KESAH.IDKisah keajaiban si miskin menjadi kaya hanya ada dalam dongeng-dongeng pengantar tidur. Dalam dunia nyata, kisah Cinderella dan ‘inces-inces’ lainnya amat jarang terjadi. Pandemi Covid 19 bahkan menjadi cerita memilukan karena pada saat yang sama mereka yang kaya raya bertambah kekayaannya secara ekponensial sementara masyarakat kebanyakan justru kehilangan pendapatan hingga mengalami kemiskinan ekstrim.

Kakak beradik Hartono, Robert Budi Hartono dan Michael Hartono setiap tahun selalu tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia. Sumber kekayaan utamanya berasal dari asap tembakau, mereka adalah pemilik salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia, PT. Djarum.

Pundi-pund kekayaannya makin subur karena kakak beradik ini juga menguasai saham Bank BCA. Mereka juga mempunyai usaha dalam bidang perkebunan kelapa sawit di Kalimantan lewat Hartono Plantation Indonesia.

Bisnis lainnya adalah elektronik dan telekomunikasi, yakni Polytron yang memproduksi televisi, kulkas, telepon seluler dan AC. Sedangkan infrastuktur telekomunikasi yang mereka kuasai adalah tower jaringan selular dan data yang disewakan pada pihak lain lewat PT. Sarana Menara Nusantara dan PT Sapta Adhikari Investama.

Keluarga Hartono melalui GDP Venture juga banyak mengelontorkan investasi ke start up besar di Indonesia seperti Gojek, Bibli, Tiket.com, Kaskus, dan Hallodoc.

Dana besar juga disalurkan ke media online seperti Kumparan, Mojok, IDN Times, Popbela, Opini, Kincir,Kaskus,Popmania, Womantalk, Bolalob, Agate, Historia, Yummy dan Duniaku.

Posisi Hartono bersaudara sebagai orang terkaya di Indonesia sempat digeser oleh Low Tuck Kwong, pemilik Bayan Resources, perusahaan batubara yang tambangnya berada di Kalimantan Timur.

Paska pandemi dan perang antara Rusia – Ukraina membuat harga batubara melambung. Nilai saham Bayan Resources ikut melambung. Kekayaan Low Tuck Kwong dengan cepat terpompa karena kenaikan harga sahamnya.

Pergerakan harga saham memang akan berpengaruh pada peringkat siapa yang paling kaya di Indonesia. Walau begitu mereka yang berada diatas relative tak berubah dari tahun ke tahun.

Selain Hartono bersaudara dan Datuk Low Tuck Kwong, mereka yang selalu berada dalam posisi diatas adalah Sri Prakash Lohia dan Chairul Tanjung.

Knight Frank, lembaga pemeringkat orang kaya menyebut mereka sebagai orang dengan kekayaan bersih ultra tinggi  {ultra high net worth individuals/UNWHI}.

Laporan mereka pada tahun 2022, jumlah UNWHI di Indonesia mencapai 1.403 orang. Jumlah ini naik sebanyak 1% dari tahun 2020 yang jumlahnya sebanyak 1.390 orang.

Menurut perkiraan mereka pada tahun 2026 akan ada 1.810 orang super kaya di Indonesia.

Membandingkan data dari tahun ke tahun mereka yang masuk dalam daftar orang super kaya tidak banyak berubah. Kalaupun ada nama baru jika ditelisik lebih dalam maka akan ada hubungan dengan nama-nama lama.

Kisah Cinderella, si miskin yang kemudian jadi kaya amat jarang terjadi. Kisah Anak Singkong, ala Chairul Tanjung adalah keajaiban yang amat jarang terjadi. Memang ada namun hanya 1 diantara seribu.

Jika di Indonesia ada Anak Singkong yang jadi konglomerat, di China juga ada Jack Ma seorang buruh yang kemudian mempunyai kerajaan bisnis Alibaba.

Kisah ajaib selalu ada tapi jumlahnya sedikit. Dunia nyata justru lebih sering menyajikan kisah muram ketimbang keajaiban. Semua bisa berharap, bahwa si miskin bisa menjadi si kaya hanya saja itu lebih hidup dalam cerita. Sebab yang nyatanya terjadi adalah si kaya akan semakin kaya sementara si miskin akan semakin miskin dan merana.

BACA JUGA : Internet, Dunia Yang Tunggang Langgang

Kisah si kaya makin kaya dan si miskin makin miskin adalah kisah lama. Banyak yang menyuarakannya, namun secara ekplisit beberapa tahun yang lalu pernah dijadikan syair dalam bait lagu berjudul Indonesia, yang dibuat dan dinyanyikan oleh Rhoma Irama, Raja Dangdut.

Lewat lagu Indonesia, Rhoma Irama dengan iringan Soneta Grup mengambarkan Indonesia sebagai negeri yang subur dan kaya raya. Harta dan kekayaan yang dicita-citakan untuk kesejahteraan rakyatnya.

Namun yang terjadi justru kehidupan tidak merata, banyak ketimpangan.

Dalam refrain lagu itu Rhoma Irama menyimpulkan “yang kaya makin kaya …. yang miskin makin miskin”

Walau memainkan musik dalam budaya pop namun Rhoma Irama menjadikan musiknya sebagai jalan saleh untuk berdakwah. Hingga kemudian secara politik Rhoma Irama pernah menjadi ikon dari Partai Persatuan Pembangunan.

Rhoma Irama lebih dekat dengan PPP dan menolak bergabung dengan Golkar, juga kumpulan artis yang diinisiasi oleh regim yakni Anekaria Safari.

Mesra dengan PPP dan mengkritik regim secara gamblang lewat lagunya, membuat Rhoma Irama dimusuhi oleh orde baru.

Meski populer secara politik namun kedudukan politik resmi yang pernah dijabat oleh Rhoma Irama hanyalah kursi DPR sebagai perwakilan golongan seniman dan artis pada tahun 1993.

Rhoma Irama mungkin nggak populer lagi, masih disebut Raja Dangdut tapi pengaruhnya sudah kecil untuk generasi terkini. Maka agar dikenal oleh generasi yang seumuran cucunya, Rhoma Irama bersama Soneta Grup pun bersedia meng-cover lagu BTS berjudul Butter dalam versi dangdut. Lagu K Pop itu dinyanyikan oleh Rhoma Irama dalam panggung puncak peringatan HUT Indosiar.

Tapi apa yang dinyanyikan puluhan tahun lalu masihlah relevan, yang kaya makin kaya dan yang miskin semakin miskin bahkan makin kentara serta terasa.

Pandemi Covid 19 walau secara epidemiologi mampu menunjukkan prestasi karena bisa menemukan vaksin dengan cepat, namun secara ekonomi dampaknya sungguh mengerikan.

Ada lonjakan pengangguran di sebagian besar negara karena pandemi. Ratusan juta orang kehilangan pekerjaan dan terjadi lonjakan tinggi jumlah orang miskin ekstrim. Hampir 1 milyard orang berada dalam kondisi miskin ekstrim.

Masyarakat miskin kehilangan sebagian besar penghasilannya karena pembatasan sosial, mereka tidak bisa mendayagunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk tetap bekerja.

Dan disaat banyak orang kehilangan pekerjaan dan penghasilannya, orang-orang yang super kaya justru menikmati kenaikan kekayaan di masa pandemi, terutama mereka yang usaha dan pendapatannya berasal dari bidang industri teknologi.

Oxfam, lembaga nirlaba dari Inggris melaporkan sekitar 573 orang super kaya baru lahir sejak pandemi Covid 19. Tahun 2020 setiap 30 jam muncul satu miliarder.

Pertumbuhan kekayaan orang-orang tertentu selama pandemi berlangsung membuat ketimpangan antara yang kaya dan miskin makin terjal. Sebab selama pandemi semua hal naik sementara kebanyakan orang kehilangan pekerjaan atau mengalami penurunan penghasilan.

Pandemi Covid 19 menjadi penanda sejarah karena untuk pertama kalinya pertumbuhan kekayaan dan kemiskinan secara dramatis terjadi secara bersamaan.

BACA JUGA : Partai Dengan Pemegang Saham Tunggal 

Mereka yang kekayaannya bertambah secara eksponensial di saat pandemi adalah para miliarder yang mempunyai usaha berkaitan dengan energi. Selain itu juga pengusaha dari sektor farmasi.

Namun yang beroleh untung beliung juga para pengusaha tech industry yang sebelumnya juga sudah kaya raya.  Nama-nama seperti Elon Musk, Jeff Bezos, Mark Zuckerberg dan Bill Gates serta lainnya saling geser menjadi orang terkaya di dunia berdasarkan pergerakan saham perusahaan mereka.

Mark Zuckerberg kemudian menginvestasikan uang sangat besar lewat perubahan nama Facebook Inc menjadi Meta, untuk mengembangkan teknologi metaverse.

Dan Elon Musk berani mengeluarkan ratusan trilyun untuk membeli Twitter.

Di Indonesia sendiri dalam daftar orang terkaya kemudian muncul nama Jerry Ng dan Susanto Suwarno.

Jerry Ng sebelumnya dikenal sebagai eksekutif di perbankan, pernah menduduki jabatan teratas di Danamon, BCA dan BTPN, kemudian tercatat sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia karena mengambil alih Bank Artos dan kemudian mengembangkannya menjadi Bank Digital dengan nama Bank Jago.

Sahamnya di Bank Jago membuat kekayaannya meroket. Salah satu nama yang kemudian juga dicatat menjadi super kaya dari Bank Jago adalah Patrik J Waluyo.

Sedangkan Susanto Suwarno, meroket kekayaannya dari Elang Mahkota Teknologi {EMTEK}. Perusahaan yang awalnya bergerak dalam penyediaan layanan PC dan perakitan komputer kemudian berkembang menjadi perusahaan media, solusi TI dan telekomunikasi.

Membaca jumlah kekayaan mereka andai diuangkan niscaya mereka bisa tidur nyenyak beralaskan uang.

Dan jika ditelusuri lebih dalam lagi maka uang serasa hanya berputar diantara mereka, hanya sedikit saja yang terciprat atau bocor menetes keluar untuk diperebutkan lebih dari 99% persen warga negara Indonesia lainnya.

Bagaimana ketimpangan yang ekstrim antara orang super kaya yang jumlahnya hanya sedikit dengan orang miskin ektrim yang jumlahnya semakin banyak tidak semakin terjal, rasanya sulit untuk dijawab.

Pemerintah sampai sekarang masih terus kesulitan dalam mensukseskan program atau gerakan untuk menurunkan angka kemiskinan. Bahkan baru-baru ini Menpan RB, Abdullah Azwar Anas mengeluarkan pernyataan yang menghebohkan.

Anggaran untuk mengatasi kemiskinan di berbagai kementerian, departemen dan lembaga lainnya yang kalau diakumulasikan bisa mencapai 500 trilyun ternyata lebih banyak yang dibelanjakan untuk keperluan seminar dan studi banding ketimbang belanja langsung untuk orang miskin.

Orang super kaya memang lebih punya pengaruh politik dan kebijakan sehingga kekayaannya bisa terus bertambah. Sementara orang miskin tak punya akses dan kontrol bahkan atas dana negara yang dialokasikan untuk mereka. Mereka hanya menunggu remah-remah, sisa dari pesta pora mereka yang diamanati untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.

note : sumber gambar – DETIK.COM