KESAH.ID – Penetrasi produk F&B dari China terbilang jarang, kita lebih akrab dengan berbagai jenis gerai yang menyajikan makanan dan minuman dari Amerika, Jepang, Thailand dan Korea. Namun sejak tahun 2020 sebuah waralaba dari China bermerek Mixue bertumbuh bak cendawan di musim hujan. Dalam waktu kurang lebih 2 tahun sudah ribuan gerai di buka diseluruh penjuru Indonesia.
Anak saya seperti kebanyakan anak-anak lainnya doyan minuman yang dingin-dingin manis. Kesukaan yang kerap membuat khawatir karena bakal kelebihan gula. Namun ketika diingatkan dengan enteng dia akan menjawab “Ini kan less sugar”.
Anak-anak sekarang memang lebih pintar ngeles dengan alasan yang tepat. Pengetahuan umumnya lebih luas karena ada gadget di tangan, ketimbang jaman saya dulu yang mengandalkan buku HPU, Himpunan Pengetahuan Umum.
Harus saya akui, godaan anak-anak jaman sekarang untuk menyedot minuman paduan antara teh, susu, coklat, gula, soda, biskuit dan lainnya terbilang sulit. Booth, kedai, kios yang menjualnya ada di sepanjang jalan.
Kalaupun tidak suka jalan-jalan, paparannya juga sulit untuk dihindarkan karena yang sedang ngehit atau viral pasti terus muncul di gawainya. Dan semua bisa dipesan secara online.
Makin lama harganya juga makin terjangkau, jauh dibawah harga berbagai minuman mix di Starbucks dan kedai-kedai ternama lainnya.
Strategi harga terjangkau memang sakti. Enak dan murah selalu membuat sebuah jenama F&B berkibar merebut pasar pesaingnya.
Sesekali minum di Starbucks bolehlah, namun hari-hari yang dinikmati tetap minuman dari kios atau gerobak pinggir jalan.
Konon pasar memang terbelah. Ada pasar atas dan pasar bawah, pasar menengah yang cerewet sudah tidak populer lagi. Kaum mendang-mending tidak lagi menjadi sasaran marketing.
Menyasar pasar low end kerap direpresentasikan dengan slogan “Selera dan Rasa Bintang Lima, Harga Kaki Lima” murah namun tidak asal-asalan.
Dan yang melakukan ini bukan hanya UMKM yang selalu mengeluh kekurangan modal dan dukungan dari pemerintah maupun institusi keuangan. Beberapa perusahaan besar, DNA-nya lahir dari semangat ini.
Ingat tidak beberapa tahun lalu kita pernah dikejutkan dengan kemunculan Aice. Es krim yang penjualnya menjamur di sepanjang jalan. Bukan di warung atau kios melainkan di depan rumah hunian, ruko yang masih kosong, salon bahkan bengkel.
Tidak ada anak-anak yang tak kenal Aice. Sehari mereka bisa bolak-balik beberapa kali ke penjualnya sebab es yang dikemas satuan itu jenisnya bermacam-macam pun juga rasanya. Salah satu yang disukai adalah Es Moci.
Coba saja bolak-balik ke warung membeli es cream yang telah ternama sebelumnya, pasti ibu-ibunya akan naik pitam.
Saya yang sebetulnya agak menghindari es, akhirnya ikut-ikutan juga merasai. Dan nyatanya saya suka terutama yang model stick, berasa seperti makan es lilin, es terkenal di masa saya kecil dulu.
BACA JUGA : Si Cepat Yang Kirimannya Bergerak Lambat
Menyasar pasar bawah sebenarnya bukan hanya strategi usaha F&B saja, dunia teknologi juga melakukan hal yang sama. Pelopornya memang perusahaan-perusahaan dari China, mungkin mereka menerapkan prinsip nenek moyangnya “Biar untung sedikit yang penting laku banyak,”
Omzet yang besar akan membuat yang sedikit-sedikit itu menjadi bukit.
Beberapa tahun lalu ketika seseorang menyebut ‘HP China’ maka nadanya akan terasa sedikit melecehkan. Tapi kini orang sudah percaya diri membawa dan menunjukkan kalau dirinya adalah pemakai Xiomi, misalnya.
Dilihat dari jeroannya, terkadang kita memang dibuat bingung bagaimana mungkin Xiomi berani menjual sebuah produk yang sama-sama gahar dengan saingannya namun harganya jauh dibawah.
Soal model dan desain memang kerap jadi omongan. Produk China memang suka meniru-niru. Bentuknya sering mirip-mirip dengan yang dikenal sebagai produk mahal.
Tapi tak apa toh dalam dunia kreatif kerap dikenal istilah ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi. Tiru meniru itu soal biasa yang penting tidak sama plek ketiplek.
Demi efisiensi, dalam industri otomotif bahkan muncul produk kembar, sama persis namun namanya berbeda karena dikeluarkan oleh dua merek berbeda.
Pada akhirnya yang penting adalah laku dan tidak ada hukum yang dilanggar.
Dan China adalah jagoannya, walau tidak semuanya berhasil.
Selain HP, keberhasilan China kini juga nampak di mobil, baik mobil konvensional maupun mobil listrik.
Orang boleh saja bicara tentang Tesla tapi yang laris manis di pasaran tetaplah Wuling EV.
Sebenarnya sejak jaman dulu kita memang sudah akrab dengan barang-barang atau hal-hal yang berbau China.
Bahkan dari sisi kebudayaan terutama dalam urusan kuliner ada banyak makanan yang terpengaruh oleh resep, bahan maupun cara masak dari masyarakat China. Sebut saja bakpia, bakso, bakmi, bakpao dan lain-lain. Chinese food akrab dengan kebiasaan makan masyarakat kita.
Mungkin karena penetrasi kuliner ala China yang sudah merasuk dalam tradisi masyarakat Indonesia membuat perusahaan F&B dari China menjadi gentar masuk Indonesia ketimbang yang berasal dari Jepang, Thailand, Korea dan negeri-negeri lainnya.
Sepuluhan tahun terakhir ini setelah serbuan berbagai macam perusahaan F&B dari Amerika yang membawa corak fast food, negeri kita kemudian diserang oleh berbagai jenis masakan dan minuman dari Jepang, Thailand, Turki dan Korea.
China nampaknya tenang-tenang saja dan lebih getol memasarkan produk manufakturnya, seperti tak ingin mempengaruhi lidah masyarakat Indonesia yang sudah akrab dengan resep-resep warisan leluhur mereka.
BACA JUGA : Tahun Gagap
Secara umum yang ada dalam benak saya tentang China adalah teknologi. Dulu memang terkenal sebagai tukang jiplak namun kini mulai mengembangkan platformnya sendiri. Dalam artian tertentu produk teknologi dari China sudah bisa disejajarkan dengan produk dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan juga Korea.
Tapi pandangan itu sudah saya koreksi sebab bulan Oktober lalu di Semarang untuk pertama saya menyaksikan penetrasi F & B dari China. Bisa jadi saya sudah melihatnya dalam perjalanan dari Surabaya ke Semarang namun tak terlalu memperhatikan.
Bermula dari sebuah pesan bergambar yang dikirimkan oleh anak saya. Isinya foto daftar menu yang biasa terpasang di belakang meja layanan.
“Mau nggak, pilih yang mana?”
Saya jawab “Nggak”.
“Mixue ini, masa nggak mau. Nggak pingin ngrasain kah?. Belum ada di Samarinda,”
Saya tak bergeming.
Nanti setelah bertemu baru kemudian saya tanya “Mixue itu apa?”
Ternyata oh ternyata Mixue adalah perusahaan F& B dari China yang franchise-nya lagi ngehit di Indonesia. Yang dijual adalah es cream, teh boba, smoothies dan lainnya.
Oalah, kali ini saya ketinggalan informasi, luput menangkap yang lagi viral gegara perhatian saya tersita oleh Mie Gacoan.
Di media sosial ternyata Mixue sedang jadi trending topic. Ekpansi besar-besarannya bahkan dijuluki sebagai ‘penjajahan mixue’. Istilah ini merujuk pada kenyataan menjamurnya kedai Mixue dimana-mana. Sampai-sampai ada yang mengatakan kalau Mixue akan mengambil alih ruko-ruko yang dibiarkan kosong.
Sampai-sampai ada yang mengatakan “Dimana bumi dipijak, disitu Mixue dijunjung”. Mixue sampai dijuluki sebagai ‘Malaikat Pencatat Ruko Kosong’.
Karena bukan kopi saya tak terlalu tertarik. Namun ketika saya jalan-jalan mencari tempat untuk ngopi sewaktu singgah beberapa hari di Surabaya, ternyata yang pertama saya lihat justru kedai Mixue.
Mixue yang dalam pengucapan adalah Mishuwe didirikan sebagai sebuah toko kecil oleh Zhang Hongchao yang menjual es serut pada tahun 1997.
Dari Distrik Zhengzhou, Provinsi Henan bisnis Hoangchao kemudian berkembang pesat hingga punya pabrik dan rantai pasok sendiri. Bisnisnya kemudian dikembangkan menjadi waralaba yang melintasi negeri.
Di Indonesia gerai pertamanya dibuka pada tahun 2020, berada di sebuah pusat perbelanjaan Cihampelas Walk, Bandung.
Bertambah setiap hari pada akhir 2022 diperkirakan gerainya telah berjumlah 1000 lebih. Secara global jumlah gerainya 30.000 lebih. Di tingkat global, Mixue berhasil menyodok ke peringkat 5 waralaba F&B internasional setelah McDonalds, Subway, Starbucks dan KFC.
Entah masih valid atau tidak, dari unggahan di akun instagramnya tercatat hanya kota Pontianak, Banjarmasin, Padang, Samarinda, Pangkal Pinang, Balikpapan, Binjai, Deli Serdang, Bengkalis dan Kampar yang belum disambangi gerai Mixue.
Bukan hanya Mixue, gerai F&B dari China yang siap-siap menelan Indonesia, masih ada saingan lainnya yakni Ai-Cha yang juga siap merajalela.
Barangkali semua ini merupakan pertanda bahwa pada akhirnya semua akan China. Bukan hanya smartphone, laptop, tablet, sepatu, baju, kaos, celana, televisi, magic jar, drone, kereta, mobil yang dari China melainkan juga apa yang masuk ke mulut dan mengisi perut kita.
Jadi tak perlu tersinggung jika ada gurauan yang mengatakan “Tuhan menciptakan langit dan bumi, namun selebihnya buatannya China,”
note : sumber gambar – FORTUNEIDN.COM








