KESAH.ID – Memegang senjata api bisa membuat seseorang auto gagah berani seperti halnya film-film koboy. Tapi dengan senjata api di tangan, seseorang cenderung merasa berhak untuk melumpuhkan orang lain dengan menarik pelatuknya.
Amerika Serikat merupakan salah satu gudang penghasil film-film bertema kekerasan yang ditonton oleh banyak orang di seluruh dunia, menjadi film box office.
Dalam berbagai film dipertontonkan betapa mudahnya pelakon memperoleh dan menembakkan senjata, membuat orang lain yang tidak disukainya tumbang bersimbah darah, ditembus peluru yang seolah tak habis-habisnya dimuntahkan.
Orang lain yang tak tahu apa-apa juga kerap menjadi korban. Meninggal sia-sia atau sial diterjang peluru nyasar.
Nampaknya apa yang digambarkan dalam filmnya ternyata tak jauh berbeda dengan kenyataan hidup sehari-hari disana.
Kasus penembakan sipil di Amerika Serikat merupakan salah satu yang paling besar di dunia. Dan yang paling mengerikan, kebanyakan kasus penembakan terjadi di dalam atau terkait dengan lembaga pendidikan. Mulai di lembaga pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi.
Dari sekitar tahun 1970 hingga sekarang telah terjadi sekitar 2032 kasus penembakan di sekolah.
Fakta ini berkesesuaian dengan penyebab kematian terbesar anak-anak di Amerika Serikat. Anak yang meninggal karena ditembak lima kali lebih banyak daripada yang tenggelam karena berenang di sungai, laut, rawa, kolam renang dan badan air lainnya.
Lima bulan pertama di tahun 2022 saja sudah ada 27 kasus penembakan di sekolah. Bayangkan setiap bulan bisa terjadi 5 kali penembakan, dengan demikian para orang tua di Amerika Serikat akan selalu dibayangi oleh resiko kematian anaknya di sekolah setiap minggunya.
Sementara secara keseluruhan kurang lebih 246 penembakan massal telah terjadi di tahun 2022. Jika dirata-rata korban karena penembakan di Amerika Serikat sehari bisa mencapai 53 orang.
Jumlah orang yang mati karena penembakan sipil di Amerika ternyata lebih besar dari jumlah tentara Amerika yang mati dalam medan pertempuran.
Sejak perang kemerdekaan Amerika Serikat sampai sekarang, jumlah tentara yang mati di medan pertempuran sekitar 1,3 juta orang. Sementara jumlah masyarakat yang mati karena penembakan sipil berjumlah 1,5 juta orang.
Kenapa orang di Amerika Serikat rajin menembakkan senjata?.
Tentu saja karena Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang cukup bebas mempersilahkan warganya untuk mempunyai senjata api. Senjata api merupakan salah satu produk yang diperjualbelikan secara terbuka.
Tak mengherankan jika Amerika Serikat menduduki peringkat pertama pemegang senjata api per seratus penduduk di dunia dipegang oleh Amerika, yakni 120,5. Jauh di atas negara-negara yang dalam kondisi perang atau konflik seperti Yaman, Serbia, Montenegero, Lebanon dan lain-lain. Rata-rata di negara ini berkisar antara 50 sampai 30.
Ketika dunia di landa pandemi Covid 19, orang di Amerika Serikat bukan hanya berebut membeli barang kebutuhan pokok di supermarket namun juga ngantri untuk membeli senjata api.
Selama pandemi Covid 19 jumlah pemakai atau pembeli senjata untuk pertama kali di Amerika Serikat meningkat sebanyak 3 persen.
BACA JUGA : Bonge, Jeje, Roy ‘Aktivis’ SCBD Fashion Street
Lain di Amerika Serikat, lain pula di Jepang.
Di negeri dengan penduduk lebih dari 125 juta jiwa itu, senjata api yang berada di tangan orang sipil berjumlah 310.400 pucuk di tahun 2019.
Pada tahun 2018 tercatat ada 9 kematian akibat senjata api, kecil sekali jika dibandingkan dengan Amerika Serikat yang angka kematiannya mencapai 39.740 jiwa.
Jepang memang dikenal lebih dekat dengan samurai, pedang khas Jepang yang sering dipakai untuk bertarung maupun bunuh diri.
Namun bukan berarti Jepang tak punya sejarah pembunuhan bersenjata api. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Hugo Dobson dan Kristian Magnus Hauken dari University of Sheffield, pembunuhan bernuansa politik kerap terjadi di Jepang sebelum perang dunia ke II.
Sepanjang antara tahun 1920 hingga 1930 banyak pembunuhan terjadi, korbannya antara lain adalah Hara Kei, Hamaguchi Osachi, Inukai Tsuyoshi, Takahasgi Korekiyo dan Saito Makoto.
Setelah perang dunia kedua usai, masih tercatat beberapa kejadian pembunuhan bernuansa politik di Jepang. Seperti ketika Shinzo Abe untuk pertama kali menjabat Perdana Menteri, saat itu Ito Iccho, Walikota Nagasaki ditembak mati oleh kelompok kriminal Yamaguchi-gumi.
Di Jepang memang ada kelompok radikal bernama Rengo Sekigun atau lebih dikenal sebagai Tentara Merah Jepang. Kelompok ini mempunyai tujuan menggulingkan pemerintahan dan monarki di Jepang. Sumber ideologi mereka adalah komunisme dan turunannya seperti Marxisme-Leninisme, Maoisme dan Anti-Imperialisme.
Selain itu Jepang juga mempunyai kelompok-kelompok kriminal yang terkenal, salah satunya adalah Yakuza.
Teror di Jepang juga sering dilakukan oleh kelompok keagamaan radikal, salah satu yang terkenal adalah sekte keagamaan Aum Shinrikyo. Kelompok ini pernah melakukan serangan dengan gas sarin di Tokyo yang membunuh 14 orang dan melukai seribuan orang lebih.
Preseden pembunuhan dengan senjata api dan senjata lainnya membuat Jepang kemudian memberlakukan Undang Undang Senjata. Kepemilikan senjata api diatur sangat ketat, hanya pemburu berlisensi dan penembak target yang dapat membeli atau memiliki senjata api.
Proses untuk memperoleh ijin juga sulit, harus melewati serangkaian tahapan panjang, mesti melalui serangkaian tes baik tes tertulis maupun tes kejiwaan. Mereka yang mempunyai catatan kriminal juga tidak akan diberi ijin, pun juga mereka yang dinyatakan bangkrut.
Jum’at, 8 Juli 2022, Shinzo Abe berpidato di Nara untuk mengkampanyekan Kei Sato, juniornya di Partai LDP yang ingin maju kembali sebagai anggota parlemen dari Dapil Nara.
Shinzo Abe adalah mantan Perdana Menteri Jepang selama 9 tahun, tokoh penting dalam Partai LDP. Sementara Kei Sato adalah anggota parlemen dari Partai LDP sejak tahun 2016.
Saat berpidato, Shinzo Abe ditembak dari belakang dalam jarak yang dekat. Penembaknya adalah Tetsuya Yamagami, bekas angkatan laut berpangkat kopral.
Senjata yang dipakai adalah senjata rakitan. Dalam pengeledahan polisi di kediaman Tetsuya, ternyata bukan hanya merakit senjata api melainkan juga bom.
Konon Shinzo Abe bukanlah tujuan pertama dan utama yang membuat Tetsuya merakit senjata api dan bom. Dia mempersiapkan senjata untuk menyerang tokoh Gereja Moon atau Gereja Korea. Tetsuya sakit hati pada ibunya yang kemudian bangkrut karena mendonasikan semua hartanya untuk Gereja Moon.
Tetsuya kemudian menembak Shinzo karena dianggap punya kaitan erat dengan gereja yang beraliran unifikasi ini.
Shinzo Abe diterjang dua peluru yang ditembakkan oleh Tetsuya Yamagami. Bunyi senjatanya aneh, pun terjangan pelurunya juga berasap. Salah satu peluru menembus jantung Shinzo, itu yang membuatnya tidak bisa diselamatkan.
Beberapa pengamat keamanan pribadi di Jepang menyayangkan tewasnya Shinzo Abe. Para pengawal kurang cepat merespon tembakan yang berjarak antara tembakan pertama dan kedua. Seolah mereka tertegun mendengar bunyi tembakan, bukan bergerak cepat untuk melindungi Shinzo Abe dari tembakan berikutnya.
Bisa jadi petugas keamanan di Jepang memang kurang terampil menghadapi serangan penembakan jarak dekat. Mungkin mereka lebih terampil mencegah bunuh diri ketimbang pembunuhan. Di Jepang memang bunuh diri yang lebih sering terjadi daripada pembunuhan.
BACA JUGA : Non Profit Tapi Banyak Benefit
Jika Jepang dikejutkan oleh bekas tentara yang menembak bekas perdana menteri, Indonesia dihebohkan oleh polisi yang menembak polisi.
Tidak aneh sebenarnya kalau polisi saling tembak karena mereka adalah salah satu kelompok yang diperkenankan atau malah dipersenjatai dengan senjata api, selain tentara.
Sedangkan kelompok lainnya boleh memegang senjata api tapi hanya untuk olahraga. Senjatanya tidak boleh disimpan di rumah.
Namun berita polisi menembak polisi menjadi aneh karena terjadi di rumah seorang polisi dan kemudian jenasah sang polisi tidak diotopsi serta dimakamkan tanpa upacara yang lazimnya menyertai penguburan seorang anggota kepolisian.
Lebih aneh lagi, rumah yang dilengkapi dengan CCTV itu ternyata tak meninggalkan jejak rekaman pada saat kejadian, perangkatnya rusak.
Mungkin saja kebetulan.
Tapi kebetulan semacam ini tentu menimbulkan kecurigaan dan tanda tanya.
Penyebab terjadinya penembakan juga menjadi tanda tanya.
Lebih menjadi tanda tanya lagi ketika kemudian Kapolri membentuk tim khusus untuk mendalami kasus tembak menembak ini.
Kita semua tahu begitu dibentuk tim khusus maka kerjanya akan lama. Dan semakin lama maka bukti atau faktanya bisa semakin dikaburkan.
Baku tembak antar polisi ini jelas bukan masalah politik, namun campur tangan ‘politik’ dalam pengungkapannya akan membuat kisahnya menjadi simpang siur.
Buat polisi urusan baku tembak adalah urusan biasa, jadi mestinya diselesaikan dengan cara yang biasanya saja. Periksa yang menembak, baru setelahnya tembak sana tembak sini berdasar dari apa yang diungkapkan olehnya.
Kerja, kerja, kerja kata Presiden Jokowi, bukan malah konperensi pers-konperensi pers dengan cerita-cerita yang malah meninggalkan jebakan lubang ketidakkonsistenan dalam alur cerita.
Konperensi pers bukanlah tempat untuk membuat skenario yang mengaburkan fakta sebenarnya, bukan panggung dongeng untuk menjejali awak media guna melahirkan berita-berita dengan judul yang bombastis karena ada sesuatu yang sangat kentara tengah disembunyikan.
note : sumber gambar CNNINDONESIA.COM








