tidak ada jalan mundur untuk perkembangan teknologi, realitas virtual, apa-apa yang nyata namun tanpa wujud sudah bisa diwujudkan. Dunia kita tidak lagi dunia tunggal, yang maya sudah berujud.

Yang punya kecerdasan bukan hanya mahkluk melainkan mesin, kecerdasan buatan bekerja lebih baik dari kecerdasan manusia yang mudah terdistraksi. Mesin pun sudah diberi kemampuan untuk belajar. Deep learning machine membuat kecerdasan buatan mampu meningkatkan kecerdasan secara mandiri, giat belajar tanpa rasa malas dan bosan seperti manusia.

Dan kelebihan deep learning machine adalah mampu belajar dari kesalahan, sesuatu yang menjadi idaman manusia tapi sulit untuk dilakukan.

Big data, algoritma dan artificial intelligence mengubah cara kita hidup baik secara sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya.

Entah disadari atau tidak, kombinasi ketiga hal diatas dekat dengan kehidupan keseharian kita karena media sosial, web browser, ecommerce, layanan streaming dan lain-lain yang kita akses lewat gadget menggunakan ketiganya.

Konvergensi antara big data, algoritma dan artificial intellegency lewat berbagai macam aplikasi maupun layanan berbasis digital serta visual pada akhirnya akan mengkurasi identitas pemakainya. Media sosial melakukan profiling pada pemakainya demikian juga dengan search engine juga layanan straming musik, film, olahraga, berita dan lainnya.

Mereka kemudian bisa mengetahui apa kesukaan kita, informasi yang dibutuhkan dan melakukan prediksi apa yang sedang kita cari dan lainnya. Ibaratnya mereka tahu duluan diri kita sebelum kita sendiri tahu.

Dulu manusia terbiasa mengkonstruksi realitas, kini realitas diri bahkan dikontruksi oleh sistem yang bisa mengenerate data, mempelajari data secara mandiri dan bekerja berdasarkan banyak parameter sehingga lebih presisi.

Konstruksi realitas dan kemudian diamini oleh pemakainya sehingga menjadi kontruksi identitas ini akan amat berbahaya jika kemudian masuk di wilayah SARA. Realitas yang pada dasarnya merupakan sebuah spektrum, punya rentang yang panjang antara kanan dan kiri, atas dan bawah kemudian disederhanakan oleh algoritma, menjadi A atau B, suka atau tidak suka.

Masyarakat yang tunggang langgang dihantam realitas digital dan virtual kemudian menjadi masyarakat yang terbelah.

Sayangnya kita selalu menyenangi segala kemudahan dan kecanggihan, semua diberi label smart. Dulunya hanya smartphone kini kulkas sudah smart, televisi juga bahkan kota-kota juga tak ragu menyebut diri sebagai smart city.

Namun realitasnya kebanyakan hanya berhenti pada penerapan teknologi serta abai pada bagaimana bersikap, memahami dan menetapkan batas ekspektasi.

Kita kebingungan ketika pertama kali diperkenalkan sistem transportasi online yang tentu saja pintar, timbul berbagai friksi antara yang offline dan online, pemerintah juga kebingungan karena alas kebijakan belum sampai kesana. Dalam UU lalulintas, motor roda dua bukanlah alat transportasi umum, namun kini justru itu yang paling marak.

Berikutnya tunggang langgang terjadi ketika teknologi masuk ke sektor keuangan. Berkembang fintech dan mata uang digital serta berbagai layanan keuangan virtual. Lagi-lagi pemerintah belum siap dengan berbagai peraturan dan kebijakan. Masyarakat jadi korban, berderet yang kehilangan uang karena investasi bodong dan tak sedikit yang menjadi gila karena pinjaman online.

Dimulai oleh peluncuran Chat GPT oleh OpenAI, kita mesti bersiap-siap untuk berhadapan dengan Chatbot serupa yang dikembangkan oleh tech industry lainnya. Dengan subset data yang terbatas hingga tahun 2021 saja, Chat GPT sudah membuat para pengkarya tunggang langgang, apalagi disusul dengan Chatbot lainnya yang sudah sejak lama dikembangkan oleh Google, Facebook dan lainnya.

Adakah dunia yang tunggang langgang akan menjadi dunia yang suram?. Tidak juga, sebab realitas dunia yang tunggang langgang adalah realitas dunia yang sesungguhnya sejak manusia meng-hack cara hidup alamiahnya. Dunia manusia menjadi tunggang langgang karena manusia tak lagi hidup berdasarkan hukum alam semata.

note : sumber gambar – KOMPASIANA.COM